
Di kantor Mahesa group
Setelah Daniel selesai rapat, dia bergegas kembai ke kantor CEO. Begitu dia membuka pintu, dia sangat terkejut.
Bagaimana bisa wanita sialan ini tiba-tiba muncul di ruangannya?
Kedua alisnya saling bertautan, wajahnya suram seperti monster, mengerikan sekali.
"Mengapa kau ada di sini?" Nada suaranya dingin, meski pelan namun membuat bulu kuduk Ariana meremang.
Ariana tidak menjawab, dia menoleh ke samping. Sementara Daniel mengikuti arah pandangannya, kemudian dia melihat Mama yang duduk di sofa dengan sebuah senyuman yang mengembang.
"Aku yang membawanya kemari!"
"Mama, ini kantor, untuk apa membawanya kemari?"
Maira bangun dari tempat duduk, dia berjalan perlahan menghampiri Daniel.
"Dengan gajinya sekarang dan hanya menjadi pengasuh Kenzie kurasa itu agak sedikit berlebihan. Makanya aku membawanya kesini untuk menambahkan pekerjaan kepadanya. Biarkan dia bekerja di sini!"
Mata Daniel melotot, menatap Maira tidak percaya.
"Datang kesini untuk bekerja? Bukankah ini lucu sekali?"
Maira tertawa.
"Apanya yang lucu? Ini sama sekali tidak lucu Daniel." Maira tersenyum.
Daniel melirik Ariana dengan geli. Wanita ini begitu ingin mendekatinya!
Dia masih mau bekerja di kantornya juga? Benar-benar lebih keras kepala dari pada Sela!
Sama sekali tidak tau diri! Dia melipat kedua tangannya di dada.
"Perusahaan tidak membutuhkan orang yang tidak kompeten!" Daniel berkata dengan tegas. Dia langsung menolaknya mentah-mentah.
Maira sudah tau dia akan mengatakan ini, dan Maira meletakkan buku perekrutan perusahaan di atas meja dengan tenang.
"Aku sudah memeriksanya. Perusahaan sedang membuka lowongan pekerjaan untuk penerjemah dan kebetulan dia handal di bidang itu!"
Penerjemah?
Daniel mengernyitkan keningnya. Kapan perusahaan membutuhkan penerjemah? Dan kenapa dia tidak tau?
Dia lalu segera menelpon dan meminta Liki untuk masuk, dan mau bertanya langsung tentang hal ini.
Liki langsung masuk, dan menemukan wajah Daniel yang sedang tidak senang. Lalu dia juga menatap Maira.
Tidak ada yang boleh di singgung! Liki segera memikirkan masalah ini dengan cepat,bagaimana pun caranya agar keduanya tidak ada yang terpojok.
"Pak Daniel, beberapa jam yang lalu, Rian dari departemen penerjemah tiba-tiba merasa tidak enak badan, dan merasa bahwa dia tidak mampu untuk melanjutkan pekerjaannya ini, jadi dia mengundurkan diri."
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu?
Daniel sudah dapay menduganya, ini pasti sudah dimanipulasi oleh mamanya. Di lakukan dengan cepat sekali.
Seorang seperti mamanya dapat di atur oleh Ariana? Daniel benar-benar ingin marah dan benci, bahkan sanga benci. Wanita ini sangat licik sekali, memainkan berbagai trik untuk mendapatkan sesuatu yang merupakan tujuannya. Daniel mengepalkan tangannya serta memandang lurus ke arah Ariana.
"Mau apa kau sebenarnya!"
Kata-kata itu dingin sekali, hingga mampu menembus ulu hatinya.
Maira menatap putranya.
"Dia tidak mau apa-apa, aku yang memintanya datang untuk bekerja di sini."
"Ma, aku tidak setuju. Dia itu sangat licik. Kau jangan mudah tertipu oleh wanita ini!"
"Kau tidak setuju juga tidak masalah, dia akan tetap bekerja di sini. Tak pernahkah kau dengar bahwa hutang budi harus di balas?"
Ucapan mamanya benar-benar membuat Daniel tercengang.
Daniel mencibir, bibirnya terangkat ke atas menampilkan senyuman mengejek.
"Aku berhutang budi apa padanya?"
"Tadi siang dia membuat makanan. Apakah kau memakannya? Kau tidak hanya memakannya saja, bahkan masih menambah semangkuk nasi saat makan siang tadi, benarkan? Jadi sekarang saatnya kau membalas budi dengan menyetujuinya."
Untuk mencapai tujuannya itu, Maira menggunakan cara tarik ulur terhadap Daniel.
