Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
107


__ADS_3

🌺 Vote 🌺


Dalam benak Reko terbayang bayangan ibu dan anak ini akan terpisah dan menangis bersama. Pemisahan ibu dan anak kandung memanglah sangat kejam.


Ingat dengan Kenzie yang telah di besarkan oleh Daniel dan di besarkan sejak kecil, jadi watak Kenzie tidak kalah jauh seperti Daniel.


Kemudian dia kembali menatap anak-anak ini yang terlihat lincah dan ceria, memang seperti inilah sebenarnya anak-anak.


Mungkin yang terbaik buat anak-anak adalah bersama Ariana, bukan bersama Daniel.


Jadi dia berpikir bahwa dia tidak akan memberitahu Daniel.


Dia tidak ingin Deffan menjadi seperti Kenzie, Reko sangat menyukai Deffan yang sekarang ada di hadapannya.


"Kakak ipar, jangan khwatir aku akan membantu mu, aku berjanji tidak akan memberi tahu kakakku."


Mendengar Reko berkata seperti itu, hati Ariana langsung lega, dan wajahnya terlihat ekspresi senang.


"Terimakasih, Reko."


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, tapi lingkungan seperti ini tidak baik bagimu dan anak-anak, pindahlah ketempat yang lebih baik."


Reko kembali melihat dan memperhatikan sekeliling rumah Ariana yang tidak layak di tunggu itu, semakin dia memperhatikannya, semakin dia merasa tempat ini tidak bagus.


Masih jauh lebih baik kamar pembantu rumah Mahesa.


Ariana merasa tidak tau bagaimana harus menjawabnya, dia baru saja pindah ke sini kemarin dan merasa dirinya sungguh memalukan karena tidak memiliki cukup uang lagi, dia juga tidak tega membiarkan anak-anaknya tinggal di tempat seperti itu.


Reko yang melihat ekspresi wajah Ariana, dia pun mengerti, lalu menyerahkan kartu hitam yang tadi sempat di tolak oleh Reva.


"Kak ipar, kau bisa menggunakan ini dulu, ambillah!"


"Tidak, tidak usah, aku ...."


Reko langsung meletakkan kartu hitam itu di hadapan Ariana, kemudian menggendong Deffan dan berjalan ke luar.


"Ayo, bermain bersama Paman ya."


"Ayo!"


Melihat mereka mengabaikannya, Revi bertolak pinggang dan menghentakkan kakinya kemudian berteriak dengan keras. "Paman selalu pilih kasih! Kau tidak suka dengan anak perempuan!" Revi melihat Reko menggendong Deffan, dia merasa cemburu.


Mendengar teriakannya Revi, Reko menghentikan langkahnya dan menoleh Revi yang berdiri dengan cemberut.


"Maafkan Paman, Paman sudah salah. Bolehkah Paman menggendong kalian berdua?"


Revi cemberut beberapa saat, lalu berjalan ke arahnya dengan kaki-kaki pendeknya.


"Kalu begitu, bawa kami ke KFc!"

__ADS_1


"Kamu mau makan KFc? Oke, Paman akan membawa mu kemana pun kau mau!"


Revi sangat senang mendengar ucapan Reko barusan, dia akan membawanya pergi kemana pun dia mau? Wah Paman ini baik sekali! Reva memandang Reko dengan tersenyum, matanya berbinar seperti sinar rembulan malam. Lalu dia segera menganggukkan kepala kecilnya.


Reko pun langsung menggendongnya dan membawa mereka keluar.


Reko menggendong Deffan di tangan kanannya dan juga Revi di tangan kirinya, baru saja dia melangkah keluar, sudah menabrak seseorang yang sedang terburu-buru.


"Kau? mengapa kau ada di sini?"


"Aku ...."


Jantung Reko seakan ingin terlepas dari tempatnya. Wajahnya berubah masam, tidak tau harus mengatakan apa.


Bagaimana bisa begitu kebetulan?


Mengapa kakaknya ada disini sekarang?


Reko terdiam dan kemudian menyerigai, "kak, aku hanya lewat saja, kebetulan lewat sini!" Reko berbohong kepada Daniel, dan Daniel pun jelas tidak akan percaya dengan apa yang Reko katakan barusan.


Daniel menatap Deffan dengan sepasang mata dinginnya.


"Kenzie, apakah kau yakin membawakan?"


