
Selesai mengantar anak-anak ke taman kanak-kanak, Ariana langsung pergi ke klinik Arma.
"Selamat pagi semuaya." Sapa Ariana ramah begitu sampai di depan pintu masuk. Dia di sambut ramah oleh para perawat dan juga dokter Tuti. Hari ini adalah hari keduanya masuk kerja.
Tanpa Ariana sadari seorang pria mengamatinya sejak dia melangkah masuk.
Cantik. Begitulah kata yang keluar dari bibir dokter Hamzah.
Tapi siapa dia, kenapa aku baru melihatnya? Dalam benak dokter Hamzah bertanya-tanya.
"Dokter Ariana, silahkan masuk ada pasien yang perlu di akupuntur." Ujar dokter Tuti.
"Baik Dokter."
Ariana masuk ke ruang kerjanya, dan langsung memakai blazer putih, tidak lupa dia juga mengenakan masker.
Begitu Ariana masuk, seorang bocah menangis histeris. Ariana kaget melihatnya.
"Kenapa adik menangis?" Tanya Ariana dengan lembut.
"Dia takut di suntik Dok." Ujar ibunya yang sedang memeluk anaknya itu.
"Huaaaaa, aku tidak mau di suntik, aku tidak mau!" Anak itu semakin menangis kencang. Ariana tertegun sejenak, dia teringat dengan Kenzie waktu pertama kali dia melakukan pengobatan akupunkturnya, Kenzie juga mengisi histeris seperti ini. Ariana ikut mewek melihatnya, namun sesaat kemudian Ariana tersenyum.
"Kenapa takut di suntik?" Tanya Ariana membuat bocah itu menutup wajahnya.
"Adik siapa namnya?" Tanya Ariana sambil menatap bocah itu dengan lembut.
"Zidan." Ucap bocah itu ketus.
__ADS_1
"Oh Zidan. Nama yang sangat bagus. Biasanya cowok yang bernama Zidan itu memiliki keberanian yang luar biasa, Zidan sudah sekolah?" Tanya Ariana lagi.
Bocah laki-laki itu langsung mengngguk.
"Hari ini ngk sekolah karena sakit. Zidan ngk mau di suntik? 'zidan menggeleng' Mau cepat sembuh ngk?"
Bocah itu langsung mengangguk.
"Oke, Zidan pasti anak laki-laki yang kuat, mau cepat sembuh agar cepat sekolah dan bertemu dengan teman yang lainnya. Mau di suntik ngk? Ngk sakit kok?" Bujuk Ariana dengan suaranya yang merdu dan penuh dengan kelembutan.
"Sakit ngk?" Tanya bocah itu menatap Ariana.
"Ngk, cuma sedikit."
Bocah itu langsung mengngguk.
"Ngk sakit, kan? Nanti dokter kasi permen, oke."
"Oke Dokter." Anak itu kegirangan mendengar kata permen yang Ariana katakan. Selesai melakukan tugasnya, Ariana benar-benar memberikan sebuah permen lollipop yang kemarin malam di beri oleh Revi. Ariana sengaja menyimpannya di saku jas dokternya.
"Terimakasih banyak Dokter, biasanya anak saya tidak mau di suntik berkat Dokter anak saya mau berobat." Ucap ibu itu.
"Sama-sama Bu, cepat sehat ya Zidan." Balas Ariana ramah.
Banyak yang mengagumi Ariana di klinik Arma, bahkan para dokter pun kagum dengan cara kerja Ariana, selain cantik Ariana juga menarik bnyak perhatian para pasien.
"Hem ...." Suara itu membuat Ariana menoleh, di tersenyum saat melihat seorang pria tampan tersenyum kepadanya.
"Anak baru ya?" Ujarnya.
__ADS_1
"Iya, saya baru dua hari di sini."
"Oh pantas baru lihat. Perkenalkan nama saya Hamzah." Pria itu mengulurkan tangannya ke Ariana.
Ariana tampak ragu-ragu menyambut uluran tangannya.
"Ariana." Balasnya dan langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Lebih tepatnya dokter Ariana." Ucap Hamzah membuat Ariana tersenyum kecil.
"Kalau begitu selamat bekerja yah. Kalau ada kesulitan bisa minta batuan ke saya."
"Terimakasih banyak." Balas Ariana.
Di sudut ruangan seorang wanita mengamatinya sejak tadi, pandangan matanya tersirat rasa kebencian saat melihat dokter Hamzah berjabat tangan dengan wanita cantik itu.
Linda seorang perawat muda menyukai dokter Hamzah sejak lama. Namun dokter Hamzah tidak merespon perhatian perawat itu, Hamzah menganggapnya hanya sebatas sesama pekerja di klinik ini.
"Selamat siang Dokter Hamzah, ini aku buatkan makan siang khusus buat Dokter, dimakan yah?" Ujar Linda ketika jam istrahat mereka tiba.
"Aduh, kamu ngk perlu repot-repot gini, sus. Aku bisa pesan makanan di kantin." Tolak dokter Hamzah.
"Ngak apa-apa Dok aku ngk repot kok, justru ini aku buat spesial untuk Dokter Hamzah."
Dokter Hamzah melihat ke arah Linda sebentar lalu menatap rantang yang di sodorkan Linda di hadapannya.
"Ok, terimakasih. Lain kali ngk usah repot-repot begini yah?" Ujar Hamzah.
Linda senang sekali melihat bekal yang bawa di terima baik oleh dokter Hamzah, hatinya semakin berbunga-bunga membayngkan dokter Hamzah menjadi suminya.
__ADS_1