
Saat ini, aku sudah sampai di kantor bersama dengan Riki dan kami sedang berada di dalam lift sedang menuju ke lantai tujuh.
Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, aku tidak menyangka kalau selama satu hari penuh. Seluruh guru memberikan kelas bebas kepada kami, bahkan tidak ada di antara mereka yang membahas mengenai tugas sedikitpun.
Awalnya aku masih tidak percaya dengan perkataannya Pak Febri karena aku mengira kalau dia hanya mengada-ngada saja masalah kelas bebas di hari pertama itu. Tapi ketika istirahat, saat kami sedang berkumpul, ternyata semua temanku juga mendapatkan kelas bebas dari gurunya.
Aku jadi penasaran dan ingin berbicara sesekali dengan kepala sekolah.
“Dimana Maul Mar? Tumben dia tidak ikut dengan kita.”
Riki bertanya kepadaku.
“Hari ini dia tidak ikut ke kantor, katanya ada urusan yang ingin dia selesaikan.”
“Urusan apa itu.”
“Aku juga tidak tau.”
“Apa urusannya masih ada hubungannya dengan kasus kemarin?”
“Mungkin saja.”
Aku juga berpikiran seperti itu. Karena jarang sekali melihat Maul sesibuk ini, padahal dia sudah tidak mengambil kerja sampingan lagi karena sudah bekerja di sini.
Apa dia sudah menemukan sesuatu yang menarik hingga dia ingin fokus terlebih dahulu di sana?
“Kanapa Maul tidak mengajak kita berdua untuk membantunya?”
“Mungkin urusannya tidak memerlukan orang banyak dan dia ingin fokus dengan urusannya itu.”
Terlalu banyak tangan juga akan membuat sesuatu urusan yang tadinya simpel akan menjadi sangat merepotkan. Lebih baik, kita duduk manis dan menunggu hasil yang didapatkan oleh Maul.
“Mau kemana kau setelah ini Mar?”
“Aku mau pergi ke ruangannya Pak Hari terlebih dahulu. Lagi pula aku juga bingung mau pergi ke mana.”
Karena saat ini tidak ada masalah di divisi editor, jadinya aku tidak perlu pergi ke sana. Aku juga perlu memberitahu Pak Hari kalau hari ini temanku akan datang.
“Kau sendiri Rik?”
“Kalau aku mau pergi ke divisiku, soalnya seniorku ingin memberikanku tugas yang lainnya.”
“Baiklah, kalau begitu nanti akan aku tunggu di atap jika urusanmu telah selesai.”
“Ok.”
Ketika kami sampai di lantai tujuh, kami langsung berpisah karena tempat yang kami tuju berada di arah yang berbeda.
Aku pun langsung pergi ke ruangan Pak Hari.
“Permisi!”
Aku masuk dan membuka pintu ruangan Pak Hari.
Di dalam sana, aku dapat melihat Pak Hari dan Kak Friska sedang membicarakan sesuatu.
“Apa aku mengganggu kalian?”
Tanyaku kepada mereka berdua.
“Tidak, kami tidak sedang membicarakan sesuatu yang penting.”
Ucap Pak Hari dengan senyuman di wajahnya.
Aku pun masuk ke ruangannya dan duduk di sofa yang terdapat di sana. Pak Hari juga berpindah duduknya di sofa yang berhadapan langsung denganku.
“Kenapa hari ini kau datang Mar? Bukannya hari ini tidak ada rapat sama sekali.”
Pak Hari bertanya kepadaku.
“Hari ini temanku yang aku katakan kemarin ingin magang di bagian sosial media hari ini dan dia ingin datang ke kantor untuk bertemu denganmu. Jadi aku harus datang ke sini untuk menemaninya.”
“Friska, tolong buatkan kami berdua kopi.”
Pak Hari langsung menyuruh Kak Friska.
“Saya teh manis aja Kak.”
Aku masih tidak mau mengkonsumsi kopi terlebih dahulu untuk saat ini.
Kak Friska langsung pergi untuk menyiapkan minuman untuk kami berdua.
“Bagaimana liburanmu Mar?”
“Liburanku kali ini berat sekali?”
