
Revi masih saja menangis sesenggukan dalam gendongan Ariana. Dia menyeka air matanya dengan percaya diri, lalu menatap Reva perlahan.
"Jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang!"
Revi tersenyum sambil menghapus pipinya yang basah.
"Kamu benar, kita memang yang paling cantik."
Ariana memeluknya kemudian terlihat mereka tertawa terbahak.
Reva memandangi bunga mawar dengan berbagai warna yang menutupi pinggir halaman, matanya bersinar tak berhenti untuk mengaguminya.
"Wah, ini taman bung yang sangat indah, ini pertama kalinya aku melihat keindahannya seperti ini."
Dia mengalihkan pandangannya kepada Ariana.
"Mama, bolehkah aku memetik salah satunya? Aku mau meletakkannya di rambut ku?"
Ariana berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Kau hanya boleh memetik 1 tangki saja. Kalian tidak boleh sembarangan mengambilnya, paham?"
"Ok, Ma."
Reva berjalan ke arah depan, memandangi bunga-bunga itu secara bergantian, satu persatu melihat warna bunga-bunga yang akan dia petik salah satunya. Setelah memandangi bunga itu dengan waktu yang cukup lama, dia pun mengulurkan tangannya memilih bunga mawar merah muda yang lembut itu.
"Jangan di petik!"
Suara itu terdengar melengking membuat Reva kaget. Dia menoleh dan melihat mata Daniel yang dingin itu sedang menatapnya dengan sedikit marah yang terlihat dari wajahnya.
Dia belum pernah melihat Daniel berbicara keras seperti itu kepadanya. Reva melirik Ariana seperti anak yang sedang ketakutan.
Ariana tidak menyangka Daniel akan menjadi seperti ini. Jadi dia berjalan dengan cepat menghampiri Daniel.
"Pak Daniel, Reva sangat menyukainya bunga, jadi dia hanya memilih salah satu dari warnanya saja, bolehkah?"
"Tidak boleh." Daniel menjawab dengan tegas, dan menekankan kalu tidak ada yang boleh memetiknya.
"Ada begitu banyak bunga di taman ini, bahkan tak terhitung jumlahnya, tak bolehkah memetik salah satunya?"
Ariana menautkan kedua alisnya, menampakkan wajahnya yang tidak senang. Daniel tidak hanya peduli dengan villa ini, tetapi juga termasuk dengan bunga-bunga yang ada di taman ini.
__ADS_1
Ariana tidak ingin berdebat dengannya, dia membalikkan badannya dan berjalan kesisi Reva.
Ariana memetik bunga yang tadinya Reva lihat, kemudian memberikannya kepada Reva.
"Reva, ambillah."
"Ariana!" Daniel berteriak dengan menggertakkan giginya, tangannya terkepal erat.
Ariana berbalik dan menatap Daniel tanpa rasa takut.
"Pak Daniel, tanaman ini milik Deffan. Sekarang Deffan membiarkan kami untuk tinggal di sini, jadi kau tidak perlu khwatir mengenai bunganya akan di petik atau di biarkan saja."
Mendengar ucapan Ariana barusan. Wajah Daniel yang tampan itu semakin menggelap. Belum juga dia pindah di sini sudah berani membantahnya.
Jika mereka akan pindah ke sini, villa dan taman bunga ini akan rusak karena Ariana dan juga anak-anaknya. Daniel tidak berani membayangkan bagaimana bentuk taman itu nantinya.
"Asal kau tidak pindah ketempat ini, tempat lainnya ...."
"Aku tidak akan mau tinggal di tempat lain, aku mau tinggal di sini."
Ariana lngsung menyela ucapan Daniel.
Dia hanya merasakan kemarahan yang luar biasa, di dalam hatinya seperti kobaran api yang membakar seluruh jiwanya. Wanita ini benar-benar sengaja ingin melawannya!
Setelah beberapa saat, Ariana mengangkat kepalanya dan menatap Daniel dengan seksama.
