Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
143


__ADS_3

Ariana sudah pundak ke villa Green View bersama anak-anak.


Daniel membuat karangan bunga khusus untuk Revi, dia sangat mengaguminya.


"Wah indah sekali, Om. Terimakasih, aku sangat menyukainya." Anak itu terlihat sangat senang, matanya berbinar sambil melihat keatas kepalnya saat Daniel meletakkan karangan bunga yang melingkar itu di atas kepala Revi.


Revi berjalan dengan sangat hati-hati, dia takut karangan bunga itu akan jatuh dan rusak. Dia berjalan mencari Ariana, ingin memperlihatkan betapa cantiknya dirinya hari ini.


"Mama, lihat aku!" Serunya sambil berjalan seperti robot kecil yang kaku.


Ariana menatap Revi dengan matanya yang indah, mata indah itu tertaut di kepala Revi, karangan bunga yang melingkar di kepalnya, begitu indah dan menarik perhatiannya.


"Revi, siapa yang membuatnya?" Ariana bertanya dengan sangat penasaran.


"Papa, yang membuatnya khusus untuk ku, aku terlihat cantik tidak, Ma?" ucapnya begitu senang mau mendengar pujian dari mamanya.


Ariana mengelus pipi Revi.


"Cantik, sangat cantik."


Reva yang melihat karangan bunga di kepala Revi, dia berjalan masuk ke kamar dengan rasa sakit hati. Dia melihat Revi sangat bahagia, sementara dirinya .... dia merasa sangat iri.


Daniel bersikap baik kepada Deffan dan Kenzie, sekarang juga membuat Revi sangat bahagia, dia membuat karangan bunga yang sangat indah untuk Revi. Sepertinya dia adalah anak yang pling tidak dia sukai.


Ariana melihat Reva masuk kedalam kamarnya dengan lesu, jadi dia meminta Revi untuk menyusul dan menemani kakaknya untuk bermain.


Revi berjalan ke kamar, dan sengaja melepaskan karangan bunga itu di atas kepalanya dan memberikannya kepada Reva.


"Ayo kita bermain?" ajak Revi dengan tulus sambil tangannya terulur memberikan karangan bunga itu.


Reva memndagi karangan bunga yang di pegang Revi, dia teringat dengan sikap Daniel terhadapnya, lalu dia mengambil karangan bunga itu dan melemparkannya dengan keras di lantai.


"Aku tidak mau bermain dengan apa yang berhubungan dengannya!" Reva sedikit berteriak.


Revi langsung berjalan mundur satu langkah, air matanya sudah mengalir begitu deras. Ini adalah hadiah pertama yang papanya berikan untuknya, Revi dengan cepat membungkuk mengambil kembali karangan bunga itu.


"Reva, kau keterlaluan!"


Ariana yang mendengar pertengkaran mereka, dia langsung masuk.


"Ada apa Revi?"


"Reva membuang karangan bunga ku."


Ariana menautkan kedua alisnya, bingung dengan sikap Reva seperti itu.


Dia benar-benar bingung kenapa putrinya yang satu ini sangat membenci papanya sendiri. Apakah ayah dan anak ini nanti akan bermusuhan terus?


Ariana berjalan kearah Reva, ingin membicarakan tentang hal ini, tetapi Reva malas membahas tentang Daniel. Dia sengaja membuat alasan untuk pergi ke dapur.


Ariana mendesah, dia melihat punggung kecil Reva berjalan ke arah dapur, dalam hatinya bertanya-tanya. Lain kali Ariana akan lebih memperhatikan Reva.


Dimalam hari, setelah membujuk kedua anaknya untuk tidur, Ariana memperhatikan karangan bunga yang di buat Daniel untuk Revi.


Dia langsung mengingat orang yang membuat karangan bunga untuknya dulu, tidak tau bagaimana kabarnya sekarang, Ariana berjalan ke luar kamar dengan pelan, dia menatap rembulan di atas kepalanya.


Sosok wajah yang begitu familiar muncul dengan jelas di ingatannya. Dengan langkah kakinya, dia berjalan pelan ke suatu tempat, tanpa dia sadari, dia sudah sampai ke halaman depan dekat bunga-bunga yang indah itu. Saat itu Ariana melihat Daniel yang baru saja kembali.

__ADS_1


Melihat ada sosok bayangan yang tidak begitu jelas, Daniel melangkah mendekat dengan selangkah demi selangkah. Daniel mengernyitkan keningnya saat melihat wanita itu.


Apa yang wanita ini lakukan di sini? Daniel bergumam dalam hati.


"Sedang apa kamu di sini? Apakah mau mencuri bunga?"


Suara yang tiba-tiba membangunkan renungan Ariana terhadap masa lalunya, dia menoleh dan menatap Daniel. Ekspresi wajah tampannya tidak terlalu jelas, bau alkohol menyeruak dari mulutnya, Ariana menghela nafas dalam.


"Jangan salah paham. Pak Daniel, aku hanya melihat-lihat."


"Melihat-lihat? Kau melihat-lihat di malam hari begini?"


Kata-kata Daniel meragukannya.


Ariana melirik Daniel.


"Aku hanya berdiri di bawah bunga ini, jika bukan melihat-lihat, apa lagi yang aku lakukan di sini?"