“Berat kenapa?”
Pak Hari menjadi penasaran akan hal itu.
“Banyak sekali yang harus aku lakukan ketika liburan kemarin.”
Satu kasus Akbar itu sudah cukup diwakilkan oleh kata banyak di sini.
“Apa kau sudah tau kalau Febri sudah tunangan?”
Ternyata Pak Hari sudah mengetahuinya juga.
“Aku sudah tau tadi di sekolah karena ada seorang guru yang membocorkannya kepada kami semua.”
Mendengar hal itu membuat Pak Hari tertawa kecil karenanya. Pasti yang ada di pikirannya dia saat ini adalah wajah Pak Febri yang kewalahan meladeni para murid yang menanyainya masalah itu.
“Apa Pak Hari mengetahui calon istrinya?”
“Memangnya kau tidak pernah bertemu dengannya Mar?”
Pak Hari bertanya balik kepadaku.
“Pak Febri tidak pernah memperlihatkan atau bercerita tentang pacarnya kepadaku.”
“Febri tidak pernah pacaran, dia langsung taaruf”
Heee... Aku tidak menyangka kalau Pak Febri tipe-tipe orang yang melakukan taaruf. Kalau begitu kenapa dia sering sekali menasihatiku untuk mempunyai pacar atau mendapatkan seorang pacar?
Aneh sekali.
“Walaupun Febri sering menasihatimu tentang pacaran, tapi sebenarnya pola pikirnya dia dan kau itu sangat mirip sekali jika memandang tentang pacaran.”
“Benarkah itu!?”
“Tapi tidak separah kau juga.”
Padahal aku sudah senang karena ada teman satu pemikiran tentang yang namanya cinta.
Kemudian masuklah Kak Friska dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua buah minuman untukku dan juga Pak Febri.
“Ini minumannya Pak!”
Kak Friska menaruh minumannya di meja yang berada di hadapan kami.
__ADS_1
“Kamu ke sini tidak bersama Maul Mar?”
Hal itulah yang ditanyakan oleh Kak Friska pertama kali. Seharusnya dia sudah mengetahui jawabannya, karena jika Maul datang ke sini pasti dia sudah berada di mejanya Kak Friska.
“Tidak Kak, katanya dia ada urusan yang harus dia lakukan sekarang.”
“Oh begitu... Apa ada lagi yang diperlukan Pak?”
Kak Friska bertanya kepada Pak Hari.
“Tidak ada, terima kasih ya.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Kak Friska pun pergi meninggalkan kami berdua di ruangan. Sepertinya ada pekerjaan yang sedang dia lakukan saat ini.
Saat itu aku menyadari kalau Pak Hari memperhatikanku.
“Ada apa Pak?”
“Apa kau menyukai Friska?”
Dia ini, pasti dia berpikir kalau aku juga menyikai Kak Friska sama seperti kebanyakan karyawan yang ada di sini.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Sudah jelas aku tidak mungkin menyukainya.”
“Benar juga ya.. Hahahaha...”
Pak Hari pun meminum kopi yang dia pesan tadi.
“Bagaimana dengan komik yang telah dibukukan? Apa mereka semua laku terjual di pasaran?”
Pak Hari pun tersenyum dan melipat kedua tangannya.
“Komiknya laku keras Mar, bahkan ada beberapa permintaan untuk memasarkan komik-komik itu hingga luar pulau Jawa.”
“Lalu untuk aplikasinya sendiri? Apakah ada peningkatan semenjak kita menjual komik-komik itu di toko buku?”
“Jumlah penguduhnya sudah mencapai satu juta pengunduh.”
Satu juta!? Padahal baru kemarin kita merayakan lima ratus ribu pengunduh dan sekarang sudah satu juta. Sebenarnya berapa banyak jumlah orang yang mengunduh aplikasi ini dalam satu harinya.
“Banyak sekali jumlahnya.”
“Yah... Itu semua juga berkat kerja keras kalian.”
Kalau begitu seharusnya gajiku juga akan naik kalau jumlah pengunduhnya sudah sebanyak itu.
“Apa kau sudah memiliki rencana untuk ke depannya Pak?”
