Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
76


__ADS_3

...🌺 Like setelah membaca🌺...


...🌺Jangan lupa follow akun author 🌺...


❤️Vote❤️


Asisten Liki bingung dengan kata-kata Daniel. Kenapa harus dia yang melakukannya, ini benar-benar tidak adil buatnya.


Inikan sama saja dia tetap harus memohon kepada Ariana!


Dengan kata, Daniel sengaja melempar bola sembunyi tangan!


Tetapi meskipun dia berhasil meminta Ariana untuk kembali datang bekerja di kantor ini, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pak Daniel, karena Liki lah yang telah memohon Ariana untuk kembali ke perusahaan ini.


"Pergi dan lakukanlah!"


"Ini ...."


"Apakah ada masalah?"


"Tidak. Tidak ada masalah."


Liki berjalan keluar dari kantor Daniel dengan wajah lunglai dan tersenyum masam. Dia tiba-tiba teringat bahwa Nyonya Maira sepertinya ingin pak Daniel yang secara pribadi mengundang nona Messa untuk kembali.


Teringat akan hal ini, dia pun segera menelpon nyonya Maira.


Maira mendengarkan keluhan Liki, asisten pribadi putranya Daniel. Maira mengulum bibirnya dan tersenyum, melemparkan kesalahan pada orang lain adalah gaya putranya.


Sudah saatnya membiarkan mereka membantu Daniel dalam hal ini, kalau tidak untuk apa Daniel mempunyai begitu banyak anak buah.


"Nyonya Maira, harus bagaimana sekarang?"


"Kau yang pergi memohon nya!"


"Aku ..., yang pergi?"


"Ya, kau adalah asisten pak Daniel. Begini ....."


Maira sengaja berbicara secara tersembunyi pada Liki. Liki melihat ke ponselnya dan menghela nafas yang amat berat. Jika dia melakukan apa yang nyonya Maira katakan dan di ketahui oleh Daniel, dia tidak tahu apakah Daniel akan mengikutinya hidup-hidup atau mengirimnya ke Antartika untuk menemani pinguin!


Pada saat itu, dia benar-benar merasa menjadi asisten CEO itu tidak mudah! Dan yang lebih sulit lagi menjadi asisten pak Daniel adalah .... Ah sudahlah, lupakan saka. Kerjakan dulu tugasnya ini.


Liki keluar dari perusahaan, dan dia segera menelpon Ariana.


Ariana yang baru saja hendak menjemput anak-anaknya, ponselnya berdering secara tiba-tiba, dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya di dalam tas.


Melihat ID penelepon adalah Liki, dia seperti melihat wajah keji Daniel.


Ariana membiarkan ponselnya bergetar. Liki menelponnya beberapa kali, tetapi Ariana tetap membiarkannya.


Untuk yang kesekian kalinya, Ariana baru mau mengangkatnya.


Setelah telpon tersambung, Liki langsung bicara.


"Nona Messa, ini aku Liki."


"Ya ada perlu apa?"


Ariana menjawab dengan santai.


"Apakah kau punya waktu? Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu!"


"Aku sibuk, katakan saja lewat telpon!"

__ADS_1


Liki tertegun untuk beberapa saat.


"Nona Messa, kembalilah ke perusahaan-perusahaan ...." Liki menjelaskan dengan baik tentang kembalinya ke perusahaan. Dan mengatakan masalah gaji yang Ariana mau, Ariana bisa minta dengan sesuka hati.


"Nona Messa, apakah kau ...."


"Halo ..., di tempatku sinyalnya kurang bagus. Aku tidak begitu mendengar suara mu. Halo ..., apakah kau mendengarkan suara ku? Halo ..., halo ...."


Ariana segera memutuskan sambungan telpon ketika dia mengucapkan halo.


Dia mencibir setelah mematikan ponselnya. Kemarin saja dia di usir seenak jidatnya, sekarang memintanya untuk kembali, emangnya aku ini bola yang bisa mereka tendang dan lempar kemana pun sesuka hati! Benar-benar tidak punya perasaan!


Liki menghela nafas setelah telponnya terputus. Dia tau kalua memang tidak mudah untuk menghadapi nona Messa yang berani menentang pak Daniel itu. Dia juga pasti tidak mudah untuk kembali ke perusahaan.


Liki harus membujuknya dan akan menemuinya. Ya cuma ini jalan suatu.


Ariana melihat Deffan yang berlari ke arahnya dengan senyuman di wajahnya.


"Kenapa kau berlari begitu cepat? Mana Revi dan Reva?" Maira melihat ke pintu gerbang.


Kenzie yang sudah kangen sekali dengan mamanya itu, dia sengaja cepat-cepat keluar, agar segera bertemu dengan Mama.


"Mama ...," Deffan memeluknya dengan erat.


Ariana menatapnya. Ada apa dengan anak ini? Seperti sudah lama tidak bertemu saja. Ariana mengelus pucuk kepala Deffan.


"Mereka masih ada di belakang."


Dua mata saya jernih itu menatap Ariana dengan berbinar. Kerinduan yang begitu dalam di matanya. Tetapi Ariana tidak terlalu memperhatikannya karena belum melihat kedua putrinya keluar.


