Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
37


__ADS_3

Mau tak mau, dia harus menatap ekspresi wajahnya dengan hati-hati.


Saat menatapnya, Ariana merasa ada sesuatu yang menabraknya. Bisa di bilang wajah ini sangat sempurna, seperti sengaja di ukir dan di rancang dengan hati-hati sekali. Dengan modal wajah seperti ini saja, bisa membuat ribuan wanita tak berdaya.


Tapi sayangnya, wajahnya terlalu dingin dan kaku, hingga mata teduh itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


Menggendong wanita cantik, baginya seperti biasa saja, dan tidak terganggu sedikit pun.


"Kau Sepertinya sangat menyukai wajah ku."


Suara berat Daniel menyela pikiran Ariana.


Ariana terbatuk-batuk.


"Aku hanya penasaran, mengapa kau mau melakukan ini?"


"Tidak perlu penasaran, nanti juga kamu akan tau."


Ariana mengernyit bingung.


Daniel meliriknya. Dan melihat bulu mata Ariana yang lentik mengerjap lembut, di tambah dengan kulitnya yang putih dan halus, masih sama seperti dulu.


Walaupun hatinya bicara seperti itu, namun dia tidak akan pernah memuji wanita itu. Meski dia harus mengakui kalau, wanita ini benar-benar cantik dan memiliki kecerdasan yang berbeda dengan perempuan lainnya.


Tapi ...,


Dia sangat tega dan kejam, setelah meninggalkan Kenzie, dia pergi dan mencari laki-laki lain, dan melahirkan anak-anaknya pria itu.


Memikirkan itu, wajah Daniel yang tadi sedikit lembut dan lunak, tiba-tiba berubah menjadi keras dan dingin.


Dengan terpaksa dia mempercepat langkahnya.


"Daniel, kau akan membawa ku kemana?"


Daniel membawa Ariana melalui ruangan tamu menuju keluar, lalu berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Mau berbuat apa dia?


Mau menghukumnya? Atau menyekapnya? Atau ....


Segala macam pikiran melintas dalam benaknya, Ariana menatap panik.


Daniel diam tanpa berkata apa pun, wajahnya terlihat gelap dan dingin. Badan Ariana bergidik ngeri.


"P ..., pak Daniel, apa yang akan kau lakukan?"


Daniel mencibir dengan ketus.


"Takut?"


"Jika kau melakukan sesuatu pada ku, Kenzie akan membenci mu seumur hidupnya. Aku adalah Mama yang dia nantikan siang dan malam."


"Jika kau berani mengatakan padanya, bahwa kau adalah ...." Suara dingin itu terdengar sangat kesal dengan aura yang berbahaya penuh dengan penindasan.


"Tidak, tidak ...."


Ariana berkata dengan sangat cepat, dia takut, jika terlambat satu detik saja, maka dia tidak tau bencana apa yang akan terjadi padanya. Seperti mati mendadak, tercekat tiba-tiba lalu mati.


Kemudian, Ariana merasakan, Daniel menopangnya begitu kasar.


"Pak Daniel, berapa lama lagi kau akan menggendong ku seperti ini?"


"Jangan khwatir, sebentar lagi akan sampai."


Ariana melihat ke sekeliling dengan cemas.


"Pak Daniel, ini kita mau naik ke atas?"


Daniel hanya diam saja.

__ADS_1


"Hati-hati, hati-hati!"


Ariana merasakan bebatuan yang sangat tajam. Jika sedikit saja mereka terpeleset ke tepi, maka mereka akan terjatuh di bawah kolom yang dalam itu.


Oh tidak ..., tempat ini tinggi sekali!


Daniel segera menurunkannya. Ariana tercengang.


Jalan itu penuh dengan bebatuan yang runcing dan tajam. Di kanan kirinya terdapat curam tinggi yang berisi air.


Jika terjatuh dari sini, maka ikan-ikan itu akan segera memakannya.


Ariana merinding takut, buku kuduknya berdiri. Ketakutan di wajahnya terlihat jelas oleh Daniel.


Dia tidak tau apa yang akan di lakukan Pria dingin ini.


Ariana menatap Daniel.


"Apakah kau akan mendorong ku di sini?"


Daniel mendengus dingin.


"Mendorong mu ke bawah? Jika aku menginginkan kau mati, aku tidak perlu repot-repot menggendong mu kesini."


"Lalu apa yang ingin kau lakukan!"


"Kau lihat, jalan yang menuju atas sana, juga sama jalan bebatuan kerikil tajam."


Ariana tidak mengerti. Dia mengernyit.


"Apa maksudnya?"


Ariana yang bingung, bulu matanya yang lentik mengerjap-ngerjap dengan cepat, seperti sayap kupu-kupu.


Daniel menatap pipinya yang putih sedikit memerah itu, untuk sesaat Daniel seperti terhipnotis. Tidak begitu lama, ia tersadar dan menatap tajam ke arahnya.


