
"Revi, apakah kau sudah siap?"
Reva bertanya dengan pandangan tetap memperhatikan gerak-gerik Daniel.
Revi mengangguk.
"Ayo kita keluar, kita sudah boleh bertindak, aku akan bicara dengannya sebentar nanti. Setelah itu kau cepat bertindak oke." Revi mengangguk, lalu merek berjalan ke luar.
Dengan arogan dan sombong, Reva meletakkan tangan kecilnya di pinggang, menatap Daniel dengan marah.
"Kota ini bukan milik mu! Punya hak apa kau mengusir mama dari sini?"
Daniel melirik mereka, melihat anak-anak itu memegang pistol air masing-masing di tangannya. Dan Revi yang gemuk terlihat mendorong mesin penyedot debu keluar dari kamar, mereka sudah dengan sengaja melepaskan penutupnya dan akan menjadikannya alat untuk menyemprot musuhnya.
Lalu kemudian, terdengar suara teriakan Revi dengan kencang: "Ayo, mari kita hukum orang jahat ha-ha-ha!"
Mereka berdua menyemprotkan pistol air itu dengan semangat ke arah Daniel. Untuk sesaat debu berterbangan dan tetesan air seperti air hujan mengenai tubuh Daniel dari atas kepalanya.
Daniel yang tidak mengerti situasi ini hanya bengong melihat serangan mendadak ini, dia membalikkan badannya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghindari serangannya bocah-bocah itu.
"Revi, kau pergi ke posisi lain, kau pokus menyemprot wajah nya saja!"
"Baik!"
Revi mengikuti instruksi Reva dengan cepat, dengan debu yang berterbangan di satu sisi dan kabut air yang berbau aneh terus menghujani tubuh Daniel.
Daniel menggertak giginya dan berteriak kepada mereka untuk berhenti!
"Kenapa kau meminta kami untuk berhenti? kami tidak akan menghentikannya, ini rumah kami, dan rumah kami perlu di bersihkan, tentu saja kami tidak akan berhenti!"
"Itu benar! Ini rumah kami, kenapa kau melarang kami untuk berhenti!"
Melihat kedua anak itu dengan bersemangat tidak ingin menghentikannya, Daniel sangat marah, keadaannya sekarang benar-benar memperhatikan, wajah dan rambutnya penuh dengan debu, air yang mereka semprotkan itu seperti bau air comberan. Anak ini benar-benar nakal.
Mereka tidak mau berhenti menyemprotkan air dan penyedot debu. Memintanya untuk berhenti tidak ada gunanya sama sekali. Berbicara dengan mereka sama saja berbicara dengan ibunya. Jadi Daniel memilih untuk meninggalkan rumah itu dengan marah. Ketika dia melangkah kakinya beberapa langkah, Daniel berhenti dan menoleh.
"Hanya wanita seperti mu yang bisa melahirkan putri-putri seperti mereka, ayah mereka pasti lebih sinting darinya. Benar-benar ...."
Ha pria sinting?
Ariana tiba-tiba merasa senang, ayo pak Daniel, kau boleh mencaci ayah mereka lebih kasar lagi! Di hati Ariana tersenyum mengejek.
"Pak Daniel, kau benar. Papa mereka memang memiliki masalah kejiwaan, kau tak salah mengatainya begitu, dia memang sinting!"
__ADS_1
Daniel mencibir dengan ketus.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya dan melihat wajahnya. Dan aku mau menjadi orang pertama untuk memusnahkannya! Aku akan memberi tahunya bagaimana menjadi seorang ayah!"
Melihat Daniel yang masih saja berbicara tiada henti, kedua anak itu mengejar keluar dan terus menyerangnya.
"Hey, berhenti menyemprot!"
Daniel sembari membalikkan badannya ke samping untuk bersembunyi. Wajahnya muram penuh dengan kemarahan. di tambah dengan penampilannya yang saat ini aut-autan.
Dia sudah tidak tahan lagi, kemudian pergi melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. Dalam keadaan semerawut seperti itu, dia bertemu dengan Liki dan Reko yang sedang berjalan ke arahnya dengan secara kebetulan.
Liki dan Reko tampak terkejut melihat keadaan Daniel.
"Kakak! Ada apa?"
