Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
55


__ADS_3

Daniel menyipitkan matanya, dia seperti sedang menonton drama yang paling seru.


Guru ini hanyalah pekerja kantoran biasa, dia berdiri di sini karena status pekerjaannya. Hanya bekerja sebagai guru, dia berani mengatai dan mengancam seorang Daniel.


"Jika tidak, lalu bagaimana?" Guru itu seolah-olah meremehkan ucapan Daniel. Dia berkata dengan senyumnya yang mengandung arti tersembunyi.


Daniel tertawa begitu sinis.


"Ternyata nyali mu begitu berani juga ya. Bagaimana jika kau kehilangannya pekerjaan mu ini?" Daniel menatap marah, bahkan Aura nya begitu dingin dan mematikan. Guru itu mengernyit, segelintir ketakutan menyeruak di dalam tubuhnya. Namun itu tidak berlangsung lama. Bahkan dia berkata lebih dingin lagi dari Daniel.


"Tentu saja saya berani, disini saya sebagai guru yang berkualitas yang sudah di tetapkan untuk mendidik anak-anak yang terhormat. Saya memiliki bekingan, bagaimana mungkin anda mengatakan saya akan kehilangan pekerjaan ini!"


"Oh ya! Kalu begitu saya mau melihat berapa detik lagi waktu anda akan berdiri di sini! Bahkan saya akan membuat gedung ini rata menjadi tanah!"


Kata-kata Daniel membuat bu guru itu tidak tahan untuk menahan tawanya.


"Kau ..., yakin sekali? Silahkan lakukan!" Ucap guru itu penuh keyakinan.


Daniel segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang guru itu kira adalah kepala sekolah.


"Tidak ada gunanya kau menelpon kepala sekolah, dia tidak akan memecat ku," ucapnya sombong.


Tidak begitu lama, di luar sekolah menjadi ramai dan ricuh. Guru yang di dalam kelas bersama Daniel itu tampak kaget dan penasaran, ada apa? Apa yang terjadi di luar?


Sementara Daniel terlihat tenang.


Beberapa detik kemudian, kepala sekolah datang dengan tergesa-gesa. Kemudian membungkuk di hadapan Daniel, dengan lutut yang gemetar.


"Pak maaf kan saya, maaf kan saya. Tolong hentikan semua penggusuran yang ada di depan, ini semua karena kesalahan satu orang guru. Kami akan memperhitungkannya secara baik-baik."


Guru itu tertegun. Bagaimana mungkin kepala sekolah TK Bangsawan terlihat begitu tunduk dan patuh kepada orang tua siswa yang biasa-biasa saja.


Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Daniel dengan sangat hati-hati, dia melihat pakaian Pria ini bagus dan mahal, bahkan gajinya satu satun saja belum tentu cukup untuk membelinya. Tubuhnya langsung bergetar, apa lagi mengingat wajah ini mirip seorang CEO Daniel yang sering tampil di televisi waktu.


Mampus lah dia.


Masa depannya hancur lah sudah.


Lalu kepala sekolah itu menatap tajam ke arah bu guru yang sudah ketakutan setengah mati.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan! Kau telah menyinggung CEO Mahesa grup! Saya tidak akan mengampuni mu, kau harus membayar mahal atas ini semua, lihat ..., sebagai gedung ini sudah hancur! Kau harus mempertanggungjawabkan ini semua!"


Guru itu membulatkan matanya, membekap mulutnya dengan kedua tangannya, tanpa di pinta air matanya mengalir. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas tak bertenaga. Tadinya dia sangat angkuh dan sombong. Sekarang lemas tak berdaya. Dia menyadari kesalahannya, lalu dia berlutut di hadapan Daniel, meminta maaf, kemudian beralih kepada kepada kepala sekolah, meminta ampun dan minta maaf, menyesali perbuatannya yang ceroboh, menjatuhkan citranya sebagai guru yang berkwalitas. Sungguh perbuatan yang memalukan.


Tidak ada gunanya lagi seperti itu, semua sudah terlambat.


Deffan yang menyaksikan ini tersenyum puas, drama ini sungguh membuat semua orang menjadi tegang.


"Papa, aku tidak ingin sekolah di sini lagi, Mama mau aku pindah sekolah saja. Sekolah yang mengatai mu bodoh ini, pasti sekolah yang tidak bagus. Mama benar!"


