
Teng... Teng... Teng... Teng...
Kala itu bel berbunyi di jam yang tidak biasanya.
“Perhatian untuk semua siswa siswi SMK Sawah Besar, Hari ini kalian semua dipulangkan lebih awal dikarenakan kasus penculikan yang saat ini sedang marak-maraknya. Diharapkan kepada semua siswa dan siswi untuk langsung pulang ke rumah tanpa pergi kemana pun itu. Perhatian sekali lagi...”
Pengumuman dari kesiswaan yang terdengar dari pengeras suara yang berada di kelas.
Seperti apa yang dikatakan oleh teman-temanku, sekolah memulangkan muridnya lebih cepat dari biasanya dan terkait kasus penculikan itu.
Saat ini masih jam dua kurang lima belas dan seluruh kegiatan ekskul ditiadakan untuk saat ini.
“Apa kau mau langsung pulang Mar?”
Riki bertanya kepadaku di saat aku sedang memasukan barang-barangku ke dalam tas.
“Tentu saja aku mau pergi ke kantor terlebih dahulu, baru setelah itu aku pulang ke rumah. Bukannya kau ingin segera mendapatkan pekerjaan?”
“Benarkah itu?!”
Riki yang bersemangat langsung mempercepat geraknya merapihkan barang-barangnya.
Hari ini juga aku mau mendengarnya secara langsung dari Maul tentang hal ini, karena kalau aku langsung pulang ke rumah, aku rasa Maul tidak akan mengatakan hal itu kepadaku karena tidak ada waktu yang pas untuk mengatakannya. Kalau di kantor, aku bisa berbicara dengannya ketika di atap.
***
“Ini temanku yang bernama Riki.”
Aku memperkenalkan Riki kepada Pak Hari dan juga Kak Malik yang saat ini sedang berada di ruangannya Pak Hari saat itu.
“Oh jadi kamu yang namanya Riki.”
“Na-nama s-s-saya Riki, sa-saya temannya Amar.”
Riki menjadi gugup ketika berbicara dengan Pak Hari. Lagi pula kenapa dia harus gugup, tidak seperti dia saja.
“Jadi kapan kamu bisa bekerja di sini?”
Seperti yang aku harapkan dari Pak Hari, dia tidak basa-basi dan langsung ke inti pembicaraan.
“Hari ini aku siap.”
“Karena waktu itu Amar sudah mengatakannya kepadaku dan kebetulan sedang ada tempat yang kosong, kamu bisa bekerja mulai hari ini juga. Malik, kau bisa antarkan dia untuk melihat pekerjaannya.”
Suruh Pak Hari kepada Kak Malik yang berdiri di sampingnya.
“Kalau begitu, kau bisa ikut denganku Riki.”
Riki dan Kak Malik pergi dari ruangannya Pak Hari.
“Kenapa siang hari seperti ini kau sudah sampai di kantor Mar?”
“Sekolah memulangkan kami lebih cepat dari biasanya.”
“Kenapa?”
“Katanya kasus penculikan yang mulai marak kembali.”
“Kok aku tidak mendenga sama sekali tentang penculikan itu di berita.”
Pak Hari yang mulai berpikir sesuatu tentang hal itu.
Aku juga sama sekali tidak mendengar hal itu di berita, bukan hanya di televisi bahkan di internet pun sama sekali tidak ada yang membahas masalah ini.
“Kau juga harus berhati-hati akan hal ini Mar.”
“Siap!”
“Apa kau ke sini hanya bersama dengan Riki saja?”
“Tidak, aku datang ke sini bersama dengan Maul juga.”
“Dimana dia?”
Aku hanya mengalihkan pandanganku ke arah lain karena aku tau kalau Pak Hari juga seharusnya tau dimana Maul.
“Apa dia sedang di meja sekertaris?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
Pak Hari menghela nafas setelah mendengar itu.
“Apakah Maul juga menyukai Friska juga?”
Kalau Pak Hari sudah bertanya seperti ini, berarti sudah menjadi rahasia umum kalau orang-orang di kantor ini banyak yang menyukai Kak Friska.
“Entahlah, mungkin saja seperti itu.”
“Kenapa banyak sekali yang mengincar Friska!”
Pak Hari pusing sendiri karenanya.
“Memangnya kenapa?”
“Aku sebenarnya tidak masalah jika semua orang menyukai dia asalkan mereka menggunakan hal itu agar mereka semangat ketika bekerja, tapi aku takut sekali jika ada konflik internal yang terjadi karenanya.”
