
🌺 like 🌺
Saat Ariana kembali ke kantor, Daniel sedang duduk dengan santai di ruang kerjanya dan sejak tadi menunggunya datang, siapa lagi kalau bukan Ariana.
Dia membayangkan bagaimana wanita itu marah kepadanya! Bibir tipis terukir dengan senyuman liciknya.
Setelah beberapa lama dia menunggu, wanita itu tidak kunjung datang menemuinya untuk memberikan perhitungan ke padanya.
Apakah rasa kue itu tidak begitu spesial! Daniel memegangi dagunya sambil terus membayang-bayangkan apa yang terjadi.
Mungkin saja Ariana merasa bersalah karena mengajarkan ide aneh itu kepada Kenzie, hingga dia tidak berani datang untuk memarahinya.
Daniel aneh sekali, sangat berharap Ariana akan marah kepadanya.
Daniel semakin penasaran dan tidak sabar lagi. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya kemudian keluar menuju tempat Ariana kerja.
Melalui kaca jendela yang transparan, dia melihat Ariana menundukkan kepalanya, pokus mengetik di keyboard, dan sebentar-sebentar dia melihat ke data yang ada di depannya.
Ariana terlihat cantik hari ini, penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya, jemarinya yang halus dan lentik, dengan lentur mengetik lincah di keyboard. Sesaat Daniel mengaguminya.
Wanita ini sebenarnya ....
Saat dia memikirkan itu, tiba-tiba matanya tertuju ke bingkisan kue mousse yang ada di sampingnya, seketika dia langsung mengernyit. Bukankah Liki bilang dia mau membawanya pulang? Tetapi kenapa kue itu masih ada? Apakah dia tidak ingin memakannya atau ....
Daniel kembali ke ruang kerjanya dan segera memanggil Liki.
"Sore pak Daniel, apakah ada keperluan?" Liki bertanya dengan sedikit menundukkan kepalanya, tanda dia sangat menghormati atasannya.
"Apa maksudnya itu, kenapa kue itu tidak dia bawa pulang? Apakah dia tidak suka dengan kue itu? Kau bilang dia akan membawanya pulang, tapi ternyata kue itu masih ada di mejanya?"
Daniel berkata dengan sedikit kesal. Dan meminta Liki untuk mencari tahu nya.
Liki menatap Daniel dengan mengerti.
"Pak Daniel, mungkin saja dia lupa tadi, karena dia terlihat terlalu pokus bekerja, jadi dia melupakannya saat pulang siang tadi."
Daniel sepertinya yakin dengan apa yang di ucapkan Liki, bisa saja begitu. Tadi dia melihat Ariana begitu tekun dan serius menatap komputer.
"Baiklah, saya akan mengingatnya lagi."
Daniel mengangguk, dan Liki segera keluar dari ruangan kerja CEO.
Dalam benak Daniel mengakui kalau Ariana memang serius dalam bekerja. Cara kerjanya yang begitu bersemangat dan tanpa lelah, menang sulit untuk menebak pikirannya, dia terlihat bekerja lebih serius di bandingkan dengan orang biasa.
Liki masuk ke ruangan kerja Ariana. Ariana mendongak ke atas saat mendapati Liki yang berdiri di hadapannya.
"Kamu terlihat sangat serius dalam bekerja, semangat kerja mu luar biasa." puji Liki terhadap Ariana.
Ariana tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bukankah seseorang yang lagi dalam keadaan bekerja memang harus serius agar pekerjaannya maksimal, jika aku tidak serius, tentu saja, semua pekerjaan ku akan berantakan. Pak Liki, kau terlalu berlebihan untuk memuji ku." Ariana kembali melanjutkan pekerjaannya, matanya beralih menatap layar komputer.
Tentu saja kedatangan Liki kesini bukan untuk memujinya, tetapi ingin mencari tau kenapa Ariana tidak membawa kuenya pulang tadi siang.
Pura-pura melihat pekerjaan Ariana.
"Oh ya, kenapa kuenya masih ada? Apakah kamu lupa membawanya tadi?"
Ariana melirik Liki kemudian beralih menatap kue itu.
"Saya benar-benar melupakannya, tadi terlalu buru-buru saat pulang, jadi aku lupa."
Sudah ku duga, dia pasti lupa.
"Tidak apa-apa, saat pulang nanti kau jangan lupa untuk membawanya, aku hanya tidak enak hati dengan pak Daniel, seolah-olah kau menolak pemberian darinya."
Ariana menganggukkan kepalanya.
"Ya, nanti aku akan mengingatnya."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dahulu, masih ingin melihat-lihat pekerjaan karyawan lainnya." Liki pura-pura sengaja melihat pekerjaan semua karyawan, padahal itu cuma triknya agar nona Messa tidak mencurigainya, karena dia tau, Nona Messa bukankah orang yang biasa-biasa saja, dia juga sangat cerdik, dan cepat sekali memahami seseorang.
