Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
120


__ADS_3

Dengan terburu-buru Daniel segera turun dan berlari kecil untuk mencari Deffan yang sudah melarikan diri.


Dia pasti belum terlalu jauh dari sini. Dalam benak Daniel berkata seperti itu. Dia mengedarkan pandangannya, mencarinya di sekeliling tetapi tidak menemukannya. Daniel segera meminta Liki untuk menyetir mobil, menyusuri jalan yang semestinya di lalui oleh Deffan.


Dalam perjalanan yang belum terlalu jauh dari tempat Erika dan Siska menyekap Deffan, tiba-tiba terlihat beberapa kerumunan orang di depannya.


"Pak Daniel, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan, aku akan turun untuk melihatnya."


Setelah mengatakan itu, Liki langsung keluar dari dalam mobil dan melihat ambulans melaju dengan kencang.


Sepertinya telah terjadi kecelakaan di depan itu!


Daniel yang sudah tidak sabaran itu kemudian keluar dari mobil. Dia pun berjalan ke arah kerumunan orang-orang itu lalu mendengar obrolan mereka.


"Anak itu kasihan sekali. Cedera di kepalanya sungguh mengerikan."


"Ya, memang sangat berbahayanya jika harus berlari tanpa melihat kiri dan kanan lagi."


"Mungkin anak kecil itu berlari mengejar sesuatu atau mungkin dia di kejar, hingga dia berlari begitu cepat."


Anak kecil ..., berlari seperti di kejar ....


Dalam benak Daniel muncul bayangan Deffan yang kecil berlari tak berdaya dengan terburu-buru berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan diri!


Jantung Daniel langsung berdetak kencang.


"Anak itu seperti apa rupanya?"


Daniel bertanya dengan Sese di sebelahnya dengan wajahnya yang mengernyit.


"Seorang anak laki-laki kecil, mungkin berusia sekitar empat atau lima tahun. Wajahnya tampan."


Daniel yang mendengar segera menelpon Ariana untuk menanyakan pakaian apa yang di kenakan Deffan hari ini?


Maira berpikir sejenak, "Seharusnya ...."


Dia juga tidak dapat memberikan jawaban yang akurat untuk sementara waktu. Deffan telah di culik di tengah perjalanan dari rumah Daniel sendiri. Terkadang Deffan mengenakan pakaian Kenzie, tetapi dia juga tidak yakin apakah Deffan mengenakan pakaian Kenzie atau tidak!


"Deffan itu di culik saat pulang dari rumah mu, aku tidak tau dia memakai pakaian seperti apa!"


Mendengar jawaban Ariana yang seperti itu, Daniel menjadi geram dan marah.

__ADS_1


"Ariana, apakah kau masih pantas menjadi seorang ibu?"


Suara Daniel melengking, dan itu hampir saja membuat Ariana menjadi tuli. Setelah menutup telponnya, Daniel segera masuk kedalam mobil. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia memutar mobilnya dan langsung mengejar ambulans itu kerumah sakit.


Bahkan dia merasa memberi perintah kepada Liki untuk mengemudi pun hanyalah menghabiskan waktu saja.


Liki yang masih berdiri di situ bertanya-tanya, apakah pak Daniel telah meninggalkannya?


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Dia mengambil ponselnya dan langsung menjawab.


"Apa maksud Daniel barusan? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Deffan?"


Ariana bertanya dengan gelisah.


"Nona Ariana, Deffan mungkin mengalami kecelakaan mobil. pak Daniel sudah pergi kerumah sakit menyusul ambulans yang membawa anak kecil itu. Kau juga cepatlah pergi!"


Kecelakaan mobil?


Kata-kata itu terdengar seperti petir yang menyambar tubuh Ariana.


"Ada apa?"


"Deffan, Deffan dia ...." Ariana tidak bisa menyusun kalimatnya dengan benar, hingga kata-katanya terbata-bata.


Reko memberikan sebotol air minum pada Ariana, agar dia meminumnya dan bisa mencerna pikirannya yang sedang kacau itu.


"Aku sedang tidak mau minum!" Ariana membanting botol air minum itu. Sementara Reko mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Ariana.


