
🌺like🌺
Reva yang bersembunyi di balik tanaman, melihat Liki berjalan pergi menuruni tangga dengan wajah yang menyedihkan. Dia merasa benar-benar senang sekali, papanya yang jahat itu pasti sudah meminum kopi pahit itu dan dia menyemprotkannya ke wajah asistennya karena dia tidak tahan dengan rasa yang sangat pahit itu!
Hahah ..., rasakan!
Reva tertawa dengan membekap mulutnya dengan kedua tangannya yang kecil.
Dendam pertama sudah terbalaskan, dan di anggap sudah selesai.
Sekarang yang kedua .....
Beberapa menit kemudian, Daniel menjawab panggilan telepon dan dengan tergesa-gesa meninggalkan perusahaan.
Reva dengan cepat mengeluarkan arloji ponselnya dan segera menelpon Deffan, si jenius kecil itu segera melakukan apa yang di perintah oleh Reva, dia segera membuka dan memecahkan nomor sandi ruang kerja Daniel dengan sangat mudahnya.
Berkat bimbingan Deffan yang sangat cerdik, beberapa menit kemudian dia sudah berhasil membuka pintu ruangan kerja Daniel dan menyelinap masuk dengan hati-hati.
Melihat isi dari perabot dan desain ruangan kerja papanya yang mewah dan elegan, dia teringat akan mamanya yang sulit membesarkan mereka bertiga, sedangkan papanya yang jahat itu memiliki kehidupan yang baik tidak ada kekurangan apapun, bahkan apa pun bisa dia dapatkan dengan mudahnya.
Sementara mereka terkadang tidak bisa memenuhi keinginan mereka. Melihat itu, Reva menggenggam kedua tangannya dengan erat, wajahnya berubah suram. Dia sungguh berani sekali menindas Mama! Beraninya dengan orang kecil seperti mereka. Daniel benar-benar keterlaluan. Mata Reva memerah mengingat kehidupan mereka.
Reva yang semakin memikirkannya, dia semakin yakin untuk bertindak lebih kejam lagi!
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Reva diam-diam berjalan keluar dari ruangan CEO. Saat dia menutup pintu, dengan cepat menguncinya dengan memasukkan kata sandi yang sudah di beri tahu Deffan barusan. Dia dengan mudahnya menghapal kata sandi itu. Senyum sukses tampil di wajah cantiknya.
Beraninya menindas Mama! Inilah akibatnya!
Setelah semuanya selesai, Reva memutuskan untuk meninggalkan perusahaan Mahesa grup.
Penjaga keamanan di luar pintu pum bersikap manis terhadapnya, dia tersenyum lembut melirik Reva. Meskipun dia hanya seorang anak kecil, tetapi bagaimana pun juga dia bisa dapat berada do perusahaan ini juga karena di ajak masuk oleh pak Daniel.
Setelah meninggalkan perusahaan Mahesa grup, Reva sengaja mencari tempat dan mulai menghapus riasan penyamarannya.
Teknik rias wajahnya ini benar-benar sudah satu level dengan teknik penyamaran. Dan ini membuatnya sangat bangga. Jangankan papanya yang tak dapat mengenalinya, bahkan Mama Pun jika sekarang berdiri di hadapannya, Mama tidak aan mengenalnya bahwa dirinya adalah Reva.
Setelah menghapus make-up nya dia naik taksi dan kembali ke taman kanak-kanak.
Belum sempat dia menjawab pertanyaan ke sekian, terdengar tiba-tiba ketukan di pintu depannya.
Siapa? Ariana tampak mengernyit dan bingung. Ariana berjalan ke sofa secara perlahan-lahan melihat keluar dari celah-celah pintu, tetapi dia tidak menemukan siapa yang mengetuk pintu rumahnya barusan?
Aneh sekali.
Ketika dia hendak melangkah memutar balikkan tubuhnya, tiba-tiba pintu kembali di ketuk.
"Siapa itu!"
__ADS_1
"Ada paket," seseorang menjawab dengan suaranya keras sedikit, tujuannya agar Ariana mendengar teriakannya.
Paket? Aku tidak belanja online beberapa minggu ini, apakah dari ketiga anaknya yang memesan? Mungkin saja alat kosmetik yang di pesan oleh Reva. Ariana tampak berpikir sejenak, lalu dia mengintip. Melihat orang yang menunggu di luar wajah Ariana langsung berubah.
Sebuah firasat buruk langsung memutari pikirannya.
"Mengapa kau?"
"Apakah kau terlihat aneh?"
Ketika dia mengucap kata-kata itu tangannya langsung terangkat dan menampar wajah Ariana.
"Dasar wanita murahan, keluarga Malik telah hancur di tangan mu, kau harus membayar ku!:
"Apa-apaan ini?" Ariana menatapnya dengan garang, rasa pipinya seakan terbakar. Jika saja kakinya tidak terluka, dia pasti akan melawan Siska. Tapi jika dia melawannya, dia tidak akan dapat mengalahkan Siska si penyihir tua ini, di tabah lagi di belakangnya terlihat mengawal mengawasinya.
Dia ragu-ragu untuk membalasnya.
"Kak, tidak mudah bagi kami untuk menemui mu. Terakhir kali bertemu dengan mu waktu di toko kue itu, tidak lama kemudian kau beserta anak-anak mu pindah rumah, apakah kau sengaja ingin menghindari kami?"
Bibir merah Erika terbuka, dan berkata dengan sangat lembut. Namun sorot matanya setajam belati menatap Ariana.
yuk dukung author ya
__ADS_1