
Melihat Deffan yang sedang mengerjakan matanya yang bening, tiba-tiba wajah yang sedingin salju itu pun mencair dan menunjukkan kelembutannya.
"Apakah kau ingin pulang dengan Papa?"
Ketika Deffan mendengar ini, dia merasa bahwa papanya masih menganggapnya sebagai Kenzie. Jadi diapun mengangguk dengan patuh.
Melihat Deffan setuju, dia pun langsung menggendong Deffan dan pergi keluar dengan cepat.
Tiba-tiba Revi dengan kakinya yang pendek berlari keluar dan menghalangi jalannya.
"Bukan kah setelah kau menemui Deffan kau akan mengajak kami untuk pergi makan yang enak-enak?"
"Lain kali aku akan membawamu." Daniel pergi dengan tergesa-gesa.
"Tidak mau, harus sekarang!
Revi menatapnya dengan keras kepala.
Daniel tak berdaya, lalu dia mengeluarkan kartu dan memberikannya kepada Revi.
"Ini cukup untuk kau membeli makan seumur hidupmu. Nanti minta mama mu untuk membawamu kesana."
Revi menatap kartu di tangannya dan air mata pun mengalir begitu saja. wajahnya begitu sedih.
Papa hanya membawa Deffan, apakah Papa tidak menyayanginya?
Ternyata Papa dan Paman sama saja, mereka hanya menyukai anak laki-laki dan tidak menyukai anak perempuan.
Dia mendengus dengan marah, tanpa menyentuh kartu yang ada di tangan Daniel dia berjalan menuju kamarnya dengan lesu.
Daniel mengernyitkan keningnya, anak ini memiliki sifat yang jelek, sama seperti Ariana.
Tepat ketika dia sedang memandang Revi yang masuk ke dalam kamarnya, Ariana datang dengan tergesa-gesa, dan merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Daniel.
"Kau tidak boleh membawa Deffan pergi, kau tidak boleh membawanya!" Ariana berkata dengan sangat tegas. Dia tidak ingin kehilangan Deffan. Tidak ingin!
Ketika Deffan mendengar mamanya menyebutnya dengan nama Deffan, dia mengedipkan matanya dengan khwatir.
"Papa akan membawa Kenzie pulang kerumah. Nanti aku akan datang lagi kesini."
"Kenzie?"
Daniel memicingkan matanya sejenak. Mengapa Deffan mengatakan kalau dia adalah Kenzie?
"Barusan kau bilang siapa?"
Melihat Daniel mengernyitkan keningnya, Deffan dengan cepat mengatakan kalu dia adalah Kenzie, dia tidak ingin identitasnya terungkap.
Kenzie?
Daniel merenung ....
"Deffan, tidak perlu menyembunyikan identitas mu lagi, dia sudah tau kau adalah Deffan. Dan dia akan membawa mu pergi untuk meninggalkan Mama."
Deffan terkejut.
Mengapa Papa bisa mengetahuinya?
__ADS_1
"Jadi ..., kau tau kalau aku buka Kenzie?"
Dia memandang Daniel dengan tidak percaya.
"Kau menyamar menjadi Kenzie?"
Deffan meletakkan lidah kecilnya. Benar sekali, bahkan tidak hanya sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali.
Melihat seringai nakal dari Deffan, Daniel sekarang baru paham. Mental Kenzie yang seperti mempunyai kepribadian ganda selama ini ternyata ini alasannya.
Karena Kenzie dan Deffan muncul secara bergantian.
Kenzie yang bersifat dingin dan sombong sedangkan Deffan lincah dan aktif. Kedua anak ini memiliki kepribadian yang jelas sekali berbeda.
Teringat akan hal ini, dia mengalihkan pandangan menatap Reko, orang yang pertama kali mengadu kepadanya bahwa Kenzie memiliki gangguan mental.
Ternyata dia sudah mengetahui ini sejak awal.
Reko yang di tatap dengan mata kakaknya yang terlihat sedang bertanya-tanya itu langsung melihat ke atas seolah-olah semua kejadian itu tak ada hubungannya dengan dia.
Deffan tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya dan membelai wajah Daniel.
"Papa, karena kau sudah tau aku adalah Deffan, maka kedepannya aku tidak perlu menyamar menjadi Kenzie lagi."
