Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
41


__ADS_3

Di dalam mobil


Daniel masih penasaran bagaimana cara wanita itu turun, lalu noda darah itu berasal dari mana?


Sesampainya di rumah nanti, aku akan menyelidikinya.


Sampai di rumah, begitu melewati pintu ruang tamu, kepala pelayan datang dengan tergesa-gesa. Lalu menghampirinya dengan ekspresi panik.


"Tuan, ada kabar buruk. Tuan muda sudah pergi!"


"Apa?"


Daniel tertegun sesaat.


"Pergi dan cari tau bagaimana cara wanita itu turun dari jalan bebatuan itu! Dan juga tentang noda darah itu!"


"Tuan, darah itu sebenarnya Tuan muda diam-diam melakukannya. Tapi dengan bagaimana dia turun, saya akan menyelidikinya."


Deffan dan Kenzie memang tidak seteliti Daniel.


Tuan muda!


Ariana.


Pasti wanita itu sengaja membujuk Kenzie untuk melakukannya!


Wanita itu berani mempermainkan trik di depan matanya, Daniel mengepalkan tangannya, dia bersumpah akan menghancurkan kehidupan Ariana sampai menjadi abu.


Di sisi lain


Ariana yang baru saja pindah ke rumah barunya. Dia sedang beristirahat duduk di sofa sambil memegangi kakinya yang masih berasa sakit.


Pria gila itu pasti sudah tau tentang kepergian ku dari rumah sakit sekarang. Aku ingin tau, apakah dia akan menghabiskan satu juta dolar lagi untuk menyebar berita dan mencarinya.


Tadinya Kenzie menyelinap keluar melalui jendela, untuk pergi bersamanya.


"Mama jangan khwatir, papa tidak akan menemukan kita!"


Deffan yang melihat ekspresi Mama seperti itu, dia langsung membujuknya.


Kenzie yang sedang memindahkan barang-barang itu tertegun mendengar Deffan memanggilnya dengan sebutan Mama.


Mama?

__ADS_1


"Kau. Barusan kau memanggilnya apa?"


Matanya yang jernih itu menatap Ariana dan Deffan secara bergantian.


Ariana tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak menyangka, secara kebetulan akan kedengaran oleh Kenzie.


Deffan juga, yang baru saja meletakkan lidah kecilnya, dia baru menyadari dengan penyamarannya terhadap Kenzie.


Tapi, sudah ketahuan, mau gi mana lagi. Cepat atau lambat, Kenzie juga akan mengetahuinya.


Deffan menatap Kenzie. Dengan ragu dan bimbang, dan juga akan menyaksikan reaksi Kenzie setelah dia mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya dengan keyakinan Deffan mengakuinya.


"Kenzie, aku memanggilnya Mama, dia adalah Mama kita."


Mama?


Kenzie mengalihkan pandangannya ke arah Ariana dengan rasa tidak percaya. Tentu saja dia terkejut.


Melihat tatapan Kenzie begitu dalam, Ariana merasa gugup, dia juga menatap Kenzie dengan lekat.


"Kenzie, maafkan aku ...,"


"Apakah kau benar-benar Mama ku."


"Lalu kenapa kau meninggalkan aku? Apa karena aku sakit-sakitan jadi kau tidak menyukaiku dan meninggalkan aku, begitu kah?"


Kenzie mulai berkata dengan emosi.


"Kenzie, maafkan Mama. Pada saat itu, Mama tidak mampu untuk membesarkan empat anak sendirian."


Ariana mencoba untuk menenangkan diri.


"Mama bukan sengaja meninggalkan mu, Mama memang bersalah pada mu, maafkan Mama ya."


Kenzie tertegun.


Dalam beberapa tahun terakhir ini, dia sering memimpikan mamanya. memegang tangan Mama dan bertanya: "Mama, kenapa kau meninggalkan aku? Mengapa Mama tidak menginginkan aku?"


Mimpi itu masih teringat jelas di kepalanya.


Harapannya akan kasih sayang seorang Mama, merasa tidak percaya diri karena di tinggalkan, Mama menyiksaku siang dan malam.


Mengingat hal itu dia mengepalkan tinjunya, tetapi air matanya menetes tak tertahan.

__ADS_1


Perasaannya begitu hancur berkeping-keping, ternyata Dokter Messa yang selama ini merawatnya adalah mamanya.


Melihat Kenzie menangis, Ariana merasa sesak dan sedih, dia ingin memeluknya. Tetapi ketika dia berdiri dan tak sengaja terpeleset dan hampir jatuh, Deffan datang dengan cepat untuk menolong Ariana.


"Mama, apakah kau baik-baik saja?" Deffan bertanya dengan sangat khwatir.


"Tidak apa-apa."


Setelah itu matanya kembali menatap Kenzie yang berdiri di sana, dia terlihat tercengang, entah apa yang dia pikirkan saat ini.


Deffan seakan tau perasaan Ariana, kemudian dia berjalan ke arah Kenzie.


"Mama sangat menyayangi mu, dia bukan sengaja mau meninggalkan mu, jangan salahkan Mama ya."


Melihat Kenzie yang masi terdiam, Deffan terus meyakinkan dirinya lagi.


"Demi bisa mengobati mu, Mama berjuang untuk menuntut keterampilan medis, dan itu berhasil Mama dapatkan hidup dan mati, hanya untuk menjadi seorang dokter Junius untuk mengobati mu. Dan untuk bisa masuk ke dalam rumah mu, Mama menyamar dengan mengubah riasan di wajahnya, agar tidak ketahuan oleh Papa, jika papa mu mengetahuinya, Mama takut dia tidak akan di izinkan untuk mendekati mu. Mama sangat menyayangi mu sama seperti dia menyayangi kami."


Deffan berkata dengan lirih


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


.


Author sudah update lagi ya


kalian wahai para pembaca:


Wajib likeβ˜‘οΈ


klik bintang lima di penilaian β˜‘οΈ


tap love β˜‘οΈ


vote setiap akhir pekan β˜‘οΈ


komen jika ada kritik dan saranβ˜‘οΈ


dan jangan lupa follow akun author

__ADS_1


__ADS_2