
"Kakek, bagaimana? Aku sudah merubah dan membuat satu cicit lagi untuk mu. Pa, Ma, aku sudah membawakan satu cucu lagi untuk kalian. Menurut kalian, ini mengejutkan atau menghasilkan?"
"Benar-benar ada dua? Kau bagai mana kau merubah dan membuatnya menjadi dua?"
"Paling dia mencari seseorang anak yang benar-benar mirip dengan cucu kita, lalu membuatnya persis seperti Kenzie." Mahesa mencibir menatap Reko, dia sudah mengira trik putra bungsunya itu.
"Oh, rupanya begitu, aku benar-benar mengira jika dia adalah kedua cicit ku sungguhan."
"Kakek, jika itu benar-benar adalah kedua cicit mu, hadiah apa yang akan kau berikan kepada ku?"
pria tua itu menatanya, "apa yang kau inginkan?"
"Benarkah? Aku ingin mobil sport keluaran terbaru, dan biarkan mamaku untuk menyetujuinya." Reko melirik Maira setelah mengatakan itu, setelah itu dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Maira mencibir. "Jika kau benar-benar bisa membawakan aku seorang cucu lagi untuk ku, aku akan membelikan dua mobil mewah untuk mu!" Maira berkata dengan penuh semangat dan percaya diri.
Reko tersenyum puas mendengar ucapan Maman, jangan kan 1 cucu, bahkan 3 cucu lagi untuknya. Tapi ..., Reko masih memikirkan jika ini belum waktunya untuk mengatakannya. Dia masih memikirkan perasaan Ariana.
"Mama kau harus menepati janji mu ya?"
"Tentu saja!"
Reko menjentikkan jarinya, dengan penuh semangat dia berkata: "sepakat! Kakek, papa, kalian berdua menjadi saksinya yah."
Selesai berbicara seperti itu, Reko memanggil kedua bocah itu. Kedua anak itu pun berjalan menuju kedepan, dan memberi hormat secara bersamaan.
"Halo kakek buyut!"
Kakek Hamsyah memandang kedua bocah bagi pinang di belah dua itu, dengan mata yang melebar. Ini .... Mereka berdua benar-benar mirip seperti versi Daniel saja,
Kakek Hamsyah terlihat takjub. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Kenzie. Kenzie masih seperti dulu, memiliki wajah kecil dingin dan tenang. Sama persis sikapnya terhadap Daniel.
Lalu kakek Hamsyah menyentuh wajah Deffan dan Deffan tiba-tiba tertawa geli.
"Ehh ..., bocah ini, kau datang dari mana?"
"Kakek, aku di lahirkan oleh kedua orang tua ku."
__ADS_1
"Oh, ya! Benar, benar. Siapa nama Papa mu?"
"Nama papaku adalah Daniel."
Suara Deffan yang renyah itu terdengar sangat jelas. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar. Maira dan Mahesa menampilkan ekspresi wajahnya yang sangat terkejut. Dia terdiam.
Keduanya dengan wajah yang bingung berjalan ke arah Deffan. Mereka menatap Deffan dengan cermat, menyentuh dan mencubit pipinya.
"Kau bilang bahwa papamu adalah Daniel?"
Deffan menganggukkan kepalanya.
"Kenzie dan aku adalah saudara, kami berdua kembar."
Ha ....
Mahesa dan Maira tercengang, mereka saling pandang, dan segera menelpon Daniel yang tadi mendadak pergi karena ada urusan yang mendesaknya untuk harus pergi.
Setelah mendengar penjelasan dari Daniel, Maira meneteskan air matanya menatap Deffan. Dia tidak tau harus sedih atau senang, yang jelas dia sungguh sangat senang dan gembira. Tapi mendengar cerita dari Daniel bahwa Deffan selama ini ada bersama Ariana, dia tidak dapat menjelaskan perasaannya bahagianya. Dia pun mengingat waktu Ariana melakukan akupuntur di kediamannya, dia sudah dapat memahaminya sekarang, bahwa yang waktu itu datang kerumahnya adalah Deffan bukan Kenzie. Maira langsung memeluk Deffan dengan erat.
Mengingat tingkahnya yang lucu dan lincah, memiliki kedua cucu begitu tampan dan menggemaskan. Maira meraih tubuh kedua bocah itu dan memeluknya bersama dengan air mata bahagianya.
