
Reko datang kerumah Daniel. Begitu pelayan melihatnya, dia langsung memberitahu kepada kakek Hamsyah dan juga Daniel.
"Kakek, Tuan. Tuan kedua sudah sampai."
"Suruh dia masuk!"
"Baik."
Begitu di persilahkan masuk, Reko berjalan dengan kepala yang terkulai, dia menatap kakek Hamsyah dengan sedih.
"Kakek, kapan kau datang?"
"Duduklah. Kakek juga sudah merindukan mu."
Kakek Hamsyah mengangkat tangannya menyentuh bahu Reko. Di hati Reko bertanya-tanya, kemana kedua orang tuanya? Bukankah seharusnya sudah bersama kakek juga menunggunya di sini dan akan membuat perhitungan dengannya?
"Kakek, aku juga merindukan mu, aku secara khusus mempersiapkan sebuah kejutan untuk mu, kau pasti akan menyukainya."
"Pertunjukan apa?" Kakek Hamsyah tersenyum menatapnya dengan mata yang berbinar. Sepertinya dia tertarik dengan pembicaraan Reko.
Daniel menatap Reko tak berkedip sejak dia masuk tadi, tetapi Reko juga tidak memperdulikannya.
Setelah berkata dengan kakeknya, Reko melirik Daniel yang menatapnya dengan sorot mata yang tajam, lalu dia menundukkan kepalanya kembali.
Daniel mengernyitkan keningnya, dia menduga kalau adiknya ini akan membuat sebuah trik lagi.
Reko pun berpikir, asalkan membuat kakeknya ini senang, melakukan sebuah rencana seperti itu juga tidak masalah.
"Kakek, aku akan menunjukkan sebuah sulap yang nyata."
Kakek tertawa, anak ini banyak memiliki keanehan.
"Kalu begitu kau lakukan saja sekarang, aku akan melihatnya."
"Tapi, aku punya satu permintaan, jika aku bisa membuat mu tersenyum, jika orang tua ku mau memukulku nanti, kau harus menghentikan mereka!"
"Baik, kakek akan melakukannya untuk mu."
"Baiklah."
Reko berjalan keluar dengan percaya diri.
Ketika melihat Reko, kedua bocah itu saling pandang.
"Kau bilang dia membawa kita kembali ke rumah, nyatanya dia menyuruh kita untuk bersembunyi di sini, apakah dia punya tujuan yang lainnya?"
"Pasti," jawab Deffan dengan tegas. Kenzie dan Reko tidak cocok, dan bahkan dia menduga kalau Reko memiliki niat yang jahat."
"Menurut mu, apa tujuannya?"
Mereka berbisik-bisik agar Reko tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Deffan ..., Kenzie! Kemari!" Reko berbisik-bisik memanggil mereka berdua.
Kedua anak itu saling pandang, kemudian mengambil kerikil di depannya dan melemparkannya kepada Reko.
__ADS_1
Reko menghindari bebatuan kecil yang melayang di udara.
"Hey ..., Klian berdua ini benar-benar nakal ya!"
Mereka menjulurkan lidahnya kepada Reko.
"Kalian!" Desah Reko kesal dengan bocah ini.
Kemudian dia pun berjalan ke arah mereka berdua dengan lambat dan memasang wajah yang menyedihkan. Dia berpura-pura agar kedua anak ini mau membantunya.
"Eh dia kenapa? Kenapa wajahnya berubah sedih begitu?"
"Itu triknya dari dulu, tidak usah di pedulikan." ucap Kenzie kepada Deffan.
"Deffan, Kenzie. Paman meminta bantuan kalian, untuk tampil dalam sebuah pertunjukan!"
Kedua anak itu mengernyitkan keningnya, menatap Reko dengan aneh.
Mata Deffan menunjukkan rasa penasarannya.
"Orang yang paling tua di keluarga kita telah kembali. Agar kalian mendapatkan kesan yang baik untuknya, jadi Paman telah memikirkan cara untuk menghiburnya, dan membuatnya tersenyum dan tertawa. Jika itu nanti bagus, Paman akan memberikan sebuah hadiah."
"Siapa orang yang paling tertua itu?" Deffan Tampa penasaran.
"Kau mau kami melakukan pertunjukkan apa?"
Kenzie tampak menyelidiki trik yang akan di mainkan Reko.
Reko menjelaskan kepada kedua anak itu secara jelas.
Wajah Deffan terlihat kagum dan dia sangat menantikan untuk melihat Kakek buyut yang belum pernah dia lihat.
Kenzie tidak mau tau tentang kakek buyutnya, dia hanya tau bahwa kakek dari papanya adalah orang yang paling di hormati Papa.
