Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
133


__ADS_3

Ariana menghela napasnya begitu dalam, meyakinkan dirinya untuk memulainya dari sekarang. Dia sengaja membuat penampilannya yang amat menyedihkan untuk membuat suatu rencana.


Ariana keluar dari kamarnya. Ketika dia masuk ke ruang tamu, dia melihat Daniel menatapnya begitu dingin.


Dengan perlahan dan penuh kepercayaan, Ariana berjalan perlahan menuju Daniel.


"Pak Daniel, tadi aku bersikap tidak sopan kepadamu, aku .., aku minta maaf, aku ...."


"Kau tidak perlu minta maaf, kau pergi saja."


Deg ....


Daniel bajingan ini tidak melihat kesedihan yang Ariana tunjukkan kepadanya, dan begitu langsung mengusirnya?


"Pak Daniel, aku benar-benar tidak punya rumah dan dengan kondisi seperti ini, aku masih mempunyai anak-anak ku. Aku ...."


Ariana terdiam sejenak, memikirkan apa lagi yang akan membuatnya menyedihkan di hadapan Daniel? Dia kehilangan kata-kata.


Daniel menatapnya dengan menautkan kedua alisnya, wanita ini pandai sekali berakting!


Tidak hanya membuat wajahnya menjadi sedih, dia juga merubah penampilannya dengan pakaian yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, apa yang dia rencanakan?


Dasar wanita bodoh!


Daniel tidak akan terjebak dengan aktingnya.


Daniel melipat kedua tangannya, menatapnya seakan ingin melihat drama selanjutnya.


Melihat Ariana terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya, Daniel tersenyum mengejek.


"Jika kau bersikeras tinggal di sini, maka jadilah pelayan di rumah ku ini."


Apa? pelayan!


Ariana meremas ujung bajunya. Aku tinggal disini untuk menunggu pasien, atas dasar apa dia ingin menjadikan aku pelayan disini?


"Ariana, mari kita saling mengalah. Aku setuju kau tinggal di sini, tetapi kau harus menjadi pelayan. Jika tidak ..., aku akan menunggumu sampai kau terlelap dan membuang mu kelaut!"


Ariana menelan ludahnya. Daniel dengan sengaja ingin mempermalukannya!


Baiklah, demi Deffan, aku akan melakukannya untuk sementara waktu.


"Baiklah! Jika itu yang kau mau."


Daniel tersenyum kecut. Menatap Ariana dengan tatapan penghinaan.


"Pergilah ke dapur, buatkan aku secangkir kopi." Setelah berbicara Daniel pergi ke ruang kerjanya.


Ariana tidak berani menundanya dan dia pun segera menjalankan perintahnya.


Ariana meletakkan kopi yang telah di sedu itu di hadapan pak Daniel.

__ADS_1


Dan Daniel pun langsung menyentuhnya.


"Terlalu panas, ganti dengan yang baru!"


Ariana berpikir bahwa Daniel sengaja mengerjainya.


Ariana melakukannya dengan baik.


"Pak Daniel, sudah ku ganti dengan yang baru." Ariana meletakkan kopi itu dengan lembut di hadapannya.


Daniel mengulurkan tangannya lagi, dan menegang cangkir kopi itu.


"Terlalu dingin, ganti lagi."


Ariana melebarkan matanya. Ini adalah kopi yang sama, dia tidak menggantinya, sekarang dia tau bahwa Daniel sengaja mempermainkannya.


Ariana mengeluarkan termometer dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi itu.


"Pak Daniel, jika menurut mu kopi ini terlalu dingin, maka aku akan menambahkan air panas yang masih mendidih itu untuk menghangatkannya. Jika kau merasa panasnya cukup, maka kau boleh mengatakannya padaku untuk berhenti menambahnya. Tolong kau lihat ini dulu, perhatikan termometernya."


Ariana mengambil dokumen yang di baca Daniel dan meletakkannya di sampingnya.


"Dengan kau berbuat seperti itu, apakah kopinya masih bisa di minum?"


"Maafkan aku, aku terlalu bodoh, hanya cara bodoh inilah yang bisa aku lakukan, jika kau tidak puas, kau boleh memanggil orang lain untuk melakukannya!"


Dala hati Ariana kesal, lagi pula Daniel tidak benar-benar ingin minum kopi.


"Keluar kau dari sini!" Kata-kata itu penuh dengan penekanan.


"Baiklah, kopi ini juga tidak akan kau minum, kan. Aku akan membawanya ke luar."


Ariana keluar dengan membawa cangkir kopi itu.


