Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
128


__ADS_3

Ariana tau betapa liciknya Sela.


Setelah dia merasa lega, Ariana pun kembali masuk ke kamarnya. Saat ingin berbaring, dia mendengar Revi menangis meraung. Dia pun tak sabaran ingin melihat. Hatinya langsung cemas mengira bahwa sesuatu yang telah terjadi, dan dengan cepat dia berlari ke kamar tidur kedua anak itu.


"Ada apa? Revi, ada apa?"


Revi yang melihat Ariana semakin menangis.


"Revi, katakan ada apa?"


Sambil menangis Revi menunjuk Reva.


Ariana menoleh dan melihat Reva dengan wajahnya terlihat polos dan tak bersalah.


"Aku hanya mengatakan tubuhnya seperti babi, dan dia sudah menangis."


Revi menyeka air matanya.


"Dia tidak hanya mengatakan aku babi, dia berkata kalau aku juga babi bodoh, babi busuk!"


"Aku hanya mengatakan babi bodoh, aku tidak mengatakan babi busuk, kau salah dengar, dan sudah menangis duluan."


Ariana menatap dengan tajam dan Reva menutup mulutnya.


Reva ini jika memarahi orang sangat pedas ucapannya.


Daniel yang juga mendengar teriakan itu, dia kira Deffan dan Kenzie berkelahi, sehingga dia buru-buru pergi keluar dan ketika melewati kamar Reva dan Revi, dia mendengar percakapan mereka, dan juga suara Ariana terdengar di telinganya.


Wajah yang dingin itu tiba-tiba tersenyum dengan aneh dan bahkan kini tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Mendengar tawa itu, Ariana menoleh dan menatap Daniel dengan sengit.


Dia menoleh kembali kepada Revi dan membujuknya.


"Kakak mu yang salah, aku akan menyuruh kakak meminta maaf kepadamu ya."


Revi yang terisak itu menoleh dan menatap Reva.


"Dia harus meminta maaf dan berjanji untuk tidak memanggil ku babi lagi!"


"Kan memang mirip, lalu kenapa tidak boleh mengatakannya?" Reva bergumam pada dirinya sendiri.


"Reva, minta maaf kepada adikmu, dan kedepannya kau tidak boleh memanggilnya dengan seperti itu lagi!"


"Mama, aki ...." Reva menatap dengan tidak senang.


"Jika kau menyelesaikannya seperti itu, sama saja kau tidak menyelesaikan masalahnya."


Kedua anak yang sedang bertengkar itu sudah membuat Ariana sakit kepala di tambah lagi dengan ucapan Daniel. Apakah dia datang untuk membuat onar?


"Pak Daniel, ini adalah masalah putriku, kau tidak perlu menghawatirkannya!"


"Ini wilayah ku, aku bisa mengatakan apa saja yang ingin aku katakan." Daniel berbicara dengan santai dan tidak memperdulikan Ariana sama sekali.


Ariana menghela napasnya yang panjang.


"Lalu, menurut mu bagaimana menyelesaikan masalahnya?"


"Tentu saja mengobatinya akar permasalahan." ucap Daniel.

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


Ariana menatapnya dengan curiga.


"Biarkan Revi berusaha untuk berubah agar siapa pun tak ada alasan untuk menertawakannya lagi!"


"Maksud mu, kau ingin Revi menurunkan berat badannya?"


Hah .... mata Revi membulat saat mendengar penurunan berat badan. Dan dia terlihat penuh dengan ketidak percayaan.


Ini jelas salah Reva, mengapa malah menyuruhnya menurunkan berat badan.


"Apakah kau mampu mengendalikan mulut Revi dan orang lain? Ketika anak-anak lainnya mengatakan ini, apakah kau akan mengejar dan meminta mereka untuk meminta maaf kepada Revi?"


Selain itu Daniel juga pernah melihat cara Revi makan kue dengan tamak.


Pertumbuhan anak sangat penting, dan makanannya juga harus di kontrol.


Ketika Daniel selesai bicara, dia mengangkat kakinya dan pergi.


"Mama, kurasa dia benar!"


Wajah kecil Revi memandang Ariana dengan sedih.


Ariana mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalanya.


"Revi, bagaimana jika lain kali kita kurangi makan kue manis-manis, dan hindari makanan yang berlemak, oke?"


Revi menangis dan mengangguk dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Revi, saat kau sudah kurus seperti ku, aku akan meminta maaf padamu! Kau harus berusaha keras."


"Kau, kau tunggu saja, aku akan lebih kurus dari mu nanti, lebih cantik dari mu!" Revi dengan bangga berkata seperti itu, membuat dalam hati Reva mengejek.


__ADS_2