Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
144


__ADS_3

"Ma, aku sudah lapar." Revi merengek sambil memegangi perutnya.


Ariana menatap Revi dan juga anak-anaknya.


"Mama minta maaf ya, Mama akan segera masak. Hari ini Mama membuat sesuatu yang lain dulu, besok Mama janji akan memasak semua yang kalian mau, oke?" Ariana berbicara sambil berjalan ke dapur.


Keempat anak itu saling pandang kemudian menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Ariana begitu sibuk di dapur, setelah cukup lama berkutat di dapur, dia pun dengan segera memanggil anak-anak untuk menyantap masakannya.


"Hari ini Mama cuma bisa memasak ini, ini sangat enak kok. Besok Mama akan memasak kesukaan kalian, yah."


Keempat anak itu duduk mengelilingi meja makan. Ada mie putih yang di buat seperti sup daging dan juga sayuran hijau, aroma sup nya begitu harum hingga menggugah selera anak-anak. Perut mereka pun langsung keroncongan.


"Ayo makan, ini sangat enak." Deffan berseru sambil mengambil piring dan sendok.


Revi mengambil sumpit dan memasukannya ke dalam mulutnya seperti mengigit sesuatu makanan. Reva mengingatnya untuk makan dengan perlahan agar berat badannya cepat turun.


Kenzie dan Deffan saling pandang, seolah-olah mereka ingin mengatakan sesuatu, tetapi sulit untuk di katakan, mereka terlihat ragu-ragu.


"Ada apa? Klian berdua tidak suka makan mie? Ini ikannya cukup untuk kalian berdua!"


"Bukan. Mama, Papa juga sepertinya belum makan. Kenapa Mama tidak mengajak Papa makan sekalian?"


Selesai Deffan berbicara, Kenzie menganggukkan kepalanya menatap Ariana.


Ariana menatap kedua putranya. Dia mengingat bagaimana Daniel mengatakan kalau dia harus mengembalikan bahan makanan yang dia pinjam itu dengan sepuluh kali lipat dari yang dia pinjam. Papa dari anak-anaknya ini begitu kejam.


Deffan berpikir bahwa papanya belum pernah memakan mie seenak ini, jadi dia menginginkan Papa mencobanya.


"Mama rasa, Papa mu tak suka makan mie."


"Mama, Papa juga suka makan mie, biarkan Papa makan bersama kita yah?"

__ADS_1


"Benar, Ma."


Ariana berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum menatap kedua putranya.


"Kalau begitu pergi sana, panggil Papa kalian."


Jika Daniel datang, itu berarti laki-laki itu tidak punya malu. Tetapi jika dia tidak datang ... sangat wajar jika dia mempunyai perasaan.


Beberapa menit kemudian, Deffan dan Kenzie menyeret Daniel masuk ke dapur yang kecil dan sempit.


Ariana terkejut ketika melihatnya. Daniel masih seperti bergengsi di hadapan Ariana, datang ke dapurnya dengan seolah-olah terpaksa.


"Mama, Papa sudah datang."


"Aku di seret mereka berdua ke sini." Daniel berkata menghindari tatapan Ariana.


Ariana tersenyum setelah mendengar alasan Daniel.


Deffan dan Kenzie saling pandang, apakah Mama sengaja tidak mengizinkan Papa makan?


"Mama."


Deffan mulai bertingkah seperti bocah yang paling manja dengan Ariana. Melihat Deffan seperti itu, Ariana segera mengambil mangkok dan meletakkan mie daging itu serta sayur hijau di atasnya, kemudian dia meletakkannya di hadapan Daniel.


Kenzie sengaja menambahkan kuah sup di mangkok mie untuk Daniel. Kemudian mereka pun mulai menyantap makanannya.


Daniel menatap mie itu. Apa enak mie dibuat seperti ini? Tapi mencium aromanya sangat enak.


Daniel melihat anak-anak memakan mie itu seperti serigala kecil. Dalam hatinya dia akan memakan satu suap saja. Daniel segera mengambil sumpit dan memakan suapan pertamanya.


Daniel menelan mie itu dengan hati-hati, rasanya sayang sekali jika harus mengunyahnya dengan cepat. Ini benar-benar enak, rasa kuahnya begitu segar dan nikmat.


Ok, satu suapan lagi. Daniel berkata dalam hatinya, serta memasukkan mie ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Ini ....


Aku tidak pernah memakan mie seenak ini. Dalam benaknya merasa rugi jika tidak menghabiskan mie yang tidak pernah dia makan sebelumnya. Jadi tanpa ragu-ragu lagi Daniel menyantap mie itu sampai menghabiskan satu mangkok mie.


Melihat Ariana menambahkan mie itu kedalam mangkuk anak-anak, Daniel menundukkan kepalanya serta menyerahkan mangkuk mie yang sudah kosong itu kepada Ariana.


Ariana mengulum senyuman. Dia mengambil mangkuk Daniel dan menambahkan mie lagi semangkok penuh.


Kenzie dan Deffan sibuk dengan makanannya masing-masing, jadi Daniel bangkit sendiri mengambil dan menambahkan bubu saus mie untuknya. Kemudian memakannya dengan lahap sampai tak tersisa.


Selesai makan, ke empat anak itu nonton TV, sementara Daniel hendak beranjak pergi, tetapi Ariana menghentikannya.


"Pak Daniel, apakah mie nya enak?"


"Lumayan." ucapnya yang tidak mau mengakui kehebatan Ariana dalam memasak. Padahal dua mangkok mie sudah dia telan dalam perutnya.


Ariana tersenyum, dia tidak mempermasalahkannya. Dia langsung mengatakan intinya.


"Pak Daniel, mie yang anda makan tadi tidak gratis, aku tidak bisa memproduksinya sendiri, jadi aku juga membeli setiap apa yang aku masak itu. Jadi seutas mie harganya 10 ribu, semangkok mie 100 ribu, tadi kau memakan dua mangkuk mie, di tambah bumbu dan saus daging, jadi totalnya 150 ribu."


"Dua mangkok 150 ribu?" Daniel tersenyum aneh.


"Iya, kau sendiri yang mengajariku tadi." Ucap Ariana begitu tenang.


Tadi ketika Ariana ingin meminjam bahan makanan, Daniel berkata dengan menghitungnya seperti itu.


Daniel mendengus dingin. Itu tidak seberapa. Jadi dia memberikannya saja kepada Ariana dengan mudah.


Ariana begitu senang mengambil uang itu.


"Pak Daniel, terimakasih. Lain kali datang lagi yah." Ariana berkata sambil tertawa begitu senang.


Daniel meliriknya sekilas kemudian berbalik untuk pergi. Ariana melihat punggung Daniel menghilangkan dari pintu, dia pun menarik nafas lega, ini adalah salah satu caranya untuk menghasilkan uang.

__ADS_1


__ADS_2