Ariana menghela napasnya dengan lega, jika dia tidak melakukannya seperti ini, Daniel akan membuat dirinya membuat kopi sepanjang hari.


Wanita ini cukup pintar, tapi karakternya sayang sekali ....


Setelah memikirkan sesuatu, Daniel tampak menelpon seseorang. Dia adalah satu-satunya orang yang dapat mengancam Ariana, Daniel tersenyum kecil.


"Pak Daniel, apa maksud mu ..."


Terdengar seruan datang dari seberang teleponnya.


"Baik pak Daniel, aku akan segera melakukannya."


Siang harinya.


Ariana sudah menjemput anak-anak. Beberapa anak itu sedang sibuk bermain dengan permainan kesukaan mereka. Hanya Revi yang terlihat tidak senang, dia hanya cemberut.


"Ada apa Revi?"

__ADS_1


Ariana bertanya dengan cemas. Ini adalah hari pertamanya untuk menurunkan berat badan, apakah ada masalah dengannya?


"Mama, aku lapar." Setelah mengatakan itu, air matanya menetes satu persatu di pipi gemuknya.


"Baiklah, Mama akan membawakan sesuatu untuk mu."


"Tidak boleh makan, kau sedang menurunkan berat badan." Tiba-tiba Reva berteriak.


"Reva, kau tidak boleh berkata seperti itu, meskipun adikmu sedang melakukan penurunan berat badan, tapi tidak baik jika membiarkannya kelaparan."


"Ya benar, tadi Revi sudah melakukannya, saat sarapan, dia hanya makan sedikit sekali. Ini untuk mu, ambillah." Deffan berkata sambil memberikan paha ayam itu kepada Revi.


Revi begitu bersemangat mengambilnya dan langsung mengigit paha ayam tersebut.


Hari ini Ariana terlihat sangat cantik, dia sengaja melakukannya agar menggunakan kecantikan untuk menarik perhatian Daniel.


Dan benar saja, saat laki-laki dingin itu pulang, dan begitu melihat penampilan Ariana yang alami itu, namun cukup cantik di matanya, Daniel memandangnya cukup lama. Wanita ini sebenarnya memang sangat cantik, dengan wajahnya yang alami sangat memperlihatkan kecantikan sesungguhnya, bukan cantik karena make-up. Daniel mengingat malam itu di passion bar, dimana Ariana menggodanya, merasakan sentuhan lembut wanita ini.


Melihat Daniel menatapnya seperti itu, Ariana terlihat senang, dia berpikir apa yang akan di lakukan Daniel setelah ini? Rencana apa lagi yang akan dia Lakukan?


"Pak Daniel, aku sudah menyiapkan makan siang untuk mu?" Ariana menghampirinya dengan menundukkan sedikit kepalang.


"Ajak anak-anak untuk makan siang! Aku tidak lapar." Titahnya.


"Baik."


Daniel masuk ke ruang kerjanya, tubuhnya bersandar di kursi empuknya di sana, tangannya terangkat memijat keningnya. Mengingat kembali masa lalu yang dia kubur dalam-dalam. Bahkan selama bertahun-tahun dia tidak berai untuk mengalirnya. Dan entah mengapa tepat hari ini setelah melihat kepolosan penampilan Ariana, wajah alami, mengingat Daniel dengan masa lalunya.


Dimana wanita itu sudah mendahuluinya ke alam baka. Sejak itu Daniel menghindari perasaan cintanya, melupakan pernikahan yang pernah dia rencanakan. Sejak itulah Daniel sengaja pergi ke bar, dimana banyak pesta dan pesta. Teringat akan hal itu, dia menarik napas dalam-dalam.


Dan saat dia memikirkan itu, pintu di dorong dari luar. Ternyata Deffan masuk dengan senyuman bahagia di bibirnya. Sikap Deffan membuat hati Daniel luluh, melihat senyumannya yang begitu tulus, Daniel melupakan ingatannya itu dan menghampiri Deffan dengan menyentuh kepala kecilnya.


"Ada apa? Apa yang ingin kamu katakan?"


"Papa, apakah kau merokok?" Deffan bertanya serta matanya memandang kearah asbak yang masi terlihat sedikit asapnya.


"Papa hanya merokok satu batang, dan itu normal bagi laki-laki dewasa seperti papa." Daniel mencubit pipi Deffan dengan gemas.


"Papa, apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak senang?"


"Tidak ada."


"Lalu, apakah kau bertengkar dengan Mama hari ini?"


Daniel berpikir sejenak. Kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


"Lalu kenapa Mama menangis?"


Daniel menautkan kedua alisnya dengan heran. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa?

__ADS_1


__ADS_2