Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
91


__ADS_3

🌺Vote🌺


Dengan keberaniannya itu, Reva seperti akan pergi mencari Daniel untuk memberi pelajaran terhadap papanya sendiri.


Deffan penasaran, apa yang akan di lakukan gadis kecil ini?


Setelah makan malam, Reva kembali ke kamarnya dan mengambil mainannya yaitu semua alat-alat kosmetiknya, dengan ekspresi serius, dia mengeluarkan alat-alat make-up nya dan menimang-nimang alat itu satu persatu, seperti sedang merencanakan sesuatu di dalam hatinya.


"Baiklah." Reva tersenyum dan berkata singkat kepada dirinya sendiri, seolah-olah dia sudah menemukan ide cemerlangnya, maka dari itu bibirnya tersenyum genit.


Rencana kecil di kepalanya mulai melintas, diaduk di atas kursi serta memegang tongkat kecil yang indah, seperti tongkat sihir ajaib. Matanya yang kecil bersinar seperti cahaya di wajahnya yang arogan.


Reva mengibaskan tongkat ajaibnya di depannya, di bayangannya terlintas merubah penampilannya putri kecil yang cantik. Bisa menyelinap dan menghilang seperti Dora Emon. Sayang sekali tongkat ini tidak bisa merubahnya untuk menghilang agar dia bisa menyelinap kemanapun dia mau, sayang sekali. Wajah kecil itu sedikit cemberut, lalu meletakkan tongkat ajaib mainannya di ke dalam kotak mainannya.


Di dalam kamar lain


Deffan baru saja mengirimkan pesan singkat kepada Kenzie lewat arloji ponselnya.


Dan Kenzie pun langsung menjawabnya. Kenzie menceritakan kalau dia sedang di kurung oleh Papa!


Itu pasti karena Mama! Kenzie yang sifatnya blak-blakan itu. Kalau seperti ini, jika mereka melanjutkan rencana mereka untuk mendekatkan Mama dan papanya, ini akan semakin membuat menjauhkan Kenzie dengan mamanya, dan Kenzie pasti akan menderita.


Deffan tidak habis-habisnya memikirkan ini, semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa khwatir. Deffan membolak-balikkan badannya di ranjang dengan perasaan yang gelisah. Dia juga tidak bisa tidur.


Keesokan harinya


Ketika Reko datang menjemput Kenzie untuk ke sekolah, Daniel langsung mengatakan kalu Kenzie tidak enak badan dan perlu istirahat, jadi dia tidak perlu pergi ke sekolah!


"Tidak enak badan? Kenzie demam?" Reko bertanya dengan wajah khwatir.


Daniel tidak menjawab. Dia melangkahkan kakinya, berjalan keluar dan pergi dengan cepat.


Tidak perlu mengantar Kenzie. Reko mengingat kata-kata Daniel tadi dan juga mengingat ekspresi dingin di wajah Kenzie saat pulang sekolah tadi malam. Meskipun ekspresinya cukup dingin tetapi tidak akan membuat dirinya kedinginan, kan?


Mengapa tiba-tiba tidak enak badan? Reko berpikir dengan penasaran, kemudian bangkit dan berjalan menuju lantai atas.


Sampai di depan pintu kamar Kenzie, Reko segera mengetuk pintu dengan cepat.


"Kenzie, ini Paman, buka pintunya!"

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari dalam. Reko kembali mengetuk pintunya untuk yang kedua kalinya, tetapi sama saja.


Dia tidak enak badan, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.


Menghawatirkan ini, Reko meminta kunci cadangan kepada pengurus rumah tangga itu. Kemudian buru-buru menerobos masuk setelah pintu terbuka. Dia langsung melihat Kenzie yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajahnya yang dingin, pandangannya menatap lurus ke depan meliriknya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Keponakan ku sayang, apakah kau baik-baik saja? Paman sangat menghawatirkan mu."


Kenzie seperti tidak mendengarnya, tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya.


Reko menghampiri Kenzie dan duduk di tepi ranjang.


"Papa mu bilang, kau sedang tidak enak badan? Apakah benar? Coba Paman lihat."


Jika di perhatikan, Kenzie seperti sedang memikirkan sesuatu.


Reko mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Kenzie, ingin memastikan apakah Kenzie demam? Tetapi malah di teriaki olehnya.


"Keluar!"


