Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
105


__ADS_3

🌺 Vote 🌺


"Dokter Messa, ada apa ini sebenarnya? jangan khwatir, katakanlah. Tapi kau harus harus menjelaskan bahwa keluarga Mahesa yang tiba-tiba memiliki tambahan beberapa anak, ini adalah kejutan yang sangat luar biasa, ini benar-benar ...."


Reko berkata tidak karuan, dan dia tidak tahu berbicara apa lagi!


"Aku akan membuat secangkir teh untuk mu, dan akan menjelaskannya kepadamu setelahnya."


Ariana terdiam lalu beranjak ke dapur untuk membuat teh. Dalam membuat teh, dia terus berpikir bagai mana caranya untuk menjelaskannya kepada Reko agar dia tersentuh dan setuju untuk menyembunyikan identitas tentang ketiga anaknya itu dari Daniel.


"Maaf sudah merepotkan dokter ..., em bukan dokter, tetapi kakak ipar!"


Reko memanggilnya kakak ipar dengan santai, tetapi Ariana tidak terbiasa dengan sebutan seperti itu.


"Kau panggil saja Messa, atau panggil saja Ariana."


Ariana?


Reko tiba-tiba teringat sesuatu, beberapa tahun yang lalu, kakaknya pernah membuat berita pencarian seorang wanita yang bernama Ariana.


Kalau begitu, aku harus bersabar untuk menunggu dia menceritakan hal yang terbaru ini menurutnya.


Sebelum Ariana bercerita, Reko menarik Deffan kedalam pelukannya dan memeluknya begitu erat.


Dibandingkan dengan Kenzie, Deffan lebih mengemaskan, dia tidak pernah membuat dia marah, bahkan sikapnya sangat ramah dan hangat.


Waktu itu Reko mengira kalau Kenzie memiliki penyakit gangguan mental, dia malah berharap sifat Kenzie dengan sikap yang lincah dan menggemaskan, dia berharap tak akan pernah berubah.


"Ayo, panggil Paman!"


Reko menangkup kedua sisi pipi Deffan yang lucu itu.


"Paman."


Deffan meringis senang, lalu tangan kecilnya terulur mengusap wajah Reko.


Paman dan keponakan saling mencubit pipinya dan tertawa. Mereka terlihat sedang bercanda.

__ADS_1


"Hem .... Paman ini pilih kasih! Dia hanya menyukai anak laki-laki, tetapi tidak menyukai anak perempuan!"


Revi yang berdiri di samping menampilkan wajahnya yang cemberut, tidak senang karena merasa di abaikan.


Revi yang kecil dan menggemaskan, mengambil stik kentang di atas meja dan memakannya.


Reko melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap Revi dan mendekatinya.


"Paman suka, siapa bilang tidak suka. Sini, peluk Paman, Paman akan menggendong mu. Kau juga kemari."


Sambil menoleh Reva yang sedang menatapnya dengan dingin. Dia berdiri dengan kokoh di sana, tanpa bergerak sedikitpun seperti gunung karang.


Daniel adalah orang yang paling jahat yang pernah dia temui, bagi mana mungkin adiknya bisa bersikap baik kepadanya.


Menurut Reva, keluarga Daniel tidak ada yang baik sama sekali.


Dia memilin sudut bibirnya menatapnya dengan enggan, lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam kamarnya dengan arogan.


Reko menatapnya dari belakang dengan alisnya yang terangkat ke atas. Sifat gadis kecil ini mirip sekali dengan Kenzie dan kemungkinan mempunyai sifat yang sama juga dengan Daniel.


"Silahkan di minum tehnya."


Ariana membawa Deffan dan Revi ke kamarnya. Setelah mengatakan sepatah dua kata kepada anak-anaknya, Ariana kembali keluar dan duduk di hadapan Reko.


Dia mulai menceritakan hubungannya dengan Daniel. Dari awal pertemuan mereka, sampai dia mendapatkan kesulitan saat melahirkan keempat anak kembarnya, dan juga terpaksa memberikan Kenzie kepada Daniel.


Ariana terlihat menyesal sudah memberikan Kenzie, tetapi waktu itu, dia tidak ada pilihan lain selain mengirimkannya ke dalam keluarga Mahesa. Karena keadaan ekonomi jadi dia harus tega melakukan itu.


