Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
73


__ADS_3

...🌺 Like setelah membaca🌺...


...🌺Jangan lupa follow akun author 🌺...


Ketika Daniel hendak melewati Ariana, dia di sambut dengan sapaan hormat.


"Selamat pagi pak Daniel!"


Wajah Daniel mengernyit dan berhenti. Penampilan dan gaya bentuk tubuhnya sangat-sangat ideal dan itu sangat di sukai oleh semua wanita. Daniel berdiri dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Dia berdiri menjulang di hadapan Ariana, wangi parfumnya yang maskulin, tercium sangat segar di hidung Ariana dan ini membuat dada Ariana bergetar.


Apakah wanita ini sedang berpura-pura lagi? Atau dia takut untuk menyalin data lagi? Apa yang sedang wanita ini rencanakan? Begitu banyak pertanyaan di benaknya, hingga dia menatap Ariana begitu lama.


Ariana menyipitkan matanya menatap Daniel yang seperti mencari sesuatu di dalam dirinya. Ketika Ariana hendak mengulangi kalimatnya, Daniel sudah menggerakkan bibirnya dan berkata: "Ada apa?"


Dia berkata lalu memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat Ariana yang sekarang ini berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat cantik dan anggun dengan pakaian dress warna hitam, membentuk lekukan tubuhnya yang ramping, rambut di kuncir tinggi dengan riasan tipis di wajahnya. Bulu matanya yang lentik mengerjap seperti kupu-kupu. Sepatu hills warna krem yang senada dengan kulitnya membuatnya semakin terlihat cantik.


Ariana segera menyerahkan dokumen yang telah di salin sepanjang malam.


"Saya sudah menyelesaikan tugas saya, tolong di periksa pak Daniel!"


Daniel melirik tangan Ariana yang memegang dokumen dan langsung mengambilnya serta membukanya, ini adalah tumpukan kertas yang sangat tebal.


Wanita ini benar-benar menulis begitu banyak salinan. Apakah dia menulisnya sepanjang malam? Daniel tiba-tiba meliriknya dan mendapati kelopak bawa mata panda nya. Meskipun Ariana menutupi wajahnya dengan riasan, namun Daniel tetap dapat melihat ekspresi mata Ariana yang kelelahan. Dia tidak percaya, wanita ini terjaga sepanjang malam, tentu saja dia kurang tidur.


Dia benar-benar berusaha keras untuk tetap bekerja di kantornya.


Tak mau menyerah sebelum mendapat tujuannya!


Bagus sekali!


Dia ingin melihat seberapa keras usahanya itu.


Daniel menyerahkan dokumen-dokumen kepada Ariana dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tidak lulus. Tulis ulang lagi!"


Ariana tersenyum tipis, dia tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Daniel barusan.


Daniel menatapnya dengan curiga. Kenapa dia malah tersenyum? Ariana yang di minta untuk menulis tangan lagi malah tertawa? Bukankah dia akan marah? Tapi ini ....


"Mengapa ...."


Sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya, bibir pink Ariana terbuka dengan ringan.

__ADS_1


"Pak Daniel, di dalam dokumen itu ada surat pengunduran diri, tetapi anda tidak menyadarinya. Sepertinya anda tidak benar-benar memeriksanya dengan teliti tadi!"


Ariana sengaja menekankan kata-kata itu untuk mengartikan sesuatu.


Daniel memang hanya membuka dan membolak-balikkan beberapa halaman saja, kemudian sengaja mengatakan dia tidak lulus dan harus menulis ulang.


Artinya tidak peduli dengan apa yang dia tulis, bahkan jika itu tulisan dengan gaya yang rapi dan sempurna dia juga akan tetap memintanya menulis ulang.


Dia sudah dapat menerkanya dari awal, jadi dia sengaja menyelipkan surat pengunduran diri di dalamnya.


Daniel menatap Ariana dengan cermat. Sepertinya dia tidak serius mau mengundurkan diri, kalau memang iya, lalu untuk apa dia menyalin dokumen sebanyak ini sepanjang malam? Dia kan bisa langsung menyampaikan ingin mengundurkan diri saja.


"Ariana , apa maksud mu dengan menulis surat pengunduran diri ini?"


"Tentu saja aku mau mengundurkan diri!"


"Mengundurkan diri?"


Daniel menatapnya dengan tercengang, bibirnya tersenyum kecil.


"Jika kau memang ingin mengundurkan diri, lalu untuk apa kau menyalin dokumen sebanyak ini?"


Ariana menatapnya dengan tatapan penuh arti. Bibirnya menirukan senyuman kecil sepertinya tadi, lalu dia berkata dengan nada yang dingin.