Ariana kembali bekerja. Saat matahari mulai tenggelam, langit mulai gelap. Liki kembali melintas di ruangan Ariana dan masuk.
"Apakah pekerjaan mu belum selesai?"
"Sedikit lagi."
"Saat pulang kerja nanti malam, jangan lupa untuk membawa kue itu, aku hanya takut kau akan melupakannya lagi."
Ariana mengernyitkan dan tersenyum heran.
"Iya."
"Nona Messa, kue ini sengaja di pesan oleh pak Daniel, spesial untuk mu. Jadi kau harus mencobanya."
Bukankah ini hanya kue? Haruskah di ingatkan berkali-kali bahwa itu kue spesial di pesankan untuknya?
"Baiklah, aku sudah tau, aku pasti akan mencobanya. Dan aku akan mengingat rasa kue spesial ini yang di belikan khusus CEO anda!"
Liki melihat sikap Ariana yang sedikit mulai agak bawel, dia juga tidak bisa di salahkan sepenuhnya karena Daniel yang memintanya melakukan seperti ini. Dan dia juga tidak berani membantahnya.
Di saat yang sama dia juga merasa aneh, mengapa Daniel sangat memperhatikan apakah Ariana sudah memakan kue itu atau tidak? Kenapa Ariana tidak membawa kuenya pulang?
Apakah Daniel ingin nona Messa merasakan ketulusan hatinya?
Semoga saja kue ini membuat hubungan mereka lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ariana kembali kerumah dengan membawa kue cantik dan indah di tangannya. Melihat Ariana membawa kue yang tidak biasanya itu, Revi membulatkan matanya dan langsung terbang seperti roket kecil.
__ADS_1
"Mama, apa yang kau bawa?"
Kedua mata kecilnya menatap kotak kue mousse itu dengan berbinar-binar, bibirnya tersenyum indah di wajahnya.
Sekilas Kenzie mengenali bahwa itu adalah kue mousse terbaru di toko kue terkenal.
"Ini adalah makanan favorit mu." Kenzie membantu Ariana menjawabnya.
"Benarkah? Kue ini rasa apa? Kotaknya sangat indah, dan tampak mewah sekali!"
Revi takjub menatap kue itu dengan mata yang berbinar, bibirnya tak henti untuk tersenyum.
"Kue mousse ini adalah produk terbaru dari toko kue yang terkenal di kota ini, tentu saja kemasannya juga sangat indah."
Ariana menatap Deffan dengan heran.
"Sejak kapan kau juga belajar mengenai kue-kue ini?"
Kenzie segera menyadari bahwa Deffan tidak pernah memakan kue ini.
Up .... Apakah Mama akan mencurigainya?
Kenzie buru-buru memberikan alasan yang asal-asalan.
"Aku mendengar dari teman-teman ku."
Belum selesai Kenzie mengatakannya, Reva masuk dengan memanggil Ariana.
"Mama ...."
dengan kedatangan Reva yang tiba-tiba, maka perhatian mereka tentu saja tertuju kepada Reva. Dengan begitu Kenzie merasa lega.
Kemudian Reva dengan wajah sombong melirik Deffan dan Revi.
"Mama, aku juga mau makan kue ini," Reva tampak memelas.
"Oke, mari kita buka dan makan bersama."
Setelah membuka kotak kue yang mewah itu, terlihat kue itu begitu indah dan menarik perhatian mereka, seolah-olah sedang menatap kotak ajaib. Revi menatap kue itu tanpa berkedip.
"Wah, sangat indah sekali, berbeda sekali dengan yang biasanya kita lihat." Revi tampak antusias.
Di tengah-tengah kue itu terdapat pita besar berwarna pink, dan juga terdapat bunga putih yang indah menghiasi pita itu. Seperti ada seribu lapis bunga yang tampak hidup. Setiap bagian sisinya sangat sempurna dan menggoda, sangat menarik sekali, seolah-olah bunga itu sedang bermekaran, membuka kelopaknya satu persatu.
"Mama, lihat bunga ini seperti sedang bermekaran, sangat menakjubkan!" Revi tertawa sangat senang. Matanya tak luput berbinar seperti cahaya bintang yang bersinar.
Reva menatapnya dengan menghela nafas.
Reva mencibir.
__ADS_1
Dulu saat Revi melihat kue, dia tidak sabar ingin memakannya langsung, tapi kali ini Reva menatap Revi dengan tatapan aneh. Dia sangat mengagumi kue itu, memuji dan menghargai kue itu, seperti tidak rela untuk memakannya.
🌺 vote 🌺