Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
39


__ADS_3

Tok-tok-tok.....


Ketukan pintu tergesa-gesa seolah-olah ada sesuatu yang penting. Deffan segera bersembunyi, dan Kenzie segera membuka pintu.


"Kamu."


Reko mengernyitkan keningnya. jelas-jelas anak ini barusan menyuruhnya untuk membantunya mencari dokter Messa.


"Keponakan ku sayang, Paman tidak suka nada bicara mu dan matamu itu, kenapa menatap Paman seperti musuh? Paman kan sedang membantu mu!"


Reko berdebat serius dengan Kenzie, sementara Kenzie mendengarnya dengan tidak sabar.


"Kalau begitu cepat katakan!"


Aduh, anak ini benar-benar sombong sekali.


"Panggil Paman. Panggil Paman maka aku akan memberi tahu mu!" Reko menyilang tangannya di dada.


"Tunggu sebentar!"


Setelah berbicara, Kenzie membanting pintu hingga tertutup.


Reko tertegun.


Wow, apa-apaan ini!


Reko yang berdiri di depan pintu masih tertegun.


"Kau. Bocah itu tega sekali!"


Reko menggebrak pintu dua kali dengan marah dan berkata: "Jangan harap Paman mu akan membantu mu lagi!"


Reko memutar badannya hendak melangkah meninggalkan kamar Kenzie. Baru saja mau melangkah, pintu di belakangnya sudah terbuka lagi.


Deffan langsung berjalan di depannya dan menatapnya dengan tersenyum, matanya berkedip-kedip lucu, hingga semua orang yang menatapnya tidak tahan ingin tersenyum.


Mata Reko membulat, menatap Kenzie dengan kejutan yang tidak bisa di tahan. Apa yang terjadi dengannya?


Tadi seperti sedang bermusuhan, tapi sekarang ....


Wajah dingin itu tiba-tiba mencair dan hangat seperti musim semi.


Ya ampun, anak ini terlalu cepat merubah sikap dan ekspresinya!


"Paman, dimana dokter Messa?" Setelah bertanya, dia ingin berinisiatif untuk meraih tangannya dan bertingkah manja. Tapi ..., Reko menatapnya dengan marah.


"Kenapa kau membanting pintu barusan?"


Em .....


Yang membanting pintu itu Kenzie bukan aku. Kenzie tidak ingin memanggilnya Paman dan bicara dengannya. Kenzie menutup pintu utuk bertukar posisi dengan ku. Tapi alasan ini tidak boleh di ketahui Paman.


"Aku, aku tadi ...." Deffan bingung, tidak tau harus berkata apa. Alasan apa yang harus dia katakan?


"Bagaimana menurutmu Paman?"


"Aku!" Reko menunjuk dirinya sendiri dan menatapnya heran.


"Kau yang membanting pintu, lalu kenapa kau bertanya pada ku?"


"Karena. Karena tadi, aku seperti melihat bayangan papa turun, aku takut akan ketahuan, maka dari itu aku langsung membanting pintu."


"Benarkah?" Tapi kenapa Reko tidak melihatnya!


"Ya." Deffan menggaruk kepala kecilnya yang tidak pernah gatal itu.


"Paman, cepat katakan pada ku, di mana dokter Messa?"


Reko kembali tertegun, dia merasa ada yang tidak beres.


"Oke, oke. Aku akan memberi tahu mu ...."


Reko mengatakan di mana dokter Messa berada, dia menjelaskannya sedetail mungkin.

__ADS_1


"Apa kata mu?"


Deffan dengan tidak sabar mendengar apa yang di katakan Pamannya barusan, bahwa mamanya berada di tengah-tengah kolam yang curam, dan di atasnya terdapat bebatuan yang tajam, yang akan menyakiti mamanya.


Papa jahat sekali, dia benar-benar memberi hukuman sadis pada mamanya.


"Hey, dia pasti tidak akan bisa turun sendirian, papamu itu benar-benar luar biasa mendapatkan ide seperti itu!" Reko menghela nafas.


Deffan memikirkan apa yang harus di lakukan untuk membantu mamanya turun dari sana.


Ketika itu, dia mendengar kepala pengurus rumah tangga memanggil mereka untuk makan.


Mata Reko langsung berbinar. Omong-omong tadi saudaranya menyuruhnya untuk mengatakan pada pelayan rumah tangga untuk menyiapkan makanan yang enak untuknya. Ini kesempatan yang tidak boleh di lewatkan.


Reko menarik tangan Kenzie.


"Ayo kita makan!" Serunya dengan semangat.


"Sudah waktunya makan malam."


Daniel yang sudah duduk di kursi utama, menyuruh mereka untuk segera makan.


Reko yang duduk di sebelahnya berharap dan menunggu. "Saudaraku, makanan apa yang kau siapkan untuk ku?"


"Seafood."


"Seafood, kepiting besar, sirip ikan hiu, teripang, abalon ...," dia sangat bersemangat hanya dengan memikirkannya saja, dia langsung berbisik pada Deffan yang duduk di sebelahnya.


