Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
Hari pertama kerja


__ADS_3

Daniel membuka pesan Ariana, dia membaca pesan tersebut hingga beberapa kali. Dia sempat tak percaya, bibirnya tersenyum kecut.


Pergi? Semudah itu dia pergi? Bukankah selama ini dia ngotot tinggal di villa, dengan alasan tidak mau berpisah dengan Deffan! Apa dia memiliki rencana lainnya? Batin Daniel bertanya-tanya.


Daniel segera pulang ke villa, menemui kedua putranya.


"Papa ...!!!" Kedua bocah itu berlari menyambut kedatangan Daniel, Deffan langsung menghambur di pelukan Daniel sementara Kenzie terpaku di tempat.


"Ada apa ini?" Sikap Deffan seperti ini membuat Daniel semakin yakin kalau perempuan itu sudah pergi dari villa ini.


"Deffan ada apa?"


Anak itu menggeleng, dia mengingat pesan Ariana bahwa mereka jangan mengatakan apapun kepada Daniel. Jadi Deffan berlari ke kamarnya meninggalkan Kenzie dan Daniel.


Kenzie mengerti apa yang dia rasakan, dia pasti mau mengadu, mengingat pesan mamanya jadi dia mengurungkan niatnya.


"Kenzie, ada apa? Deffan kenapa seperti itu?" Tanya Daniel.


Kenzie juga menggeleng dingin, lalu pergi meninggalkannya.


"Kenapa dengan anak-anak?" Gumam Daniel berkata dengan dirinya sendiri.


Daniel penasaran kenapa sikap kedua putranya itu.


"Pelayan!" Daniel berteriak memanggil pelayan.


Tidak begitu lama datang seorang pelayan dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa Tuan memanggil saya? Apa ada yang perlu saya bantu Tuan?" Tanya pelayan itu sembari membukukan badannya tanda dia takut dengan majikannya.


"Ada apa dengan anak-anak? Kenapa mereka murung?"


Pelayan itu tampak berpikir sejenak.


"Itu Tuan, barangkali mereka sedih karena kepergian nona Ariana, tadi aku melihat mereka menangis setelah non Ariana pergi."

__ADS_1


Daniel mendengarkan cerita pelayan itu dengan seksama, kemudian wajahnya berubah dingin dan meninggalkan pelayan itu.


Daniel pergi ke ruang kerjanya. Dia bersandar di kursi sambil mengelus jenggotnya yang hendak tumbuh.


Jadi mereka murung karena perempuan itu? Daniel berkata dengan dirinya sendiri.


Bagus lah jika dia pergi, anak-anak akan aman tanpa perempuan itu, dia tidak akan menghasut anak-anak lagi setelah ini. Daniel menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring.


Malam harinya.


Daniel pergi ke kamar anak-anak, dia melihat mereka meringkuk di atas tempat tidur, wajah mereka terlihat sedih.


Daniel menyelimuti tubuh kecil mereka, lalu mengelus kepala mereka secara bergantian.


Kemudian Daniel pergi keluar, berjalan-jalan di taman bunga mawar. Daniel merasa ada sesuatu yang aneh, dia menoleh ke belakang. Suasana tampak sepi tak berpenghuni, hanya terdengar suara jangkrik di malam hari yang mengisi kesunyian malam.


Biasanya perempuan itu juga sering berjalan-jalan di sini, mencabuti rumput-rumput kecil yang menggangu tanaman. Sekarang tidak akan ada lagi perempuan itu. Daniel menghela nafasnya lalu kembli ke kamar.


Di sisi lain, Ariana dan kedua putrinya tampak senang sekali, mereka mau makan malam, tiba-tiba Ariana mengingat sesuatu dan segera kembli ke kamar mengambil benda penting miliknya.


Reva saat itu melihat ke arah Ariana.


"Mama mau telpon kakak?" Tanyanya membuyarkan lamunan Ariana.


