
... 🌺 Like setelah membaca🌺...
...🌺Jangan lupa follow akun author 🌺...
❤️ VOTE ❤️
Tidak lama setelah Ariana meninggalkan kantor, ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat yang menelpon tidak ada nama pemanggilannya dia terlihat ragu-ragu untuk menerimanya.
"Halo, dengan siapa?"
"Nona Messa, ini aku. Mamanya Daniel."
"Nyonya, ada apa?"
"Aku sudah mendengar bahwa Daniel sengaja mempersulit mu. Mengapa kau tidak memberitahu ku, aku akan membantu mu!"
Ariana tersenyum di balik layar ponselnya.
"Tidak apa-apa Nyonya, aku sudah mengundurkan diri."
Maira terkejut.
"Mengundurkan diri? Bocah sialan itu! Kau jangan khwatir, aku akan memintanya untuk memohon pada mu untuk kembali bekerja!"
"Nyonya aku ...."
Tut ..., tut ..., tut ....
Telpon di tutup secara sepihak. Mama Daniel mempunyai emosi yang sangat besar. Tampaknya mudah marah. sebelum dia selesai bicara telpon sudah di tutupnya.
Meminta Daniel memohon kepadanya untuk kembali? Sepertinya mudah di ucapkan dari pada di lakukan.
Tapi Mama Daniel tau dari mana kalau Daniel mempersulitnya?
Tidak mungkin Daniel yang memberitahunya sendiri. Anak buahnya sendiri tidak mungkin menghianatinya.
Apakah ada seseorang yang juga tidak menyukainya?
Tetapi mereka juga tidak akan menggambil resiko untuk menyinggung Daniel dengan membelanya!
Ariana benar-benar tidak paham. Pikirannya berkecamuk dan berputar-putar.
Di sisi lain, Maira yang menutup telpon, dia menghela napasnya sambil menatap cucu sulungnya itu.
"Papa mu itu memang perlu di beri pelajaran."
"Nenek, kau harus membantuku membela untuk Nona Messa. Papa tidak hanya menghalangi dia merawat ku, tetapi juga membuatnya lembur di siang hari, Papa sengaja menindas nya."
Maira menatap Kenzie, "jangan khwatir, Nenek akan membuat perhitungan dengan papamu itu!"
"Terimakasih Nenek!" Dia memeluk kaki Maira sebentar, dan Maira mengelus kepala kecilnya.
Deffan sengaja pergi kerumah Maira pagi-pagi sekali, berpura-pura menjadi Kenzie dan mengeluh, dia datang ke sana hanya untuk membela mamanya.
Deffan tersenyum kepada Maira, hatinya sangat puas melihat Maira mau membantu membela mamanya. Sekarang waktunya dia untuk pergi ke sekolah menggantikan posisi Kenzie.
Dia sengaja menatap Maira dengan wajah sedih.
"Nenek, aku pergi ke sekolah dulu ya, sampai jumpa."
__ADS_1
"Biarkan pelayan yang mengantar mu ke taman kanak-kanak!"
Tadinya Deffan mau menolak, tetapi dia berpikir kalau dia mau ke sekolah Kenzie, jadi dia langsung menyetujuinya.
TK Bangsawan
Deffan turun dari mobil, dan cepat-cepat memberi tahu Kenzie kalau dia sudah sampai.
Kenzie melihat pesan dari Deffan, matanya berputar-putar mencari ide agar gurunya mengizinkan dia untuk keluar sebentar.
"Bu guru, bolehkah aku izin sebentar? Perut ku tiba-tiba sakit, aku mau ke toilet sebentar."
Bu guru menatap Kenzie.
"Pergilah."
Setelah kejadian waktu itu, yang menyebabkan Kenzie di pukul dan di bully, Deffan yang menyelamatkan Kenzie dengan menyamar sebagai Kenzie, karena dia, pihak sekolah tau kalau dia adalah anak yang berlatar belakang sultan dengan ayahnya yang di takuti dan disegani. Dengan kejadian itu, semua pihak guru maupun anak-anak lainnya memperlakukan Kenzie dengan baik sekarang.
Tetapi waktu itu Daniel ada instruksi khusus agar memperlakukan Kenzie seperti anak-anak yang lainnya. Jangan pilih kasih, dan juga jangan melihat latar belakang seseorang yang salah di benarkan dan yang benar di salahkan. Tidak ada sekolah yang elite seperti itu, semua anak-anak sama, tidak ada yang di beda-bedakan.
Meskipun begitu, Kenzie adalah pangeran di keluarga Mahesa group, perusahaan terbesar di kotanya. Setelah mengetahui siapa Kenzie, guru-guru memperlakukan Kenzie dengan baik, bahkan diam-diam mereka lebih peduli kepadanya dan menyukainya. Teman-temannya juga tidak berani lagi mengganggu Kenzie. Dia memiliki banyak teman sekarang.
Beberapa menit kemudian, Kenzie sudah kembali ke dalam kelasnya.
Melihat Kenzie masuk, guru kelas itu menghampirinya dengan rasa khwatir.
"Kenzie, apakah perutmu sudah lebih baik?"
Ha ..., perut?
Deffan tertegun sejenak, lalu mengangguk kepalanya dengan cepat.
