Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
145


__ADS_3

Revi bercerita kepada Deffan bahwa Mama akan mencari uang. Dan Ariana akan menggunakan sebuah kamar untuk tempat khusus buat melakukan pengobatan akupuntur pasiennya nanti. Tetapi Daniel pasti tidak akan memberikan izin untuk Ariana melakukan itu, apa lagi memakai kamarnya.


Deffan menggaruk kepala kecilnya.


"Maksudmu kau ingin aku yang berbicara kepada Papa?"


"Aku khwatir tidak ada gunanya berbicara dengannya. Ku dengar dia sangat menghormati kakek, kan?"


"Maksudmu kakek buyut?" tanya Deffan.


"Ya! Kakek buyut itu orangnya seperti apa?"


Berbicara tentang Kakek buyut, Deffan selalu memujinya. Bercerita tentang betapa baiknya Kakek buyut terhadapnya dan Kenzie.


Mendengar cerita Deffan, Revi menarik napasnya.


"Artinya, kakek buyut adalah orang yang sangat baik."


"Yah, apakah Kau ingin bertemu dengan kakek buyut?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


Deffan Terdiam dan memikirkan sesuatu.


Iya juga ..., jika kakek buyut setuju, maka Papa juga hanya bisa nurut apa yang di katakan kakek buyut.


Lalu dalam benak Deffan, dia akan membahas mengenai masalah ini kepada kakek buyut.


Malam berikutnya Deffan dan Kenzie bertemu dan bercerita dengan kakek buyut.


Ketika mendengar cerita dari kedua bocah tersebut, kakek Hamsyah tertawa ketika mendengarnya.


"Kalian masih muda sudah mengerti tentang akupuntur?"


"Kakek buyut, Mama sangat ahli dalam pengobatan akupuntur."


"Ya, Kakek buyut. Pernahkah kau mendengar tentang dokter junius Messa?"

__ADS_1


Kakek Hamsyah berpikir sejenak lalu mengangguk dengan pasti.


"Apakah Mama mu ada hubungannya dengan dokter junius Messa?"


"Kakek buyut, Mama adalah dokter Messa."


Apa?


Kakek buyut tercengang saat mendengar pengakuan kedua cucunya itu, dia pun terlihat sangat bersemangat mendengar cerita kedua bocah tersebut. Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita yang melahirkan kedua cicitnya ini adalah seorang dokter junius Messa yang terkenal itu.


Kakek Hamsyah mendengar Deffan menghela nafas.


"Sayang sekali, pengobatan akupuntur Mama sebenarnya dapat menyelamatkan banyak orang, hanya saja, papa tidak akan mengizinkan Mama untuk menggunakan salah satu kamar di villa Green View itu untuk tempat khusus akupuntur."


Kakek Hamsyah mengeryitkan keningnya, cucunya itu tak tau keberuntungan. Jika dokter Messa membuka pengobatan akupuntur di villa, bukankah itu lebih baik, dan kedepannya villa Green View juga akan menjadi terkenal! Ini sungguh hal yang baik sekali!


Jadi Kakek Hamsyah akan berbicara kepada Daniel.


Di malam hari, saat Ariana duduk sendirian di meja sambil membereskan buku-buku medisnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ariana ini aku."


Malik papanya. Dia tiba-tiba merasa resah.


"Ada apa?" Tanyanya acuh.


"Ariana, beberapa hari lagi adalah hari peringatan Mama mu. Aku ingin kau pulang sebentar dan membicarakan sesuatu."


Mendengar ini, Ariana langsung terdiam. Tiba-tiba hatinya merasa sakit. Mama yang selalu menjaga Malik agar dia bisa mencapai kesuksesan yang baik di sektor bisnis, bahkan demi Malik, Mama rela mengosongkan perusahaan kakeknya untuk mendukungnya, lalu apa balasan yang Mama dapatkan?


Pengalaman mamanya membuat Ariana mengerti apa itu arti sebuah realitas,


"Ariana, apakah kau masih ada di sana?" Malik bertanya saat tidak mendengar Jawaban dari Ariana.


"Papa, kau memintaku pulang untuk membicarakan tentang apa?"

__ADS_1


"Ariana, kau memiliki hubungan dengan pak Daniel sekarang. Kau memiliki kehidupan yang layak dan bahagia, tetapi kau juga harus memikirkan kehidupan kami. Erika adalah adik mu, kau kakak beradik. Pernikahannya hancur karena perusahaan keluarga mengalmi kebangkrutan. Kami menjalani kehidupan yang cukup sulit. Tolong kau minta pak Daniel untuk menolong dan membawanya kami agar perusahaan keluarga bisa kembali seperti dulu."


Ariana berpikir panjang.


"Tapi, tolong kau Jawab dulu pertanyaan ku?"


Begitu mendengar ada secercah harapan dari Ariana, Malik langsung menjawabnya dengan semangat.


"Ariana, apa pertanyaan mu itu? Papa akan menjawabnya asal kau mau bicara."


"Aku ingin bertanya, bagaimana Mama ku bisa meninggal?"


Pertanyaan yang di lontarkan Ariana membuat Malik membutuhkan beberapa waktu untuk menjawabnya.


"Ariana, kau kan sudah tau, Mama mu meninggal karena sakit."


"Sakit?"


Ariana mendengus dingin.


"Kau kira aku akan percaya! Kau dan Sonya begitu ingin Mama dan aku meninggal lebih cepat! Bahkan saat ketika kau memasang nama di batu nisan Mama, kau juga memasang sebuah nama di batu nisan untuk ku! Kau belum melihat mayat ku dan ku sudah menganggap ku telah mati! Adakah seorang ayah seperti itu kepada anak kandungnya sendiri?"


Ariana meninggikan badan suaranya, dia benar-benar emosi dengan papanya yang tega membuat batu nisan untuknya.


"Ariana, itu hanya salah paham!"


"Salah paham? Oke salah paham. Bagaimana kalian memperlakukan aku setelah aku pulang?" Ariana tersenyum sinis.


"Kau jangan khwatir, di hari peringatan meninggalnya Mama, aku akan mencari mu dan akan berbicara baik-baik."


Setelah mengucapkan itu, Ariana langsung menutup telponnya.


Suasana hatinya saat ini sulit untuk di tenanglah.


Ariana teringat ketika dia pergi melihat batu nisan mamanya, dia pun melihat batu nisan dirinya di sebelah kuburan mamanya, bahkan ada fotonya juga. Mengingat itu hatinya begitu teriris sembilu.


Pada saat itu, Ariana tak percaya jika papanya sendiri tak sabar untuk menunggu kematiannya. Sangat jelas bahwa mereka begitu menanti kematian Ariana.

__ADS_1


Seorang Papa yang begitu kejam terhadap anaknya. Malik tak pantas untuk menjadi seorang ayah, Ariana tidak pantas untuk merindukan Papa seperti Malik.


Dia benar-benar menganggap bahwa tidak ada namanya keluarga di dunia ini kecuali anak-anaknya.


__ADS_2