Daniel mengangguk dengan penuh semangat.
"Papa akan membawa mu pulang kerumah untuk bermain dengan Kenzie."
"Tidak boleh!"
"Dia adalah putra ku! Dan aku berhak untuk menjauhkannya dari wanita seperti mu!"
Daniel bertekad untuk merebut Deffan.
"Papa, jangan memarahi Mama seperti itu, tidak mudah bagi Mama untuk merawat dan membesarkan ku. Aku tidak bisa meninggalkan Mama, aku ingin bersamanya."
"Deffan ...."
Ariana tersenyum bahagia, antara tersenyum dan menangis, dia terharu mendengar ucapan Deffan.
Mata Daniel menyipit.
"Deffan, papa tidak akan membiarkan mu tinggal di lingkungan seperti ini, kau akan menderita jika selalu bersamanya. Lihat, tempat ini tidak baik untuk anak-anak."
Ariana geram mendengar ucapan Daniel.
"Daniel, jika bukan karena kau yang menyebabkan aku membayar puluhan juta, tidak mungkin aku membawa anak-anak ku tinggal di tempat seperti ini!"
"Itu semua kesalahan mu sendiri, dan kau harus bertanggung jawab untuk membayarnya.
"Atas dasar apa kau mengatakan tidak baik bagi Deffan untuk tinggal bersama mama? Mama sangat mencintai dan menyayangi kami semua! Pokonya kami tidak akan membiarkan mu membawa Deffan!"
Reva yang sedari tadi geram dengan kelakuan papanya itu, dia mencubit pinggang Daniel dengan keras.
Melihat itu, Reko merasa khwatir mereka akan bertengkar lagi.
Dia merasa bahwa sebagai seorang dewa jodoh, inilah saatnya dia harus memberikan bantuan.
__ADS_1
"Kakak, kakak ipar, jangan begini!"
"Siapa kakak ipar mu?"
"Kau memanggil siapa dengan kakak ipar?" Kata-kata itu di ucapkan dengan marah secara bersamaan, Daniel dan Ariana memandangnya pada saat yang sama.
"Lain kali jangan asal memanggil, pria seperti ini diberikan kepada ku secara gratis pun aku tak sudi!"
Daniel memandang Ariana dengan tatapan yang jijik.
"Kau kira aku mau bersama mu? Kau kira aku kekurangan wanita? seribu wanita seperti mu bisa aku dapatkan jika aku mau! Wanita seperti mu aku jijik melihat mu!"
Reko terdiam, jadi salahnya kah sekarang?
"Kau! Kau yang menjijikan, bajingan Daniel, kembalikan anakku!"
"Jangan harap, ini adalah anakku!"
"Aku yang mengandung dan melahirkan, juga membesarkannya! Atas dasar apa kau mau merebutnya dari ku!"
"Memangnya kau bisa hamil sendiri?"
"Aku yang mengandung Deffan, aku yang lebih berhak!"
"kakak! Nona Ariana! Cukup! Apakah kalian akan selalu bertengkar seperti ini? Apakah kalian akan menemukan solusinya? Lebih baik kalian tanyakan kepada orang yang bersangkutan, dia yang lebih berhak menentukan." Tiba-tiba ucapan Reko menghentikan pertengkaran mereka.
Daniel memandang Deffan.
"Deffan, pulanglah bersama Papa kerumah, ya. Papa akan memberikan apapun yang kau inginkan."
"Deffan, jika kau pergi bersamanya, berarti kau tidak akan melihat Mama lagi. Mama pasti akan merindukan mu."
Mata Deffan berputar sesaat.
"Papa, jika aku pulang bersama mu, apakah Papa akan memenuhi syarat apapun yang aku pinta?"
Seketika Daniel langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Asalkan kau mau pulang bersama Papa, Papa berjanji akan memenuhinya." Daniel berkata dengan percaya diri.
Hati Ariana sedih dan lesu. Dia belum tau apa yang akan di katakan Deffan. Tetapi perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Kalau begitu, aku mau pulang bersama Papa. Asal ...."
Deffan menghentikan ucapannya, dia memandang Ariana dengan sedih.
"Asal apa? Katakanlah."
Daniel tidak sabaran ingin mengetahuinya.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1