Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
65


__ADS_3

Sampai di rumah mewah Daniel


Baru saja Ariana mau bermain Lego dengan Kenzie, Maira datang dan tiba-tiba meraih tangan Ariana dan bertanya dengan rasa penasarannya.


"Bagai mana? Apakah sikap Daniel sudah lebih baik kepada mu?"


Ariana merasa canggung di pegang seperti itu, karena dia tidak terbiasa sebelumnya, tapi dia juga tidak menarik tangannya. Dengan penuh keraguan, Ariana terdiam memikirkan apa yang akan dia katakan.


"Tidak, hanya pagi tadi aku bertemu dengannya. Dia hanya terkejut dengan kedatangan ku kemari."


Terkejut dan mengusirnya.


Ariana mengerti, tanpa dia cerita pun Maira pasti sudah bisa menebaknya.


"Dan setelah siang, aku pulang ke rumah. Saat aku kembali ke sini, dia sudah tidak ada lagi, jadi aku tidak bertemu dengannya lagi setelah pagi tadi." Ariana berkata dengan jujur.


Tidak melihat?


"Lalu apakah kau juga memasak untuknya sesuai yang aku katakan?" Maira bertanya dengan wajah yang serius, dan berharap Ariana melakukan apa yang dia pinta tadi.


"Iya, aku membuatnya."


"Apakah dia memakannya? Dan apa yang dia katakan?" Maira bertanya seperti ingin tau segalanya. Wajahnya juga berbinar-binar ingin mendengar jawaban Ariana yang sesuai dengan harapannya.


Ariana menggelengkan kepalanya.


"Saat itu aku sudah pulang, jadi aku tidak tau dan tidak melihatnya."


Maira mengangguk-anggukkan kepalanya. Saat itu kebetulan kepala pelayan lewat, dan Maira langsung mencegatnya. Maira langsung menanyakan bagaimana ekspresi Daniel tadi saat dia memakan masakan Ariana?


"Dia terlihat sangat menikmati nya Nyonya, bahkan dia juga menambah nasi dan semua lauk dia cicip dan memakannya dengan lahap. Dokter Messa memang hebat dan pandai dalam keterampilan memasak. Hanya tadi aku sangat khwatir, kalau Tuan mengetahui kalu itu dokter Messa yang memasak, aku takut Tuan akan membuangnya, maka dari itu saya tidak mengatakannya."


"Hehehe ...."


Maira tidak tahan untuk tertawa, serta menatap Ariana.


"Menarik sekali, putraku itu sangat tidak menyukai mu, tetapi jika dia tau semua makanan itu adalah buatan kamu ..., menurutmu apakah dia akan merasa seperti mencoreng mukanya sendiri? Rasakan ...."

__ADS_1


Maira terkekeh geli memikirkan apa yang barusan dia katakan pada Ariana.


Ariana memandang Maira dengan heran.


Apakah dia sedang melawan Daniel?


Apakah ibu dan anak ini masih bertengkar?


Tak lama kemudian Maira bangun dari pikirannya. Dia menatap Ariana dengan senyuman yang mengembang. Matanya berbinar cerah seperti menemukan mainan baru. Dia terlihat sangat senang.


"Dokter. Eh lebih baik aku memanggil mu dengan sebutan Nona Messa saja."


"Ya tidak apa-apa, anda bisa memanggil ku dengan sebutan Nona Messa."


"Baik nona Messa. Selain terampil dalam ilmu medis, apakah kau juga terampil di bidang lainnya? Misalnya bekerja di sebuah perusahaan gitu?"


Maira pikir, kalu Ariana hanya bekerja di rumah dan menjadi seorang dokter panggilan saja, Daniel dan Ariana hanya mempunyai sedikit waktu untuk bertemu, dan Maira khwatir perkembangan hubungan mereka akan sagat lambat.


Maira merasa, bahwa dia tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun saat ini. Dia harus membuat hubungan mereka lebih dekat lagi!


"Saya hanya bisa penerjemah."


"Penerjemah! Bagus, bagus."


Maira mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah dia sekarang mengerti apa yang akan di lakukan.