"Bagus lah kalau begitu. Kalau masih sakit, nanti cepat-cepat beri tahu ibu guru, ya." Ucap bu guru itu. Kenzie mengangguk lagi.
Deffan tidak menyangka, sekarang Kenzie sudah begitu di perhatikan di sekolah, hatinya merasa senang.
Saat berkumpul bersama teman-temannya, dia terlihat mengobrol, bercanda dan bermain bersama, mereka sangat senang.
Kenzie yang biasanya banyak diam, tetapi hari ini dia terlihat sangat lincah dan ceria?
Guru kelas yang tadi menghawatirkan perutnya yang sakit, memantaunya dari jauh. Melihat Kenzie lebih ceria dan lincah dari sebelumnya, dia merasa sedikit aneh. Lalu guru itu malah lebih memperhatikannya lagi.
Di sisi lain.
Maira dengan emosi yang berapi-api datang ke perusahaan Mahesa grup. Dia mengenakan baju berwarna gelap. Rambutnya yang di tata dengan sanggul tinggi dan rapi, terlihat sangat elegan seperti ibu-ibu pada umumnya.
Semua karyawan di kantor yang melihatnya, menyapa dengan penuh hormat ke padanya.
Maira sudah tidak sempat untuk membalasnya, dia hanya melambaikan tangannya saja. Tujuannya adalah untuk memberi pelajaran kepada bos mereka yang tidak mau nurut itu.
Bam ....
Pintu ruangan kerjanya CEO terbuka dengan sangat kasar.
Daniel langsung mengangkat kepalanya dan terkesiap. Wajah langsung menggelap. Seseorang yang telah datang, membuka pintu dengan kasar dan mengejutkannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Daniel pasti akan membuat perhitungan kepada orang yang tidak tau sopan santun itu.
Tetapi saat melihat wajah Mama tersayang nya berdiri di depan pintu, wajah Daniel seketika berubah lagi, keningnya mengernyit saat melihat wajah cantik mamanya yang penuh dengan emosi.
"Mama, ada apa kesini?"
Daniel langsung berdiri menatap ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
Maira masuk, meletakkan tas jinjingnya di atas meja dengan asal.
"Menurut mu, kenapa aku datang ke sini?"
Daniel mengusap hidungnya. Tiba-tiba saja di dalam benaknya terlintas bayangan wajah Ariana yang sedang pura-pura bodoh itu. Daniel menggertakkan giginya.
Berpura-pura bodoh!
"Mama, kau datang untuk mengadakan rapat kah?"
Maira tertegun, menatap Daniel dengan ekspresi yang dia tidak mengerti apa yang di pikirkan mamanya itu. Bukankah rapat sudah di lakukan kemarin? Dan jadwal rapat lainnya masih lama.
Daniel biasanya sangat ketat mengatur jadwalnya. Bagaimana mungkin dia bisa salah mengingat tanggal jadwal rapat itu?
Maira menatap dengan seribu bahasa. Dia ini pura-pura bodoh? mencoba berakting, dia ini sedang .... Maira menyipitkan matanya kemudian mencubit pinggang putranya sedikit.
"Aww ...."
"Mari kita bermain-main anak ku!"
Daniel mengeluh, kulit pinggangnya seperti terpisah dari dagingnya, Maira mencubit sedikit saja, namun rasa itu begitu nyeri dan sakit sekali.
"Mama, kenapa mencubit ku? Kau ...."
"Kau mau melawan ku?" Maira melotot ke arah putranya. Dan Daniel menundukkan kepalanya tidak ingin menatap mata Maman.
"Mama, katakan untuk apa kau kemari." Daniel mendengus kesal sambil mengelus pinggangnya yang sakit, cubitan mamanya sudah pasti membekas di sana.
"Ya, aku mau mengadakan rapat, dan akan memeriksa apakah semua yang ikut rapat sudah hadir apa belum."
"Baiklah, aku juga akan ikut denganmu."
Setelah mengatakan itu, Maira bangkit dari duduknya, dan berjalan ke luar yang di ikuti oleh Daniel.
Daniel tertegun. Sepertinya tidak ada harapan untuk dirinya melarikan diri. Daniel segera mencari ide untuk membuat mamanya segera meninggalkan kantor.
"Mama, kau duduk saja ya."
Maira menatapnya.
"Mengapa? Kau tidak mau pergi lagi?"
"Aku akan meminta Liki saja yang melakukannya."
Maira mendengus, bibirnya tersenyum kecut.
"Lebih baik kau memintanya untuk menanyakan kabar nona Messa, bagaimana pekerjaannya? Apakah dia menemukan kesulitan?"
Ternyata Mama menanyakannya perempuan itu. Itu berarti, Mama datang kesini hanya untuk wanita sialan itu? Wanita itu pasti sudah mengadu ke pada mamanya.
Mata Daniel menyipit, wajahnya mulai berubah warna dan di dalam hatinya mulai terbakar emosi. Dia juga tidak mau berakting berpura-pura bodoh lagi.
"Dia sudah mengundurkan diri!"
"Alasannya?" Maira langsung bertanya pada intinya permasalahannya.
"Alasannya Mama tanyakan sendiri kepadanya."
Daniel menoleh untuk melihat mamanya sekilas.
🌺Like🌺
__ADS_1