Kenzie? Ini Deffan bukan Kenzie!


"Siapa yang mengizinkan mu untuk membawanya?"


Daniel bertanya dengan wajah dinginnya.


Reko bingung, dan dia harus berpikir dengan sangat cepat untuk menjawab dengan alasan yang tepat, agar kakaknya yang terlalu pintar ini mempercayai omongannya. Tetapi alasan apa?


"Paman adalah orang yang sangat baik, orang jahat tidak boleh mengganggu orang baik!"


Revi mengulurkan tangannya yang kecil, dan mencubit pipi Daniel dengan keras.


Wajah Daniel langsung berubah gelap, tubuhnya mengeluarkan aura dingin. Sebenarnya tidak ada orang yang berani mencubit wajahnya yang tampan selain putrinya Ariana.


Putrinya Ariana sama saja seperti mamanya, tidak berpendidikan!


Tetapi anak gadis ini seperti sangat akrab dengan Reko. Tidak hanya akrab, tetapi mereka seperti memiliki hubungan yang sangat baik!


"Dia memanggil mu Paman?" Dan mengatai ku orang jahat?"


Reko seketika tertegun, kemudian berkata dengan berpura-pura: "Paman, itu hanya sebuah panggilan. Bukankah semua anak-anak memanggil orang yang lebih dewasa dengan sebutan Paman?"


Sambil mengatakan itu, Reko menatap kedua anak yang ada didalam gendongannya itu.


"Jika kalian bertemu dengan seorang laki-laki dewasa, kalian juga akan memanggilnya seperti itu, kan?"

__ADS_1


"Iya."


Mereka menjawab serentak dan mengangguk dengan cepat.


Revi yang keras kepala itu memutar bola matanya yang besar itu kemudian berkata: "Tidak semua orang di panggil dengan Paman. Kalau orang jahat tetap akan di panggil orang jahat! Seorang bajingan!"


Eh ....


Apa yang ingin dia lakukan keponakannya ku sayang? Mau membongkar rahasia kah?


Dada Reko langsung bergetar mendengar ucapan Revi. Dia langsung memeluk Revi dengan paksa, dan melirik Daniel dengan tersenyum kering.


"Ucapan anak kecil jangan di masukkan ke dalam hati, dia tidak tau apa-apa."


Reko berkata untuk melindungi keponakan perempuannya ini, yaitu anka gadisnya sendiri.


Alis Daniel mengerut, mengapa dia merasa ada sesuatu yang aneh!


Sekali pun 'Paman' disini hanyalah sebuah panggilan, tetapi dia mendengar anak ini memanggilnya dengan hangat dan penuh dengan perasaan.


Apakah Reko sering datang ke sini? Apakah dia dekat dengan Ariana dan anak-anaknya?


Apa mungkin Reko secara diam-diam sering membawa Kenzie kemari?


Memikirkan itu, wajah Daniel semakin suram, menatap Reko dengan dingin. Jantung Reko berdegup kencang, dia terlihat sangat cemas.


Apakah Daniel merasakan sesuatu? Dengan sebuah sebutan Paman maka dia mengetahuinya! Dia tidak mungkin sehebat itu, kan?


"Kau menyebut ku Bajingan? Siapa yang mengajari mu? Kau benar-benar anak yang terlalu berani!"


Revi memutar bola matanya dan berkedip beberapa kali saja menatap Daniel tanpa rasa takut.


"Kau sudah di cap sebagai seorang bajingan di keluarga kami!"


Ha.....


Mata Daniel mengecil. Ariana wanita sialan itu malah mengajari anak perempuannya seperti ini, dan memarahinya di belakangnya, benar-benar bagus sekali dudukannya!


Daniel mengambil Kenzie dari tangan Reko, kemudian berjalan pergi dimana mobilnya di parkir tidak jauh dari situ. Dia membuka pintu mobil dan meletakkan Deffan di dalamnya.


"Awasi Tuan muda! Dan jangan biarkan dia turun!" Daniel memberikan perintah kepada supirnya.


Deffan yang biasanya sangat lincah dan cerdik, dia tampak kesulitan dan tidak tau harus bagaimana.


Papa, aku adalah Deffan, Kenzie baru saja pulang ke rumah. Dalam hati Deffan berkata seperti itu, tetapi dia tidak akan mengatakannya.


***


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2