Reko menatap wajah Ariana yang tampak sedih, mendengarkan ceritanya dengan seksama, terutama mendengar bagaimana kesulitan Ariana dalam membesarkan ketiga anaknya, ekspresi wajahnya tampak sedih.


"Kakak ipar, membesarkan tiga anak sekaligus itu memang tidak lah mudah untuk dalam keadaan seperti itu. Mengapa kau tidak mencari kakak ku waktu itu? Atau kau bisa mencari kedua orang tuaku. Keluarga kami tidak mungkin akan mengabaikan mu dan juga anak-anak."


Waktu itu, aku pergi ke luar negeri, untuk menghindari pengembalian uang seratus kali lipat itu kepada Daniel. Bagaimana mungkin aku mencarinya? Mencari keluarga mu, aku juga tidak sempat memikirkannya.


"Aku dan kakak mu ada sedikit kesalahpahaman, jadi dia membenciku! Jika aku kembali mencarinya dan membiarkan dia mengetahui keberadaan ketiga anak ku, dia pasti tidak akan membiarkan aku membesarkan mereka. Dan dia akan mengambil hak asuh mereka, aku tidak ingin kehilangan mereka. Mana ada seorang ibu di dunia ini rela kehilangan buah hatinya, aku benar-benar tidak ingin kehilangan mereka!"


Ariana berkata dengan ekspresi sedih dan tak berdaya, terlihat jelas dari sorot matanya.

__ADS_1


Reko memahaminya, betapa besarnya cinta Ariana terhadap anak-anaknya.


"Kau dan kakak ku benar-benar ...."


Reko baru tahu kalu dia pernah menganggap kakaknya yang arogan itu sebagai pria bayaran!


Mengingat beberapa kejadian, setiap kali mereka bertemu, Reko menyadari dan baru paham sekarang.


Jadi ada alasan tersendiri mengapa Daniel begitu membenci Ariana. Alasan menyimpan kesalahpahaman antara mereka.


"Jadi kak Daniel hanya tau keberadaan Kenzie. Lalu untuk ketiga anaknya yang lain, apakah kau akan terus berencana untuk menyembunyikannya dari kak Daniel?"


"Reko, aku tidak boleh membiarkan Daniel mengetahuinya! Aku sudah mengorbankan jiwa dan raga ku untuk membesarkan mereka, mereka adalah hidupku, bahkan lebih penting dari segala apapun. Aku tidak akan membiarkan kakak mu merebut mereka dari ku, apa pun yang terjadi, aku akan mempertaruhkan nyawa ku demi mereka! Jadi aku mohon kepadamu, untuk menyembunyikan rahasia ini."


Mendengar ini Reko tidak dapat bicara. Wanita di depannya ini benar-benar menyayangi anak-anaknya. Tapi .... Reko kemudian menatap Ariana kembali.


"Kak ipar, jadi sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Bukankah mereka nantinya akan membuat ayahnya?"


Ariana terlihat sesak, menceritakan masa lalunya, membuat dirinya kembali mengingat masa-masa sulit itu.


"Aku tidak tau seperti apa kedepannya. Hanya waktu yang menjawabnya."


"Kakak ipar, aku mengerti perasaan mu. Aku benar-benar paham, kau tenang saja. aku akan membantu mu sebatas mana kemampuan ku. Jangan khwatir, aku tidak akan memberitahu hal ini kepada siapapun."


Mendengar ini, hati Ariana lega, dia seperti terlepas dari belitan tali yang mengikat tubuhnya, pelan-pelan tali itu mengendur. Dan dia seperti kembali bernafas dengan sempurna.


Tapi, bukankah itu nanti hanya akan berlangsung semegi? Bagai mana jika Daniel mengetahui yang sebenarnya?


Ariana tersenyum melirik Reko. Adiknya Daniel ini selalu bersikap ceria, bahkan dia jarang sekali menunjukkan ekspresi murung di wajahnya.


Setiap orang pasti memiliki cerita tersendiri, memiliki masa lalu yang berbeda dengan apa yang mereka jalani. Seperti yang Ariana rasakan saat ini. Selama ini Ariana sudah mengubur masa lalunya dalam-dalam, menutup ceritanya rapat-rapat. Tapi hari ini dia membukanya kembali dan itu seperti membuka lula lama, dan sangat menyakitkan bila di kenang.


.


.


.

__ADS_1


Bantu vote


bantu like ya man teman


__ADS_2