
🌺vote🌺
"Reko ....."
Ariana memukul pundak Reko dengan keras.
"Dokter Messa, kenapa kau memukul ku!" Reko menatapnya dengan ekspresi mengernyit.
"Berarti kau masih sadar. Aku mau memberi tahu sesuatu padamu."
Reko menoleh dan menatapnya dengan heran. "Apa itu."
Ariana mengumpulkan napasnya, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Jadi begini. Karena kau sudah mengetahuinya dan melihat Kenzie seperti ada dua, aku tidak akan merahasiakannya lagi pada mu. Anak yang ada di depan ku ini memang bukan Kenzie, tetapi Deffan. Def kecil ku."
"Deffan? Def ...?"
Ariana mengangguk.
Reko bahkan lebih terkejut lagi, mendengar ini dia merasa sedang bermimpi. Dia memukul pipinya, lalu mencubit tangannya sendiri.
"Au ..., sakit."
Hahaha
Deffan melihat pamannya seperti itu tidak tahan untuk menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya. Reko tidak memperdulikannya, tetap dia merinding. Ini benar-benar nyata, bukan mimpi!
"Dia, apakah dia manusia? Tapi barusan air itu dari mana ...."
"Reva, keluarlah!"
Deffan yang masih terkekeh memanggil Revi untuk keluar dari persembunyiannya.
Reko melihat seorang anak gadis kecil yang gemuk keluar dari persembunyiannya, sambil memegang pistol air di tangannya.
"Dokter Messa, apa yang kau katakan? Maksud mu Kenzie tidak ada dua, tetapi mereka kembar, bukankah begitu?"
"Ya." Ariana menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan singkat.
Ha ....
"Jadi Kenzie ...?"
"Ya, mereka kembar."
Reko seperti tidak percaya, tetapi dokter Messa tidak mungkin berbohong. Dia ingat waktu itu, ketika dia merasa Kenzie memiliki gangguan mental, dan berharap menginginkan Kenzie ada dua, yang satunya bersifat dingin dan arogan, yang satunya lagi bersikap ramah dan lincah, jadi tidak ada yang sakit mental, sekarang permintaannya terkabulkan.
Seketika Reko tersenyum dan menatap Kenzie, eh bukan Kenzie tetapi Deffan.
"Ini adalah Deffan, dan yang di rumah itu adalah Kenzie yang sebenarnya?"
Ariana tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
Reko sangat terharu, rasanya ingin menangis sekarang juga, tetapi juga merasa bangga dan bersyukur.
"Kenzie, Deffan."
"Paman, aku adalah Deffan, kenapa malah Paman yang seperti memiliki gangguan mental?"
Ucapan Deffan membuat Reko menautkan kedua alisnya.
Anak ini ....
__ADS_1
Reko menghela napasnya kemudian membuangnya dengan kasar.
"Anak nakal. Karena kalian Paman seperti ini. Kau harus membayarnya, oke."
"Eh ..., Paman mau apa?" Deffan melangkah mundur menatap Reko yang maju melangkah mendekatinya.
Tiba-tiba Reva mengarahkan pistol air itu kearah Reko dan mengenai punggungnya, Reko langsung menghindarinya.
"Dokter Messa, anak-anak Anda sangat nakal!"
Reva menjulurkan lidah kecilnya.
"Kau sudah menghancurkan pintu rumah ku, dan kau harus membayarnya!"
Reko tertegun sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menggantikan, jangan khwatir, aku akan membayarnya!"
"Oke."
Setelah itu dia langsung berlari kedalam dan masuk ke kamar, kemudian berlari ke luar lagi dan menyerahkan stik kentang kepadanya.
"Karena kau mau membayarnya, jadi aku mentraktir mu makanan stik kentang ini. Dan aku meminta maaf karena sudah membuat baju mu basah. Ambil dan makanlah, jangan marah padaku."
Reva berkata dengan kepolosannya, dan tentu saja dengan sikapnya seperti itu membuat Reko terharu dengan sikap polos anak kecil ini. Reko tersenyum menatapnya sambil membuka bungkus stik kentang itu dan memakannya.
Reva memperhatikan Reko mengunyah stik kentang itu, mulutnya bergerak dengan cepat.
Revi menatapnya dengan kagum.
"Wah ..., Paman, ternyata kau juga suka sekali makan. Bagus sekali!"
Reva menatap Reko dengan melipat kedua tangannya di dada.
Sebagai kakak perempuannya, dia sangat menghawatirkan Revi.
Tidak lama kemudian, tanpa di suruh Reva menyuapi Reko dengan stik kentang itu kedalam mulutnya dan ini membuat Reko benar-benar terharu.
