Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
48


__ADS_3

Sepertinya untuk berdiskusi dengannya seperti ini tidak akan berhasil.


Tapi, bagaimana jika wanita itu masih saja seperti itu terhadap Kenzie?


Ariana melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan perasaan khwatir. Tanpa di duga, saat dia keluar, dia bertemu dengan Sela yang tampak terburu-buru.


Mereka berpapasan di pintu, dan Sela menatapnya dengan cermat.


Wanita ini, meski penampilannya sederhana, namun dia mempunyai body yang sempurna. Wajahnya yang cantik dan berkulit putih, meski hanya riasan bedak yang tipis, namun sulit untuk menutupi kecantikannya.


Sela mengernyit. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Untuk apa dia kesini? Apa dia juga tertarik dengan Daniel?


"Kau ...."


"Aku tantenya Daniel."


Ariana melirik perempuan itu dan melangkah pergi. Dia tidak ingin memperdulikan wanita yang menggertak anaknya itu.


Sela menatap kepergian Ariana. Daniel masih memiliki tante yang masih muda? Dia terkejut.


Kenapa dia tidak pernah tau!


Lain kali, jika aku punya kesempatan, aku harus mengunjunginya. Jika aku ingin masuk ke dalam keluarga Mahesa, aku harus mendekati setiap keluarganya. Aku harus menjaga hubungan baik dengan keluarganya.


Sela masuk dan menghampiri Danie, dia langsung bertanya tentang Kenzie dan tampak menghawatirkan nya.


"Daniel, apakah sudah ada kabar Kenzie?"


Daniel mengangguk.


"Dia sudah pulang dengan selamat."


Cepat sekali pulangnya?


Sela kecewa, dia berharap Kenzie tidak akan pernah kembali lagi.


Jahat sekali dia!


"Itu membuat ku ketakutan sekali, tapi untunglah Kenzie sudah kembali dengan selamat. Apakah benar Mama Kenzie sendiri yang menjemputnya?"


"Bukan!"


Daniel menjawabnya dengan singkat. Seorang Ariana tidak pantas di sebut seorang Mama.


"Lalu siapa dia?"


"Orang gila!"


"Orang gila?"


Sela terkejut, dan mulai berpikir. Dia menatap Daniel. Masalah ini tidak lah sederhana jika di lihat dari raut wajahnya.


Daniel menatap Sela yang tampak memikirkan sesuatu. Dan tiba-tiba dia mengingatkan Sela.


"Masalah ini sudah berakhir Sela, aku harap, untuk lain kali kau harus hati-hati dan lebih memperhatikan perasaan Kenzie, buatlah dia senang dan bahagia."


Jantung Sela berdegup kencang, dan wajahnya sedikit terlihat aneh. Apa maksud Daniel? Apakah Kenzie mengadu?

__ADS_1


Tanpa sadar dia meremas jemarinya.


"Daniel, jangan khwatir, aku akan melakukannya."


Di malam hari


Ariana masih memikirkan Kenzie, dia tampak gelisah dan tidak pokus saat memasak di dapur.


Reva dan Revi sudah menunggu di meja makan. Menunggu Ariana menyelesaikan masakannya.


Setelah selesai, Ariana mengambil mangkok dan meletakkan masakannya. Dia menyajikan di atas meja dengan pikiran yang melayang.


"Mama, makanan ini terlalu asin. Apakah Mama terlalu banyak meletakkan garam?"


"Apa yang asin? Sama sekali tidak asin." Jawab Ariana menatap Reva.


"Ini sama sekali tidak asin." Ucap Revi.


"Mungkin kau terlalu banyak memakan kue makanya kau kehilangannya indera perasa." timpal Reva. Dia menatap Revi.


"Kau yang kehilangan indera perasa, makanan ini memang asin!" Revi cemberut.


"Asin,"


"Tidak asin."


"Asin, pokoknya asin, asin ...."


Pertengkaran mereka membuat Ariana pusing, lalu dia mengambil sumpit dan mencicipinya.


"Ini memang asin, yang tidak asin itu." Deffan menunjuk ikan rebus di hadapan Revi.


Ariana mengangguk setelah mencicipinya.


"Reva benar, ini memang asin, mungkin Mama terlalu banyak memasukkan garam dalam satu macam makanan. Tunggu sebentar, Mama akan memasaknya lagi."


"Tidak perlu ma, makanannya di padukan saja."


ucap Deffan.