Kakek Hamsyah juga terlihat sangat senang, hingga dia tertawa begitu gembira.
"Bukan hanyalah kamu yang sedang senang, kami juga sangat bahagia."
Ucap kakek Hamsyah.
"Iya pa, kita semua senang, aku sangat bahagia melihat berita yang cukup mengejutkan kita ini."
"Cicit ku ini, dimana kau tinggal selama ini?" Kakek Hamsyah menanyakan tentang kehidupannya kepada Deffan.
Deffan mengerjakan matanya yang jernih menatap kakek Hamsyah dengan bibir kecilnya yang tersenyum.
"Kakek, aku tinggal bersama Mama, dan kami juga baru datang ke kota ini, selama ini kami tinggal di luar negeri bersama Mama. Di sana kehidupan kami tidak terlalu baik, Mama mengalami banyak kesulitan dan penderitaan untuk membesarkan ku."
Pria tua itu menghela nafas. Seorang wanita membawa seorang tanpa pria yang mendampingi kehidupannya, memang akan terlalu sulit.
__ADS_1
"Kasihan sekali mamamu! Dia sudah membesarkan seorang cucu untuk keluarga Mahesa, selama ini cicit ku mengalami penderitaan. Sampaikan salam terimakasih ku padanya."
Tiba-tiba Reko menyela ucapan kakek Hamsyah.
"Kakek, Deffan dan Nona Ariana memiliki kehidupan yang susah, mereka tinggal di daerah kumuh, dia harus bekerja dan merawat anaknya."
Kakek melirik Reko yang berada di sebelahnya. Kemudian meraih tangan kecil Deffan.
"Kakek akan memberimu sebuah hadiah! Aku akan memberikan tempat tinggal yang baik dan layak di huni. Kau dan ibumu tidak perlu tinggal di daerah kumuh itu lagi, oke?"
Deffan terlihat ragu-ragu dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kenapa?" Kakek Hamsyah terlihat bingung.
"Kata Mama, aku tidak boleh menerima pemberian orang begitu saja."
"Deffan, kau adalah keturunannya dari keluarga Mahesa, dan secara otomatis kau berhak mewariskan sebagai dari harta keluarga Mahesa. Tidak mudah bagi Mamamu untuk membesarkan mu. Apa yang kakek berikan kepadamu memang sudah seharusnya kau dapatkan. Jangan menilai!"
Mata tulus kakek buyutnya itu membuat Deffan tidak bisa harus mengatakan apa. Deffan melirik Maira dan juga Mahesa. Mereka menganggukkan agar Deffan menyetujuin.
"Sayang, jika Kakek buyut sudah memintamu untuk menerima hadiah dirinya, kau tidak boleh menolaknya, kau harus menerimanya karena itu memang hal mu! Ayo katakan kepada kakek buyut untuk berterimakasih kepadanya."
Deffan mengedipkan matanya yang jernih.
"Terimakasih kakek buyut."
"Anak baik! Kalau begitu, villa Green View itu ku berikan kepada mu, kau dapat tinggal bersama Mama mu di sana."
Daniel yang baru saja datang dari luar, secara tidak sengaja mendengar semua perkataan kakek Hamsyah dengan Deffan, dia tercengang ketika mendengar kata-kata villa Green View.
Villa Green View itu selalu di bersihkan setiap hari, Daniel juga pernah mengusulkan untuk menukarnya dengan rumahnya yang mewah ini, tetapi kakek Hamsyah tidak pernah menyetujuinya.
Dan malahan sekarang di berikan begitu saja kepada Deffan!
Dia memiliki banyak kenangan di sana, kenangan manis hingga membuatnya menutup perasaannya terhadap wanitanya, hingga dia sampai-sampai pernah memintanya kepada kakek. Tetapi ..., sepertinya kakek memang sengaja untuk menyuruh Ariana tinggal di sana. Apa-apaan kakek ini ....
Tapi Daniel tidak berni mencetuskan isi hatinya yang tidak setuju jika Ariana menempati villa itu. Dia tidak ingin menentang keputusan orang yang sangat dia hormati.
__ADS_1
Tetapi hatinya seperti gelisah memikirkan sesuatu.