Melihat Kenzie yang menatapnya sejak tadi, Ariana menundukkan matanya dengan curiga.


"Ada apa dengan Mama? Kenapa menatap Mama begitu? Apakah ada sesuatu di wajah Mama?"


"Ada apa?" Ariana menatapnya.


Kenzie mengulurkan tangan kecilnya, kemudian menyentuh pipi Ariana dengan lembut. Dia tersenyum.


"Ada ..., ada wajah Mama yang cantik."


Mama adalah wanita yang baik dan sanga lembut di dunia, Mama yang begitu menyayangi anak-anaknya.


Ariana mencium bau dari rambut Deffan, ini seperti ....


Belum sempat Ariana memikirkannya, Revi berlari ke arahnya.


"Mama, Deffan berlari begitu cepat, dan tidak menunggu kita."


Revi yang terengah-engah karena berlari tadi, matanya yang bulat dan besar itu berputar melirik Deffan.


Kenzie sedikit cemberut. Dia berlari duluan, karena hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Mama, dia sudah rindu dengan Mama, makanya dia berlari secepat itu.


"Dimana Reva?"


Ariana melihat ke sekeliling tetapi tidak menemukan Reva, dia bertanya dengan cemas.


"Dia di belakang."


Ariana melihat Reva yang berjalan dengan santai, dia tidak terlalu bergeming melihat mereka yang sedang menunggunya.


Melihat Reva seperti itu, Ariana mengernyitkan keningnya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat?"

__ADS_1


"Mereka semua tidak mau menunggu ku!"


Reva tampak cemberut, dia melipat kedua tangannya di dada.


Ariana menyeka keringat di pelipis Reva.


"Sudah, kita pulang sekarang ya, Mama sudah masak enak untuk kalian."


"Ye ..., kita pulang, kita pulang ...." Mereka berteriak kencang dengan serentak. Wajah mereka tampak riang, Ariana senang melihat mereka seperti itu.


Saat di mobil, Reva melirik Revi, mengingat mamanya mengatakan kalu dia memasak yang enak buat mereka.


"Kau tidak boleh memakan terlalu banyak, ingat kondisi badanmu sekarang!"


Reva mengingatkan Revi seperti orang dewasa. Sementara Revi meliriknya dengan malas, matanya melotot tidak suka dengan ucapan Reva barusan.


"Kau selalu saja berkata begitu! Apakah tidak ada kata-kata lain lagi." Revi menekuk wajahnya dengan marah.


"Aku melakukan ini demi kebaikan mu sendiri."


"Tetapi kau menyakiti seseorang dengan berkata seperti itu. Kau melukai harga diri orang."


Mereka berdua mulai berdebat.


"Cobalah menjadi secantik aku dulu, baru busa berkata masalah harga diri! Dasar gemuk."


Reva berpikir kalau Revi menolak untuk makan lebih sedikit, makanya dia mulai mencari berbagai alasan.


Revi menjadi marah, dia menatap Reva dengan kesal.


"Deffan semalam Reva melempar tablet mu, suru dia ganti."


Apa-apaan ini! Semalam kan sudah berjanji tidak akan mengatakannya, tapi ini malah ....


Reva menatap Revi dengan melotot, wajahnya marah, Revi benar-benar tidak bisa di ajak menyimpan rahasia. Ini bisa di bilang penghianatan secara terang-terangan.


"Revi, kau ..., kau keterlaluan!"


"Aku melakukan ini demi Deffan."


Revi menatap Reva dengan percaya diri, melakukan demi kebaikan orang lain, tetapi tidak memperdulikan rasa sakit hati orang. Aku juga bisa melakukannya.


"Mama, kau lihat dia ...."


"Apakah kau memecahkan tabletnya?"


Kenzie yang mereka kura Deffan itu mendekat dan menatap Reva dengan serius.


Reva tertegun, Deffan sebelumnya tidak pernah serius seperti ini. Mengajukan pertanyaan seperti itu, apakah Deffan benar-benar memintanya untuk mengganti tabletnya?


Reva yang sudah susah payah menabung untuk membeli peralatan kosmetiknya, apakah uangnya cukup untuk mengganti tablet Deffan? Tapi bagaimana dengan alat kosmetik ku? Reva bingung dan menundukkan kepalanya, matanya sudah memerah menahan tangis.


"Aku tidak punya uang untuk menggantikannya."


"Mengganti dengan uang adalah masalah yang berbeda dengan keberanian kau mengakuinya. Kalu kau memang melemparnya, maka kau harus mengakuinya dan meminta maaf."


Deffan mengatakannya dengan serius. Reva memandangnya dengan sangat asing. Deffan yang selalu tersenyum, terapi dia kali ini sangat tegas dan serius dengan masalah tabletnya.


Adik perempuannya ini tidak berharga kah di bandingkan dengan tabletnya itu?


Mereka pun tiba di rumah. Reva memandang Deffan dan Revi dengan wajahnya yang buram.


"Deffan, Revi, aku musuhan sama kalian berdua, aku tidak ingin bicara dengan kalian berdua."

__ADS_1


Reva segera turun dari mobil, dan berlari masuk ke dalam rumah.


__ADS_2