Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
94


__ADS_3

๐ŸŒบvote๐ŸŒบ


Daniel dengan penasaran menatap gadis kecil yang dia tidak tau anak siapa itu, dia berpikir mungkin anak dari karyawannya.


"Ibuku bekerja di dalam sana!"


Reva mengulurkan tangannya menunjuk ke arah dalam.


Daniel mengernyitkan keningnya, bekerja di kantor Mahesa grup? Orang tuanya bekerja membawa seorang anak dan meninggalkannya di tempat parkir?


Seorang anak pun bisa di tinggalkan begitu saja? Benar-benar orang tua yang tega, sepertinya memang harus di PHK! Wajah Daniel sedikit berubah.


"Siapa nama orang tua mu? Aku akan memintanya untuk mengantar mu pulang sekarang juga."


"Paman, tidak perlu. Aku datang bersama Mama, namun aku tersesat. Tapi aku perlu Mama yang menelpon Papa ku, agar dia menjemput ku. Paman, bisakah kau mengantarku masuk?"


"Oh begitu."


Selesai bicara, gadis kecil itu mengulurkan tangannya meraih ujung baju Daniel, kemudian dia memohon dengan wajah yang sangat sedih.


"Paman, tolong bawa aku kesana, Paman."


Daniel melihat sekeliling lokasi. Meninggalkan anak ini sendiri di sini, kelihatannya tidak aman, lebih baik dia membawanya masuk ke perusahaan saja.


"Ikutlah denganku. Apakah kau mau aku menggendong mu?"


"Terimakasih paman, tidak perlu, aku akan mengikuti mu saja dari belakang."


"Siapa nama orang tua mu?"


"Dia bernama ...." Reva tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi di dalam hatinya berkata: "Namanya Daniel yaitu kau. Orang jahat yang memukul Mama dan menindas nya!" Tetapi dia tidak akan mengatakan itu.


"Paman, tidak baik jika aku menuduh nama orang tua ku. Mama tidak pernah mengizinkan kami untuk menyebut namanya, tetapi kami hanya memanggilnya Mama saja." Reva berkata dengan sangat polos, wajahnya malu-malu. Daniel terlihat gemas melihat gadis kecil ini, dia pun tersenyum tipis.


"Mari masuk." Daniel memegang tangan anak itu masuk ke dalam perusahaan.


Reva diam-diam memandangi tubuh Daniel yang tinggi dan besar itu, bibirnya tersenyum simpul, rencana pertamanya sukses.


Asalkan dia sudah bisa masuk ke dalam kantor ini, maka rencana dia pasti akan berjalan dengan lancar. Tadi dia sudah mau masuk, tetapi di halangi oleh penjaga keamanan yang ada di depan pintu masuk. Dan kali ini dia akan masuk ke dalam bersama Daniel, siapa yang berani menghalanginya.

__ADS_1


Ketika Daniel dan dirinya masuk, semua penjaga keamanan membungkuk dan menyapa dengan sangat sopan.


"Halo pak Daniel, selamat siang."


Reva mengangkat wajah kecilnya dengan arogan. Dia mendengus dingin kepada penjaga keamanan yang tadi telah menghalanginya untuk masuk. Reva menyombongkan dirinya di belakang Daniel dengan meletakkan ujung lidahnya yang nakal.


Menyamar seperti ini rasanya seru juga.


Apa hubungan Daniel dengan anak ini?


Para penjaga bertanya-tanya dalam hatinya lalu saling pandang satu sama lainnya. Mereka diam-diam menebak pikirannya masing-masing.


Ketika Daniel akan mencapai tangga, Daniel membalikkan badannya dan menoleh anak itu, dia ingin bertanya kepadanya, di lantai berapakah namanya bekerja, tetapi gadis kecil itu sudah tak terlihat.


Mungkin saja sudah mencari mamanya. Daniel melihat sekeliling, dan dia mulai berjalan ke lift. Sampai ke lantai yang paling tinggi, Daniel terlihat memasuki ruangan kerjanya.


Reva bersembunyi di sudut dan diam-diam bergumam dalam hatinya, jika ada dendam yang tak di balas, maka kau akan menjadi orang yang tidak terhormat.


Ada dua dendam yang perlu dia balas hari ini, aku akan menyelesaikannya satu persatu.


