Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
121


__ADS_3

Saat Ariana memegangi kepalanya yang sakit atas ocehan Daniel yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali itu, tiba-tiba sepasang suami istri melewati mereka, mereka berhenti di pintu ruang operasi, dengan cemas wanita itu menangis dengan sedih.


"Anakku, maafkan Mama, Mama tidak menjaga mu dengan baik, semua kesalahan Mama, itu kesalahan ku ...." Tampak suaminya menghiburnya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi, itu bukan salah mu. Kita sama-sama berdoa agar anak kita selamat."


Ariana menatap kedua orang itu lalu kemudian melirik Daniel.


Daniel mengernyitkan keningnya, tapi situasinya berbeda! Mereka pasangan suami dan istri tetapi Daniel dan Ariana bukan!


"Kakak, kau lihat. Sikap nya begitu menyayangi istrinya, seharusnya kau juga melakukan itu terhadap istri mu!"


"Ya, itu sikap yang seharusnya aku lakukan kepada istriku, bukan terhadap orang yang sudah membahayakan orang lain!"


Seorang pembohong dan penipu dan di tambah lagi dengan membahayakan orang!


Ariana malas untuk memperdulikannya. Keputusan terakhirnya ada di tangan Deffan. Nanti biarkan Deffan saja yang memilih mau tinggal di dan ikut dengan siapa. Siapa bilang hanya Daniel saja yang dapat memutuskannya?


Ariana percaya bahwa Deffan akan lebih memilih untuk tinggal bersamanya.


Daniel memandang Ariana yang mondar-mandir. Matanya terlihat mencemaskan keadaan Deffan. Lalu dia pun mencibir.


Licik, dia pasti lebih menyayangi kedua putrinya itu! Dalam benak Daniel berpikir bahwa Ariana lebih menyayangi anaknya dari laki-laki itu dari pada menyayangi anak darinya.


Tiba-tiba ruang operasi terbuka lebar. Dengan penantian yang panjang, akhirnya Deffan keluar dari ruang operasi. Seorang anak di dorong keluar dengan perban melilit di kepala dan kakinya. Pasangan suami istri itu segera menghampiri anak yang lemah berbaring di brankar dan wanita itu kembali menangis ketika melihatnya.


"Anakku yang malang, lain kali jangan berlari seperti itu lagi ...."


Dokter mengambil formulir tanda-tangan orang tua dan memanggil namanya.


"Daniel Mahesa! Pak Daniel, operasi anak anda berjalan lancar dan sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa!"


Daniel berjalan dengan cepat, Ariana juga bergegas menghampiri brankar rumah sakit dimana anak itu berbaring, keduanya menatap anak yang berbaring lemah itu.


Ini ....


Dan seketika kedua pasangan suami istri itu mendongakkan kepalanya saat mendengar dokter memanggil nama orang tua anaknya dengan heran.


Tiba-tiba ponsel Ariana berdering, ternyata Reva yang menelponnya. Dia pun langsung mengangkatnya dengan cepat.


"Mama, kenapa belum pulang? Deffan sudah pulang ke rumah, Mama kapan pulang?"


"Deffan sudah pulang ke rumah?"

__ADS_1


Ariana melebarkan matanya dan menatap Daniel.


Daniel pun tercengang.


Tak lama kemudian, mereka mendengar pasangan suami istri itu berbicara dengan Daniel.


"Kau, mengapa kau menyamar menjadi orang tua anak kami?"


Daniel menjadi bengong, dan sepertinya sulit untuk berbicara. Dia sudah salah orang.


"Ya pak, ini adalah putra kami!"


Hah ....


Daniel kembali tercekat, dan menelan ludahnya begitu cepat.


Reko yang melihat kakaknya seperti itu, dia pun heran, dia tak pernah menyangka bahwa seorang Daniel bisa berbuat kesalahan seperti itu.


Melihat itu, Reko menarik kedua alisnya ke atas. Dia ingin menertawakan kakaknya itu sekarang juga, tapi itu tak berani dia lakukan. Tadi dengan marah dia menyalahkan Ariana dengan kejadian ini. Jika posisi Daniel adalah Ariana, maka Daniel pasti akan mencacinya lebih kejam lagi. Bagaimana dengan Daniel? Apakah dia sadar dengan kecerobohannya ini?


