
Siska mendorong Ariana begitu keras, hingga dia terhuyung.
Ariana merasakan sangat marah, meskipun dia terlihat tenang. Matanya yang tajam tertuju kepada wanita tua yang seperti mak lampir itu. Ariana melangkah maju dan tiba-tiba mendorong Siska seperti apa yang dia lakukan kepadanya barusan.
Siska yang tidak siap akan tubuhnya, dia tersungkur ke lantai, dia tidak menyangka Ariana sangat berani mendorongnya yang kemudian membuatnya terjatuh ke belakang.
"Mama ...."
Erika berteriak dan dengan cepat membantu Siska untuk berdiri kembali.
"Aduh .., sakit sekali."
Siska jatuh dan mula merasa sakit di lututnya, mengeluh sambil menatap Ariana dengan marah.
Melihat itu, Erika melotot menatap Ariana dengan menggertakkan giginya.
"Berani sekali kau! Mama adalah masih Mama mu juga meski dia tiri buat mu! Kau jangan keterlaluan memperlakukan orang tua seperti ini! Kau benar-benar keterlaluan!"
"Mama tiri?"
Ariana mencibir dengan ketus, bola matanya berputar.
"Seorang Mama tiri tetaplah Mama tiri yang jahat, jika dia berbuat baik terhadap ku, aku bisa lebih baik dari anak kandungnya sendiri. Apakah kejahatannya bisa di katakan baik?"
"Kau! Meskipun bagaimana dia tetaplah orang tua!"
"Ya, orang tua yang jahat, sudah bau tanah pun masih berbuat jahat, menumpang hidup dan masih ingin memeras ku? Apa kalian kira aku masih seperti Ariana yang dulu? Yang seenaknya kalian perlakuan seperti kerbau yang mau menuruti kemauan kalian? Orang tua yang menyuruhku memakan makanan sisa, menjadikan aku sebagai pelayan. Di musim dingin kau diam-diam menyirami mu dengan air es di dalam selimut ku! Kau memang mengharapkan kematian ku, kan? Kalua kau berpikir dengan otak yang cerdas, aku mendorongnya seperti tadi, belum sebanding dengan apa yang kalian lakukan terhadap ku waktu itu! Apakah kau pantas mengatakan perbuatan ku keterlaluan! Bukankah kalian yang sudah keterlaluan?"
"Kau!" Erika mengepalkan tangannya dan dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Wanita jalanan, jangan sembarangan memfitnah! Aku tidak memperlakukan mu seperti itu!"
"Ada atau tidak, kau dan aku sama-sama tau, jika kau masih tidak mau pergi, aku akan membalas dengan cara yang sama."
Melihat sikap mamanya seperti itu, Reva dan Revi yang ada didalam kamarnya membulatkan matanya dengan sempurna. Mereka sangat terkejut melihat mamanya yang begitu luar biasa.
"Brengsek, ternyata mereka dulu memperlakukan Mama seperti itu. Revi, apakah kau ingin memberikan pelajaran kepada mereka?"
__ADS_1
"Reva, Mama tadi berpesan: kita tidak boleh keluar. Jika kita keluar nanti malah akan membuat masalah lagi pada Mama malah masalahnya bertambah repot."
Reva dan Revi dengan sabar melihat ke arah luar dari celah pintu kamarnya.
Erika juga tidak menyangka Ariana akan begitu kuat. Jika dia tau, seharusnya dia membawa beberapa pengawal tadi untuk berurusan menghadapi perempuan jalanan ini!
Ariana Melirik mereka yang berwajah marah dan muram, dia mengambil sebuah apel dan menggigitnya, Ariana merasa mereka sangat lucu.
Dia bahkan tidak ingin melihat trik yang sedang Siska mainkan, terserah saja dia mau seperti apa, Ariana tidak peduli.
Siska yang duduk di lantai dan meringis untuk waktu yang cukup lama. Dia merasa tidak tenang.
"Mama, lihat. Tempat tinggalnya yang kumuh ini seperti sarang pengemis saja. Mungkin dia benar-benar tidak punya uang, sepertinya kita harus memikirkan cara lain."