Maira mengajak Ariana ke mall. Tapi dengan lembut Ariana menolaknya.


"Tidak perlu sungkan, kita akan mengajak Kenzie untuk bermain, sekali-kali kita pergi bertiga."


Ariana tampak ragu-ragu, rasanya sangat tidak enak hati jika harus pergi dengan Nyonya Maira ke mall, lagi pula dia belum terbiasa dengan Maira.


"Ngk usah ragu, Daniel juga tidak akan berani memarahi mu, kamu tenang saja."


Maira menambahkan kalimatnya serta menatap Ariana dengan penuh harap.


Ariana menarik napasnya. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sesampainya di mall, mereka mengajak Kenzie bermain. Setelah puas, Maira mengajak Ariana memilih baju-baju formal. Dia begitu semangat memilihkan Ariana blazer mau pun setelan yang keren dan elegan.


"Nyonya, tetapi saya tidak membutuhkan ini semua."


"Aku harap kau tidak menolaknya, oke?"


Maira bersikeras dengan kemauannya sendiri, persis seperti Daniel. Maira yang memikirkan jodoh anaknya dia berusaha membujuk Ariana.


Di saat Maira memilihkan baju untuknya, Kenzie mendekat dan ikut membantu membujuk Mama.


"Papa selalu meremehkan mu, Mama harus menunjukkan kehebatan mu padanya." Kenzie setengah berbisik pada Ariana, agar neneknya tidak mendengar ucapannya barusan.


Hati Ariana yang tadinya menolak, sekarang dia mulai memikirkannya. Yang di katakan Kenzie betul, Daniel selalu meremehkan bahkan merendahkan ku selama ini, hatinya benar-benar tidak punya perasaan sama sekali.


Baiklah, kalu begitu aku akan menunjukkan kepadanya bahwa aku juga ....


"Nona Ariana, silahkan coba bajunya terlebih dahulu di kamar pas."


Saat dia sedang memikirkan itu, tiba-tiba seorang pelayan datang kepada Ariana agar dia segera mencoba pakaiannya.


Berkat usaha mereka berdua, akhirnya Ariana mau mengganti pakaiannya dengan baju formal yang di pilihkan Maira.


Ariana keluar dari ruang ganti dengan raut wajah yang tegang. Tadi pagi saat dia datang kerumahnya, Daniel tidak menyukainya. Apa lagi kalau dia harus datang ke kantornya, dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Daniel kepadanya.


Dan bahkan tidak berani untuk sekedar membayangkannya, bagaimana ini nanti, bagaimana ekspresi wajah pria itu saat dirinya bekerja di kantornya.


Ariana berjalan dengan perlahan. Kenzie menatapnya dengan kagum, dia tidak menyangka mamanya secantik dan sangat elegan seperti ini. Tidak ubah dengan Maira, dia terperangah melihat kecantikan wanita yang akan di jodohkan dengan putranya itu. Niatnya untuk menjodohkannya semakin menggebu-gebu. Ia sudah tidak tahan ingin memiliki menantu seperti dokter Messa.


Kenzie yang sudah tidak tahan lagi untuk memuji Ariana. Karena takut ketahuan oleh Maira, maka Kenzie menampilkan sebuah senyuman yang indah serta mengacungkan jari jempolnya ke arah Ariana.


Tentu saja Kenzie sangat suka dengan penampilan mamanya yang begitu cantik.


Maira yang memandangnya dengan cermat merasa sangat puas.


"Ini sangat bagus, cocok sekali dengan mu!" Maira tersenyum manis memandangnya, sementara Ariana tersenyum malu-malu mendapatkan pujian seperti itu. Selama ini tidak ada yang memujinya selain anak-anaknya.


Sejak tadi Ariana menolak, tetapi Maira tidak mau tau, dia seakan-akan tidak mendengarkan penolakan Ariana.

__ADS_1


"Jika Papa melihat mu, aku yakin dia akan mengagumi mu." Kenzie tersenyum simpul meliriknya.


Begitu pun dengan Ariana, dia tersenyum canggung. Daniel sangat membencinya, dia tidak tidak begitu yakin.


__ADS_2