Senyum tipis terukir di bibir manisnya yang dingin dan sombong itu dan dia pun segera bertindak.


Sepuluh menit kemudian, ada sebuah ketukan di pintu ruangan kerja Daniel.


"Pak Daniel, ini adalah dokumen alamat peretas. Ilmu pihak peretas ini terlalu tinggi. Aku menemukan beberapa alamat, tetapi aku bingung yang mana alamat aslinya!"


"Ada berapa?" Daniel mengernyitkan keningnya melirik Liki yang berdiri di hadapannya, kemudian tangannya memijat keningnya sambil berpikir. Sepertinya peretas ini adalah seorang Master.


"Di antaranya ada alamat rumah mewah menunjukkan alamat mansion anda pak Daniel. Sepertinya mereka sengaja memasukkan alamat rumah mu."


Mata Daniel langsung keruh. Sepertinya peretas ini bukan hanya master, tetapi juga mengetahui detailnya dengan sangat baik, jadi dia sengaja memasukkan alamat rumahnya juga je dalamnya!


Apakah ini sengaja untuk menghinanya?


"Brengsek!"


Di rumah mewahnya, dia sama sekali tidak tau kalau Deffan sedang minum susu dan memakan kue dan beberapa cemilan lainnya sambil mengendalikan komputer untuk melatih keterampilan barunya, yaitu meretas sistem jaringan perusahannya untuk membalaskan dendam Mama!


Wajahnya menampilkan kesenangan tiada tara!

__ADS_1


"Pak Daniel, alamat yang tersisa tampaknya harus di periksa satu persatu!"


"Selain dari semua alamat yang ada di situ, kau juga harus mengawasi Ariana. Karena dia adalah prioritas utama."


"Baik, pak Daniel!:


Setelah mengatakan itu, Liki melirik kopi yang barusan dia letakkan di atas meja.


"Pak Daniel, kopinya. Minumlah selagi panas."


Daniel mengambilnya dan langsung menyeruputnya. Tidak lama kemudian Daniel menyemprotkan kopi yang ada di dalam mulutnya ke arah Liki, di saat itu semburan dari dalam mulut Daniel mengenai wajah Liki.


Liki terkejut dan langsung memandang wajah Daniel dengan bingung. Kopi itu mengenai di seluruh wajahnya, Liki tidak akan berani marah meski di hatinya jengkel.


"Pak Daniel, ada apa dengan kopi itu?"


Daniel menyerahkan cangkir kopi itu kepada Liki.


"Minumlah!"


Liki menyeka wajahnya kemudian mengambil cangkir kopi tersebut. Liki melihat kopi itu dan menciumnya, dan tercium bau harum. Dia menyeruputnya sedikit dan kemudian langsung meludahkannya ke tong sampah. Jika Daniel tidak mundur satu langkah lebih awal, dia pasti akan kena semburan kopi dari mulut Liki.


"Pak Daniel, ini ..., tadi resepsionis mengatakan bahwa kau sengaja memesan kopi ini dan aku membawanya kepadamu!"


Resepsionis? Daniel mengernyit.


Seseorang pasti dengan sengaja mencoba untuk bermain-main dengannya!


"Pak Daniel, kenapa kopi ini terasa sangat pahit sekali? Apa yang mereka masukkan ke dalam kopi ini?"


"Sepertinya obat yang terkenal sangat pahit itu!"


"Tetapi siapa yang mencoba melakukannya?" Timbul beberapa pertanyaan di kepala Daniel mau oun Liki.


Daniel pernah membaca beberapa buku, seseorang menemukan ramuan obat tradisional yang paling pahit sedunia. Sebutir debu saja jika ramuan itu di masukkan di dalam sepuluh liter air, maka rasanya pun akan sangat pahit, bagaimana jika di masukkan ke dalam secangkir kopi? Tentu saja rasa pahitnya akan sampai ke tulang, mungkin besok rasa pahitnya belum akan hilang. Siapa yang bisa memikirkan ide gila seperti ini?


"Siapa yang begitu keji?"


"Pak Daniel, jangan khwatir, aku akan pergi memeriksanya."

__ADS_1


Daniel sudah tidak tahan untuk berkumur-kumur pegi ke wastafel dan memakan sesuatu yang manis untuk mengurangi rasa pahitnya.


vote ya kak ๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2