"Ayo cepat kerumah sakit, kita kerumah sakit sekarang! Telah terjadi sesuatu kepada Deffan, cepat pergi kerumah sakit." Ariana berkata dengan tidak sabar. Dia mendorong Reko untuk cepat masuk dan menyetir mobilnya.


Tadi Ariana tidak sempat menanyakan rumah sakit mana, jadi Reko langsung menelpon Liki. Setelah mengetahui rumah sakitnya, Reko langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang.


Dalam perjalanan, jantung Ariana berdegup dengan kencang, dia tak dapat membayangkan bagaimana keadaan Deffan saat ini!


Daniel benar, dia tidak pantas menjadi seorang ibu. Dia tidak dapat merawat Deffan dengan baik, jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan, bagaimana dia bisa melanjutkan sisa hidupnya?


Ariana menutup matanya, dan berdoa dengan tulus, dia memohon agar Deffan aman dan sehat. Asalkan Deffan selamat dan sehat, dia rela menukar semuanya dengan seluruh nyawanya!


Di rumah saki.

__ADS_1


Anak itu sudah berada di ruang operasi untuk menjalani perawatan dan tentu saja membutuhkan tanda tangan orang tuanya. Dokter melihat keluar dengan cemas melihat Daniel yang sedang berdiri menatapnya.


"Dimana anak itu?" Daniel bertanya dengan dokter dengan mata yang terlihat sangat cemas.


"Anak itu telah masuk ke ruang operasi. Apakah anda orang tuanya? Jika iya, anda harus menanda tangani surat ini."


Tanpa ragu-ragu Daniel langsung membubuhkan sebuah coretan di atas kertas itu dengan satu gerakan saja.


"Baiklah, silahkan anda menunggu disini, anak itu butuh perawatan yang khusus, karena luka di kepalanya sangat serius. Jika ada apa-apa kami akan segera melaporkannya."


"Baik."


Setelah berbicara dengan dokter itu, Daniel terlihat mondar-mandir di sekitar ruangan operasi itu dengan wajahnya yang terlihat cemas. Jantungnya berdetak lebih cepat.


Dia yang baru saja mengetahui keberadaan Deffan, belum sempat memeluk dan menciumnya, bahkan belum pernah melakukan tanggung jawab sebagai seorang ayah, malah sudah terjadi seperti ini.


Bagaimana ini bisa terjadi?


Mengapa ini terjadi?


Daniel tidak dapat menerima kenyataan ini. Dia mengepalkan jemari tangannya dan meninjau dinding itu!


"Kakak, apa yang terjadi?"


Reko dan Ariana datang dan menatapnya dengan panik!


Daniel menoleh dan langsung bertemu dengan manik mata Ariana yang sedang cemas. Emosi di dalam hatinya tak tertahan lagi.


"Jika dia sudah keluar dari ruang operasi, aku akan membawa dan merawatnya. Kedepannya kau tidak usah menemuinya lagi, Menjauh lah darinya!"


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Daniel. Ariana menyipitkan kedua matanya. Menatap Daniel dengan marah. Atas dasar apa laki-laki brengsek ini mengatur hidupnya antara Deffan dan dirinya.


Apapun alasannya Ariana tidak akan pernah menyetujuinya. Sedari kecil Deffan bersamanya, dia yang membesarkannya. Bagaimana mungkin Daniel bisa berkata seperti itu?


"Deffan adalah anak ku, aku yang mengandung dan melahirkannya, bukan kau!" Jari telunjuk kiri Ariana mengarah ke Daniel, Ariana juga tidak tahan lagi dengan sikapnya yang seenaknya.


Wajah Daniel menggelap.


"Kau yang membesarkannya, tetapi kau tak pantas menjadi mamanya. Karena kau dia di culik dan terjadi kejadian seperti ini!"


"Atas dasar apa kau berani mengatakan itu, Daniel? Bukankah ini semua gara-gara kamu? Mereka mengejar-ngejar ku itu juga karena kamu yang melibatkan aku atas kebangkrutan perusahaan malik, apakah kau melupakannya?

__ADS_1


__ADS_2