Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
64


__ADS_3

Menjelang tengah hari, Maira tiba-tiba menelpon Ariana. Dan dia dengan sengaja meminta Ariana untuk memasak masakan kesukaan Daniel, dia memberitahu Ariana makanan apa saja yang di sukai Daniel.


Ariana terdiam. Dia bukanya tidak mau melakukannya, tetapi dia takut Daniel tidak akan mau memakan masakannya.


Bukankah itu hanya menyia-nyiakan waktu saja, dan membuat makanan mubasir saja!


Tetapi demi dapat tinggal dan merawat Kenzie, dia akan melakukannya. Dia pergi ke dapur dan mulai mengeluarkan beberapa bahan-bahan yang akan dia masak.


"Kenzie, kau mau memakan apa hari ini? Biar aku membuatnya sekalian untuk mu?"


Kenzie segera memberi tahu Ariana makanan yang dia mau makan hari ini.


Dengan semangat Ariana memasak di dapur.


Setelah menyelesaikan masakannya, Ariana menatanya di atas meja. Setelah itu, dia akan pulang untuk mengurus ketiga anaknya.


Sebelum dia benar-benar pulang, dia memberitahu kepada juru masak agar tidak memberi tahu Daniel kalu dia yang memasaknya, dan kalau Daniel tidak mau memakannya kau saja yang memakannya. Tapi kalau dia mau biarkan saja. Ini sudah banyak menghabiskan bahan makanan, jadi jangan di sia-sia.


Kepala pelayan rumah tangga itu mengerti apa yang di maksud Ariana, dia hanya khwatir Daniel akan langsung memintanya untuk membuang semua makanan itu jika dia mengetahuinya.


"Jangan khwatir, dokter Messa. Saya mengerti."


Setelah Ariana pergi, pelayan rumah tangga itu melihat ke meja makan, dan menelan ludahnya saat melihat makanan yang sudah di masak Ariana dengan terlihat sangat enak dan lezat. Nafsu makannya pun seperti tidak tertahankan lagi, dia tidak menyangka seorang dokter Messa juga bisa memasak makanan enak seperti ini.


Tuan muda pasti suka dengan makanan ini!


Daniel pulang ke rumah tepat waktu, dia memarkirkan mobilnya dengan sempurna di depan, lalu masuk melalui ruang tamu, kemudian menanyakan sikap dan perilaku Ariana hari ini.


Kepala pelayan rumah tangga menceritakannya satu persatu dan Daniel mendengarkan dengan tersenyum sinis. Wanita itu tidak akan patuh seperti itu, dia pasti sedang merencanakan sesuatu!


Daniel masuk ke ruang meja makan, dahinya mengerut setelah melihat makanan yang enak tersaji dengan sempurna di meja makan.


"Apakah kau mengganti juru masak?" Daniel bertanya kepada kepala pelayan rumah tangga itu.


Deg ....

__ADS_1


Jantung pelayan rumah tangga itu langsung bergetar, tetapi dia segera menutupi kegundahan hatinya dengan pertanyaan Daniel seperti itu. Dia harus terlihat seperti biasanya, tidak boleh terlihat gugup di depan Daniel, agar dia tidak mencurigainya.


"Tidak, Tuan. Nyoya Maira mengirimkan makanan ini untuk Tuan." Kepala pelayan itu sudah memikirkan jawaban yang tepat, dan dia pun mengatakannya dengan tenang.


Daniel duduk, matanya tertuju kepada piring yang berisi daging sapi yang bersaus merah kecoklatan itu. Dia segera mengambil sepotong daging sapi dengan sendok garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, perlahan rahangnya mulai memakan dan menikmati setiap kunyahannya yang terasa sangat empuk dan lezat sekali. Kepalanya tampak sedikit mengangguk-angguk, merasakan enaknya makanan ini, sepertinya makanan ini sangat cocok di lidahnya.


Dia belum pernah merasakan sebelumnya.


Daniel segera mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai lauk. Kelihatan semua makanan ini enak, jadi dia mau memakan semua jenisnya.


Daniel yang biasanya memilih-milih makanan, kini dia tak tahan untuk menambah nasi lagi.