Apa yang dikatakan Pak Hari bisa saja terjadi, tapi tidak mungkin juga kalau kita menghentikan mereka atau menyuruh mereka untuk bersaing secara adil. Semua ini tergantung Kak Friska bagaimana dia menanggapi orang-orang yang menyukainya itu.
“Bapak sendiri tidak mengincar Kak Friska juga memang?”
“Aku masih berharap dengan pacar lamaku.”
Pak Hari tersenyum ketika mengatakan itu.
“Bukannya Pak Febri sudah mengingatkanmu untuk meninggalkan perempuan itu.”
“Walaupun sifatnya seperti itu, tapi aku akan memperbaikinya.”
Pak Hari mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali.
__ADS_1
“Bukannya itu melelahkan?”
“Melelahkan bagaimana?”
“Iya, merubah sifatnya hingga menjadi apa yang kita inginkan. Kalau menurutku lebih baik mencari perempuan yang sifatnya memang sudah baik daripada memperbaiki sifatnya yang buruk.”
Karena itu sudah pasti merepotkan dan melelahkan, apalagi jika perempuan itu memiliki sifat yang keras kepala. Itu seperti kau harus bekerja dua kali untuk hal itu.
“Kalau kau sudah memiliki seorang pacar, pasti kau akan mengerti apa yang aku rasakan.”
“Mungkin saja.”
Masuk akal, aku bisa mengatakan hal itu karena aku sama sekali belum pernah tertarik dengan seorang perempuan yang membuatku ingin merubah sifatnya.
“Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan Natasha?”
“Natasha orang yang cepat sekali memahami sesuatu, aku tidak begitu kesulitan ketika mengajarinya.”
“Natasha memang anak yang pintar dari kecil, aku sangat yakin sekali kalau dia bisa menguasai pekerjaannya dalam waktu singkat.”
Pak Hari merasa bangga dengan apa yang telah adiknya lakukan.
Aku juga tidak terlalu repot mengajarinya. Selain itu, Aku mendapatkan bantuan dari karyawan-karyawan yang ada di sini.
“Bagaimana dengan penjualan dari komik yang telah kita pasarkan?”
“Aku baru saja membicarakan hal itu dengan Malik tadi.”
“Apa progresnya bagus?”
“Kita belum tau sampai bulan depan, karena saat bulan depan kita baru tau laporan berapa komik yang terjual dari toko buku yang memasarkan komik kita.”
“Semoga saja hasilnya bagus.”
“Aku juga mengharapkan hal itu.”
Kalau hasilnya bagus, ada kemungkinan kalau gajiku juga akan bertambah. Tapi sepertinya untuk beberapa bulan ke depan aku tidak mau menambah pemasukanku terlebih dahulu, biar pemasukanku dari gaji bulanan saja, karena uang dari bayaran Pak Hari kemarin sama sekali belum aku pakai dan aku bingung harus aku gunakan untuk apa uang sebanyak itu.
Saat tidak ada uang aku bingung ketika ingin membeli sesuatu dan sekarang ketika memiliki banyak uang, aku juga bingung ingin menghabiskannya untuk apa. Rumit sekali hidupku...
Setelah berbicara dengan Pak Hari, aku menghampiri Maul yang sedang berbicara dengan Kak Friska di meja sekertaris. Aku dapat melihat dari jauh kalau dia sedang bersenda gurau membicarakan sesuatu.
Sepertinya topik yang mereka bicarakan sangat menyenangkan sekali.
“Apa urusanmu sudah selesai Mar?”
Maul langsung menyapaku ketika aku sampai di dekat mereka.
“Iya.”
“Dimana Riki?”
Maul melihat ke sekelilingku dan tidak menemukan Riki berada bersamaku.
“Dia sedang pergi dengan Kak Malik untuk melihat pekerjaan yang akan dia kerjakan dan di divisi mana dia masuk nanti.”
“Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang sambil menunggu Riki selesai dengan urusannya?”
Aku rasa lebih baik pergi ke atap untuk membicarakan masalah penculikan itu sambil menunggu waktu asar tiba.
“Bagaimana kalau kita pergi ke atap untuk beristirahat, kebetulan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu juga.”
“Ok.”
Dilihat dari wajahnya Maul, sepertinya dia sudah mengetahui apa yang ingin aku bicarakan dengannya.