Erika berbisik di telinga Siska, dan dia terlihat sangat marah. Dia masih belum puas untuk melampiaskan kemarahannya terhadap Ariana, kekesalannya ini harus segera dibalaskan.
Siska melihat sekeliling rumah Ariana, melihat perabotan rumahnya dan tiba-tiba terlintas hati yang sangat jahat setelah melihat TV yang ada di ruang itu, Ariana menyadari gelagat Siska, dia segera pergi untuk menghentikannya namun Erika meraih pergelangan tangannya dengan erat.
"Kakak, Mama adalah orang tua, kau tidak boleh memerlukannya seperti itu."
"Lepaskan!"
Ketika mereka sedang berdebat dan Ariana mencoba melepaskan tangannya dan ketika itu pula tiba-tiba saja TV itu sudah terjatuh ke lantai.
Pranngg ....
TV itu langsung pecah!
Siska mencibir menatap Ariana, kemudian dia kembali mencari barang lainnya untuk melampiaskan kemarahannya.
Melihat itu Revi langsung membulatkan matanya dan menangis. "TV mereka rusak! Bagai mana kita mau nonton?"
"Jahat sekali! Seharusnya dari tadi mereka sudah di beri pelajaran!"
Reva menggertakkan giginya tidak tahan lagi melihat pengacau yang ada di rumah mereka, Reva segera keluar dengan langkah yang sagat marah. Dia keluar membawa balok kayu dengan gaya seperti ingin bertarung dengan mereka.
"Kau! Lepaskan!"
__ADS_1
Ariana yang masih berusaha melepaskan pergelangan tangannya, tiba-tiba Erika ingin menyerangnya dengan bersiap akan menendang perutnya, tetapi Ariana dengan cepat mengelak ke samping hingga Erika tidak dapat menyakitinya.
"Mama .., aku akan segera membantu mu!" Reva berteriak sambil membawa kayu yang cukup panjang dan memukul Siska begitu keras hingga wanita tua itu meringis kesakitan.
"Aduh ....!"
Reva tidak akan bisa melawan Siska, melihat itu, Ariana segera menggigit tangan Erika hingga berdarah.
"Ah .....!" Erika juga berteriak dengan keras melihat tangannya berdarah.
Mendengar teriakannya Erika, Siska langsung membanting cangkir teh yang ada di tangannya kelantai dan buru-buru menghampiri Erika.
"Wanita ******! Beraninya kau menggigit tangan putriku! Aku akan membunuh putrimu!"
Sembari berkata seperti itu, Siska mengambil kayu yang ada di tangan Reva dengan paksa menariknya dan merebutkan. Kemudian Siska mengangkat kayu itu tinggi-tinggi hendak memukul Reva.
Ariana yang melihat itu, dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang.
Melihat kayu itu yang hampir sampai menyentuh tubuh Reva, tiba-tiba sebuah apel menghantam wajah Siska.
Kemudian Reva di seret ke samping. Ujung bibir Siska seketika berdarah, dia menutupi sebagian wajahnya dan mulai merintih kesakitan lagi.
Ariana merasa lega, bibirnya tersenyum puas setelah melihat Revi yang sangat suka makan itu telah menyelamatkan Reva. Ya, yang melempar apel barusan adalah Revi, Ariana tidak menyangka kalau Revi juga sangat hebat.
"Revi, bagus sekali!" Ariana menatapnya dengan penuh semangat.
Revi tersenyum dengan polos dan berlari ke arah Ariana.
"Mama, jarum perak mu mana? Tusuk saja mereka!"
Mengingat itu pun, Ariana segera mengambilnya.
Melihat jarum perak yang kemilau dan bercahaya dingin, Erika yang melihat itu kemudian menarik tangan Siska untuk keluar dari sana. Mereka keluar dengan wajah yang ketakutan.
Ariana dan kedua anaknya mengejar dari belakang. Melihat Erika yang sambil berlari sambil berbicara di dalam telpon.
Ariana merasa firasat buruk, Erika pasti memanggilnya anak buahnya untuk membantu mereka, jika mereka memanggilku anak buahnya, dia dan juga kedua anaknya ini tentu tidak akan bisa melawan mereka.
__ADS_1
Bersambung ....