Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
58


__ADS_3

Deffan turun ke bawah untuk mengganggu Daniel. Dan Ariana akan mengambil kesempatan untuk menyelinap turun menuju ke garasi.


Beberapa menit kemudian, Deffan merasa bahwa mamanya sudah seharusnya sampai di garasi, dia cepat-cepat mengajak Daniel naik ke lantai atas.


"Anak ini ..., kenapa kau terlihat sangat sibuk hari ini?" Daniel menatapnya dengan heran.


"Nenek barusan menanyakan diri mu, jadi lebih baik Papa ke atas menjenguknya sekarang!" Deffan berkata dengan manja pada Daniel.


"Kak, sebelum kau datang tadi, aku mengatakan pada Papa dan Mama kalau Kenzie mempunyai campuran genetik. Dia dulu persis seperti dirimu, berwajah kaku dan bersifat dingin. Tapi sekarang benar-benar terlihat berbeda. Kau lihat dia sekarang, bertutur kata dengan manis dan manja. Benar-benar bercampur genetik yang sangat ...."


Pertanyaan Reko sekarang memang tidak di sengaja, tetapi Daniel yang mendengarnya sangat serius dan merasa Kenzie yang sekarang memang sangat berbeda dari sebelumnya. Dan dia juga terkadang di buat terkejut dengan sikapnya itu.


Deffan melihat Daniel menatapnya begitu cermat, membuat jantungnya berdegup kencang. Semoga saja penyamaran ini tidak terbongkar.


Seharusnya memang tidak akan terbongkar. Wajahnya sangat mirip dengan Daniel dan Kenzie. Kalaupun harus di curigai tidak akan ketahuan, karena dia memang anak kandungnya Daniel. Jika di lakukan tes DNA sekalipun, hasilnya akan tetap sama seperti Kenzie, karena memang dia benar-benar anak nya.


Ya, selama dia tidak mengatakannya, mereka semua juga tidak akan tahu kalu dia bukanlah Kenzie yang sebenarnya.


"Papa, apakah ada sesuatu di wajahku?" Dia bertanya dengan tenang dan polos.


Daniel yang tersadar dari lamunannya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, cepat temui Nenek!"


Mama masih menunggu di garasi.


Daniel bangun dan berjalan menuju kamar tidur mamanya. Reko juga ikut bangun dan ingin menyusul kakaknya ke atas, tetap Deffan memegang ujung bajunya.


"Ada apa?"


"Paman tolong aku!"


"Apa yang kau lakukan? Kenapa aku harus menolong mu?" Reko dengan sengaja menggodanya.


Deffan berpikir sejenak.


"Asal kau mau menolong ku, aku akan menjanjikan satu syarat lagi. Adil, kan?"


Reko berpikir sejenak lagi. Lalu kembali tersenyum. "Oke, janji. Katakanlah."


Deffan berbisik di telinga Reko.


Saat Reko berjalan ke garasi.


"Anak ini benar-benar pintar."


Dia takut papanya akan mempermalukan dokter Messa.


Dia teringat Daniel menghukum dokter Messa dengan sengaja mengantar dan membiarkannya berjalan di kerikil bebatuan itu. Dia merasa kalau tindakan Kenzie adalah memang benar.


Dia senang dapat membantu.


Ketika dia masuk kedalam kamar Mama, belum sempat menanyakan keadaan mamanya. Mama sudah mengoceh tidak senang.


"Mengapa kau baru datang sekarang? Masih lebih baik anak mu. Dia sangat menghawatirkan aku dan mencari kan aku dokter yang hebat!"

__ADS_1


Kata-kata yang di ucapkan Nenek Maira ini benar-benar seperti menghianatinya.


Daniel mengernyitkan keningnya serta menatap Mama.


"Kenzie mencarikan mu dokter hebat?"


"Benar sekali! Dan itu adalah dokter junius yang terkenal itu. Namanya dokter Messa."


Dokter Messa?


Ariana?


Manik mata Daniel membuat dengan sempurna.