Kami pun pergi ke atap dan memesan kopi untuk menemani kami berbincang-bincang. Setelah kopinya jadi, kami duduk di kursi kosong yang berada di sana.
“Aku sudah tau apa yang ingin kau bicarakan, pasti kau ingin membicarakan tentang alasan kenapa kasusnya semakin marak lagi.”
Begini kan enak, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepadanya.
“Begitulah”
“Aku sama sekali tidak tau untuk saat ini, bapakku tidak pernah mengatakannya kepadaku.”
“Apa kau tidak pernah bertanya?”
“Akhir-akhir ini aku tidak pernah bertanya tentang kasus penculikan ini karena aku sudah tau kalau kasusnya sedang menurun. Jadi aku tidak begitu memperdulikannya lagi.”
Sebenarnya aku juga sama dengan Maul. Ketika kasus penculikan ini sudah menurun dan di berita-berita jarang ada yang membahas tentang penculikan ini, aku juga sudah tidak begitu peduli karena menganggap kalau hal ini sudah dapat diselesaikan oleh kepolisian, tapi ternyata dugaanku salah.
“Berarti kita dapat berasumsi kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh kepolisian dari masyarakat.”
Aku mencoba menyimpulkan sesuatu menurut fakta yang aku lihat di lapangan.
“Mungkin saja.”
“Kalau dilihat dari cara bermainnya, sepertinya seseorang di kepolisian yang memiliki jabatan tinggi ikut terlibat dalam hal ini.”
“Alasannya?”
“Bisa memanipulasi media hingga membuat media diam seperti ini. Siapa yang bisa melakukannya selain orang yang memiliki jabatan penting di kepolisian.”
Bisa saja orang itu memiliki jabatan yang lebih tinggi dibandingkan bapaknya Maul. Itulah kenapa progres yang dilakukan bapaknya Maul tidak bisa berjalan mulus.
“Kenapa kau bisa seyakin itu Mar?”
“Instingku berkata demikian.”
“Apa kau mau mencoba menyelesaikan ini?”
Maul sedikit tersenyum saat mengatakan itu.
“Kenapa kalian berdua mengatakan hal yang sama tentang hal ini.”
Aku hanya menghela nafas saja.
“Jadi Riki mengatakan hal serupa?”
__ADS_1
“Iya, dan jawabanku masih sama yaitu tidak.”
“Aku kira kau menanyakan masalah ini karena kau ingin menyelesaikannya.”
“Kalau seandainya memang keadaan mengharuskan aku untuk melakukan hal itu, aku akan melakukannya.”
Maul sedikit menyingkirkan kopinya dan mulai membuka laptopnya.
“Akhir-akhir ini aku juga sudah menyelidikinya.”
“Tumben sekali kau bertindak sebelum aku menyuruhmu untuk melakukannya.”
“Aku sudah resah masalah ini tidak terselesaikan dengan segera, aku jadi tidak bisa keluar pada malam hari dengan leluasa karena orang tuaku selalu melarangnya.”
Itu wajar saja, ibuku juga sering memarahiku akhir-akhir ini jika aku ingin pergi keluar dari rumah. Padahal saat itu aku hanya ingin pergi ke warung yang jaraknya dari rumahku hanya tiga rumah saja.
“Memangnya kau orang yang suka pergi saat malam hari?”
“Aku suka pergi ke kafe untuk sekedar ganti suasana saat sedang mengerjakan tugas, kalau di rumah terus itu sangat membosankan.”
“Jadi, sampai sejauh mana kau sudah menyelidiki tentang masalah itu?”
Maul pun melihat-lihat ke sekitar kita untuk memastikan kalau saat itu tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kita. Aku juga melihat kalau di sana hanya ada barista yang berada di mini bar saja dan itu jaraknya sangat jauh dari tempat kita duduk sekarang. Aku ragu kalau dia dapat mendengar pembicaraan kita dengan jelas, karena di sini kadang-kadang terdapat suara dari kendaraan yang melintas di depan kantor.
“Aku sudah mengetahui dimana lokasi tempat pedagangan manusia itu.”
Maul berbisik kepadaku.
“Benarkah!?”
Aku sangat terkejut ketika mendengarnya. Aku memang tau bagaimana Maul ketika sedang mencari informasi, tapi aku tidak menyangka kalau dia dapat mengumpulkan informasi hingga sejauh ini.
“Pelankan suaramu.”
“Baiklah.”
Aku pun kembali bersikap tenang.