Ariana mengatakan ini dengan suara yang rendah tetapi terlihat sangat serius. Seolah-olah ada maksud lainnya.


Kemudian dia menarik tumpukan dokumen itu dari tangan Daniel. Semalam dengan susah paya dia menulisnya dengan tangan. Kemudian dengan santai Ariana merobek semua kertas itu tanpa ragu di hadapan Daniel.


"Bret ..., bret ..., bret ...."


Selembar demi selembar Ariana merobeknya sampai habis, setelah itu dia menggenggam semua robekan kertas itu kemudian menatap Daniel dengan dingin. Lalu tanpa di duga, Ariana menghamburkan robekan kertas itu di depan Daniel. Kertas-kertas itu berterbangan di depan matanya seperti hujan salju.


Kedua mata Daniel menyipit. Wanita ini dengan susah paya dia menyalinnya, tetapi sekarang dia merobeknya? Apa yang sedang dia lakukan?


Dia masih bertanya-tanya ketika dia melihat Ariana membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh. Dia berjalan sangat anggun, pergi dan berjalan tanpa rasa takut, sepertinya dia sudah merasa puas sekarang!


Daniel tersenyum sinis, dia tidak menyangka perempuan ini mempunyai keberanian seperti itu!


Di saat yang sama, Daniel menatap kepergian Ariana yang sudah berjalan jauh darinya, untuk sesaat dia tertegun, sekaligus sedikit merasa ketidak nyamanan di dalam hatinya.


Dia tanpa sadar mengepalkan jari-jarinya. Wanita itu terlalu berani terhadapnya! Benar-benar tak tahu di untung.


Dengan mata yang menggelap dia melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya. Baru saja dia mau duduk, sudah terdengar ketukan di pintu.

__ADS_1


"Masuk!"


Tak lama, dia melihat Liki yang masuk dengan terburu-buru.


"Pak Daniel, nona Messa menolak menerjemahkan dokumen bahas negara A, dan kenapa dia malah mau pergi? Apakah anda tau ...."


"Dia telah mengundurkan diri, jadi kedepannya tak perlu memintanya untuk menerjemahkan lagi."


"Apa?" Liki memandang Daniel dengan heran dan terkejut.


"Tapi ..., ini ..., ini dia ...," Liki tidak dapat berkata dengan kalimat lebih baik, dia merasa cemas dan khwatir.


Melihat ekspresi Liki, Daniel menatapnya.


"Kenapa? Apakah tidak bisa tanpa dia? Bukankah selama ini tidak ada dia di sini? Lalu kenapa kau seperti ketergantungan kepadanya?"


Liki terlihat sulit untuk menjelaskannya.


"Karena tak ada orang yang benar-benar mengerti bahasa negara A sebelumnya. Jadi selama ini perusahaan tidak berani untuk menerima pesanan dengan nominal besar. Tetapi mengingat nona Messa yang mengerti bahasa negara A, aku menerima beberapa pesanan besar dari negara A kemarin sore. Pesanan itu berjumlah ratusan miliar dan sekarang kita sangat membutuhkan terjemahannya."


Daniel melirik Liki, "jadi?"


Liki terlihat gemetar, "bahkan jika kau memanggil kembali penerjemah sebelumnya yang telah mengundurkan diri, dia juga tidak berguna. Dia tidak terlalu paham dengan bahasa negara A, jadi perusahaan membutuhkan nona Messa. Pekerjaan ini hanya dia yang dapat menyelesaikannya!"


Hanya dia? Ha ..., jangan bercanda!


Ini bukan seperti mau menerjemahkan kitab dewa, jika dia tidak bisa, maka carilah orang yang bisa!"


Daniel mendengus dingin.


"Minya departemen HRD membuka lowongan penerjemah, aku tidak percaya kalau kita tidak menemukan pelamar yang cocok."


"Waktunya sangat mendesak dan hanya sedikit orang yang benar-benar mengerti bahasa negara A, saya khwatir itu akan sulit ...."


"Cepat pergi cari!"


"Temukan orang yang bisa menerjemahkan. Lakukan sekarang!"


Sebelum Liki dapat menyelesaikan ucapannya, dia sudah di bentak oleh Daniel, Liki yang ketakutan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Daniel.


Ya tuhan, apa yang terjadi dengan pak Daniel, mengapa emosinya sebesar itu?


Sambil menghela nafas, dia bergegas ke departemen personalia untuk mengatur pembukaan lowongan kerja!

__ADS_1


__ADS_2