Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
88


__ADS_3

...๐ŸŒบ Mohon untuk di pahami pesan singkat dari author ini ya, ๐Ÿ™๐Ÿ™ author mohon untuk kerjasama marilah bersama-sama meningkatkan dukungannya pada karya author ini, sepertinya author sangat lelah dan butuh semangat dari kalian. Berikan sedikit ulasan atau komentar, apakah ada yang kurang dari karya author ini? Author ingin mendengar pendapat dari kalian wahai para pembaca?๐ŸŒบ...


๐ŸŒบvote๐ŸŒบ


Liki tercengang, sekujur tubuhnya menegang ketakutan setengah mati. Dia memejamkan matanya, tidak ingin melihat nona Messa menusuk dirinya sendiri dengan pisau itu. Dia pun tidak berani melakukan apapun.


Dengan cepat Daniel memeluk Ariana dari belakang dan menangkap pisau itu dari tangannya. Daniel sedikit kesulitan menggambil pisau itu di tangannya hingga pisau itu menggores di tangannya sedikit melukainya dan berdarah.


"Turunkan tangan mu!" Daniel memberi perintah pada Ariana agar dia melepaskan pisau itu. Melihat darah yang melukai Daniel, Ariana perlahan-lahan mengendurkan genggaman tangannya dan kemudian pisau itu terjatuh ke lantai.


Liki yang mendengar suara Ariana berteriak minta di lepaskan tadi, dia segera membuka matanya, dan melihat dengan jelas bahwa Daniel sedang memeluknya dan berusaha mengambil pisau yang ada di tangan Ariana.


Melihat pemandangan ini, meski masih ketakutan dan gemetar, bibirnya tersenyum tipis, merasa lega seketika, setidaknya pak Daniel masih menginginkannya untuk hidup. Buktinya dia merebut pisau itu dari tangan Ariana.


"Liki cepat buang pisau ini!" Daniel memberi perintah, sementara tubuhnya yang tinggi tegap dan kuat itu membekap Ariana hingga menghilang dari pandangan Liki.


Ariana masih memberontak, tapi tidak begitu lama tubuhnya melemas, Daniel melepaskan pelukannya setelah Liki membawa pisau itu keluar.


Ariana terduduk di lantai dengan air mata yang terus-menerus mengalir di pipinya.


"Kau sungguh tikus yang bodoh! Ingin bunuh diri di depanku."


"Kau tikus bodoh! Bukankah kau tadi juga menginginkan aku mati? Kenapa kau mencegah ku? Kenapa kau tidak bunuh saja aku? Aku lebih baik hidup di neraka sekalian dari pada harus bertemu dengan bajingan seperti mu!"


Daniel berjongkok di hadapan Ariana, bibirnya melengkung perlahan dan membentuk senyuman iblis yang menakutkan.


"Ya, tadinya aku memang menginginkan kau mati, tetapi setelah aku pikir-pikir, kau belum saatnya untuk mati, aku belum puas menyiksa mu melihat apa yang sudah kau perbuat di kantor ku ini! Dan aku juga tidak ingin mengotori tangan untuk membunuh wanita seperti mu. Biarkan malik yang menyelesaikannya!" Daniel berkata dengan bibir yang tersenyum sinis.


Ariana menatap Daniel dengan sorot mata yang mengerikan.


"Apa lagi yang kau inginkan dari ku? Belum cukupkah kau menindas ku? Kau sungguh kejam, keterlaluan!"

__ADS_1


Ariana menggertakkan giginya serta menatap Daniel dengan malas.


"Tidakkah aku salah mendengar? Apa kau yang salah ucap? Siapa yang tertindas sebelumnya? Apa kau tidak menyadari apa yang sudah kau perbuat? Lihat apa yang kau lakukan." Daniel berkata sambil mengedarkan pandangannya disekeliling ruangan kerjanya.


"Dan tidak hanya itu, kau juga melukai tangan ku! Kau harus bertanggung jawab atas semuanya." Daniel menyerigai dengan licik.


"Tangan mu terluka, itu karena kau berlagak pahlawan ingin menyelamatkan aku dari kematian, itu bukan salah ku."


"Kau masih berani membantah?" Daniel berkata dengan sangat pelan, tetapi kata-katanya sangat menusuk hingga yang mendengarnya merinding.


Ariana ingin meraung seketika. Ya Malik dan Siska dan juga Erika, mereka tidak akan melepaskannya begitu mudah.