Ariana menatapnya dengan linglung. Dengan keadaan dia seperti ini saja, sangat sulit untuk berjalan di atas jalan yang mulus, apa lagi berjalan di bebatuan kerikil seperti ini?


"Daniel, apa-apaan kamu!"


Daniel tersenyum sinis menatapnya.


"Nona Ariana, aku rasa kau akan mampu melewati ini semua. Kau jangan khwatir, masih ada waktu sampai sore, jika tidak, kau bisa menyelesaikannya besok, bisa juga luas dan seterusnya sampai minggu depan mungkin, sampai kau mampu melewatinya."


"Daniel, kau .... Kau jahat dan kejam sekali!"


"Terima kasih atas pujiannya!"


Setelah itu Daniel pergi meninggalkan Ariana di atas jalan krikil yang tajam itu. Terlihat dia menuruni jalan itu hingga tak terlihat lagi oleh Ariana.


"Hei ..., kau ..., Daniel, bajingan kau! jangan pergi ...!"


Ariana sagat marah, tangannya terkepal erat. Dia mencoba berjalan. Tapi setiap langkahnya, dia seperti menginjak pecahan kaca yang sangat tajam.


Ariana menahan rasa sakitnya di kaki, mengeluh tiada henti sambil bersumpah serapah pada Daniel.


"Dasar brengsek kau Daniel, aku yakin, suatu saat nanti kau akan terkena musibah lebih berat dari ini. Dasar bajingan tengik, Pria gila."


Tidak akan ada yang menolongnya saat ini, walaupun Kenzie dan Deffan tau, mereka masih sangat kecil, mereka tidak akan bisa membantunya.


Ariana duduk sambil memikirkan sesuatu, agar dia bisa keluar dari sini.


Ketika Daniel kembali dan duduk di ruang tamu, Reko menatapnya dengan curiga.


"Tadi, kau menggendong wanita cantik itu kemana?" Tanya Reko menatap Daniel dengan menyelidik.


"Tidak ada urusannya dengan mu!" Ucap Daniel ketus, setelah itu dia pergi ke ruang baca.

__ADS_1


Reko tertegun sejenak, kemudian beberapa pertanyaan muncul di kepalanya.


Dimana dia menyembunyikan perempuan cantik itu?


Kemudian matanya tertuju kepada Kenzie yang berjalan ke ruang tamu.


"Kenzie, apakah kamu mencari Papa mu?"


Anak itu meliriknya sekilas, lalu mengabaikannya, berlalu pergi ke ruang baca.


Sial, kenapa bocah itu sombong sekali. Lalu dia mengikuti Kenzie.


"Di mana dokter Messa?"


Daniel menoleh dan menatap Kenzie.


"Untuk apa kau mencarinya?"


"Kau membawanya ke mana?"


Kalau bukan karena takut ketahuan karena kehadiran Reko di sini, dia sudah pasti mengikuti Daniel diam-diam tadi.


"Lakukan saja, apa yang harus kau lakukan." Daniel menatap Kenzie sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke semula.


"Aku ingin menemuinya!" Kenzie berteriak marah padanya.


Daniel mengernyit, bagaimana mungkin Kenzie begitu peduli dengan wanita sialan itu?


Berteriak padanya hanya karena wanita itu?


Anak yang sudah dia besarkan sendiri.


"Kembali ke kamar mu sekarang juga!" Daniel berkata memerintah dengan tegas.


Kenzie membalikkan badannya, keluar dari ruang baca dengan wajah yang cemberut dan kesal. Dia berjalan ke kamar dengan tangan gontai.


Melihat situasi ini, Reko sebenarnya ingin membantu, tapi melihat Kenzie seperti itu, dia mengurungkan niatnya.


Dia memang benar-benar mirip, buah tidak jauh dari pohonnya, sifat jeleknya pun persis.


"Apa kata mu?"


Reko menoleh, dan seketika jantungnya berdetak kencang. Reko menatapnya sambil cengengesan menampilkan gigi putihnya, lalu mengangkat kedua jempol tangannya, mengacungkannya di depan Daniel.


"Aku bilang, dia sama baiknya dengan mu," Hehehe.


"Pergi!"


Daniel mengusir adiknya.


"Kakak, sekarang sudah siang, biarkan aku untuk makan sebentar baru pulang! Atau aku akan pulang dan memberi tahu papa dan Mama bahwa kau sudah menghinaku, atau aku akan mengatakan, kau menyembunyikan wanita cantik di bawah istana emas mu bahwa kau ...."


"Pergi dan panggil juru masak, untuk memasak makanan yang enak untuk mu!"


Reko tersenyum, dia merasa bahwa ancamannya pada Daniel berhasil.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️


komen jika ada kritik dan saran☑️

__ADS_1


dan jangan lupa follow akun author ☑️


__ADS_2