"Seandainya saya tau dari awal, bahwa makanan itu di buat oleh wanita sial ini, sayapun tidak akan pernah memakannya! Mama sudah menipu ku dengan cara mu seperti ini!"
Maira menatap Daniel dengan seksama, matanya menyipit.
"Tapi enak, kan?"
Maira tersenyum menatap Daniel yang semakin kesal di buatnya.
Ariana menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa. Ketika Maira berkata seperti itu, dia merasa seperti dia mempunyai maksud lain saat membuatkan makanan itu, padahal dia sama sekali tidak pernah berpikir kesitu.
Dia tau bahwa apapun yang akan dia jelaskan saat ini, Daniel tidak akan percaya dan dia juga merasa malas untuk menjelaskannya.
"Ariana, kau sangat menjijikan sekali."
Dikatai seperti itu, Ariana sangat tertusuk, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Daniel dengan tatapan yang datar.
"Pak Daniel, jika kau tidak ingin aku bekerja di sini, sama sekali tidak ada masalah, tapi tolong perhatikan ucapan mu itu. Kau tidak berhak mengatai orang seperti itu!"
Daniel tersenyum sinis, ingin rasanya dia meludahi wajah perempuan di depannya ini.
Ya ampun kejam sekali kau CEO.
"Wanita seperti mu, memang tidak pantas bekerja di kantor ini. Kalau kau tidak ingin di katai maka cerdas lah sedikit dan keluar sendiri dari sini!"
__ADS_1
"Wanita seperti saya tidak pantas bekerja di sini? Lalu wanita seperti apa yang pantas bekerja di sini?"
"Untuk bekerja di perusahaan Mahesa grup juga harus melalui proses tes wawancara. Harus mempunyai bakat dan ilmu. Bukan sepertimu yang mencari bekingan dan menggunakan beberapa trik untuk masuk dan bekerja di sini!"
Ariana menghela napasnya.
Kalau hanya wawancara itu gampang menurutnya, tidak perlu meragukannya lagi soal itu.
"Tes wawancara? Hal yang sangat mudah, wanita seperti ku ini pasti akan lulus kalau hanya wawancara saja." Ariana berkata seperti menantangnya.
Liki yang melihat itu merasa khwatir, sebelumnya tidak ada seorang wanita pun yang berani menantang Daniel seperti ini.
Itu berarti, sebentar lagi akan ada pertunjukan yang bagus!
Ketika Daniel mendengarkan apa yang Ariana katakan, dia merasa kalau Ariana hanya bisa menyombongkan dirinya saja.
Daniel menoleh ke arah Maira.
"Mama, kalau begitu kita harus melakukan tes wawancara. Jika dia lulus, maka aku akan membiarkan dia untuk bekerja di sini!"
Maira bangkit dan berjalan ke arah Ariana.
"Apakah kau mau ikut tes wawancara?"
Ariana berpikir sejenak. Jika Daniel memang sengaja ingin mempersulitnya, tidak peduli apakah dia menjawab dengan benar atau salah, nantinya Daniel akan mempunyai alasan lain lagi untuk menolaknya. Tapi jika itu adalah wawancara yang adil, maka dia yakin, dia akan dengan mudah lulus wawancara itu.
"Aku sebenarnya yakin dengan kemampuan ku, tapi ..., aku tidak tau bagaimana maksud pak Daniel nantinya."
Daniel yang mendengar itu tak tahan untuk mengernyitkan keningnya. Apakah wanita ini sedang mengatakan bahwa dengan kemampuannya dia akan lulus tes wawancara itu asalkan dia sedang tidak sengaja mempersulitnya.
"Jangan menganggap semua orang seperti mu. Tes wawancara di grup perusahaan Mahesa selalu memprioritaskan kemampuan dan bakat setiap pelamar. Dan kami juga memperlakukan pelamar setara!"
"Bagus sekali kalu begitu."
Maira melihat mereka yang masih bertengkar, kemudian langsung memutuskan untuk segera memulai tes wawancara itu, dirinya juga akan ikut serta, untuk mengawasi tes wawancara supaya adil.
Pertanyaan untuk tes wawancara sudah di kirim lewat email di komputer pribadi miliknya. Dan Ariana di berikan soal yang harus ia terjemahkan ke dalam tiga bahasa.
Saat menerima soal tersebut Ariana sedikit gugup sebenarnya. Tetapi dia cukup tenang menghadapinya.
Daniel terlihat sinis, menatapnya dengan mencibir.
.
.
.
Akankah Ariana bisa melakukan soal-soal tersebut?
bagaimana kisahnya?
__ADS_1
ikuti terus ceritanya