Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
126


__ADS_3

Revi memasukkan udang goreng kedalam mulutnya dan berkata menatap Reva.


"Tidak, aku pikir dia adalah bajingan baik, dan hanya bajingan baik yang suka di ganggu oleh orang jahat." Revi berkata dengan mulutnya yang penuh.


Daniel menghela napas. Meski kata-kata bajingan baik itu tidak terdengar bagus, tetapi gadis kecil itu sepertinya mempunyai kesan yang baik terhadap Daniel, dan dia benar-benar membelanya.


"Revi, kau sudah dihasut oleh gula yang berlapis racun! Dia adalah orang jahat, ingat ketika dia mengganggu dan menyakiti Mama, juga kita semua ditindasnya!" Reva berkata sangat marah.


"Kedepannya dia akan berubah, dan tidak akan menindas Mama lagi."


"Memangnya kau tau? Seorang bajingan seperti dia ...."


"Bajingan baik, dia adalah bajingan baik!"


"Kau penghianat, kau ingin menghianati Mama dengan membela orang jahat?"


Keduanya terlihat bertengkar dan berteriak dengan keras kepala.


"Aku tidak ..."


Deffan datang dan menghentikan pertengkaran mereka.


"Kalian jangan bertengkar seperti ini, kita tidak membahas ini, pikirkan saja bagaimana cara mengusir waniat yang sudah menyakiti Kenzie."


Seketika mereka terdiam. Dan Reva tiba-tiba berbicara: "Berikan dua tamparan keras kepadanya!"


"Wah, Reva, kau sangat kejam!"


"Kita masih kecil tak dapat mengalahkannya."


"Oke begini saja." Reva tiba-tiba memberikan ide, mereka tampak berbisik-bisik. Daniel tak dapat mendengarnya lagi. Reva, anak yang kurus itu, ternyata masih mau memberikan ide kepada mereka. Dan jelas saja kali ini adalah Reva yang memimpin.


Satu-satunya hal yang dapat dipastikan adalah, Sela akan di kerjain habis-habisan. Dia ingat ketika kedua gadis itu menyiram dan menyemprotkan mesin penyedot debu kepadanya. Dan itu adalah pasto ide darinya. Daniel berpikir lain kali dia akan bertanya kepada Reva, kenapa dia begitu membencinya.


Sejak pertama dia melihat Reva, gadis itu sudah menunjukkan kebencian yang mendalam terhadapnya.


"Kita siap-siap bereaksi!" Kalimat itu keluar dari mulut kecil Kenzie. Perintah ini menunjukkan bahwa mereka akan segera keluar. Daniel pun cepat-cepat pergi dan hendak berjalan ke ruang kerjanya.


Baru saja dia melangkahkan kakinya, dia melihat Ariana yang tengah menatapnya dengan tangan menyilang di dada.


Tatapan yang aneh itu membuat Daniel tidak nyaman.


"Ada apa?" Ucapnya ketus sekali.


"Seorang CEO perusahaan multinasional ternyata punya kebiasaan buruk untuk menguping pembicaraan orang lain."


Ha ... Apakah wanita ini melihatnya sejak tadi?


Paras wajah Daniel langsung berubah, dan dia langsung menghindari tatapan mengejeknya itu.


"Ini rumah ku, apa hubungannya dengan mu."

__ADS_1


Setelah berbicara Daniel langsung melangkahkan kakinya masuk keruang kerjanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan wanita dari bawah.


Itu adalah suara Sela.


Apa yang di lakukan keempat anak ini hingga membuat Sela berteriak seperti itu? Ariana yang tidak tau dan penasaran, dia segera turun dengan tergesa-gesa.


Daniel yang mendengar juga keluar dari ruang kerjanya, dan melihat Ariana berlari ke bawah begitu cepat.


Ketika dia sampai di bawah, dia melihat Sela yang menutupi kepalanya dan badannya gemetar ketakutan.


Di sampingnya terlihat seekor ular.


Ariana sangat terkejut. Dia melihat ular itu dengan teliti, dan setelah dekat, dia baru menyadari bahwa ular itu terlihat aneh dan familiar.


Ular itu benar-benar terlalu realistis dan sisik di tubuhnya pun terlihat nyata seperti ular hidup. Reva sengaja menggambarnya dengan bagus. dengan kehebatan Reva itu tidak akan tau bahwa ular itu adalah palsu.


Ariana pernah memberi tau Reva waktu itu untuk tidak mengeluarkannya, jika orang melihatnya akan menakuti orang.


Tak di sangka Reva malah mengeluarkan ular mainan itu untuk menakut-nakuti Sela.