"Gadis kecil, kau begitu perhatian. Apakah kau mau menikah dengan Kenzie kecilku? Wajah Kenzie yang kaku dan dingin itu, aku khwatir dia akan sulit mendapatkan istri nantinya,"
Ha ....
Revi tertegun mendengar lelucon yang Reko katakan, dia menggelengkan kepalanya serta memiringkan bibir kecilnya ke kiri.
"Kau tidak mau? Keluarga kami sangat baik. Kau bisa makan stik kentang dari berbagai rasa setiap hari."
"Sudahlah, berhenti membujuknya. Itu sama sekali tidak mungkin dia menjadi istrinya Kenzie!"
"Kau tidak suka dengan keluarga Mahesa?"
Ketika berbicara seperti itu, Reko tersenyum dan bercanda dengan Ariana, dan suasana pun tidak kaku lagi.
"Bukan karena suka atau tidak suka. Tetapi mereka berdua adalah kakak beradik, apakah boleh menikah?"
Ariana meras lebih baik mengatakannya pada Reko tenang ke empat anaknya ini, siapa tau Reko dapat membantunya untuk merahasiakan ini dari Daniel.
Wajah Reko penuh dengan ketidak percayaan dengan menatap wajah Ariana begitu cermat.
Wajahnya di penuhi dengan keterkejutan hari ini.
"Apa? Kakak ..., kakak beradik? Kau jangan terus-terusan bercanda!"
"Aku tidak sedang bercanda, ini lah faktanya!"
__ADS_1
Ariana berkata seperti itu serta menatap Reko dengan wajah seriusnya.
Reko tampak bingung, dia menggaruk lengannya, kemudian beralih meraba belakang lehernya. Bagaimana Putri dari dokter Messa menjadi saudara Kenzie?
Jangan-jangan ....
Dia membelalakkan matanya menatap Ariana dengan sorot mata yang berbinar. Memang dia merasa aneh sekali.
"Memang benar, Kenzie adalah kakak laki-laki kami."
Reva mengerjapkan matanya yang bening, menatap Reko dengan gayanya.
"Benarkah?"
Tatapan Reko beralih ke Deffan. Anak ini terlihat persis seperti Daniel, tanpa perlu melakukan tes DNA orang-orang juga akan percaya kalau mereka saudara kandung.
Tetapi kedua anak ini tidak memiliki kesamaan dengan Kenzie dan Daniel.
Reko memperhatikan Reva dan Revi dengan seksama, kemudian menatap Ariana.
"Dokter Messa, maksudmu Kenzie dan Deffan mereka kembar? Lalu kedua putrimu ini adalah saudara tiri mereka berdua yang beda papanya?"
Sebelum Ariana menjawab, Revi sudah berkata dengan lantang dan keras, wajahnya terlihat suram.
"Bukan, kami semua adalah kakak beradik. Dan Papa kami adalah orang yang sangat jahat. Namanya adalah Daniel!"
Reva sengaja berkata seperti itu, mengingat Daniel memperlakukan mamanya dengan kejam. Jadi dia sangat membencinya.
Reko tercengang. Orang yang sangat jahat? Panggilan ini .... Reko terkejut, dia lantas membayangkan jika kakaknya yang dingin dan arogan itu mendapatkan nama panggilan baru seperti ini dari anak kecil seperti ini, bagaimana reaksinya?
Dalam hati Reko ingin melihatnya nanti, apa yang akan di lakukan kakaknya Daniel itu mendengar nama panggilan ini?
"Reva, jangan asal bicara."
Ariana menyentuh kepala kecil Reva, dan menarik tangannya ke samping, dan menatap Reko dengan canggung.
"Reko, jangan kau dengarkan ucapan anak-anak ku, mereka masih sangat kecil dan belum tau apa-apa. Tapi apa yang dia katakan itu adalah benar, mereka semua anak dari kakak mu."
Reko memandang ketiga bocah itu dengan mengernyitkan keningnya.
"Dokter Messa, jadi kau melahirkan mereka sekali atau dua kali?"
"Tentu saja satu kali dengan bayi kembar empat!"
"Wow ....."
Reko kaget dan berteriak seperti seekor kucing yang terinjak ekornya.
Reko menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sungguh luar biasa. Melahirkan 4 bayi sekaligus. kakak kau sangat hebat sekali!"
Dia tercengang dengan berita yang tak terduga ini. Benar-benar luar dugaan.
Jika semuanya benar, maka ini adalah kejutan besar untuk keluarganya.
.
.
.
yuk dukung terus ya
__ADS_1