Kepala sekolah membungkuk dan menatap Kenzie dengan rasa penyesalan.


"Jangan khwatir, Nak. Itu tidak akan terjadi lagi di TK Bangsawan ini, bapak akan mengeluarkan guru yang tidak baik seperti dia. Dia tidak pantas mengajar dan mendidik anak-anak. Kedepannya, bapak akan lebih teliti lagi, maafkan bapak."


"Deffan, maafkan ibu. Ibu sudah membuat banyak kesalahan pada mu dan juga yang lainya. Ibu ...."


Deffan melangkah mundur, tidak ingin melihat ibu guru yang sudah menghina Mama dan mengatakan papanya seorang yang bodoh.


"Segera berkemas dan angkat kaki dari sini! Kau harus membayar semua kesalahan yang sudah kau lakukan!"


Daniel memegang tangan anaknya dan melangkah ke luar. Kepala sekolah ikut keluar mengiringi langkah Daniel.


"Pak, saya berterima kasih banyak, karena bapak sudah menghentikan penggusuran itu, besok kami akan berkunjung ke rumah bapak, untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya."


"Kalau begitu terima kasih banyak pak."


Daniel mengacuhkan kepala sekolah itu, dia terus berjalan keluar tanpa berbasa-basi lagi.


Kepala sekolah TK Bangsawan sangat lega, setidaknya yayasan pendidikannya tidak rata menjadi tanah, hanya beberapa bagian atap yang sudah hancur. Melihat gedung sekolahnya hancur sebagian, kepala sekolah itu langsung memanggil ibu guru yang bermasalah tadi. Dia tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. Meski dia di pecat, dia harus mengganti semua kerugian pihak sekolah. Bagaimana pun, itu adalah perbuatannya sendiri.


Deffan pulang ke rumah mewah itu bersama Daniel, Wajahnya tampak ceria dan berbinar-binar, setidaknya dia sudah memberantas dua orang jahat sekaligus dalam Minggu yang bersamaan.


Daniel melirik Kenzie yang tampak hanya diam saja, namun dia menangkap sebuah senyuman di bibir kecil Kenzie.


Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia terlihat begitu senang? Apa yang akan dia rencanakan lagi setelah ini.


Tiba-tiba Daniel ingin membawa putranya ke kantor saja hari ini, tidak perlu pulang untuk makan siang.


Tapi ..., setelah Daniel pikir-pikir, lebih baik pulang ke rumah saja, di kantor juga tidak ada pekerjaan.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah, Deffan segera mengirim pesan kepada Kenzie, menceritakan tentang kejadian tadi itu. Papa marah besar dan menggusur sekolah itu, guru kelas berlutut minta maaf pada Papa dan juga kepadanya.


Tidak hanya itu, guru itu di pecat secara tidak hormat, dan membayar semua kerugian pihak sekolah.


Mendengar itu Kenzie senang sekali.


"Kau sangat hebat!"


Setelah bercerita seputar sekolah, Deffan membahas tentang bagaimana cara untuk menyatukan Papa dan Mama kembali.


Kenzie berpikir sejenak lalu berucap: "Bagaimana jika kita membuat mereka lebih sering bertemu? Jika mereka sering bertemu maka mereka punya kesempatan untuk bersama, kan?"


Deffan setuju dengan ide itu. Dan teringat hal penting lainnya. Kemarin Papa memberikan pilihan, kau mau Paman Reko atau Paman Liki yang mengantar jemput mu ke sekolah?


Paman Reko atau Paman Liki?


Kenzie berpikir sejenak, lalu merasa lebih baik Paman Liki saja, tapi ....


"Jika ingin menyatukan Papa dan Mama, lebih baik Paman Reko saja, paman Reko bisa sedikit membantu."


"Bagaimana caranya?" Deffan tampak bingung.


Kenzie memberi tahu Deffan tentang idenya itu. Lalu Deffan menyetujuinya.


Tetapi Paman Reko dan Kenzie seperti musuh bebuyutan, dan sepertinya Deffan lebih baik untuk membujuk Paman Reko.


Keduanya berdiskusi dan memutuskan untuk sementara waktu ini, mereka belum akan bertukar posisi, sampai masalah penyatuan orang tuanya mereka selesai.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ikuti terus kisahnya ya.


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️

__ADS_1


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author


__ADS_2