Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
34


__ADS_3

"Kenzie, kau mau kemana?"


Ariana panik dan cemas, kalau-kalau anak itu marah dan pergi meninggalkannya, dia tidak ingin kejadian seperti penculikan terjadi lagi.


Kenzie menoleh dan menatapnya dengan wajah yang masam dan kesal.


"Aku mau membeli sepatu untukmu!"


Kemudian berbalik arah dengan sombong.


"Kenzie, apakah kamu punya uang? Hey Ken...."


Anak itu bahkan tidak menghiraukan panggilan Ariana sama sekali.


"Aku sudah mengatakan, kalu anak mu keras kepala, seperti pangeran kecil saja."


Ariana tersenyum. Ya memang dia pangeran kecil dari keluarga pengusaha grub Mahesa.


Kaki Ariana sudah selesai di perban, dan dia memakai sepatu yang di belikan Kenzie, dan berjalan dengan hati-hati.


Melihat Ariana kesulitan dalam berjalan, Kenzie segera menelpon supir untuk mengantar mereka kembali.


Setelah sampai di rumah, Ariana memberitahukan kalau penukaran Kenzie dan Deffan akan di lanjutkan beberapa hari kemudian.


"Kenzie, kau tinggal bersama ku dulu untuk beberapa hari, agar aku mudah untuk merawat mu, dan aku tidak perlu datang kerumah mu lagi."


Ariana menatap kain kasa tebal yang membalut lukanya.


"Ini benar-benar merepotkan aku untuk kesana setiap hari, bagaimana menurutmu?"


Kenzie terlihat ragu-ragu, meski tidak masalah dengannya, tapi harus mengatakannya terlebih dahulu pada Daniel.


"Tanyakan pada papa!"


"Kenzie setuju?"


Ariana terlihat senang. "Jangan khwatir, aku akan menelpon papa mu terlebih dahulu, dia pasti akan mengizinkan."


Ariana meminta nomor ponsel Daniel pada Kenzie. Dan segera menelponnya.


Daniel yang baru saja keluar dari konferensi, tiba-tiba ponselnya berdering dengan ID pemanggil yang tidak di kenal. Daniel langsung mengangkatnya.


"Ya, siapa ini?"


"Pak Daniel, ini aku dokter Messa. Aku hanya ingin mengatakan, kalau dalam beberapa hari ini aku tidak bisa datang untuk melakukan pengobatan akupuntur pada Kenzie, untuk pola makannya harus tetap di perhatikan, dan ...."


"Tidak, penyakit Kenzie tidak bisa di tunda,"


"Pak Daniel, ini bukan penundaan, tubuh Kenzie tidak akan terpengaruh." Ariana melirik Kenzie yang ada di sebelahnya.


"Aku benar-benar tidak bisa datang."


"Kenapa kau tidak bisa datang?"


"Aku .., aku terluka dan sulit untuk berjalan?"


"Oh ..., kenapa kau tidak mati saja sekalian!"


"Mati ..., pak Daniel, apa yang kau katakan?"


Terdengar Daniel tersenyum sinis di seberang telepon.


"Kalau kau belum mati, maka kau harus datang tepat waktu, jika tidak, maka aku akan memanggil keluarga ku untuk menjemput dan menggendong mu."


"Kau ..., kau ...."


Tut ...,tut ..., tut ....


Tiba-tiba telpon di putuskan secara sepihak oleh Daniel. Ariana punuh dengan amarah yang sagat membara.


Apa yang di katakan pria itu?


Kenapa kau tidak mati sekalian?


"Daniel, kau bajingan! Kamu saja yang mati sana! Benar-benar tidak punya otak brengsek!" Ariana memukul-mukul setir mobilnya.

__ADS_1


"Jangan marahi Papa ku!"


"Aku ...." Ariana melirik Kenzie yang duduk di sampingnya dan menatapnya dengan serius. Dia mirip sekali dengan Daniel.


Ah ..., dalam emosi pun tidak boleh di lampiaskan! Benar-benar ....


"Aku pasti berhutang budi pada leluhur mu di zaman dahulu." Dia merendahkan suaranya, dan bergumam dengan giginya yang rapat.


"Kau bicara apa?" Kenzie bertanya serta menatapnya.


"Aku ..., aku bilang kau pergi dan segera bertukar posisi dengan Deffan, besok pagi aku akan datang untuk merawat mu."


Kenzie melihat Arian yang tampak menyedihkan, dia hanya bisa menghela napas. Papanya sudah keterlaluan.


Saat malam tiba, Kenzie memanfaatkan waktu malam yang berkabut untuk pulang ke rumah mewahnya sendiri.


"Deffan," Kenzie memanggil dan mengetuk kaca jendela itu dengan lembut.


Deffan yang mendengar, buru-buru ia membuka kaca jendela untuk Kenzie.


"Akhirnya kau kembali juga."


Kenzie segera melompat dan masuk.


"Apakah kau bahagia hari ini?" Deffan bertanya lagi.


Tidak tau bahagia atau tidak, yang jelas, ketika dia memikirkan keseruannya ketika dia dan dokter Messa melawan penjahat, baginya itu sangat mendebarkan dan mengasyikkan.


"Boleh juga, apakah kau baik-baik saja di sini?"


Kenzie balik bertanya.


