Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
131


__ADS_3

Setelah Ariana keluar dari ruangannya, Daniel pun ikut keluar dan turun. Kebetulan saat itu Reko datang dan melihat kakaknya yang arogan itu turun dari atas. Dia menyapanya dengan hangat, dengan senyum khasnya, Reko menampilkan gayanya sebagai pemuda kaya di kalangannya.


Dengan wajahnya yang dingin Daniel berjalan melaluinya pergi keluar tanpa memperdulikan dirinya.


Reko mengernyitkan keningnya, menatap punggung Daniel yang sudah menghilang di balik tembok. Wajahnya terlihat sedang kesal.


Siapa yang sedang membuatnya kesal? Atau dia sedang bermimpi buruk? Reko bergumam sambil menebak-nebak kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu tersenyum kecil.


Reko melanjutkan langkah kakinya sambil bersiul menuju lantai atas.


Begitu sampai di lantai atas, dia melihat Ariana menangis sambil mengemasi barang-barang Reva dan Revi.


Reko terdiam melihatnya. Apa yang terjadi? Mengapa kakak ipar menangis dan berkemas seperti akan pergi?


"Kakak ipar, kau kenapa?"


Hati Ariana yang sedang di penuhi oleh hak asuh Deffan seakan tidak mendengar pertanyaannya Reko. Ariana terlihat berjalan dan mengabaikannya.


"Kakak ipar, aku berbicara dengan mu, apakah kau tidak mendengar?"


Ariana melirik Reko sebentar dan kemudian langsung memalingkan wajahnya. Dia menghembuskan nafasnya begitu kasar.


"Kakak ipar, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa." ucapnya datar lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Kakak ipar, jika tidak ada apa-apa, kenapa kau menangis?"


"Sudahlah aku katakan, aku tidak apa-apa."


"Kakak ipar, aku tidak akan berhenti bertanya sebelum kau mengatakannya kepadaku? Apakah kau bertengkar lagi dengan kakak ku?"


Mendengar itu Ariana memalingkan wajahnya.


"Kau tau, kakak mu itu ingin mengambil hak asuh Deffan, dia dengan sombong menawarkan hartanya dengan ku untuk menukar Deffan! Dan dia juga mengusirku!"

__ADS_1


"Apa?"


Reko terkejut dengan apa yang barusan dia dengar. Dia tidak menyangka akan serumit ini, menjodohkan kakaknya begitu sulit. Dadanya berdegup saat membayangkan jika Ariana pergi dari rumah ini, Mama Maira pasti akan menjodohkan dengan wanita-wanita itu. Mengingat itu Reko merinding dan terlihat cemas. Tidak, bagaimana pun aku harus membujuk kakak ipar agar tetap tinggal di sini.


"Kakak ipar, kenapa kau tidak berkata jujur saja mengenai ...."


Belum selesai Reko mengatakannya, Ariana menatapnya begitu tajam dan memberi isyarat agar segera menutup mulutnya.


"Aku sudah mengatakannya kepadamu waktu itu, dan kau juga mengakui janji mu. Jika kau mengatakan identitas kedua putriku itu, aku akan membuat perhitungan dengan mu, aku tak peduli apa yang akan terjadi, jika semuanya sudah keluarga kalian rampas dariku, itu artinya hidup ku pun tidak ada artinya, jadi tidak ada lagi yang aku takuti."


Kata-kata Ariana membuat Reko bergidik ngeri.


"Jangan khwatir kakak ipar, aku berada di pihak mu. Aku tidak akan membiarkan mu kehilangan anak-anak mu."


Mendengar kata-kata Reko, hati Ariana sedikit tersentuh.


"Jika kau berada di pihak ku, jangan pernah memanggilku dengan sebutan kakak ipar lagi!"


Reko tercekat.


Mamanya semalam baru saja menelponnya, menanyakannya tentang hubungan Ariana dan Daniel. Dia juga sudah berjanji kepada Maira, ketika dia kembali dari liburan, mereka pasti akan mendapatkan menantu. Tersenyum jika kakak ipar pergi ....


Reko seperti putus asa, di wajahnya terlihat kecemasan yang dalam. Reko khawatir mamanya tersayang itu akan mencurigainya bawah dia telah berbohong.


Reko menyesali telah menjadi adiknya Daniel.


"Kakak ipar ...."


