Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
57


__ADS_3

"Nenek, ini adalah dokter hebat, namanya dokter Messa. Dokter yang juga mengobati ku dan menyembuhkan aku dari penyakit itu. Aku dengar dari Paman, kalau Nenek sering sakit punggung bagian bawah, dan juga nyeri sendi di kaki mu. Jadi hari ini aku sengaja membawa dokter Messa untuk mengobati dan merawat mu."


Dokter?


Nenek Maira mengalihkan pandangannya kepada Ariana, dia menatapnya dari atas sampai bawah, Mahesa juga menatapnya dengan heran.


Dokter Messa ini memang dokter yang cukup terkenal!


Mereka tidak menyangka Kenzie bisa mengundang dan membawanya kemari. Jadi setelah mengetahui itu, mereka berdiri dengan sopan, dan menyapa Ariana.


Setelah itu Maira dengan sopan memintanya segera memeriksa dirinya.


Setelah memeriksanya, Ariana memutuskan untuk memberikan pengobatan akupuntur dan membiarkannya pergi ke kamar untuk berbaring.


Saat pengobatan akupuntur baru akan di mulai, dia merasa gugup, butuh beberapa saat untuk dirinya benar-benar rileks.


"Rasanya tidak terlalu sakit, kau mengontrolnya sangat baik."


Ariana tersenyum kecil.


"Aku seorang dokter, tentu saja ini harus saya kuasai."


Nenek Meira sangat menyukai sifat Ariana, dia terus ngobrol sepanjang Ariana melakukan pengobatan.


Sebelum dia menyelesaikan penusukan jarum akupuntur, dia melihat Deffan masuk dengan terburu-buru.


"Nenek, Papa datang ke sini!"


Mendengar itu, jantung Ariana berdegup kencang.


Awalnya dia tidak mengira kalau Daniel akan tau. Mengapa dia datang pada saat-saat seperti ini?


"Datang ya datang saja. Katakan padanya, kalau Nenek sedang melakukan pengobatan akupuntur. Mamanya butuh perhatian, panggil dia kemari untuk menjenguk ku."


Apa? Nenek meminta Papa untuk datang ke sini! Kalau begitu bukankah Mama akan ketahuan oleh Papa?


Apakah rencananya dengan Kenzie akan berantakan dan berakhir?


Dia dan Kenzie berencana untuk membuat Nenek menyukainya, dengan begitu, mereka akan membocorkan sedikit rahasia kepada neneknya ini, lalu mereka akan mudah dengan bantuan Nenek untuk menyatukan Papa dan Mama.

__ADS_1


Dengan begitu, maka Mama dan papa akan sering berhubungan dan bersama.


Jika Nenek mengetahui kalau Papa membenci Mama, apakah Nenek masih mau membantu mereka?


Harus bagaimana ini!


Deffan berpikir keras untuk mendapatkan sebuah ide.


Pada saat yang sama, jantung Ariana berdegup kencang. Jika Daniel mengetahuinya, apakah pria itu akan mempermalukannya di depan umum?


Maira sudah mengatakannya seperti itu, jadi dia hanya berjalan ke luar sambil menundukkan kepalanya serta mencari ide.


Tak di sangka saat dia berjalan ke luar, dia melihat kaki yang panjang, Deffan langsung mengangkat kepalanya dan mendongak ke atas, mendapati Daniel berdiri di hadapannya.


Habislah sudah.


Belum lagi dia sempat memanggilnya, tetapi papanya sudah berjalan sendiri ke sini.


Mama, kau benar-benar apes hari ini!


Daniel mengernyitkan keningnya melihat Kenzie menatapnya seperti itu.


"Ada apa Kenzie?"


Daniel mengangguk. "Kakek bilang, Nenek sedang melakukan pengobatan akupuntur, jadi Papa mau melihatnya sebentar."


Setelah dia selesai berbicara, baru saja akan melangkah, Kenzie tiba-tiba memeluk kakinya.


Daniel menatap Kenzie yang sedang bergelayut di kakinya yang seperti koala itu dengan heran.


"Kenzie ada apa?"


"Papa, kau tidak boleh masuk sekarang!"


"Kenapa?" Daniel bertanya-tanya.


Deffan menyerigai dengan gigi putihnya.


"Karena ..., karena waktunya tidak tepat, Nenek sedang melakukan akupuntur di bagian pinggangnya, kaki dan leher, Nenek hanya Memakai piyama yang tipis, karena ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, jadi Papa kesini nanti saja, setelah pengobatan akupuntur selesai, oke!"

__ADS_1


"Ada perbedaan antara pria dan wanita?" Daniel heran dengan penjelasan Kenzie.


Mengapa kata-kata itu sedikit ..., mereka kan ibu dan anak.


"Papa tunggu saja sebentar lagi, mungkin Papa bisa menemani kakek dahulu di bawah. Kakek tadi baru saja membicarakan mu."


Daniel terlihat seperti ragu-ragu, lalu menyetujuinya. "Oke aku akan datang lagi nanti."


Melihat papanya membalikkan badannya dan berjalan ke arah bawah, hati Deffan terasa sangat lega.


Deffan buru-buru masuk ke kamar Maira dan menyampaikan: "Nenek, Papa sedang ngobrol sama Kakek di bawah, dia mengatakan akan datang sebentar lagi."


Maira terkejut.


"Papamu dan Kakek jarang ngobrol, bahkan kalau itu pun terjadi hanya bisa di hitung dengan jari. Bagaimana bisa terjadi?"


Maira tampak berpikir.


Lalu Ariana pun dengan segera menyelesaikan pengobatannya. Setelah itu, dia menyuruh Maira untuk istrahat beberapa jam, tidak boleh bergerak, dia tetap berbaring seperti itu.


Deffan membuat rencana agar Mama bisa keluar secara diam-diam agar tidak di ketahui oleh Papa.


Ariana setuju dengan idenya. Daniel yang angkuh dan arogan itu, sedapat mungkin dia bisa menghindarinya, bahkan kalu bisa jangan sampai bertemu dengannya.


Ariana mengacungkan jari jempolnya. Dia menatap Deffan dengan gembira lalu berbisik di telinganya: "Tidak sia-sia aku memiliki anak seperti mu."


Deffan benar-benar bisa memahami perasaan mamanya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Author sudah update ya


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️

__ADS_1


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author


__ADS_2