"Pak Daniel, ada apa ini?"
Daniel menatap mereka dengan tatapan matanya yang tajam, seperti biasa mereka membeku saat melihat ekspresi wajahnya. Mereka berdua dengan cepat menutup mulutnya dan menunduk tak berani menatap mata Daniel.
Daniel bergegas pergi dan mereka berdua langsung mengikutinya dari belakang.
"Kenapa dengan kakak? Apakah kakak pergi ke rumah Ariana untuk membantunya membersihkan rumahnya? Kenapa penampilannya aneh sekali?" Reko bergumam sambil menahan tawanya melihat keadaan Daniel barusan.
"Sepertinya itu tidak benar, kenapa aku tidak bertanya saja langsung!"
****
Dalam perjalanan pulang ke rumah mewah Daniel, Deffan mengernyitkan keningnya menatap Daniel. Untuk pertama kalinya dia melihat penampilan papanya seperti ini, tubuh Daniel sangat bau dan kotor, dia menggeser tubuhnya sejauh mungkin dari Daniel.
Daniel melihat Kenzie seperti itu, matanya menatap tajam kearahnya dengan menghela nafas dengan marah.
"Kenzie, lain kali menjauh lah dari Ariana dan kedua anak gadis liar itu. Mereka kasar dan juga tidak berpendidikan, dan itu akan mempengaruhi sifat dan watak mu juga!"
Saat mendengar kata-kata Daniel, Deffan baru mengerti bahwa kedua adiknya lah yang sudah membuat Papa seperti ini.
Reva dan Revi juga sangat pintar, ketika dia tidak ada, mereka tau bagaimana melindungi mamanya!
Memikirkan ini Deffan menundukkan kepalanya lalu tersenyum bahagia.
Daniel menatapnya dengan alis yang mengkerut.
"Papa sedang berbicara dengan mu, kau harus mendengarkan kata-kata Papa dengan serius!"
__ADS_1
"Iya Papa, aku mengerti."
Daniel yang masih emosi di hatinya, melihat penampilannya yang menyediakan yang seolah-olah baru saja keluar dari kandang sapi, kemudian dia mendesak supir agar lebih cepat lagi!
Di dalam ruangan, Reva yang akhirnya dapat mengusir Daniel yang jahat itu, dia memandang Ariana dengan cemas.
"Mama, Deffan yang di anggap mereka sebagai Kenzie itu di bawa oleh orang jahat yang bernama Daniel itu!"
Ah ....
Ariana menghela nafas panjang.
Mereka baru saja bertukar posisi, dan sekarang dibawa pergi lagi ....
Benar-benar merepotkan kalua harus bertukar posisi terus seperti ini. Lebih baik menelpon Kenzie saja, agar mereka harus berhati-hati di sana.
Ariana lalu menelpon Kenzie, dan Kenzie sudah mengerti apa yang sudah di katakan Ariana. Dia juga mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Mama, aku akan bersembunyi di kamar dahulu, jangan khwatir. Mereka tidak akan menemukan aku. Nanti aku akan mencari kesempatan agar Deffan dapat menyelinap keluar dan pulang dengan diam-diam!"
"Oke, kalian harus hati-hati ya, tidak boleh muncul dalam waktu yang bersamaan, mengerti?"
"Aku tau, Ma."
Setelah menutup telpon, Ariana masih mengingat apa yang di ucapkan Daniel barusan, bawah dia harus pergi ke luar negeri.
Aku harus bagai mana? Daniel hanya memberikan waktu hanya dua hari ....
Aku tidak boleh pergi, aku tidak akan membiarkan Kenzie bersedih lagi karena kehilangan ku untuk yang kedua kalinya. Tidak. Aku tidak aan meninggalkan kota ini. Ariana terus saja berpikir.
"Mama, kita tidak usah pergi. Jika Daniel masih datang dan membuat masalah lagi, aku dan Revi akan memberi pelajaran lagi kepadanya. Mama jangan khwatir, ya."
Reva yang arogan itu melipat tangannya yang kecil. Revi juga menunjukkan bahwa mereka akan membalas siapa pun yang menyakiti mereka.
.
.
.
Hai kak, author sudah update ya.
yuk dukung terus karya author ya
__ADS_1