Daniel menatapnya dari atas sampai ujung kakinya.


"Kau mempunyai tujuan untuk datang ke sini."


Dimata Daniel, Ariana hanyalah memiliki tujuan tertentu.


Ariana terlalu malas untuk memperdulikannya, dia berjalan kebelakang meninggalkan Daniel.


Daniel mengernyit, tak masuk akal jika wanita ini melepaskan kesempatan yang begitu baik.


Dengan pergi begitu saja. Daniel pergi ke kamarnya untuk istrahat setelah memastikan wanita itu tidak kembali lagi.


***


Ariana sangat gembira ketika melihat mereka berdua menemuinya.


"Kenzie, Deffan. Apakah kalian ingin makan? Jika mau, Mama akan memasak untuk kalian?"


Deffan berpikir sejenak, lalu dia mengatakan beberapa masakan yang Mamanya kuasai, dia menyebutnya dengan santai.


"Sayap ayam, ikan asam manis, goreng terong tepung, tumis sayur kangkung."


"Aku juga mau makan daging ayam kecap." timpal Revi dari belakang.


"Aku mau sayuran saja." ucap Reva dengan malas. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Oke, Mama akan menumis kangkung saus untuk mu." Kemudian Ariana pun menoleh kepada Kenzie.


"Kenzie, kau mau makan apa?"


Kenzie berpikir sejenak.


"Apakah makanan yang mereka katakan tadi enak?" Kenzie bingung dengan makanan yang mereka sebutkan tadi. Baru kali ini dia mendengarnya.


"Tentu saja enak, itu adalah masakan yang pling enak, semua yang Mama masak sangat lezat." Deffan berkata dengan semangat, Reva dan Revi menganggukkan kepalanya.


"Kalu begitu aku samaan sama mereka saja."


jawab Kenzie.

__ADS_1


"Oke. Sementara Mama masak, kalian boleh bermain dulu, yah. Mama akan memasak buat kalian semua."


Keempat anak itu memang mengangguk dengan cepat, Melihat mereka yang begitu patuh terhadapnya, Ariana tersenyum bahagia.


Ariana berjalan ke dapur. Dia melihat bahan-bahan dan sepertinya ada sesuatu yang kurang.


Villa Green View ini terletak di pinggiran kota, jauh dari pusat pembelanjaan. Jika dia pergi ke pasar, dia takut anak-anak akan terllu lama menunggu.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ariana memutuskan untuk meminjam bahan makanan kepada Daniel, nanti dia akan menggantinya, setelah anak-anak makan dia akan langsung pergi ke pasar. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Ariana mengatakannya kepada Daniel.


"Meminjam apa?" Daniel bertanya dengan heran mendengar Ariana ingin meminjam sesuatu darinya.


"Meminjam bahan makanan. Setelah anak-anak makan, aku akan langsung pergi ke pasar untuk menukar bahan makanan yang ku pakai."


Pupil mata Daniel menyipit. Dia memperhatikan sikap serius Ariana. Dalam hatinya berpikir bahwa Ariana cukup lihai dalam memasak, dia berni sekali berinisiatif untuk meminjam sesuatu darinya?


"Baik, asal kau mengembalikannya dua kali lipat." ucap Daniel dengan kejam.


Ariana tidak mempermasalahkannya, dari pada anak-anaknya terlambat makan lebih baik begitu saja.


"Tidak masalah, jika kau setuju meminjamkannya di saat aku terdesak dan menggantinya dengan dua kali lipat, aku tidak keberatan, asal anak-anak tidak terlambat untuk makan."


"Baiklah, kau mau meminjam apa saja?"


Ariana menghitung jumlah makanan yang akan dia buat.


"Aku mau meminjam sayap ayam."


"Boleh saja, asal kau mengembalikannya 5 kali lipat."


"Tidak masalah."


"Apa lagi?"


"Aku juga mau pinjam seekor ikan."


"Boleh, kau harus mengembalikannya dengan 10 ekor ikan."


Sepuluh? Kenapa tidak mengatakan satu kolam sekalian! Dalam hati Ariana mencibir sambil mengernyitkan keningnya, tetapi dia dengan sabar mengiyakan ucapan Daniel.


"Baiklah." ucap Ariana.


Setelah Daniel memberikan apa yang dia mau, Ariana mengambilnya dengan sedikit tersenyum.


"Pak Daniel, aku akan menggantinya sesuai yang kau katakan."


"Tentu saja."


"Apakah kau tidak memikirkan sesuatu dulu?" pertanyaan Ariana membuat Daniel bingung.


"Apa maksudmu?"


"Tidak, apa kau tidak berpikir bahwa kau lebih kejam dari seorang rentenir."


Ariana berkata sambil berlalu.


"Hey! Kau boleh menolaknya jika kau merasa keberatan!" Daniel berteriak kepada Ariana yang sudah menjauh.

__ADS_1


"Tidak, aku akan mengembalikannya sesuai yang kau mau!" Ariana juga berkata dengan berteriak agar Daniel mendengar ucapannya.


Sungguh kejam, padahal Ariana memasak untuk anak-anaknya sendiri, tetapi dia sangat perhitungan dengan Ariana.


__ADS_2