"Iya, sepertinya kakak kalian sudah tidur, ayo kita makan." Ajak Ariana menggandeng tangan Reva menuju meja makan.


"Mama ini apa? Aku tidak pernah makan ini sebelumnya." Revi merengek melihat sayuran yang tadi di buat Ariana.


"Di desa ini hanya ada itu sayang, Mama tidak menemukan daging atau ikan di warung. Sekarang kita makan ini dulu, yah? Mama belum tau di mana pasarnya."


"Tapi ini juga kelihatan enak kok, coba kamu cicip?" Ujar Revi, dia memasukkan makanannya kedalam mulutnya dan mengunyahnya.


Revi melihat Reva makan dengan santai, dia dengan malas memasukkan makanannya, seakan dia meragukan rasa sayuran itu.


"Bagaimana, enak kan?"

__ADS_1


"Biasa saja!" Gerutu Revi.


"Mama, aku mau dadar telur aja?"


"Baiklah, kalian tunggu sebentar ya, Mama akan membuatnya." Ariana pergi kedapur mengambil 3 buah telur kemudian memberikan sedikit bumbu.


Sementara Reva menatap tajam ke arah adiknya.


"Dasar merepotkan, suka sekali merepotkan Mama." Ujar Reva dengan ketus.


"Kau kenapa! Aku tidak terbiasa memakan makanan seperti ini, jika aku meminta telur dadar sama Mama apa salahnya?" Revi membalasnya tak kalah ketus dari Reva.


"Sudah-sudah kalian kenapa sih, ini Mama sudah buatkan telurnya, Reva kamu boleh mengambilnya."


"Aku tidak mau?" Ujarnya sambil melirik Revi dengan sinis.


Ariana dan kedua putrinya menikmati makan malam mereka dengan lahap, setelah itu mereka nonton televisi sebentar kemudian memberi perintah kepada anak-anak agar segera tidur.


Esok harinya, Ariana sudah selesai mandi dan membuat sarapan untu mereka. Sebelum kerja Ariana akan mengantar anak-anak ke sekolah barunya.


Tidak lupa Ariana menemui guru baru anak-anak dan memperkenalkan mereka berdua.


Semua mata memandang ke arah Reva dan Revi. Reva dan Revi tampak berbeda dengan anak-anak yang lainnya. Mereka terlihat cantik dan mengemaskan, tentu saja mereka berbeda, karena selama ini mereka di besarkan di kota, berbeda dengan anak-anak desa, mereka seperti melihat berlian tak berkedip menatap kedua anak-anak itu.


Selesai mengantar anak-anak dan menitipkannya kepada gurunya, Ariana langsung pamit dan meninggalkan taman anak-anak.


Sesampainya di rumah dia bersiap-siap mau memulai hari barunya, semangatnya tampak berbinar-binar. Ariana sangat cantik mengenakan rok dan atasan kemeja, dia juga mengenakan alas kaki dengan sepatu hills. Rambutnya sengaja dia gerai.


Begitu siap dia segera pergi ke klinik Arma.


Semua mata memandang ke Ariana, mereka takjub dengan kecantikannya. Mereka tampak berbisik-bisik satu sama lainnya, tapi Ariana tidak menghiraukan itu, yang terpenting adalah dia bisa bekerja dan mendapatkan gaji sesuai dengan keinginannya.


Ariana di tetapkan bagian atap pengobatan. Dia senang sekali mendapatkan posisi ini.


"Oh ya, hari ini dokter Hamzah akan kembali, duh aku senang banget kalau ada dokter Hamzah, aku jadi bertambah semangat." Ujar seorang wanita yang mungkin umurnya tidak jauh beda dari Ariana.

__ADS_1


Ariana tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, namun dia sama sekali tidak merespon, dia pokus dengan pekerjaannya. Ariana begitu senang mendapatkan pekerjaan ini.


__ADS_2