Reko sangat terkejut mendengar suara Kenzie yang tiba-tiba melengking dengan keras. Dia menatap Kenzie dengan sorot matanya yang tampak heran.


"Kenzie, kenapa kau berbicara dengan paman seperti itu?"


Kenzie meliriknya dengan tidak senang.


Reko mengernyitkan keningnya.


"Kau ...."


Reko memandangi keponakan sulungnya itu, jantungnya berdetak kencang, kenapa keponakan nya ini tiba-tiba berubah, kadang-kadang menyenangkan kadang-kadang membuatnya jengkel. Secepat itu dia berubah dan selalu menganggapnya bahwa pamannya adalah musuh.


Reko menghela nafasnya dalam-dalam.


"Masih saja belum pergi?"


Kenzie berkata dengan wajah yang suram, persis seperti Daniel jika dia marah.


Kenzie menirukan gayanya dan mendengus dengan dingin.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi, dan aku akan tinggal di rumah mu! Papa mu berkata bahwa kau sakit, dan Paman harus menjaga mu!"


Reko berkata seperti tidak ada pekerjaan saja. Kenzie terlalu malas untuk memperdulikannya, dia membalikkan badannya dan memunggungi Reko sambil memandang ke arah jendela.


Tiba-tiba matanya melihat bayangan seseorang yang sedang bersandar di kaca jendela, sambil tersenyum puas di wajahnya, dan kemudian mengedipkan matanya pada Kenzie.


Kenzie tercengang. Deffan menyelinap ke sini datang untuk melihatnya.


Reko menyadari kalau Kenzie memunggunginya dengan sengaja. Dia tau kalau Kenzie sedang marah padanya. Tiba-tiba sebuah ide aneh terlihat di benaknya. Dia pergi membuat secangkir teh dan kembali untuk mengobrol dengannya secara perlahan.


Begitu dia keluar, dia mendengar suara pintu tertutup 'klik' pintunya di kunci dari dalam. Reko menoleh dan tersenyum kecil. Paman memiliki kuncinya, jadi tidak akan khwatir jika kau mengunci pintunya.


Melihat sikap Kenzie seperti itu Reko berpikir, masa seorang Paman tidak bisa mengobati seorang anak kecil.


"Kepala pelayan, bisakah kau membuatkan teh yang enak?"


"Iya Tuan muda kedua, saya akan membuatnya."


Tidak begitu lama, Reko kembali ke atas dengan cangkir teh di tangannya. Begitu dia membuka pintu lagi, dia melihat Deffan yang dia sangka Kenzie itu seperti sedang melepaskan kancing bajunya.


"Hei, apakah kau akan melepaskan pakaian mu dan tidur di siang hari begini?"


"Paman, aku berencana akan mengganti pakaian ku. Tetapi teringat aku juga tidak biasa keluar jadi aku mengurungkan niat ku untuk mengganti pakaian. Lupakan saja!"


Paman?


Reko tertegun sambil menatap Kenzie dengan mata yang tidak berkedip. Anak ini benar-benar mengatakan paman, dan bicara dengan sangat ramah?


Barusan dia bersikap kasar dan mengusirnya pergi. Anak ini wajahnya, begitu berubah dengan cepat, bukan begitu, tetapi terlalu cepat!


Reko menatapnya dengan pandangan bingung. Hanya bisa di katakan kalau Reko kembali terlalu cepat. Deffan baru saja masuk melalui jendela dan mengatakan beberapa kata kepada Kenzie lalu mengganti pakaiannya. Sebelum dia menyelesaikan mengancingkan bajunya, dia mendengar langkah kaki seseorang mendekat disertai membuka pintu.


Saat itu, Kenzie langsung melompat keluar melalui jendela kamarnya, dan Deffan hanya bisa memberikan alasan ini dengan santai.


Deffan tidak tau kenapa Reko menatapnya terus menerus seperti itu, seperti menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya, padahal bajunya sudah di ganti, seharusnya Reko tidak akan mengenalinya bahwa dirinya bukanlah Kenzie, melainkan Deffan.


Deffan berjalan ke arah Reko dan melihat cangkir teh yang ada di tangannya.


"Paman, tehnya akan tumpah, bolehkah aku membantu mu untuk meletakkannya di atas meja?"

__ADS_1


Membantu mu?


Ya Tuhan, bukankah tadi dia seperti akan berperang melawan dirinya? Tetapi ini ....


__ADS_2