"Tentu saja,"


Sembari berkata, Deffan menyerahkan sebuah kartu Bank yang di berikan oleh neneknya kepada Kenzie.


"Aku berkunjung ke rumah kakek dan nenek hari ini, dan kami makan besar di sana. Aku membawa makanan sebagian untuk adik-adik ku di rumah, apakah itu tidak apa-apa? Dan uang ini di berikan oleh nenek untuk mu."


"Aku tidak mau."


Kenzie menolak tangan Deffan yang menyodorkan kartu itu.


"Tidak mau, bawa pergi."


Kenzie bahkan tidak mau melihatnya.


Deffan ragu-ragu. Baiklah, nenek Kenzie juga adalah neneknya, dan dia memberikan pafa cucunya. Jika Kenzie tidak mau, maka dia akan mengambilnya, dan seharusnya tidak apa-apa.


Dengan hati-hati Deffan memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


Kenzie mengangguk, Deffan segera mengambil makanan yang sudah ia siapkan tadi, ia memegang tas besar di tangannya dan membawanya dengan sedikit terhuyung-huyung dan berjuang untuk pergi keluar, melompat seperti yang di lakukan Kenzie barusan.


Sampai di rumah


Deffan berteriak dengan gembira pada adik-adiknya.


"Cepat datanglah dan makanlah."


Revi yang sedang menulis, tiba-tiba mendengar suara makan, dia langsung membuang pensil dan berlari ke ruang tamu.


"Revi, aku tau, kau pasti yang pertama tiba," Deffan tertawa kecil melihat adiknya yang satu ini.


Revi yang melihat makanan yang di atas meja dengan matanya yang berbinar.


"Deffan, semua ini apa?" tanyanya begitu antusias.


"Ini semua adalah makanan yang belum pernah kau makan sebelumnya. Mana Mama dan Reva?" Deffan mengedarkan pandangannya kemudian ke pintu kamar yang masih tertutup.


"Mama ada di kamar, dan Reva dia tidak mau makan."


Kata-kata Revi yang terdengar oleh Reva saat dia memasuki ruang tamu. Dia menatap Revi dengan kecewa, lalu bertanya padanya: "Siapa bilang aku tidak mau makan?"


Revi mengangkat wajahnya dan menatap Reva.

__ADS_1


"Kau kan bilang ingin menjadi peri, dan peri hanya meminum embun!"


"Kau saja yang minum embun!"


"Aku tidak ingin menjadi peri, peri itu hanya minum embun! we ..., malu we ...!"


"Kau ..., kau makan saja terus, nanti tubuhmu akan menjadi babi, we ..., malu we ...."


Reva yang biasanya selalu memenangkan pertengkaran mereka, dia tidak menyangka Revi semakin pintar berdebat dengannya, wajahnya memerah karena marah.


"Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi, makanan ini banyak, cukup untuk kalian semua. Mana Mama? Pergi dan panggil Mama untuk makan bersama."


Setelah berbicara, Deffan mau beranjak pergi ke dapur untuk mengambil beberapa piring.


"Deffan, aku akan mengambil piring ke dapur, kau temui Mama di kamar, dia terluka."


Terluka?


Deffan menoleh dan menatap Reva.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa Mama bisa terluka?"


Reva menunjuk je arah kamar Mama. "Kau lihat saja sendiri."


Deffan berjalan menuju kamar Mamanya. Deffan melihat Mama yang sedang bersandar di tempat tidur.


"Mama, bagaimana keadaan mu? Kenapa bisa terluka?"


Deffan bertanya dengan rasa khwatir.


Ariana segera menceritakan kejadian dari awal sampai akhir.


Deffan menghela nafasnya setelah mengetahui alasan kenapa Mama bisa terluka.


"Belum juga satu hari aku tidak ada di sisi mu. Orang dewasa kenapa tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik." Deffan terlihat sedih melihat keadaan kaki mamanya yang di perban.


"Waktu itu sangat berbahaya sekali."


"Jadi mama seperti ini hanya berusaha menyelamatkan Kenzie?" Deffan bergumam dalam hatinya.


"Apakah masih sakit?" Deffan bertanya sambil melihat kaki mamanya.


"Tidak apa-apa, tidak sakit lagi."


Tiba-tiba pintu didorong dari luar, dan Reva segera masuk dengan kepiting besar di tangannya.


"Mama makanlah."


Reva meletakkan piring kepiting itu di hadapan Ariana.


"Reva, kau dapat dari mana?"


"Deffan yang membawanya," ujar Reva.


Ariana menatap Deffan.


Apakah ini dari rumah Daniel?


Dengan pikirannya seperti itu, bahwa makanan itu dari rumah Daniel. Ariana marah dan menolak tidak mau makan.


"Ma, bukankah kau paling suka dengan kepiting yang besar seperti ini?" Deffan bertanya dengan mata polosnya.


Ya memang! Tetapi aku tidak mau makan, makanan dari rumah Daniel. Teringat apa yang di lakukan Pria bajingan itu, Ariana emosi dan marah.


"Mama lagi tidak mau makan sekarang, tidak lapar, kalian saja yang makan."


Tapi saat tengah malam tiba, perut Ariana meronta-ronta minta di isi. Akhirnya ia memakan makanan yang masih tersisa yang di bawa Deffan dari rumah Daniel.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


author sudah update ya.


hayo mana dukungannya


__ADS_2