"Pak Daniel, maafkan aku, aku mempunyai perasaan dengan tempat ini, jadi aku ingin tinggal di sini."
Punya perasaan?
Daniel melongo, memicingkan matanya menatap Ariana. Baru saja datang ke sini sudah ada perasaan?
Benar-benar alasan yang tidak masuk akal.
"Apakah kau yakin ingin tinggal di sini?"
Daniel menatapnya dengan tajam, dengan marah dia menyuruh Kenzie dan Deffan untuk pergi.
Kedua anak itu menampilkan wajah yang penuh dengan penolakan, apakah Mama akan sedih jika mereka pergi?
"Papa, aku belum mau pulang."
__ADS_1
"Papa, kami baru saja sampai, kami belum cukup bersenang-senang."
Daniel memndagi mereka berdua dengan kedua matanya yang menyipit. Jangan-jangan Ariana mengira anak-anak suka dengan tempat ini, jika dia sengaja ingin tinggal di sini, kemudian membujuk Kenzie dan Deffan untuk tinggal bersamanya di sini?
Dengan cara ini, dia tidak hanya mendapatkan villa Green View ini, tetapi juga mendapatkan kedua putranya ....
Tidak, jangan harap dia akan mendapatkannya!
Daniel tiba-tiba tersenyum tak seperti biasanya di wajahnya yang dingin dan itu, dia menggerakkan giginya serta berkata dengan Deffan: "Deffan, ini adalah villa yang diberikan oleh kakek buyut mu. Apakah Papa boleh tinggal di sini?" Daniel berkata sambil melirik Ariana yang berdiri di sampingnya.
Pertanyaan Daniel mengejutkan semuanya, Deffan mengerjapkan matanya dengan tak percaya mendengar kalimat papanya barusan. Dia menatap Kenzie kemudian kedua anak itu mengangguk dengan penuh semangat.
Mama akan tinggal di sini, dan Papa juga tinggal bersama. kalau begitu Papa Mama dapat berkumpul kembali, luar biasa sekali ini!
"Papa, Mama, Deffan suka sekali kalau kita tinggal bersama.:
"Oke, Papa akan pindah kesini hari ini!"
Daniel sengaja mengucap kata-kata ini agar di dengar Ariana.
Ariana terlihat cemas, dari tatapan mata dan ekspresi Daniel itu dia bisa merasakan ada maksud lain yang sedang dia rencanakan.
Ariana berkata dengan Reva dan Revi, bahwa mereka tidak jadi pindah ke sini.
Ketika Reva mendengarnya dia langsung menggerutu.
"Mama, dia sengaja tidak ingin Mama tinggal di sini, jika kau benar-benar tak jadi tinggal di sini, bukankah itu malah menuruti keinginannya?"
Teringat dengan sikap Daniel yang kasar tadi, Reva juga merasa sangat kesal.
"Benar sekali, Mama, kau tidak usah takut kepadanya! Kami berdua akan membantumu."
Ariana tersenyum, dia menatap Daniel dengan cermat.
"Pak Daniel, sepertinya kamu begitu ingin tinggal bersama kami, yah? Hingga kau juga memutuskan akan tinggal di sini?"
Daniel menatap Ariana dengan lekat.
"Kau berpikir bahwa aku senang jika tinggal bersama mu? Itu karena aku tidak ingin kau dan anak-anak mu yang nakal itu merusak villa dan juga taman ini."
Wajah cantik Ariana berubah muram ketika dia mengatakan anak-anaknya nakal. Bukankah itu juga anak-anaknya juga? Daniel terllu buta hingga tidak mengenali darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Anak-anak ku tidak nakal, kau yang buta hingga tidak melihat bagaimana mereka yang menggemaskan itu."
Daniel mendengus dingin, tidak ingin berdebat dengannya, dia memilih pergi melangkah kakinya yang panjang itu keluar.