
"Asal Mama dan juga adik-adik ku ikut bersama ku!"
Reko menjentikkan kedua jarinya dengan tiba-tiba.
"Bagus sekali, Deffan kau benar-benar anak yang cerdas." Reko mengulum senyum di hadapan Daniel yang kini melongo atas permintaan Deffan.
"Ganti dengan syarat yang lain."
Daniel menatap Deffan.
"Ganti dengan syarat yang lain, Papa pasti akan memenuhinya."
Deffan memutar bola matanya.
"Papa, tidak ada perjanjian kalau ada pergantian syarat sebelumnya. Bukankah Papa mengatakan akan memenuhinya tadi?" Deffan memandang Daniel dengan matanya yang berkilat jahil.
Hah ....
Reko kembali mengulum bibirnya sambil tangannya menutupi mulutnya, lalu mengacungkan ibu jarinya kepada Deffan.
Bocah kecil ini cerdik dan sagat pintar, dia sangat menyukainya.
Wajah Daniel terlihat menekuk, dan dia ingin Deffan mengubah syaratnya. Belum sempat Daniel mengatakan keinginannya kepada Deffan, dia kembali berkata: "Mama selalu mengajari kami untuk selalu menepati janji. Papa sudah mengatakan kalau Papa akan berjanji, jadi Papa juga harus menepati janji janji Papa sendiri."
Ucapan Deffan ini membuat Daniel terdiam dengan sangat lama.
Membayangkan kedua putrinya Ariana akan tinggal di sana, mengacau dan membuat keributan, Daniel tiba-tiba merasa pusing. Baru saja memikirkannya kepalanya sudah sakit.
Tetapi jika tidak menyetujuinya Deffan pasti tidak akan ikut dengannya. Bahkan dia akan merasa bahwasanya Papa adalah seorang pembohong dan ingkar janji dan membuat kesan yang tidak baik di hati Deffan, Daniel tidak ingin itu terjadi.
"Oke, baiklah. Dia dan adik-adik mu boleh pergi kesana."
Mendengar itu Deffan sangat girang, dia meloncat beberapa kali dengan kakinya yang kecil.
"Ye ..., terimakasih Papa. Kau adalah Papa yang terbaik di dunia." kebahagiaan Deffan terpancar di matanya, lalu dia pun memeluk Daniel dengan erat. mencium pipinya dengan senang. Daniel pun merasa senang melihat kelincahan Deffan yang seperti ini.
Sementara Ariana merasa tidak nyaman, karena Daniel menyetujui syarat itu dengan terpaksa.
Ariana berpikir, jika dia tinggal di sana, Daniel pasti tidak akan membiarkan hidup dengan damai. Bahkan balas dendam Daniel pun terbayang di matanya. Wajah Ariana terlihat kecut.
"Kakak ipar, kau tidak perlu khwatir. Mama ku aan kembali dan dia akan membantu mu. Bukankah kau juga memiliki anak-anak yang cerdas dan pintar?"
Reko sengaja membujuk Ariana agar dia tidak terlalu lama untuk berpikir.
Ariana memandang Reko dan ingat betapa baiknya nyonya Maira kepadanya. Dan dengan ragu menyetujuinya.
Deffan sangat senang sekali. Dia merasa akhirnya keluarganya bersatu kembali.
Namun dia yang masih kecil, mana tau betapa sulitnya untuk mereka bersatu.
Di rumah Daniel.
Para pelayan menyambut kedatangan Daniel dan juga Ariana beserta anak-anaknya. Mereka merasa aneh ketika melihat Daniel membawanya bersama.
Eh ....
__ADS_1
Mengapa anak ini terlihat persis seperti Tuan muda? Para pelayan mulai bergosip dengan berbisik-bisik.
Tuan muda bisa tertawa dengan begitu bahagia. Bagus sekali, dia pun juga ikut tertawa bahagia melihatnya. Pelayan rumah tangga itu memperhatikan kedua bocah itu dengan seksama.
Mengapa ada dua Tuan muda?
Dia menggosok matanya. Melihat kembali bahwa Tuan muda benar-benar ada dua, dia terkejut dan hampir saja pingsan. Lalu dia berteriak dengan histeris.
"Tuan! Mataku benar-benar sakit, dan aku harus berobat sekarang!"
Deffan dan Kenzie menoleh dan melihat kepala pelayan itu menutup matanya dengan kedua tangannya. Deffan meletakkan lidahnya mengejek ke arah pelayan itu.
Mereka berdua berjalan ke arah pelayan itu dan menjelaskannya.
"Kakek, kami sudah bilang sebelumnya bahwa kau tidak sakit, aku dan Kenzie adalah saudara kembar."
Saudara kembar?
Mendengar itu, pelayan rumah langsung membuka matanya dan sangat terkejut saat melihat kedua bocah yang tidak ada bedanya berdiri di hadapannya.
Lalu dengan terbata-bata dia berkata: "T ..., Tuan, kapan, kapan Anda memiliki seorang putra lagi?"
"Tentu saja empat tahun yang lalu, ketika Deffan lahir, dia juga sudah ada sebelum Deffan." Reko menjelaskan kepada pelayan itu.
