Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
151


__ADS_3

Ariana dengan cepat berdiri, mobil pun berhenti saat mendekatinya.


Ini, kan mobil Daniel?


Ariana hanya berpikir bahwa Daniel bisa membantunya untuk menemukan Revi, jika Daniel ingin mengambil hak asuh Revi juga ngk masalah asal Revi selamat dan bis di temukan, pikirnya dalam hati.


Ariana dengan rasa panik mengetuk kaca jendela mobil Daniel.


Seketika pintu mobil terbuka, dan Revi menatapnya sambil tersenyum dan berteriak: "Mama!"


Ariana terkejut bercampur terharu, hingga tanpa sadar air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Kenzie dan Deffan saing tatap. Mereka mengira Papa Daniel tidak akan mau membantu, tapi justru tak menyangka Papa malah menemukan Revi dan membawanya pulang dengan selamat.


Tampaknya Papa benar-benar baik hati.


"Revi! kemana saja kamu?"


Ariana berkata dengan masih terasa cemas di hatinya.


Revi menundukkan kepalanya, lalu menatap perutnya yang sudah kenyang, dia menggosok jari-jarinya dengan malu kemudian mengatakan kemana dia pergi.


Ariana melirik Daniel. Ariana penasaran mengapa Revi ada di mobil Daniel?


Daniel batuk. "Dia pergi bersama ku ke restoran." ucapnya datar.


Ke restoran? bersamanya?


Deffan dan Kenzie saling tatap lagi. Revi benar-benar pergi bersama Papa?


Daniel tidak mengatakan apa pun hingg membuat mereka begitu khwatir terutama Ariana.


Kedua anak itu menundukkan kepalanya dan menghela napas dalam dalam.


Saat berikutnya Ariana berkata kepada Daniel.


"Mengapa kau tidak mengatakan kalau akan membawa putriku pergi?"


Daniel tercengang. Karena saat Revi mencarinya dia terlihat seperti kucing yang rakus. Daniel juga tidak berpikir terlalu lama, dan merasa bahwa tidak ada salahnya membawa Revi hanya untuk pergi makan.


Daniel tidak menyangka Ariana begitu menghawatirkan putrinya ini.


Ariana memeluk Revi setelah di keluar dari mobil Daniel.


"Revi, lain kali kau tidak boleh begini, jangan membuat Mama dan kakak mu khwatir. Bagaimana jika kamu di culik dan di jual? Bagaimana jika kau bertemu dengan orang jahat?" Ariana memperingatkannya dengan tajam.


Revi yang menyadari bahwa dia sudah membuat Mama dan yang lainnya khwatir dan juga ketakutan karen teguran Ariana barusan. Air matanya mengalir dengan deras dari matanya yang bulat. Lalu dia pun mengangguk dengan cepat.


Ariana mengulurkan tangannya, menyeka air mata putrinya, kemudian sambil menggendonya dia berjalan ke arah villa dan masuk.

__ADS_1


Deffan dengan cepat mengikuti Ariana dari belakang.


Melihat ini, Daniel memerintah Deffan dan Kenzie untuk segera masuk kedalam mobilnya. Deffan dan Kenzie menoleh dan kemudian menatap punggung Ariana yang pergi dengan menggendong Revi, mereka terlihat ragu-ragu.


"Masuk ke mobil!" Daniel meraung seperti sedang memerintah.


Deffan menghela nafas.


"Papa, Seharusnya kau mengatakan kepada kami kalau Revi bersama mu tadi,"


"Iya, benar Papa. Aku menelpon mu tadi, jika kau mengatakannya bahwa Revi bersama mu, Mama dan kami juga tidak akan merasa khwatir seperti ini."


Kenzie juga ikut mengeluh.


Daniel memandangi kedua bocah itu. Meskipun dia tidak memberi tahu Kenzie, tetapi dia memberi tahu Ariana lewat pesan.


Tidak ada gunanya mengatakan apa pun sekarang. Kedepannya dia akan menjauhi Ariana dan anak-anaknya.


