Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
124


__ADS_3

Daniel me, bawah mereka masuk kedalam restoran paling mewah di kota ini. Keempat anak itu tampak terburu-buru mengejarnya.


Revi yang terlihat sangat bahagia di situ. Dia memilih banyak sekali permen, keju dan coklat yang dia sukai.


Kemudian dia menatap Daniel dan tersenyum bahagia.


"Kau bukan bajingan jahat, tetapi bajingan baik!"


Bajingan baik ...!


Ekspresi Daniel tiba-tiba berubah.


Apakah Revi sedang memujinya?


"Makan, makanlah semua yang kau mau."


Revi mengangguk dengan senang.


Reva hanya memilih sepotong kue kecil dan duduk di samping Revi.


Melihat itu Daniel mengernyitkan keningnya. Kedua anak gadis ini terlihat sangat menarik, yang satu memilih makanan dengan sebanyak-banyaknya, dan yang satunya lagi hanya memilih satu potong kue kecil.


"Kau tidak suka kue?" Daniel bertanya dan menatap Reva.


"Aku cukup segini saja. Tidak ingin banyak menghabiskan uangmu meski kau tidak akan kekurangan."


Reva berkata seperti itu membuat Daniel melebarkan matanya.


Anak ini ....


Mulutnya begitu nyinyir.


Melihat tubuh Reva yang kurus, Daniel sekarang mengerti. Lalu dia menatap Revi.


"Kau jangan terlalu banyak memakan kue, apa lagi yang manis-manis, tidak baik untuk kesehatan mu, kau ..."


Sebelum kalimat terakhir selesai di ucapkan Daniel, Revi mendengus enggan.


"Kau yang begitu kaya, memiliki banyak harta dan uang, apakah kau masih perhitungan dengan beberapa potong kue ini?"


Ha ....


Daniel menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Kau, makanlah, makanlah yang banyak, dan kau boleh membawanya pulang."


"Aku boleh membawanya pulang?"


Daniel mengangguk. Seketika Revi meloncat kegirangan.


"Ye ..., aku bisa membawa kue banyak!" Revi terlihat sangat bahagia, matanya terlihat berseri-seri.


Deffan dan Kenzie juga terlihat sedang berbincang-bincang, ekspresi mereka sangat senang. Daniel memperhatikan anak-anak ini satu persatu, terlihat di matanya bahwa dia juga senang melihat mereka bahagia. Reva dan Revi juga tampak menggoyang-goyangkan kakinya yang pendek menikmati kue yang mereka makan.


"Daniel, apakah kau ..., ini benar-benar kau?"


Daniel mengangkat matanya menatap Sela yang berdiri tidak jauh darinya.


Daniel tercengang, dia tidak menyangka akan bertemu dengannya disini.


Sela berjalan ke arah Daniel.


"Daniel, apakah kau masih marah dengan kejadian waktu itu? Saat itu memang aku yang bersalah. Aku akan berubah. Jangan khwatir, aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Kau dan keluarga Harto sudah membayarnya untuk itu, tak perlu kau bahas lagi."


Daniel menjawab dengan singkat dan jelas. Bahkan tak mau repot-repot menatapnya.


Dia berharap Sela menjauh darinya, dan itu lebih baik dari apapun.


"Daniel, berarti kau sudah memaafkan aku? Terimakasih, Daniel. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Nanti malam aku akan datang menemui mu."


Setelah mengatakan itu dengan malu-malu. Kemudian Sela melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Daniel.


Daniel mengernyitkan keningnya menatap kepergian Sela. Apakah semua wanita seperti itu? Mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan darinya.


Sela seperti itu, Ariana juga seperti itu.


Itu benar-benar membuat Daniel bingung.


Ketika mau pulang, Revi yang gemuk dan menggemaskan itu berlari ke arah Daniel, dia menatapnya sambil tersenyum.


Gadis kecil ini lucu dan menggemaskan sekali, dia tidak pernah mengira jika Ariana bisa melahirkan putri yang begitu cantik. Dan lucu sekali. Daniel sebenarnya menyukai Revi.


"Ada apa?" Daniel bertanya dengan membalas tatapannya.


"Aku .., aku ...."

__ADS_1


"Katakanlah, kau mau mengatakan apa?"


Daniel tidak jijik dengan Revi, nada bicaranya juga sangat lembut. Mata besarnya yang seperti anggur itu berputar sejenak.


"Aku mau kue-kue itu? Apakah aku boleh memintanya kepadamu? Dengan kau yang sangat kaya raya ini, apakah akan merasa dirugikan?"


Revi berkata dengan melintir ujung bajunya. Dia takut Daniel akan menolak keinginannya itu.


Daniel tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan lembut.


"Kau boleh mengambil apapun yang kau mau."


"Apapun?" Mata Revi membola.


"Ya." Jawab Daniel dengan yakin.


"Tapi ...."


Revi terlihat bingung.


"Kenapa?"


Revi mengangkat sepuluh jarinya yang gemuk dan mulai menghitungnya. Terlihat sangat lucu sekali. Revi membuat hati Daniel luluh.


"Kau boleh mengambil semuanya."


Mendengar itu Revi tertawa.


"Terimakasih." Refleks Revi memeluk Daniel dengan erat. Dan dia pun membalas pelukan Revi. Entah, Daniel merasa sangat senang di peluk dengan bocah ini. Ariana yang melihatnya dari kejauhan juga terlihat senang.


"Apakah kau bisa menghabiskan kue itu?" Tanya Daniel setelah melakukan transaksi pembayaran.


"Tidak. Aku akan membagikan kue itu kepada semua orang yang ada di rumah untuk memakannya."


Daniel tak menyangka Revi yang masih kecil itu mengerti arti apa itu berbagi. Dia benar-benar menyukai sikap gadis kecil ini.


Sesampainya di rumah. Revi membagikan kue-kue itu kepada setiap orang yang ada di rumah. Setiap orang mendapatkan bagian masing-masing.


"Ambillah, ambillah."


"Ini ..."


Para pelayan saling pandang, dan mereka merasa tidak nyaman di perlakukan seperti ini.

__ADS_1


"Ambillah." Daniel memberi peringatan kepada mereka untuk menerima pemberian Revi.


"Terimakasih, terimakasih." Semuanya terlihat sangat senang. Dan pelayan itu pun berharap Tuan Daniel akan mendapatkan putri secantik Revi.


__ADS_2