Ah.... Reko tak tahan untuk tidak tertawa. Saat dia melihat tatapan Daniel yang berkilat dingin, Reko segera menutup mulutnya, dan mengulum senyumannya di dalam.


Daniel yang membuatnya khwatir dari tadi, dia memandang Daniel dengan memutar bola matanya lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.


Daniel yang memang sudah merasa tidak enak hati dari tadi, dan di tambah dengan sindiran Ariana barusan membuat rahangnya terkatup dan wajahnya terlihat jengah.


"Ternyata Deffan baik-baik saja tetapi kau sejak tadi menyalahkan aku dan menyindirku tak henti. Pak Daniel, seharusnya kau meminta maaf kepada ku?"


"Apa? hahahaha, kau lucu sekali, bagaimana seorang Daniel meminta maaf kepada mu?"


Ariana terdiam, dia menatap Daniel kesal.


"Kau beruntung kali ini, Jika benar-benar terjadi dengan Deffan, aku tidak akan pernah melepaskan mu dengan mudah!"


Ariana tidak menghiraukannya, dia langsung berjalan dan keluar dari rumah sakit itu.


Sudah salah pun dia tetap tidak mau mengaku! Ariana benar-benar kesal dengan sikap Daniel itu.


Mereka segera pulang, dan Daniel juga pergi kerumah Ariana.


Setelah sampai, Ariana dengan cepat berlari melewati Daniel, dia tidak ingin Daniel yang lebih dulu menemui Deffan, akan tetapi dialah yang berhak.


Ketika dia melewati Daniel dan menatapnya, tanpa di duga hak sepatunya menginjak pecahan batu, dan dia pun hampir tergelincir kalua bukan Daniel segera menopang tubuhnya.

__ADS_1


Seketika jantung Ariana berdegup kencang, wangi parfumnya tercium sangat segar di hidung Ariana. Melihat wajahnya yang begitu tampan, Ariana tertegun.


Daniel mengerutkan keningnya ketika melihat Ariana yang seperti terpesona melihatnya itu. Pikiran yang tadinya untuk menyuruhnya meminta maaf baru saja muncul.


Tiba-tiba ....


Bukk ...


Ariana jatuh ke tanah.


"Au ...."


Suara Ariana merintih menahan sakit, Daniel ******gan ini sengaja melepaskannya, pinggang dan bokongnya sakit sekali.


Mendengar ketukan pintu, Revi segera membukanya, dia mengira itu adalah Mama. Ketika dia melihat Daniel yang berdiri, dia memutar matanya.


"Aku datang untuk bertemu dengan Deffan."


Revi terlihat ragu-ragu. Haruskah dia membiarkan dia masuk?


Tetapi saat Deffan di culik, dia juga ikut membantu. Jadi dia menyuruhnya masuk saja.


Daniel memandang Revi yang gemuk, kemudian tersenyum lembut.


"Paman mau menemui Deffan. Nanti setelah itu, paman akan membawa kalian pergi untuk makan yang enak-enak, oke?"


Mendengar makanan yang enak-enak, Revi langsung tersenyum, matanya berbinar-binar terang dia mengangguk dengan penuh semangat.


"Bukan Paman, terapi Papa."


Papa? Daniel mengerutkan keningnya. Putri yang di besarkan Ariana benar-benar mirip seperti dia. Begitu di tawari sesuatu yang dia suka, dia langsung merubah panggilannya menjadi Papa? Bukan Daniel jahat ataupun Daniel bajingan lagi.


"Anak pintar, Paman masuk ya." Daniel menyentuh rambut Revi dengan gemas.


Dengan sedih Revi mengangguk dan menggeser tubuhnya agar Daniel bisa masuk. Papa tidak ingin aku memanggilnya Papa, dia tetap saja menyebutnya Paman. Revi bergumam dalam hatinya, matanya yang besar berkaca-kaca.


Saat Daniel masuk, dia menatap Deffan yang sedang duduk di sofa, bermain dengan tabletnya. Anak ini benar-benar mirip dengan Kenzie. Tingginya sama, tak perlu melakukan tes DNA juga, dia sudah di pastikan bahwa Deffan adalah anak kandungnya.


Daniel berjalan kedepan dan menyentuh kepala Deffan. Deffan tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Daniel dengan heran.


Kenapa Papa tiba-tiba muncul?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2