Kepala pelayan itu melihat Daniel dengan senang, dan dia pun tersenyum dalam hati. Melihat Daniel senang, dia pun ikut senang.


Kedepannya, jika dokter Messa terus merawat Kenzie, maka setiap hari Daniel akan memakan makanan lezat itu.


Kepala pelayan itu hanya tidak mengerti mengapa Daniel mengawasi dokter Messa seperti itu, seperti dia sedang mengawasi seorang penjahat saja.


"Apakah semua kamera CCTV sudah di pasang?" Tiba-tiba Daniel bertanya di saat pelayan rumah tangga itu sedang melamun dan memikirkan dokter Messa dengannya.


Dia sedikit kelabakan dan terkejut.


"Bagus sekali."


Bibirnya tersenyum kecut. Di dalam hatinya hanya Ariana jahat, ada maksud lain, dan merencanakan sesuatu dengan trik barunya, demi mencapai tujuannya. Hanya menunggu waktu untuk menangkap basah apa maksud wanita itu.


Di rumah Ariana


Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur, Ariana segera pergi keluar, dan melihat Deffan yang sedang pokus belajar ilmu peretasan.


Reva yang sedang serius berlatih make-up dengan beberapa bonekanya. Sedangkan Revi sedang menggambar berbagai kue, dan menghiasinya begitu cantik seperti kue-kue pada umumnya.


Melihat ketiga anaknya itu, senyum bahagia tampil di wajahnya yang cantik.


"Kalian di rumah saja, Mama akan pergi bekerja."

__ADS_1


"Sampai jumpa Mama."


"Sampai jumpa nanti malam Mama." Deffan menyahut.


"Mama, aku mau kue keju nanti malam."


Revi juga ikut bersuara.


Setelah Revi berteriak, Revi pun melirik Revi dengan mencibir.


"Si gendut, maunya makan terus!"


"Ketika kau berbicara seperti itu, aku pikir Mama sudah memberimu nama yang salah. Mama, aku mengusulkan agar dia jangan di panggil Reva lagi!"


"Lalu harus memanggilnya nama apa lagi?" Ariana berkata dengan santai.


Revi tampak memikirkan sesuatu, jari telunjuknya menempel di dagunya serta bergerak-gerak lucu, sambil berpikir nama apa yang cocok buat Reva, tiba-tiba dia berucap: "Itu panggil saja ..., panggil saja dia si pesolek!"


Deffan menoleh dan sepertinya nama itu memang cocok buat Reva, tetapi dia tidak ingin mengacungkan jari jempolnya kearah Revi, karena Reva sudah menatapnya dengan melotot. Deffan tidak berani untuk melakukannya, takut Reva akan semakin marah.


"Oke ngk masalah, panggil saja saya pesolek, dan aku kira, nama kau juga harus di ubah, buat adil. Nanti aku akan memanggilmu dengan sebutan gendut saja!" Reva berkata dengan ketus.


"Kau yang gendut!" Revi balik mengatai Reva yang memang tidak gendut, tetapi dialah yang sebenarnya gendut.


"Kau kan memang gendut, siapa suruh kau tamak sekali."


"Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi! Jika kalian masih saja bertengkar, aku akan mengambil dan menyita semua permainan kalian!" Ariana memandang kedua putrinya dengan mengancamnya akan menyita semua barang-barangnya mainan milik mereka berdua. Dengan begitu, mereka akan menghentikan pertengkaran mereka.


Seketika ruangan itu menjadi senyap.


Reva memandangi kotak make-upnya dan Revi menatap kotak-kotak kue yang berisi mainan kue dan juga masak-masakan. Mereka tidak ingin Mama menyita barang-barangnya. Setelah itu mereka saling pandang dan kemudian menutup semua mainannya dan memeluknya dengan erat.


"Jangan di sita, kami janji tidak akan bertengkar lagi, Ma!" Mereka berkata dengan serentak. Wajah sedihnya terlukis di wajah kecil mereka berdua.


Ariana tersenyum dan menatap mereka.

__ADS_1


"Oke, janji sama Mama ya."


"Oke Mama."


__ADS_2