"Bagaimana, apakah kalian bisa membuatnya tertawa dan senang? Paman hanya ingin melihat Kakek dari papa dan juga Paman terlihat senang hari ini, makanya paman meminta kalian berdua untuk menghiburnya seperti yang paman katakan tadi."
Kenzie mendengus dingin. "Untuk membuat kakek buyut senang, kau tidak perlu memperlakukan kami berdua seperti monyet? Aku tidak mu!"
Ah .. Reko tercengang, dia sedikit ragu-ragu untuk membujuk Kenzie.
"Kenzie, Deffan. Bukan seperti itu yang Paman maksud, Paman tidak memperlakukan kalian seperti monyet, ini benar-benar hanya untuk membuat kakek bahagia. Tidak ada maksud untuk menganggap seperti itu, ini hanya permainan."
"Aku tidak mau." Kenzie berkata dengan tanpa basa-basi.
"Aku juga tidak mau." Deffan juga berkata menyerupai Kenzie.
Reko tampak lemas, kedua bocah ini tidak mau membantunya. Dia tampak berpikir keras.
"Begini saja, anggap saja kalian membantu Paman mu ini, bagaimana?"
"Tidak ada bantuan!" Kenzie menjawab dengan dingin.
Reko terdiam.
Sementara Deffan terlihat ragu-ragu.
__ADS_1
"Apakah ada manfaatnya jika ku bantu?"
Reko mengernyitkan keningnya. Dia pun merasa kata Deffan barusan memiliki kesempatan jika dia dapat memberikan syarat yang dia inginkan. Reko tersenyum menatap Deffan.
"Asal kau mau membantu Paman, Paman akan melakukan apa pun yang kau mau!"
"Oke, kami mau membantu mu asal kau mau berjanji untuk membantu kami melakukan satu hal."
"Apa itu?"
"Aku tidak bisa memberitahu mu sekarang, ketika nanti aku meminta mu untuk melakukannya, kau harus melakukannya." Deffan berkata sambil menatap Reko dengan serius.
"Oke, oke. Paman berjanji."
"Sepakat?"
Reko mengangguk dengan pasti, asal hari ini dia lolos dari pukulan dari kedua orang tuanya.
Saat Reko masuk ke dalam, dia di kejutkan dengan mamanya yang sudah berdiri menatap ke arahnya dengan tajam.
"Kakek tolong aku!" Reko berlari ke arah kakek Hamsyah untuk mendapatkan perlindungan dari kakeknya itu. Reko seperti anak kecil, dia mengingat masa kecilnya ketika Maira memarahinya dan memukulnya, dia tidak ingin Mamanya mengulangi itu lagi.
"Mama tenang lah, aku mau menunjukkan pertunjukan besar kepada kalian, ajaklah Papa untuk melihatnya."
Maira buru-buru memanggil suaminya, dan akan melihat apa yang akan di lakukan anak nakal ini.
Saat itu Kenzie berlari melewati pintu depan.
Semua mata tertuju dengan bocah itu.
"Hey, bukankah anak ini sedang berada di TK?" Seru Maira.
Kemudian dia kembali lagi melihat Kenzie berlari dengan cepat dengan pakaian yang berbeda.
Maira, Kakek dan Mahesa, mereka tampak heran melihat Kenzie begitu cepat berganti pakaian.
"Hanya berganti pakaian saja, dan kau mengatakan itu adalah perusahaan?"
"Mama, jika kau terus mempengaruhi orang lain, lebih baik tidak perlu menonton pertunjukan ini."
Kenzie berlari lagi dengan pakaian berbeda-beda dalam waktu sekejap. Mereka memperhatikan ini. Dan baru menyadari begitu cepatnya Kenzie berganti pakaian? Itu tidak mungkin bisa di lakukan dengan sekejap, untuk berganti pakaian, tentu saja membutuhkan beberapa menit. Tetapi ini ....
Saat mereka memikirkan itu, tiba-tiba Kenzie dan Deffan muncul secara bersamaan dengan pakaian yang sama, dan mereka membuat wajahnya yang nakal, menjulurkan lidah ke arah mereka, ini sangat menggemaskan.
Maira terlihat kagum.
"Ya ampun, apakah mataku ini sudah rabun, mengapa ada dua Kenzie di sana?" Maira menggosok kedua matanya. kemudian melihat kembali kedua anak itu. Mereka sudah menghilangkan.
"Kemana dia."
Tiba-tiba mereka muncul lagi dengan pakaian yang berbeda. Kakek dan yang lainnya melebarkan matanya. Menatap kedua anak itu, kalau mereka bukan bayangan, ini benar-benar ada dua, Kenzie ada dua. Kenzie ada dua.
Mereka menghentikan pertunjukan itu dan meminta mereka untuk berjalan ke arahnya.
Mereka semua terkejut dan tak percaya. Hanya Daniel yang terlihat mencibir.
__ADS_1