
🌺vote🌺
Setelah sampai di lantai dasar, Liki membawa Ariana ke departemen keuangan dan menemukan laporan desain perabot yang sudah di rusak.
Ariana melihat daftar itu berkali-kali dan membaca dengan seksama Hinga berulang, dia menatap Liki dengan tidak percaya.
"Barang-barang ini ..., apakah berlapis emas? Kenapa mahal sekali?"
"Nona Ariana, harganya memang seperti ini, kalau kau tidak percaya, tanyakan langsung kepada perusahaan yang telah membuatnya, nama perusahaannya ada di daftar paling bawah."
Ariana melihat biaya yang harus dia ganti, harganya seakan mencekiknya dan membuatnya mati seketika. Dia terdiam memikirkan ini! Gajinya sebagai penerjemah saja tidak akan cukup untuk menggantikannya, dan masih harus menambahkan ratusan juta lagi. Ariana menyesali perbuatannya, jika uang ini tidak untuk mengganti perabotan itu, tentunya bisa untuk membiayai hidup mereka selama lima tahunan.
Tapi sekarang, uang ini akan lenyap begitu saja, seperti air yang mengalir cukup deras. Dadanya terasa sesak, sakit sekali rasanya. Mengingat perjuangannya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk biaya hidup mereka, menghemat biaya agar bisa menabung, menahan rasa untuk membeli sesuatu, agar uang yang dia tabung bisa membeli sebuah rumah kecil agar mereka tidak ngontrak lagi, demi anak-anaknya dia berjuang mati-matian untuk mencari nafkah. Tapi uang hasil jerih payahnya ternyata hanya untuk menggantikan perabot yang seharga selangit itu.
Memikirkan itu Ariana hendak menangis, uangnya akan habis dalam sekejap mata, itu berarti dia akan berjuang dari nol lagi, mencari uang siang dan malam tanpa mengenal lelah, itulah yang di lakukan Ariana selama ini.
Ariana memejamkan matanya, mengingat Daniel mengatakan tentang kedua anak gadisnya itu, dia pun tidak berdaya menggesek kartunya.
Melihat tabungannya sudah sangat minim, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya nanti.
Setelah itu Ariana segera meninggalkan perusahaan. Liki menatapnya dengan rasa iba di hatinya, dia benar-benar merasa sangat bersalah.
"Nona Ariana, adakah yang bisa aku bantu untuk mu?"
Bagaimana pun juga, disalah yang membuat Ariana kembali ke perusahaan.
__ADS_1
Ariana menoleh dan menatap ke arah Liki.
"Membantu ku?"
"Apa yang kau butuhkan? Apa yang bisa aku bantu?"
"Apakah kau benar-benar bersedia membantu ku?" Ariana bertanya dengan mengernyitkan keningnya.
Sesaat Liki tertegun.
"Selama aku bisa melakukannya, aku pasti akan membantu mu!"
Ariana mendengus dingin dan menatap Liki dengan pandangan yang sulit dia tebak.
"Kalau begitu pergilah dan ledakkan kantor CEO mu itu!"
Meledakkan kantor CEO itu sana saja bunuh diri. Meskipun dia mempunyai seribu nyawa, dia tidak akan punya nyali untuk melakukannya.
Ariana tersenyum sinis, dia tidak pernah percaya padanya lagi.
Ariana pergi meninggalkan perusahaan dengan kakinya yang amat sakit, dia pergi dengan menyeret kakinya yang terluka. Setelah sampai di ujung ujung jalan, Ariana melihat Deffan berlari dengan tergesa-gesa. Ariana menatapnya dengan heran, kedua matanya mengernyit.
"Deffan, mengapa kau datang kesini?"
Eh ..., Mama langsung mengenalinya bahwa dia adalah Deffan. Deffan mengelus belakang kepalanya dengan cengengesan, tersenyum dengan nakal.
__ADS_1
Tadinya dia berpikir akan langsung ke perusahaan papanya setelah Reko mengantarnya ke taman kanak-kanak, tetapi dia tidak menyangka Reko mengantarnya sampai ke dalam kelas, ada apa dengan pamannya hari ini?
Tidak hanya itu, gurunya sangat memperhatikan Kenzie hingga dia tidak dapat mengalihkan perhatian gurunya itu yang sekarang sangat peduli kepadanya.
Dia juga berpikir kalau Kenzie akan segera datang lebih cepat darinya, tapi ..., melihat penampilan Mama seperti ini, berarti Kenzie belum datang untuk menyelamatkan Mama.
Melihat penampilan Ariana seperti itu, Deffan merasa kasihan, wajahnya berubah menjadi sedih, kakinya terluka. Ini pasti Papa yang sudah memperlakukan Mama seperti ini!
"Mama," Deffan memeluk Ariana dengan erat, matanya memerah menahan tangis. Papa benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa membuat Mama terluka seperti ini.
"Mama, kaki mu terluka, kita kerumah sakit saja biar di obati."
Deffan mendongakkan kepalanya menatap Ariana. Ariana mengelus kepala kecil Deffan.
"Ngk apa-apa sayang, nanti akan Mama obati sendiri, sekarang kita pulang saja." Ariana khwatir Daniel akan melihat mereka, dan dia takut Daniel akan melakukan hal yang lebih kejam lagi.
Deffan memegang ujung baju Ariana.
"Mama, Kenapa kau tidak memukul Papa? Mama jangan khwatir, aku akan membantu mu untuk membalasnya."
Ha .... Ariana tertegun sejenak mendengar ucapan Deffan barusan. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia khwatir Daniel akan mengetahui keberadaan Deffan. Saat ini sudah terlambat untuk bersembunyi, bagaimana mungkin dia akan membiarkan Deffan melakukannya? Ini berbahaya buat putranya!
"Sayang, ini Mama tadi jatuh, tidak ada hubungannya dengan dia, pulanglah dengan Mama, ya."
Deffan tau mamanya berbohong. Teganya Papa memperlakukan Mama seperti ini!
__ADS_1
"Tidak. Jika dia berani menindas Mama ku, dia harus membayarnya dengan setimpal!"
Deffan tidak bisa melihat mamanya di sakiti seperti itu, apa lagi sampai terluka begini. Tidak ada yang orang lain yang memperlakukan Mama seperti ini selain Daniel. Deffan diam-diam menggenggam kedua tangannya dengan erat.