
Daniel masih memikirkan Kenzie. Juka ternyata memang ada masalah mental padanya, maka lebih baik mencari perawatan medis sejak dini.
Tapi jika masalah ini ada hubungannya dengan wanita itu, maka dia akan membuat perhitungan dengannya!
Pagi harinya
Setelah sarapan, Daniel masuk ke ruang tamu, dan duduk di kakinya di lipat dengan elegan. Dia terlihat serius membaca dokumen yang ada di tangannya.
Tiba-tiba kepala pelayan rumah tangga itu berseru: "Dokter Messa, silahkan masuk!"
Kata-kata pelayan itu menarik perhatian Daniel, dia mengangkat kepalanya dan melihat Ariana masuk ke ruang tamu mengikuti pelayan rumah tangga.
"Hallo pak Daniel, kita bertemu lagi."
Ariana tau, bahwa pertemuan hari ini tidak akan menyenangkan. Tetapi dia kan di minta oleh Mahesa dan juga Maira untuk bekerja di sini. Dengan alasan ini sudah cukup baginya untuk datang dan berdiri di sini hari ini.
Daniel menatapnya dengan tidak senang.
"Siapa yang membiarkannya masuk?"
"Itu perintah bapak dan Nyonya!"
Papa dan Mama?
"Untuk apa mereka menyuruh wanita bodoh ini kesini?"
Ariana menghela napasnya. Dia juga tidak ingin membuat keributan di sini, meski harus mendengarkan kata-kata pedas dari Daniel.
"Saya kesini di pekerjakan oleh ibu Maira untuk menjadi pengasuh dan merawat Kenzie!"
Daniel tiba-tiba berdiri. Dia menatap Ariana seperti musuh terberatnya, dia sudah merasakan bahwa wanita ini adalah orang yang sangat berbahaya.
Dia sudah menduga apa artinya dia datang ke rumah orang tuanya kemarin itu dan berpura-pura melakukan pengobatan akupuntur kepada ibunya. Itu pasti bukan hanya kebetulan. Jadi inilah tujuannya yang sebenarnya.
"Memperalat Kenzie untuk menyenangkan ibu ku, kemudian melalui ibuku untuk mendekati Kenzie, kau benar-benar pintar memainkan taktik mu!" Daniel tersenyum sinis.
Ariana mengernyitkan keningnya, pernyataan ini tidak adil baginya, dan tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya sejak dari awal.
"Tidak, aku juga tidak menyangka ibu Maira ajan memintaku untuk merawat Kenzie, hanya karena dia melihat Kenzie menyukai ku."
__ADS_1
"Ya. kau pergi menemuinya dan sengaja memperlihatkan agar dia tau kalau Kenzie menyukai mu?"
"Aku ...."
Saat ingin berkata, Ariana merasa tidak ada gunanya untuk menjelaskan panjang lebar kepada orang yang tidak pernah mempercayainya sana sekali.
Biarkan saja dia menebak!
Kalaupun dia menjelaskan dan mengatakan yang sebenarnya, dia pun tidak akan pernah mempercayainya!
"Tidak bisa berkata lagi? Keluar!"
Kepala pelayan rumah tangga itu sedang memperhatikan dan ketika dia mendengar Daniel mengusirnya, dua segera menambahkan kata-katanya.
"Tuan, dia adalah orang yang sengaja di telpon oleh bapak dan Nyonya untuk kemari!"
Daniel semakin kesal mendengar ucapan pelayan rumah tangga itu. Dia mengambil ponselnya dan menelpon Maira.
Baru saja telpon tersambung Daniel langsung mendengar kata-kata Maira: "Kau cari wanita secara acak untuk kau nikahi, atau kau biarkan dokter Messa merawat Kenzie selama dua bulan, kau mau pilih yang mana!"
"Aku sudah katakan, aku tidak perlu menikah!"
Daniel tau persis bagaimana Sela memperlakukan Kenzie. Jika dia menikah dengan Sela, apa yang akan di lakukan Sela dengan Kenzie untuk selanjutnya.
Daniel memikirkannya berulang kali, kemudian dia tiba-tiba menyetujuinya Dengan keputusan saat ini, dia tersenyum jahat.