Kepala pelayan itu masih terlihat termenung. Dia berasa sedang bermimpi. Kemudian menganggukkan kepalanya setelah beberapa saat.
"Ayo, aku akan mengajak kalian bermain."
Deffan senang bermain dengan Reko, sementara Kenzie meliriknya dan kemudian berjalan kearah sofa melanjutkan bermain dengan Lego.
Tiba-tiba Reko melihat Daniel menatapnya dengan ribuan pertanyaan. Dan kemudian melihatnya berjalan perlahan ke arahnya. Reko menjadi canggung, dan merasa kakaknya itu akan memberi perhitungan kepadanya. Seketika Reko ketakutan dan berlari keluar sambil berteriak.
"Deffan! Paman ada urusan di luar, aku akan kembali bermain dengan mu besok!" Reko berlari tanpa menoleh.
"Kalah sebelum berperang, dasar pengecut." Kenzie mencibir melihat Reko yang berlari terbirit-birit.
Deffan memutar matanya melihat Reko yang berlari dengan ketakutan.
"Ternyata Paman sangat takut dengan Papa! Apakah Papa akan benar-benar memukulnya?" Deffan berkata di samping Kenzie.
"Tidak perlu memukulnya, cukup menakutinya saja."
Hah ....
"Begitu kah? Paman Reko benar-benar tidak ada nyali!"
Begitu mengetahui pamannya seperti itu, Deffan tersenyum. Dia berpikir bahwa suatu saat nanti dia akan menggunakan kelemahan Reko untuk membantu dirinya sendiri.
Di tangga. Ariana terlihat mengejar Reva.
"Reva, tunggu Mama, jangan berjalan terlalu cepat!"
Ariana mengikuti Revi dari belakang yang terlihat sedang kesal.
Melihat mereka Daniel segera membalikkan badannya hendak kemabli ke ruang baca. tetapi tiba-tiba di halangi oleh Revi yang gemuk.
__ADS_1
Matanya menatap Daniel dengan melotot. Pipinya yang bulat terlihat mengembung dan merenggut.
Daniel menatap bocah itu dan mengeryitkan keningnya dengan heran. Apa yang diinginkan gadis kecil ini?
"Kau bilang akan membawa kami untuk peri makan yang enak-enak!" Revi berteriak di depannya. Daniel membulatkan matanya.
"Kamu pergi saja bersama Mama mu, dan aku akan membayarnya."
"Oke, kalau begitu berikan uangnya dan aku akan membawa mereka berempat kesana."
Empat?
Daniel menatapnya, wanita ini masih ingin membawa Kenzie dan Deffan?
Apakah dia ingin kabur membawa kedua putranya?
"Kau bawa putrimu saja, kau tidak boleh membawa Deffan dan Kenzie."
Daniel yang baru saja berbicara itu melihat Deffan berlari kearahnya dan memeluk kedua kakinya yang panjang.
"Papa, biarkan aku pergi, aku juga mau pergi bersama mereka dan makan yang enak-enak. Biarkan kami berdua ikut pergi."
Melihat Deffan yang seperti itu, menempelkan kepalanya di paha membuat Daniel mengingat kejadian di kediaman Mahesa ketika Ariana memberikan akupuntur kepada Mama tersayang. Dan itu adalah Deffan bukan Kenzie.
"Kau ingin pergi." Tiba-tiba Kenzie juga menyilang kedua tangannya dengan arogan.
"Lihatlah, mereka berdua juga ingin pergi, apa salahnya kau membiarkan mereka ikut."
Revi merenggut dengan sedih. "Tidak menepati janji! Orang dewasa berbohong kepada anak-anak adalah orang jahat!"
Daniel menekuk wajahnya, melihat Revi yang gemuk, dia tidak hanya mirip dengan Ariana tetapi juga memiliki mulut yang mirip dengannya!
Dia begitu ingin dia yang membawa mereka untuk pergi makan. Dan jika Deffan dan Kenzie juga ikut, dia merasa tak rela. Jadi dia memutuskan untuk mengantar mereka.
"Oke, aku akan membawa kalian."
"Mama juga ikut!"
Deffan dan Kenzie berkata secara bersamaan.
"Terserah." Ucap Daniel ketus.
"Ye ....."
Mereka terlihat bahagia sekali, rumah Daniel yang terbiasa sepi, sekarang terlihat ramai dengan kedatangan bocah-bocah ini. Mereka terlihat lucu-lucu saat bergandengan tangan menuju mobil Daniel. Dan mereka pun tak henti-hentinya bercerita satu sama lainnya.
Hanya Reva yang terlihat diam. Melihat itu, Daniel meliriknya dari kaca spion.
Hanya anak ini saja yang tidak terlihat senang, yang lainnya begitu ceria dan bahagia? Ada apa dengan gadis kecil ini? Dan dia .... Daniel memikirkannya.
.
.
.
__ADS_1
Author sudah update ya. Jangan lupa dukung terus, komen dan Berikan GIF nya. terimakasih yang sudah mampir.