Wanita itu datang ke sini untuk mengobati Mama dan melakukan pengobatan akupuntur?


Mengapa?


Dan untuk tujuan apa?


Deffan yang mendengar langsung terkesiap. Gugup yang tak bisa tertahan. Dia berusaha setenang mungkin.


Sudah. Habis lah sudah, semua sudah terbongkar, dan rencananya akan hancur.


Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya, dan dia sudah tidak mendengarkan lagi ucapan Mama Maira.


Dia buru-buru bertanya.


"Lalu, kemana dokter Messa?"


Turun?


Daniel tidak menunggu sampai Maira menyelesaikan kata-katanya, dia langsung melangkahkan kakinya yang panjang, turun ke bawah.


"Kau. Tunggu! Aku belum selesai bicara. Kau, Daniel ..., Dani ...."


Maira yang berbaring di tempat tidur berteriak di belakangnya.


Daniel tidak melihat kebelakang lagi, tidak peduli dengan teriakkan Maira yang memanggilnya. Dia langsung turun ke bawah, dan tidak melihat Kenzie dan Reko lagi. Dia segera menelpon Reko.


Reko baru saja tiba di garasi, melihat ponselnya bergetar dan tertera nama Daniel di layar ponselnya.


Dia terlihat ragu-ragu sejenak sebelum menerima telponnya.


"Iya kak, ada apa?"


"Dimana dokter Messa?"


"Aku. Aku tidak tahu."


"Bawa dia masuk keruang tamu dalam lima menit, jika tidak kau akan aku kirim ke kota Lohan untuk mengelola cabang perusahaan di sana!"


"Aku. Aku, kan baru saja pulang ke sini!"


Reko menolak seolah-olah sangatlah kesal.

__ADS_1


Daniel langsung menutup telponnya.


Ariana yang mendengar suara Reko seakan datangnya musim semi. Dia bergegas menghampirinya dengan tatapan penuh dengan harapan.


Dia memandang Reko dengan penuh harap.


"Maaf merepotkan mu, sebaiknya kita pergi sekarang."


Reko menatapnya dengan tidak enak hati, pertanyaan ini sulit untuk dia jawab.Dia juga tidak ingin mengecewakan.


Jika dia mengatakan: Silahkan masuk ke ruang tamu, Tuan Daniel sedang menunggu mu.


Ini terlihat sangat kejam sekali.


Matanya yang jernih itu pasti akan terlihat sangat kecewa, seperti di jatuhkan dari tempat yang tinggi menuju lubang inti bumi.


Tetapi, jika tidak menjawab ....


Setelah dipikir berulang kali, Reko benar-benar tidak ada pilihan lain selain mengorbankan dia, agar dirinya tidak di kirim ke negeri Cina untuk merasakan penderitaannya lagi.


Dokter Messa, kau jangan menyalahkan aku. Aku akan hancur jika tidak memenuhi permintaan Daniel.


"Dok, dokter Messa, silahkan masuk ke ruang tamu."


Reko berkata dengan perasaan yang tidak bisa di katakan.


"Ruang tamu? Bukankah kau bilang akan mengantarkan aku pulang?"


Ariana menatap Reko dengan bingung. Apakah dia salah dengar!


"Kenzie memang mengatakan seperti itu, tapi ini kejadian yang tidak terduga!" Reko menyentuh dahinya, dan tersenyum miris, tak enak hati.


"Silahkan masuk ke ruang tamu!"


Ariana tiba-tiba tidak tau harus mengatakan apa. Dia berdiri di sana dengan tatapan yang kosong.


Mampus lah aku!


Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Hari yang sial baginya!


Tidak tau apakah hari ini hari yang sangat sial baginya, dia tetap harus menghadapinya! Dia kan hanya datang untuk melakukan tugasnya sebagai Dokter, emangnya Daniel mau berbuat apa terhadapnya!


Ariana menyemangati dirinya sendiri, dia berjalan ke ruang tamu dengan tenang.


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author

__ADS_1


__ADS_2