Ariana benar-benar takut, kedepannya hidupnya tidak akan tenang lagi. Kenapa bajingan ini kejam sekali, jika dia mati dia tidak akan merasakan penderitaan ini lagi. Daniel benar-benar licik ingin menyiksanya di dunia ini. Ha ..., dunia memang keras dan kejam.


Bagaimana dengan ketiga anak-anak ku! Tiba-tiba Ariana mengingat anak-anaknya. Air matanya kembali deras seperti hujan badai yang tak hentinya, dia memikirkan nasib anaknya. Hatinya semakin pilu dan sakit.


"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu ini, kau harus mengganti apa pun yang sudah kau rusak di sini, kau sudah merugikan perusahaan dengan sangat besar. Dengan begitu kau harus menggantinya. Kalu tidak .... 'Daniel menyipitkan kedua matanya, menatap Ariana dengan teliti' Aku akan menjual putrimu untuk menebusnya.!"


Jika Ariana mengatakan kalau itu adalah putrinya, dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan anak-anaknya, dan itu tidak akan membuat Ariana untuk bertahan hidup, bagaimana bisa dia hidup tanpa anak-anaknya? Memikirkan itu Ariana terlihat takut.


Daniel bangkit dan berjalan ke arah meja. kemudian Daniel langsung memukul meja, meja itu langsung retak. Dia mengangkat kakinya dan menendang kursi tempat duduknya bekerja, dan seketika itu pula kursi itu langsung hancur dan mengenai kaki Ariana yang masih bersimpuh duduk di lantai.


Ariana meringis kesakitan, kakinya berdarah di bagian betis akibat kursi yang di tendang Daniel. Dia sangat tidak peduli dengan luka Ariana.


Liki hanya terdiam melihat itu, apakah ini semua nona Messa yang melakukannya? Ada apa, kenapa dia merusaknya?


Jika di perhatikan, ada serbuk kayu bertebaran di lantai bawah meja, seperti kursi dan meja itu di gergaji dan sengaja di potong. Melihat bagian potongan meja dan kursi itu, ini cukup proporsional!


Ya Tuhan .... Nona Messa sudah menyiapkan segalanya dengan membawa alat-alat itu untuk menghancurkan dan merusak segala perabot ruangan CEO? Bukankah ini kejutan yang dia katakan itu? Jika benar ini .... Dia benar-benar ingin mencoba untuk mati!


"Liki, bawa dia untuk menghitung semua kerugian kantor, dan minta dia untuk segera menggantinya!

__ADS_1


"Baik pak Daniel. Tapi biarkan aku mengobati tangan mu yang terluka itu."


"Tidak perlu, kau urus saja wanita ini."


Perintah Daniel benar-benar tidak bisa membuat Liki berbuat apa-apa selain menuruti perintahnya.


Setelah selesai mengatakan itu, Daniel langsung pergi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya.


Liki buru-buru menghampiri Ariana dan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.


"Nona Ariana, apakah kau baik-baik saja?"


Ariana menatap Liki dengan sorot mata yang tajam kemudian menepis uluran tangannya.


"Licik! Mata-mata yang jahat, sama jahatnya dengan bangsat Daniel itu."


Liki terkejut.


"Nona Ariana, demi Tuhan aku benar-benar tidak tau kalau kau dan pak Daniel ..., ku pikir hubungan kalian semakin membaik, jadi aku ingin membantu kalian."


"Apa? Hubungan yang semakin membaik?" Ariana tertawa sinis, lalu menggertak giginya.


"Kalian pikir, apakah otakku ini sudah kemasukan cicak, jangan harap."


Liki tersedak dan batuk-batuk setelah mendengar kata-kata Ariana, sepertinya otaknya sendiri yang kemasukan air. Sebenarnya dia memikirkan yang sebaliknya dari pada yang di katakan Ariana.


Ariana berjalan dengan menelusuri dinding untuk keluar dari ruangan itu menuju pintu lift. Kakinya terasa sakit sekali, tidak hanya itu, sekujur tubuhnya juga berasa remuk. Liki mencoba untuk membantunya berapa kali, namun Ariana tetap saja menolak. Liki merasa bersalah dan kasihan melihat keadaannya seperti itu.


Bagaimana kisahnya?


ikuti terus ya. Beri semangat author dong๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


__ADS_2