
🌺like🌺
Setelah Liki memberi tahu nomor sandi ruangan Daniel, dia merasa lega.
Daniel si bajingan itu beraninya mempermainkan Ariana. Dia juga tentu sudah tahu kalua Ariana akan datang untuk memberi perhitungan terhadapnya. Jadi tentu saja dia akan mengawasinya.
Karena itu, Ariana tidak bisa secara langsung untuk membalasnya. Saat dia turun dari mobil, Ariana tidak melihat mobil Rolls-Royce ataupun marsedez nya. Ariana yakin kalau Daniel belum datang.
Ariana memutar otaknya dengan cerdas, dia merasa ini adalah kesempatan bagus yang tidak boleh ia lewatkan!
Ariana naik ke atas secara diam-diam, kemudian menekan nomor sandi untuk masuk ke ruang kerja Daniel.
Setelah ruangan itu terbuka, dia langsung masuk dengan sangat hati-hati. Dia mulai melancarkan rencananya yang sudah dia pikirkan sejak tadi.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar pintu, disertai dengan suara orang yang sedang berbicara. Sepertinya dia tidak hanya sendirian.
Ada orang yang akan masuk, apa yang harus aku lakukan?
Ariana seperti mendengar detak jantungnya dengan jelas, dan dia dengan cepat bersembunyi.
Kemudian dia mendengar pintu ruangan CEO di buka.
"Apakah dia benar-benar mengatakan itu?"
"Ya pak Daniel , sepertinya nona Messa menyukai kue yang kau berikan padanya. Kau juga sebaiknya memberikan sesuatu hadiah yang lain kepadanya, setelah dia memberimu kejutan yang besar."
Liki tidak sabar untuk melihat hubungan mereka yang akan semakin mendalam. Karena itu agar cepat mendapatkan hasilnya dia juga akan mencoba dengan cara lainnya lagi, untuk menyatukan mereka berdua.
Ariana yang mendengar percakapan ini, kedua matanya menyipit di balik persembunyiannya, dia meremas jemarinya dengan kesal.
Kau adalah seorang penghianat Liki! Dia sendiri yang mengatakan akan membantunya dan menjadi mata-mata untuknya. Dia mengatakan akan mengatakan segala pergerakan Daniel.
Tapi ini .... Mengapa malah seperti dia menjadi mata-mata Daniel?
Daniel yang licik itu pasti sudah merencanakan siasat lainnya untuk mengelabuhi Ariana. Dia sangat khwatir dengan dirinya sendiri. Di bawah sana, Ariana sedang meremas ujung bajunya.
"Pak Daniel, sudah waktunya untuk rapat."
"Baiklah, ambil dokumennya." Perintah Daniel kemudian dia bangkit dan berdiri.
"Baiklah pak Daniel."
Daniel yang sudah berdiri itu, dia menatap lurus ke kursi. Biasanya saat dia mau keluar kantor atau meninggalkan meja kerjanya, kursi selalu di dorong ke bawah meja, tapi kali ini terlihat berbeda.
Dia melakukan sesuatu di sini? Apakah Ariana mengharapkannya jatuh?
__ADS_1
Dasar wanita bodoh.
Sebelum dia meninggalkan ruangan kerjanya, matanya menatap ke sekeliling ruangan. Dengan penuh pertimbangan kemudian dengan cepat menekan nomor sandi untuk mengunci pintu ruangannya.
Mereka segera keluar. Daniel tampak tersenyum licik saat meninggalkan ruangannya.
Rasakan!
Ariana memastikan kalau benar-benar tidak ada siapa-siapa lagi di sini, diam-diam dia keluar dan melanjutkan rencananya kembali yang sempat tertunda.
Setelah menyelesaikan semua yang sudah dia rencanakan, sebuah senyuman puas muncul di bibirnya.
"Akhirnya selesai juga, Daniel tunggu saja waktu sial mu hari ini ya!" Ariana menyerigai seperti iblis.
Setelah itu dia berbalik dan berjalan ke luar.
Saat akan membuka pintu, dia mengerutkan keningnya, menatap heran pada kenop pintu yang tidak mau terbuka. Dia mencoba memasukkan nomor sandinya untuk beberapa kali, namun tetap saja tidak mau terbuka. Seketika dia sadar bahwa Daniel pasti sudah mengganti nomor sandi ruangannya.