Dengan keputusan ini, dia akan mencari cara membuat Ariana, si wanita bodoh itu akan tidak tahan dan mundur dengan sendirinya.
"Luar biasa sekali!" Daniel berkata seperti itu setelah menutup telponnya.
Saat itu Kenzie keluar dari dalam kamarnya, dan melihat Ariana dia merasa sangat bahagia. Kenzie berjalan ke arahnya dan menegang tangan Ariana. Dengan senyum yang mereka indah: "Apakah kau bisa membuat pizza?"
Ariana mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja dia bisa membuatnya, karena Revi anak perempuannya yang kecil paling suka makan.
"Kau mau ku buatkan pizza rasa apa?"
"Aku mau pizza rasa daging sapi dan keju."
Ariana melirik Daniel sejenak.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuatkan mu sekarang juga ya."
Setelah itu mereka berjalan ke dapur dengan mengobrol.
Daniel yang berdiri di belakang merasa jengkel dan memasang wajah yang masam, ingin marah, ingin sekali menghukum dan membuat wanita itu meringis tak berdaya. Tapi ..., dadanya mendidih seperti air panas melihat keakraban Kenzie dan Ariana.
Tadi malam Kenzie hanya menjawab perkataannya dengan beberapa kata saja, tetapi hari ini dia cukup berbicara banyak dengan Ariana dan bahkan memintanya untuk membuatkan pizza. Daniel benar-benar kesal di buatnya.
Papa yang sudah membesarkannya selama ini, benar-benar tidak bisa di bandingkan dengan seorang Mama, yang hanya di kenalnya beberapa hari.
"Ariana jangan harap kau akan menjadi mamanya Kenzie!"
Melihat Daniel yang bergumam dengan kesal, pelayan rumah tangga mengingatkannya: "Tuan, sudah waktunya untuk anda berangkat ke kantor."
Daniel menjawab dengan dingin, dan berjalan menuju ke luar. Baru beberapa langkah, dia mengingat sesuatu dan berhenti, menatap pelayan rumah tangga itu dan mengingatnya: "Awasi wanita itu, aku ingin tau setiap tingkah lakunya!"
Tepat ketika dia hendak melangkah lagi, Daniel menambahkan beberapa kalimat lagi: "Akan lebih baik lagi, jika kau bisa memasang CCTV di badan wanita itu, agar bisa mengawasinya setiap saat."
Ekspresi wajah pelayan rumah tangga itu langsung berubah.
"Tuan, anda bisa menyalahkan kamera CCTV di rumah ini. Bukankah tidak sopan jika harus memasang kamera CCTV di badan dokter Messa? Itu melanggar privasi orang lain, dan itu merupakan pelanggan hukum!"
"Nyalakan semua kamera CCTV di setiap penjuru ruangan. Lalu pastikan semua area yang tidak terpantau oleh kamera CCTV, dan cari seseorang untuk memasang di area itu."
Apakah perlu protektifnya untuk mengawasi seorang perempuan?
Kepala pelayan rumah tangga itu tidak berani berkata apa-apa lagi kecuali mengangguk dan melakukan tugasnya.
"Pizza sudah mateng!" Ariana berseru setelah mengangkat pizza buatannya dan meletakkannya di atas meja.
Kenzie duduk dengan posisi tegap, memandang pizza yang baru saja Ariana letakkan di atas meja, matanya berbinar-binar tidak tahan lagi untuk memakannya. Lalu tangannya terulur mengambil pizza dan menggigitnya, rasanya benar-benar enak, bahkan lebih enak dari yang di jual di toko.
Ariana menatap Kenzie memakannya dengan lahap, bibirnya tersenyum memandang putranya.
"Bagaimana? Enak ngk?"
Ariana bertanya saat mulut Kenzie masih dalam keadaan penuh. Bocah itu bergumam serta mengacungkan jari jempolnya kearah Ariana, mulutnya tidak bisa bicara karena penuh dengan pizza.
Ariana sangat senang, matanya berbinar-binar bahagia melihat Kenzie menyukai masakannya.
__ADS_1