Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
152


__ADS_3

Ariana melangkah dengan pelan.


dia merasa lelah dengan kehidupannya seperti ini. Dia akan pokus mencari pekerjaan yang sesuai dengan kepandaiannya.


Ariana mendaftarkan diri di beberapa buah klinik melalui online. Dia berharap ada panggilan di salah satu dari klinik tersebut.


Namun tak di sangka dua klinik menghubunginya. Ariana bingung harus memilih klinik yang mana!


Tentunya semua ada kelemahan dan kelebihan.


Satu sisi gajinya yang menggiurkan, namun klinik tersebut jauh dari kota. Jika dia memilih gajinya yang besar tapi dia akan jauh dengan anak-anak, terutama Deffan dan Kenzie. Tentu saja dia tidak akan tinggal di villa ini, karena tidak mungkin bolak-balik dalam jarak yang jauh.


Kedua gajinya bahkan tidak akan cukup untuk makan mereka dalam satu bulan, tidak cukup namun dia bisa menjaga anak-anak.


Ariana mendesah berat.


Tidak mungkin dia akan selamanya seperti ini. Malam harinya Ariana memutuskan untuk berbicara dengan Deffan dan Kenzie tentang rencananya yang akan kerja di sebuah desa.


Deffan dan Kenzie keberatan dengan rencana mamanya, mereka tidak rela jika harus berjauhan dengan Mama.


"Deffan, Kenzie, dengarin Mama, yah. Mama cari uang, untuk kalian semua, adik-adik mu butuh biaya sekolah, tidak mungkin Mama di sini terus Mama dan kedua adikmu juga butuh tempat tinggal, Mama ngk mau tinggal di sini terus."


"Tapi ini villa milikku, kakek sudah memberikannya untuk ku, Mama bisa tinggal di sini selamanya."

__ADS_1


"Iya Mama ngerti, tapi Papa mu tidak suka Mama tinggal di sini. Mama mohon sama kalian untuk ngerti Mama, yah? Mama tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian, Mama sayang kalian. Sekali-kali Mama akan berkunjung ke sini, saat libur kalian juga bisa meminta Paman Reko untuk mengunjungi Mama."


Deffan dan Kenzie saling pandang, lalu menundukkan kepala mereka dengan sedih.


Ariana mengelus lembut rambut mereka berdua.


"Mama bisa minta uang sama Papa, kenapa Mama harus kerja dan meninggalkan kami!" Tiba-tiba Kenzie berbicara dengan suaranya yang lantang.


"Kenzie, Papa tidak mungkin memberi Mama uang, Mama dan kedua adik mu ini bukan tanggung jawabnya. Sebagai wanita kuat, Mama tidak mau meminta-minta, Mama masih muda dan masih kuat untuk cari uang sendiri." Ariana tersenyum kepada kedua putranya.


"Yang dikatakan Mama benar, Reva dan Revi perlu biaya untuk sekolah. Tapi Mama janji sama Deffan dan Kenzie, bahwa Mama akan berkunjung kesini."


"Iya, sayang, Mama janji."


Ariana mengelus kepala Kenzie lalu mengangguk.


"Baiklah, kami akan berkunjung ke tempat Mama jika sekolah kami liburan."


"Terimakasih sayang, kalian anak laki-laki Mama yang paling ngerti." Ariana memeluk kedua putranya dengan erat.


"Satu lagi, jangan beri tahu Papa kalian, yah? Jangan katakan apa pun jika dia tidak bertanya."


"Siap, Ma." Ujar mereka berdua sambil mengacungkan jari jempolnya.

__ADS_1


"Kalian baik-baik di sini, sekolah yang rajin, jangan buat Papa khwatir. Mama mau siap-siap sekarang, besok Mama harus pergi."


Kedua putranya membantu Ariana mengemasi barang-barangnya.


"Mama, kami akan merindukan Mama." Kedua bocah itu memeluk Ariana setelah selesai membantunya membereskan barang-barang mereka.


"Mama juga akan merindukan kalian sayang." Ariana menitikkan air matanya, perasaannya berat dan sedih meninggalkan kedua putranya ini.


Esoknya. Semua barang-barangnya Ariana dan juga kedua putrinya sudah di mobil, kini mereka berpamitan untuk pergi.


"Mama kenapa menangis?" Deffan menyeka air mata mamanya dengan tulus.


"Mama hanya berat meninggalkan kalian, meskipun di sini kalian akan hidup berkecukupan. Mama harap kalian tidak berpikir yang negatif sama Mama."


"Iya Mama kami mengerti."


"Hubungi kami jika kalian sudah sampai."


Sepanjang perjalanan Ariana berpikir, jika dia tidak memberitahu Daniel akan kepergiannya, nanti dia akan salah paham. Jadi Ariana memutuskan untuk mengirim pesan saja.


"Siang pak Daniel, mulai hari ini aku akan pergi dan tidak akan tinggal di villa lagi. Aku mohon jaga Deffan dan Kenzie, aku tau kamu tidak menyukai aku dan kedua putriku tinggal di sana, aku minta kamu jangan melarang anak-anak jika mereka ingin menemui ku. Aku minta maaf sudah sering merepotkan pak Daniel."


Setelah mengirim pesan pada Daniel, Ariana menoleh kedua putrinya yang ada di bangku belakang, mereka terlihat tidur dengan pulas. wajah Ariana tampak sedih melihat mereka.

__ADS_1


Maafkan Mama sayang, Mama tidak bermaksud untuk menjauhkan kalian dari Papa. Gumam Ariana dalam hati kemudian dia kembli melanjutkan perjalanannya yang masih jauh.


__ADS_2