Ariana langsung melotot menatap Reko begitu tajam.


"Tidak, tidak. Aku minta maaf, ya Nona ..., nona Ariana." Reko berkata terbata-bata sambil membetulkan ucapannya dengan benar.


"Nona Ariana, sekarang kita harus mencari cara untuk mencegah kakak ku merebut hak asuh Deffan."


Ariana terdiam, pandangannya menatap kosong. Melawan Daniel adalah hal yang sulit dan lemah baginya. Lalu Ariana menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kak ipar, kau tidak bisa melawannya dengan cara seperti itu, kau bisa mengakalinya!"


"Bagaimana?" Ariana berkata dengan nada yang lemah, nada putus asa.


"Begini saja, aku akan mencari cara agar kau tetap tinggal di sini, dan seterusnya tergantung dengan dirimu sendiri. Kau tidak akan bisa melawan kakakku. Cobalah untuk berkomunikasi dengan baik, jangan melawannya. Kau bisa mendekatinya secara perlahan-lahan, misal bertingkah manja padanya, membuat sesuatu yang kakakku senangi, yah apapun itu terserah kau saja, asal jangan membuatnya marah dan kesal. Jika tak berhasil, kita akan mencari cara lain lagi."


Bertingkah manja? Ariana menatap Reko dengan mengerutkan keningnya. Bagaimana dia bisa seperti itu! Ini bukan tipe nya. Terlalu sulit dia lakukan. Teringat wajah Daniel yang kaku dan dingin, mungkin Daniel akan mengatakannya wanita gila!


"Nona Ariana, demi Deffan kau harus berkorban! Kau tidak ingin kehilangan hak asuh Deffan, kan? Kau jangan khwatir, aku akan menelpon Mama, untuk sementara waktu, kakakku tidak akan mengusir mu."


Reko berjalan keluar untuk menghubungi Maira, sekarang hanya mamanya yang bisa membantunya.


Setelah telpon terhubung, Reko langsung berbicara ke inti permasalahannya.


"Mama, kakak dan nona Ariana berada di masa kritis sekarang ini, nona Ariana memiliki pasien penting hingga mengharuskannya pergi dari rumah kakak dan itu akan memakan waktu yang lama. Aku khwatir semua upaya yang sudah kulakukan akan sia-sia. Ma, kau harus membantuku agar Nona Ariana tidak pergi, kakak juga berharap agar dia tidak pergi, tetapi kakak tidak enak hati untuk mengatakannya.


Maira ragu-ragu mendengar ucapan Reko, terapi setelah dia berpikir-pikir, demi kebahagiaan putra sulungnya, dia akan menelpon Ariana dan Daniel.


"Jangan khwatir, Mama akan menelpon mereka." Setelah memutuskan sambungan telpon, Maira langsung menelpon Ariana.


Reko melihat Ariana sedang menerima telpon dari Maira, dan dia tersenyum melihatnya sambil mengacungkan jari jempolnya.


Selesai menelpon Ariana, Maira juga menelpon Daniel.


"Ma, apa yang kau katakan?" terdengar suara Daniel di ujung telpon, dia merasa keberatan.


"Ya, aku berkata serius, tidak peduli bagaimana caranya, kau harus menjaga dokter Messa. Nanti saat Mama kembali, Mama akan membawa seorang teman yang perlu dokter Messa rawat."


"Tapi dia tidak perlu tinggal di rumah ku, kan Ma! Kau bisa menelponnya saat kau kembali ...."


"Daniel, jangan begitu bodoh. Jika kau tidak dapat membuatnya tinggal di rumah mu , saat aku kembali aku akan membuat perhitungan dengan mu. Pokoknya kau harus menjaganya. Titik." Ketika Daniel ingin menjawabnya, Maira sudah memutuskan sambungan telponnya.


Daniel terlihat kesal dan meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.


"Ada apa sebenarnya dengan Mama? Kenapa dia begitu ingin wanita itu tinggal di rumah ku? Kenapa Mama harus mengatur rumah ku sendiri?" Daniel bergumam dengan kesal, tangannya terkepal erat.

__ADS_1


Benar-benar tak tau malu, sudah di usir, masih mau tetap tinggal di rumah ku, benar-benar wanita tidak waras.


"Tunggu saja, pulang nanti aku akan segera mengusirnya! Tidak peduli apa kata Mama."


__ADS_2