"Ular ini sebenarnya mau di rebus, tapi dia menyelinap keluar dari dapur. Aku akan menangkapnya sekarang untuk di rebus!" Reva berjalan kearah Sela. Dan Sela masih gemetar ketakutan, wajahnya pucat sekali.


"Tante, jangan khwatir, jangan takut ya. Itu akan di rebus, sebentar lagi kau bisa meminum darahnya atau Tante mau sup nya saja? Kau juga boleh memakan dagingnya nanti."


Mendengar kata-kata ini Sela semakin takut dan menutup wajahnya.


Sela tak berani bergerak, giginya terkunci rapat. Dia juga tidak berani menatapnya sambil memegangi kepalanya, dia juga tidak berani menarik napasnya, sampai Reva membawa ular itu pergi.


Belum sempat bernapas lega, Sela sudah di tertawakan oleh anak-anak itu dengan tertawa terbahak-bahak. Revi yang gemuk berjalan kearahnya dengan gayanya yang menggemaskan.


Sementara Sela yang belum pulih dari kepanikannya itu tiba-tiba tangannya di genggaman oleh tangan kecil yang gemuk. Dan seketika dia menjadi panik lagi.


Dia mengangkat kepalanya dan menatap Revi dengan waspada.


"Tante jangan takut."


Revi menatapnya dengan tersenyum.


Sela merasa senyuman anak-anak ini seakan membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi kemudian dia berpikir, bahwa dia hanya seorang anak kecil, apa yang bisa ia lakukan padanya?


Bibir merah Sela melengkung sedikit dan mengeluarkan sebuah senyuman terpaksa.


"Aku baik-baik saja." Sela menarik tangannya dari genggaman tangan Revi.


Revi mengeluarkan sebungkus Oreo dari sakunya dan memberikannya kepada Sela.


"Tante, aku mentraktir mu makanan biskuit agar kau tidak ketakutan lagi." ucapnya begitu mengemaskan.


"Tante tidak mau makan!"

__ADS_1


Sela melirik biskuit di tangannya dengan jijik. Dia yang sudah dewasa seperti ini masih saja di suruh makan biskuit? Dasar anak-anak liar.


Revi merasakan penolakan Sela adalah sebuah penghinaan yang besar, dia menatap Sela dengan marah dan juga menoleh kepada Reva.


"Reva, Tante ini tidak mau makan biskuit, dia hanya mau makan daging ular dan juga sup ular beserta darahnya. Cepat pergi dan bawakan untuknya!"


Mendengar itu Sela kembali berteriak.


"Tidak! Aku tidak mau makan ular aku ..."


"Makan biskuit ini jika kau tidak mau makan ular!" Revi dengan keras kepala menyerahkan biskuit itu padanya. "Ini ambillah!"


Sela dengan terpaksa mengambil biskuit itu dari tangan Revi dan merobek bungkusnya. Dia mengambil biskuit itu dan menggigitnya.


Detik berikutnya, Sela meludahkan biskuit itu dari dalam mulutnya. Dengan teliti Sela melihat kemasan biskuit itu. Mengapa rasanya seperti ini?


Dia menoleh untuk melihat Revi yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan kepalanya yang tertunduk. Tidak perlu di pikir lagi, ini sudah di pastikan ulah gadis ini!


"Makanan apa yang kau berikan kepada ku?"


"Biskuit!"


"Kenapa rasanya seperti ini?"


"Aku memakan krimnya dan menggantinya dengan pasta gigi. Biskuit pasta gigi ya rasanya memang seperti ini."


"Kau!"


Sela marah sekali dan menatap Revi dengan jengkel. Dia melihat sekeliling mencari air untuk berkumur-kumur.


Secara kebetulan Deffan datang dengan dua cangkir minum di tangannya.


Dia menyimpan gelas transparan itu untuk dirinya sendiri dan menyerahkan gelas Coca-Cola kepada Sela.


Sela menautkan kedua alisnya, anak ini tidak mungkin sebaik ini kepadanya.


Pikiran Sela: Pasti anak ini mengerjainya lagi, memberikan minuman untuk dirinya dengan menambahkan kecap atau semacam lainnya, pasti begitu.


Bocah nakal ini masih mau membohonginya?


"Berikan aku secangkir air putih itu saja!" Sela menunjuk gelas air yang tadi di simpan Deffan untuknya.


"Ini punyaku, anak-anak tidak boleh meminum minuman berkarbonasi, Tate kau saja yang meminum ini."


.


.


.


Apa lagi yang di lakukan bocah itu? Nantikan di bab selanjutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2