"Kalian berdua berhenti bicara omong kosong, cepat masuk kedalam mobil!"


Melihat Daniel marah, kedua bocah itu patuh dan masuk ke dalam mobil.


"Revi, apakah Papa jahat mu itu membujuk mu untuk pergi ikut dengannya? Dia membawamu pergi agar Mama khwatir. Kau juga terlalu bodoh." ucap Reva.


"Tidak!"


Revi berbaring di pangkuan Ariana dan diam tanpa kata.


Reva menatapnya dengan curiga.


"Jangan-jangan kau sendiri yang meminta untuk ikut pergi bersamanya?"


Em ....


Revi tersipu malu, dia menatap Ariana dan melingkarkan tangan gemuknya di leher Ariana dan dia pun tetap diam.


Ariana merasa aneh, sepertinya Revi menyembunyikan sesuatu. Pasti ada yang di tutup tutupi.


Ariana mengulurkan tangannya menyentuh kepala Revi, Ariana merasa kalau Revi tidak mau bicara itu berarti ada hubungan dengan Daniel.


Ariana meraih ponselnya. Begitu menggeser layarnya, ad pesan masuk. Begitu melihatnya ternyata pesan dari Daniel.


Ini ....


Ariana menatap sebuah gambar yang di ambil oleh Daniel dari restoran mewah di kota ini. Sebuah poto Revi yang sedang makan. Revi ,akan dengan sangat senang. Makanan di meja makan itu semua makanan yang sering di minta Revi.


Ariana menatap Revi yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

__ADS_1


"Revi, kau adalah anak yang baik, bisakah kau memberi tahu Mama, apa yang terjadi hingg kau bisa ikut dengannya?"


Mata jernih Revi berkedip beberapa kali, dia terlihat bingung, bagaimana harus memberi tahu Mama?


"Revi, asal kau mengatakan yang sebenarnya, Mama tidak akan memarahi mu."


Ariana menatapnya dengan sabar, dan membujuknya dengan pelan-pelan, dia ingin tau yang sebenarnya.


"Mama, kau bilang di tempat Papa ada banyak makanan enak. Lalu aku pun penasaran makanan seperti apa itu. Jadi aku pergi mencarinya dan kebetulan dia mengajakku pergi makan."


Hu ....


Ketika Reva mendengarnya dia langsung menetapkan mengeluh dan mengatakan kalau Revi tak berguna.


Ariana meraih rambut Revi dan membelinya.


"Lain kali jika Revi mau makan sesuatu, beri tahu Mama, yah? Jangan meminta kepa orang lain, oke?"


Revi cemberut mendengar kata-kata Ariana.


"Dia adalah Papa, bukan orang lain."


Ariana merasa pilu mendengarnya. Revi merindukan kasih sayang seorang ayah dan berharap mendapatkan kasih sayang itu dari Daniel.


Benar, anak mana yang tidak ingin di cintai oleh orang tuanya.


"Revi, Mama akan pergi meminta maaf kepadanya."


Revi begitu senang melihat mamanya yang akan meminta maaf kepada papanya.


Ariana juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu berlebihan. Ariana tidak tau apakah Daniel sudah tidur atau belum, dia ingin pergi dan meminta maaf kepadanya dengan sungguh-sungguh.


Ariana pergi kedepan dan melihat Daniel berdiri di bawah standing bunga itu, dia terlihat sering sekali berdiri di sana.


Waktu itu setelah kembali dari pemakaman, Ariana juga melihat Daniel berdiri di sana dengan ekspresi sedih di wajahnya.


Ariana berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.


"Pak Daniel,"


Mendengar suaranya, Daniel mengernyit heran.


"Pak Daniel, aku sengaja datang kemari, aku ...."


Daniel tidak memberinya kesempatan untuknya bicara, dia langsung berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya.


Ariana terlihat sedih. Daniel sangat membencinya, hingga tidak mau mendengarkan ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2