"Mama, apakah kau menghawatirkan sesuatu?" tanyanya kemudian sambil menatap Ariana yang melewatinya.


"Tidak apa-apa." Ariana melengkungkan bibirnya dan menarik kursi untuk dia duduk.


Mereka makan dalam diam, tidak ada yang protes lagi setelah itu.


Deffan juga memperhatikan Mama dalam diam, sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut. Dia seakan tau apa yang di pikiran oleh mamanya. Tadi siang, Mama pergi ke sekolah Kenzie. Sepertinya ada hubungannya dengan Kenzie.


Sehabis makan, Deffan langsung pergi ke kamar dan mengirim pesan pada Kenzie. Deffan menunggu balasan pesan dari Kenzie, namun sudah beberapa menit hingga mau satu jam, Kenzie belum juga membalas pesannya, sampai dia tertidur pun tak ada balasan sama sekali.


Sampai keesokan harinya, Deffan mengambil arloji ponselnya, dan Kenzie juga belum membalasnya.


Apa yang terjadi?


Deffan tampak khwatir.


Hari ini, Deffan memutuskan untuk mencari cara bagaimana dia bisa pergi ke sekolah TK Bangsawan, untuk bertemu dengan Kenzie.

__ADS_1


Di sisi lain


Begitu Kenzie selesai makan, Sela sudah datang untuk menjemputnya. Begitu dia masuk pintu, dia memberikan Lego yang baru kepada Kenzie sambil tersenyum.


"Ini tante belikan khusus untuk mu, apa kau menyukainya?"


Kenzie meliriknya dan mengabarkannya.


"Kenzie, tante sedang bicara dengan mu, apakah kau tidak mendengarnya?" Daniel menatap Kenzie.


Kenzie tetap diam, mendongak dengan tatapan dingin dan arogan. Dia menunjukkan bahwa dia tidak akan memperdulikan wanita angkuh seperti itu.


"Daniel, tidak apa-apa, Kenzie masih kecil. Lego ini nanti di mainkan setelah pulang sekolah saja, sekarang aku akan mengantarnya ke sekolah."


Sela mengukuhkan tangannya untuk menggandeng tangan Kenzie, tetapi anak itu menghindarinya dengan mengambil tas sekolah dan berjalan keluar.


Sela tampak tidak keberatan dengan sikap Kenzie seperti itu, dia tersenyum sambil membuntuti Kenzie dari belakang.


Di dalam mobil


Sela mencibir sambil menatap Kenzie dengan angkuh.


"Tidak ada gunanya kau mengadu kepada Papa mu, Papa mu melihat bagai mana aku memperlakukan mu di depannya, dan dia juga melihat bagai mana sikap kamu terhadap ku tadi. Aku berharap setelah kau mengadukan aku, Papa mu akan meminta ku untuk berhenti menjemputmu, kau kira aku suka mengantar jemput mu ke sekolah!"


"Kau bisa menolak jika kau tidak suka!"


Di depan berbuat manis, di belakang berkelakuan jahat seperti ini. Dasar wanita bermuka dua, benar-benar munafik.


Kenzie bahkan tidak ingin melihatnya, dia menatap keluar jendela.


"Kamu. Hem ...."


Aku tidak akan menolak. Untuk menjadi ibu tiri mu aku juga akan berbuat baik pada mu.


Bagus sekali, hanya dua kata itu yang di ucapkan oleh Sela, namun mengandung arti yang tersembunyi.


Kenzie menoleh dan meliriknya, di dalam hati kecilnya tersirat rencana licik yang akan membuat wanita ini malu. Kenzie tersenyum dalam hati. Kemarin dan hari ini, kau berbuatlah semau mu, untuk besok, aku tidak akan membiarkan mu memarahiku lagi. Lihat saja nanti. Kenzie mengeratkan genggaman tangannya dengan erat, matanya menatap lurus kedepan.


Author sudah update ya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tugas pembaca hanya memberi dukungan, like dan komen, memberi vote dan hadiah, juga bintang lima di penilaian. Karena tugas author sangat berat, dari pada kalian yang hanya membaca. jadi tolong saling mengerti untuk saling menyemangati. yuk mulai dari sekarang


kalian wahai para pembaca:


Wajib likeβ˜‘οΈ


klik bintang lima di penilaian β˜‘οΈ


tap love β˜‘οΈ


vote setiap akhir pekan β˜‘οΈ


komen jika ada kritik dan saranβ˜‘οΈ


dan jangan lupa follow akun author

__ADS_1


__ADS_2