"Kamu sangat mujur."


Deffan menoleh dan melihat papanya yang sedang tersenyum. Dia merasa di balik senyuman papanya itu ada sesuatu yang dia sembunyikan.


"Tuan muda kedua, silahkan di nikmati!"


"Apa ini?" Reko menatap makanan yang di letakkan di hadapannya, sambil melirik Daniel yang tersenyum kecil.


"Ini seafood rumput laut yang sangat segar," pelayan rumah tangga itu menjelaskan pada Reko.


"Ini ..., ini juga di bilang seafood?"


Daniel mengangguk, "makanlah, kalau tidak cukup, di dapur masih banyak."


Selesai makan, Reko terlihat sangat tidak senang. Kakaknya keterlaluan sekali. Tidak, dia akan mengadukannya kepada Papa dan Mama saat dia pulang nanti.


"Paman, Papa sedikit keterlaluan pada mu."


Reko mendengus kesal. "Bukan sedikit, tapi sangat keterlaluan!"


Mata jernih Deffan mengerjap-ngerjap.


"Bagaimana kalau kau membalas dendam dengan Papa? Dengan melampiaskan amarahnya mu?"


Jika Reko mau membantu, maka Mama akan mendapatkan bantuan, dia menaikkan kedua alis kecilnya.


"Bagaimana cara membalasnya?" Reko mengernyit heran.


Deffan berbisik di telinganya: "....."


Setelah mendengar ini, Reko terkejut.


"Kenzie, kenapa kau mau Paman membalaskan dendam pada papa mu sendiri? Kau ingin Paman menentang papamu, tetapi Paman tidak berani,"


Deffan memutar-mutar bola matanya.


"Kalu seperti itu, tetap saja papa yang paling hebat. Kau hanya akan selalu di kerjain oleh papa."


"Kau jangan memprovokasi aku, tidak ada gunanya memprovokasi aku."


Deffan meliriknya. "Aku tau itu tak berguna, kau memang tak becus ...."


Ha .....


Sekelompok burung elang seakan terbang di atas kepala Reko.

__ADS_1


Anak ini ..., berani sekali mengatainya tidak becus. Reko kesal dan marah.


"Kenzie! Kau ini keterlaluan sekali!"


Deffan melipat kedua tangannya, sambil memandang pamannya dengan bibir mencibir.


"Aku malu memanggil mu paman lagi. Kau terlalu pengecut! Aku tidak ingin bermain dengan mu!"


Setelah itu Kenzie berlari menuju kamarnya dengan marah.


Reko tidak bisa di andalkan, jadi dia harus mencari cara lain, dan mendiskusikan ini pada Kenzie.


Reko melihat punggung kecilnya dan tersenyum tak berdaya. Bocah cilik ini .....


Di dalam kamar


Deffan dan Kenzie termenung. Kemudian mereka saling pandang, dua wajah kecil yang identik itu penuh dengan kesedihan.


"Kita berdua terlalu kecil untuk menggendongnya. Mengapa kita tidak membawakannya sesuatu untuk dia makan atau pun minum!"


"Oke, aku akan pergi. Kau bersembunyi lah!" Desak Kenzie.


Deffan berpikir sejenak, lalu mengangguk. Dia tidak begitu hapal dengan rumah bagian belakang, jadi Kenzie yang akan pergi ke sana.


Kenzie diam-diam mengambil beberapa makanan dan minuman, kemudian menyelinap keluar dari pintu belakang. Kemudian pergi berlari menuju bebatuan yang ada di belakang rumahnya.


Kenzie sudah sampai di tepi bebatuan, tiba-tiba dia melihat Reko sedang berada di atas sana.


Apa yang dia bicarakan dengan dokter Messa?


Kenzie penasaran, dan ingin naik ke atas untuk melihatnya di sana. Dan baru beberapa langkah berjalan, dia mendapati Reko sudah menggendong dokter Messa, dan berjalan di atas bebatuan yang tajam itu.


Sejak kapan Reko menjadi begitu berani?


Kenzie memutar matanya dan bersembunyi dengan cepat.


Ketika Reko sudah sampai di bawah jalan kerikil itu, dia menurunkan dokter Messa dari gendongannya, terlihat dia berbicara sepatah dua kata, kemudian pergi dengan tergesa-gesa.


Kenzie keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Ariana. Dia menatap Ariana dari atas sampai bawah.


"Kau tidak apa-apa?"


"Kenzie."


"Hem ..., kenapa dia tidak membawamu kembali?"


"Mungkin dia takut ketahuan oleh papa kamu. Bisakah kau membantu ku untuk mencari sesuatu?"


Kenzie langsung mengangguk.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Author sudah update lagi ya


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


kalian wahai para pembaca:


Wajib likeβ˜‘οΈ


klik bintang lima di penilaian β˜‘οΈ


tap love β˜‘οΈ


vote setiap akhir pekan β˜‘οΈ

__ADS_1


komen jika ada kritik dan saranβ˜‘οΈ


dan jangan lupa follow akun author β˜‘οΈ


__ADS_2