“Aku belum bisa yakin seratus persen tentang hal ini, tapi aku hanya bisa berasumsi kalau mereka selalu melakukan perdagangan manusia itu di tempat yang berbeda-beda agar tidak bisa dilacak oleh kepolisian.”
“Kalau kau sudah mengetahuinya, kenapa kau tidak mengatakan hal ini kepada bapakmu?”
“Kan sudah aku bilang kalau ini baru asumsiku saja, bahkan aku sendiri belum tau tempat pastinya mereka melakukan pelelangan itu. Apakah di hotel, atau di aula terbuka yang dapat disewa dengan mudah.”
Kalau begitu kau sama saja belum mengetahui dimana lokasinya Mul, aku kira tadi kau sudah tau dengan pasti lokasi perdagangan manusia itu.
“Jadi mereka menggunakan sistem lelang dalam menjual manusia yang telah mereka culik?”
“Aku juga belum tau, tapi menurutku sih seperti itu.”
“Kau terlalu banyak menonton film.”
“Hanya itu saja yang dapat aku pikirkan untuk saat ini.”
Aku kira aku sudah mendapatkan informasi yang jelas tentang penculikkan ini. Ternyata jalan kita masih jauh untuk menuntaskan kasus ini hingga benar-benar menemukan jalan terangnya. Masih banyak misteri-misteri yang harus dipecahkan.
“Apa pekerjaan yang saat ini sedang kau lakukan Mul?”
“Akhir-akhir ini pekerjaanku hanya mengawasi dan memeriksa laporkan dari kepala divisiku saja, selebihnya karyawan lain yang melakukannya.”
“Itu seperti pekerjaan yang dilakukan atasan.”
“Kau sendiri Mar?”
“Aku sama sepertimu.”
Bahkan akhir-akhir ini aku merasa kalau pekerjaanku sangat mudah sekali, apalagi kalau dilaporkan itu tidak tertulis masalah yang sedang terjadi entah itu di aplikasi atau masalah dengan para komikus. Tapi cukup membosankan karena aku hanya harus membaca lembaran-lembaran file yang dikirimkan oleh kepala divisi setiap hari.
“Oh iya, bagaimana perkembangannya tentang Akbar? Aku sama sekali belum mendengar kabarnya tentang itu.”
“Masalahnya sudah selesai dan aku sudah mengetahui kalau Akbar bekerja di salah satu kafe yang ada di mal.”
“Hebat sekali kau dapat mengetahuinya tanpa bantuan dariku. Apa kau pernah bertemu dengannya saat bekerja?”
“Aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika menemani Kak Malik bertemu dengan komikus untuk membahas masalah pembukuan komiknya.”
“Kebetulan yang sangat luar biasa, aku jadi tidak perlu repot-repot untuk mencari taunya.”
Maul meminum kopinya.
“Hal itu tidak diperlukan karena masalahnya sudah selesai.”
“Baguslah kalau begitu.”
Bukan hanya Maul saja yang senang karena tidak perlu repot mencari tau, aku juga senang saat masalah ini sudah selesai.
Kemudian Riki pun datang ke atap dan menghampiri kami berdua, wajahnya terlihat senang sekali.
“Bagaimana?”
Tanyaku kepadanya yang baru saja duduk bersama kami.
“Aku bergabung di divisi media sosial dan bertugas sebagai desainer. Aku juga mulai bekerja besok, katanya pekerjaanku akan dikirimkan melalui email.”
“Apa kau sudah mengisi berkas-berkasmu Rik?”
Tanya Maul.
“Aku baru saja selesai mengisinya bersama dengan Kak Malik tadi.”
“Kalau begitu setelah salat asar nanti kita lebih baik langsung pulang saja.”
Saranku kepada mereka berdua.
“Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin menikmati secangkir kopi terlebih dahulu.”
Riki pun pergi ke meja barista untuk memesan kopinya.
Sore itu aku menatap langit yang berawan dengan sinar mentari yang mulai berubah menjadi jingga. Aku pun berpikir sejenak tentang masalah penculikan ini, karena aku ingin sekali menyelesaikan masalah ini. Tapi di satu sisi aku tidak mau mencampuri urusan yang seharusnya diselesaikan oleh kepolisian. Aku pun melihat kopi yang berada di hadapanku yang masih berputar setelah ku aduk tadi.
__ADS_1
Ini memang membuat sebuah dilema di pikiranku, tapi aku berharap polisi dapat menyelesaikan semuanya.
-End Chapter 99-