Brengsek!
Daniel benar-benar bajingan yang brengsek!
Apakah dia melakukan ini untuk mencegahnya masuk atau ....
Ariana menjadi gusar dan tegang. Berbagai cara sudah dia lakukan, terapi pintu itu tetap saja tidak ingin terbuka. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini?
Kepanikannya mulai muncul, keringat dingin mulai menyeruak di tubuhnya.
Setelah rapat selesai. Daniel teringat akan seseorang yang terkunci di dalam ruangan kerjanya. Matanya yang dingin terlihat sedikit redup.
Wanita bodoh itu mau membalaskan dendamnya? Masih kalah jauh! Daniel tersenyum kecut.
Dengan begitu, trik apa lagi yang ingin kau lakukan, selain melakukan sesuatu pada kursi kerja ku?
Daniel bangun dan berjalan menuju ruangannya.
Ariana menghela nafas, dia merasa tidak berdaya, jantungnya berpacu dengan cepat, Jika ada Deffan, dia sudah pasti akan membantu memecahkan kodenya, dan membawanya pergi dari sini.
Tetapi anak itu sedang di sekolah, tidak mungkin baginya untuk memanggil Deffan datang ke sini.
Bagaimana pun Daniel juga sebentar lagi akan kembali, rapat tidak akan lama. Sebentar lagi pintu pasti akan terbuka.
Benar saja. Tak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu, beberapa detik berikutnya, pintu pun terbuka, dia buru-buru bersembunyi lagi.
Daniel masuk dan melihat dokumen yang ada di atas mejanya dengan posisi terbalik. lengkungan kecil muncul di sudut bibirnya yang tipis.
__ADS_1
Dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon asistennya Liki.
"Panggil nona Messa untuk segera datang ke ruangan ku!"
"Baik pak Daniel!"
Liki menutup telpon, dia tak bisa menahan nafasnya untuk tidak menghela. Pak Daniel begitu ingin bertemu dengan nona Messa. Apakah dia sudah begitu merindukannya?
Ariana yang sedang bersembunyi langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar Daniel menelpon Liki dan memintanya untuk datang. Aduh bagaimana ini? Ariana mulai gelisah. Tentu saja kepanikannya begitu besar di dalam persembunyiannya.
Beberapa saat kemudian, Liki mendorong pintu dan bergegas masuk.
"Pak Daniel, sepertinya nona Messa tidak ada di kantor. Departemen penerjemah mengatakan tidak melihatnya datang sejak pagi tadi!"
"Tidak datang? Bukankah kau mengatakan bahwa dia menelpon mu pagi tadi?"
"Ya, mungkin Nona Messa sedang menyiapkan kejutan besar untuk mu, jadi dia sengaja terlambat datang ke kantor. Pak Daniel apakah kau begitu mengharapkannya?"
Dia tau jelas Sifa dan watak wanita gila itu. Dia hanya bisa melakukan beberapa trik kecil saja, apakah pantas mengharapkannya?
"Tentu saja aku sangat mengharapkannya, kebetulan aku juga sudah menyiapkan kejutan besar untuknya."
Liki melebarkan matanya dengan senang, dia sangat penasaran dengan kejutan Daniel kali ini.
"Kejutan besar apa?" Liki bertanya dengan sangat berani.
Daniel tersenyum dingin dan mengarahkan pandangannya ke dokumen yang ada di depannya sembari mengedipkan matanya kepada Liki.
Liki mengambil dokumen itu. Semakin dia lihat, wajahnya semakin mengernyit. Jantungnya berdetak kencang dia terlihat sangat tegang.
"Pak Daniel, kau ...."
Daniel tersenyum licik.
"Bagaimana?"
"Pak. pak Daniel kau .., kau akan membuat nona Messa akan mendapatkan masalah besar, kalau seperti ini aku .... Aku khwatir kedepannya dia tidak akan tenang seumur hidupnya."
Ariana juga menegang saat mendengar percakapan antara Liki dan Daniel itu. Apa maksudnya bicara seperti itu? Ariana tampak bingung.
"Ya, bukankah ini adalah kejutan besar untuk Nona Messa?"
Suara Daniel yang dingin membuyarkan lamunan Ariana. Dia menajamkan telinganya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
❤️ vote ❤️
__ADS_1