
Daniel memicingkan matanya mendengar permohonan Ariana. Dia juga memiliki putra? Setelah melahirkan Kenzie dan meninggalkannya, dia juga melahirkan dua anak perempuan dan memiliki seorang putra lagi?
Begitu banyak laki-laki yang di goda oleh wanita sialan ini!
"Tidak ada urusan dengan ku mengenai putra mu itu. Kau mampu melahirkan anak, tetapi tidak mampu untuk menyelamatkannya? Lalu suamimu yang tak bertanggung jawab itu, panggil saja dia, kenapa aku harus memberikan uangku demi anak mu itu?"
Daniel berkata dengan mencibir.
Suamiku yang tidak bertanggung jawab?
Reko membulatkan matanya saat mendengar kata-kata pedas keluar dari bibir Daniel. Bagus sekali. Bibir Reko tersenyum kecil.
Nona Ariana, tampar saja dia, ayo tampar! Ini adalah kesempatan mu untuk membalasnya. tampar dia dengan keras, ayo tampar wajahnya itu! Dalam hati Reko mendorong Ariana untuk menampar wajah kakaknya sendiri.
Pikiran Ariana sedang berperang saat ini, apakah aku harus mengatakannya, tapi .... Memikirkan ini kepala Ariana merasa pusing dan sakit. Jika dia tidak mengatakannya, dia tidak mendapatkan uang itu untuk menyelamatkan Deffan, jika dia mengatakannya, berarti Ariana sudah menyerahkan Deffan dengan Daniel. Dia pasti akan merebut Deffan dari hidup ku.
Oh tuhan ..., dilema yang Ariana rasakan saat ini. Ariana terlihat mengambil napasnya, kemudian menghembusnya secara perlahan, mengatur napasnya agar dapat bicara kepada Daniel dengan baik.
Ariana sudah memutuskan untuk mengatakannya. Semua itu tidak penting bagi Ariana saat ini, yang terpenting adalah keselamatan Deffan. Tak peduli apa yang akan di lakukan Daniel nanti.
"Pak Daniel, sebenarnya saat itu ...."
"Saat itu kau sudah meninggalkan Kenzie dan tidak seharusnya kau muncul lagi! Ingat kata-kata ku, pergilah keluar negeri dan jangan menemui Kenzie lagi!" Mengingat bahwa dia juga sudah mengatakannya sebelum kepada Ariana, namun dia tidak mau menurut.
Mengingat itu semua, wajah Daniel semakin muram dan marah.
"Daniel, bukan itu, aku buka mau mengatakan itu! Aku bermaksud mengatakan Deffan dia ...."
"Aku tidak mau mendengar tentang apapun mengenai Deffan!" Daniel berkata dengan sangat keras, suaranya melengking memenuhi ruangan itu.
Sikap Daniel yang begitu keras dan juga tidak memberikan kesempatan Ariana untuk bicara menjelaskannya semuanya.
Reko yang ada di sampingnya memperhatikan mereka dengan tegang.
Tingkah Daniel benar-benar menyebalkan. Dia menyela ucapan Ariana, tidak bisakah mendengar dan menyelesaikan kalimatnya orang dahulu baru bicara? Bukankah itu tidak sopan jika menyela omongan orang di tengah pembicara?
"Kak, aku sudah melihat Deffan dan itu berhubungan dengan mu, hubungan dengan mu itu sangat erat!"
Reko sengaja menekankan kata-kata hubungan yang erat dengan sangat serius memandang kakaknya itu, dan juga mengedipkan matanya memberi suatu tanda.
__ADS_1
Namun Daniel tetap tidak mengerti apa maksudnya. Dia bahkan menatap Reko dengan tajam.
"Pergi dan periksa dirimu je rumah sakit jiwa! Kau terlalu lama berhubungan dengan orang gila, hingga syaraf dan jiwamu terganggu!"
Ha ....
Sesaat Reko melongo, Daniel mengatakan dirinya bahwa dia sakit jiwa?
Reko tampak tidak senang. Dan saat itu, ketika dia hendak membantah, dia mendengar Daniel memanggil Liki untuk berjalan ke luar.
Ariana segera bergegas menghalangi langkah kaki Daniel.
"Pak Daniel, setidaknya dengarkan aku dulu sebelum kau pergi, atau kau akan menyesalinya nanti!"
Seketika wajah Daniel menatap Ariana dengan seksama, matanya menyipit memandanginya.
"Menyesalinya? Bukankah kau yang akan menyesalinya jika kau masih berusaha untuk menghalangi langkahku!"
Ariana berkata dengan berkelit, dan memutar-mutar kata-katanya, seakan dia berat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Melihat pertunjukan yang sangat bagus ini, Reko segera memutar bola matanya dan menghampiri Daniel.
Daniel menoleh dan menatap Reko dengan aneh.
"Kak, kau tidak perlu menatapku seperti itu, kau hanya perlu memberi waktu beberapa menit untuk nona Ariana menjelaskan sesuatu, aku jamin, kau akan berubah 180 derajat! Bahkan kau akan memberikan uang dua miliar itu kepadanya, apakah kau percaya?"
Daniel mencibir mendengar lelucon yang Reko katakan.
Tiga menit dapat membuatnya berubah sikap? Dan bahkan terburu-buru untuk memberikan uang itu kepada perempuan licik ini. Ha .... Mana mungkin!
"Apakah kau sedang bermimpi?"
"Kak, apakah kau tidak berani bertaruh? Jika kau tidak berani bertaruh, maka kau bukan laki-laki sejati!"
Mendengar itu, Daniel menatap Reko, kemudian menoleh Ariana. Akhirnya dia juga penasarannya dengan apa yang di katakan Reko. Dengan rasa penasarannya, sebatas manakah kemampuan wanita ini untuk mengelabuinya seseorang!
Bagaimana Reko begitu mempercayainya?
"Bagai mana jika kau kalah dalam pertaruhan?"
__ADS_1
Daniel menatap Reko, kemudian menatap Ariana dengan penuh penghinaan terhadap Ariana.
"Baik, jika aku kalah, aku akan menuruti semua perintah mu, termasuk pergi keluar negeri untuk mengelola cabang perusahaan. Tetapi bagaimana jika kau yang kalah?"
Melihat Reko yang semakin bersemangat, Daniel semakin penasaran.
"Jika aku kalah, aku akan memberimu kesempatan untuk mengelola perusahaan."
Reko berpikir beberapa saat.
"Aku tidak tertarik untuk mengelola perusahaan. Aku ingin mengatakan hal lain!"
"Katakan!"
"Jika kau kalah, kau harus memenuhi syarat dan kau tidak boleh menyesalinya."
Daniel tapak ragu-ragu sejenak kemudian menjawab: "Oke!"
"Janji seorang laki-laki harus di tepati!"
Kemudian Reko membalikkan badannya untuk melihat Ariana.
"Kau sudah bisa menjelaskannya!"
"Tiga menit, di hitung dari sekarang ..." Saat Reko bicara, dia sembari melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.
Ariana menghela nafas.
"Tiga menit terlalu lama, aku hanya akan mengatakan tiga kata!"
Mendengar itu, matanya Daniel terlihat dingin serta menyipit memandanginya.
Tiga kata, akan membuat pandangan Daniel berubah, apakah dia akan mencoba menghipnotisnya dengan 3 kalimat itu? Wanita ini benar-benar berpikir bahwa dia tidak punya otak?
Dasar tidak tahu diri?
Daniel mengutuk Ariana dalam hatinya.
Bersambung ....
__ADS_1