“Mungkin aku akan membuka aplikasinya menjadi berbagai macam bahasa.”
“Memang sebelumnya aplikasi ini belum bisa diunduh di negara selain Indonesia?”
“Belum, karena kita belum menemukan penerjemah untuk menerjemahkan bahasanya ke berbagai macam bahasa.”
Aku mencium sepertinya sebentar lagi kita akan mengadakan pembukaan karyawan baru lagi untuk bagian penerjemah. Tapi seberapa banyak penerjemah yang akan kita pekerjakan, mengingat komik kita yang ada di aplikasi sudah banyak dan pastinya kita membutuhkan orang yang banyak juga untuk hal itu.
“Apa kita akan membuka lowongan lagi untuk penerjemah?”
“Iya, tapi hal ini masih menjadi bahan pertimbangan.”
Selain karyawan, kita juga harus menyediakan tempat untuk bagian penerjemah. Karena di lantai tujuh ini sudah tidak ada lagi ruang untuk ditambah satu bagian lagi. Tapi kalau tidak salah kita masih memiliki dua lantai kosong yang berada di atas sini.
“Berarti kita akan menggunakan lantai lainnya ya?”
Satu lantai?
“Satu lantai? Bukannya seharusnya masih ada dua.”
“Memang sebelumnya masih tersisa dua lantai, tapi karena kita sudah mulai mencetak buku, jadinya aku menggunakan satu lantai untuk alat-alat cetak dan bagian penerbitan. Tapi di sana masih ada ruang banyak sih, nanti kita lihat saja apakah divisi penerjemah bisa diletakan di sana apa harus menggunakan satu lantai yang tersisa lagi.”
“Begitu... Pantas saja aku merasa kalau saat ini kantor lebih ramai saja.”
Kemudian aku pun mendapatkan pesan dari Akbar yang mengatakan kalau dia sudah sampai di depan kantor.
“Pak, temanku sudah tiba di kantor dan aku mau menjemputnya sebentar.”
“Baiklah kalau begitu.”
Dengan secepat kilat, aku langsung pergi keluar kantor untuk bertemu dengan Akbar. Aku pun dapat melihat AKbar yang sedang menunggu di taman yang berada di depan kantor.
“Apa sudah lama kau menungguku?”
“Aku baru saja sampai.”
“Kalau begitu, mari kita masuk. Atasanku sudah menunggumu.”
Sebelum pergi ke tempat Pak Hari, aku harus pergi ke meja resepsionis untuk mengambil tanda pengenal untuk Akbar agar dia bisa berjalan-jalan di kantor dengan bebas.
“Aku tidak mengangka kalau kau bekerja di kantor sebesar ini.”
Akbar melihat-lihat lobi yang sangat besar sekali.
Aku hanya tersenyum saja ketika mendengar itu.
“Eh ada Amar!”
Sapa seorang perempuan yang ada di meja resepsionis.
“Sore Mba Eva.”
Namanya adalah Mba Eva, dia adalah resepsionis dari Comic Universe. Aku mengenalnya dengan sangat baik karena kami sering bertemu di atap ketika aku sedang bersantai.
Dan juga Mba Eva ini adalah perempuan tercantik nomor dua setelah Kak Friska. Biasanya, para karyawan yang menyerah untuk mengejar Kak Friska, akan langsung mendekati Mba Eva. Tapi akhir-akhir ini banyak karyawan yang patah hati karena mengetahui kalau Mba Eva sudah memiliki seorang pacar.
“Ada yang bisa aku bantu Mar?”
“Aku membutuhkan tanda pengenal untuk anak magang baru Mba.”
“Apa itu temanmu Mar?”
Mba Eva melihat ke arah Akbar yang berada di belakangku.
“Iya Mba.”
Kemudian Mba Eva pun memberikan tanda pengenalnya kepadaku.
“Terima kasih Mba.”
“Sama-sama.”
“Nih Bar.”
Aku langsung memberikan tanda pengenal itu kepada Akbar untuk dia gunakan.
“Ayo kita langsung pergi ke ruangan atasanku.”
Aku mengajak Akbar ke sana.
__ADS_1
“Entah kenapa aku menjadi gugup ingin bertemu dengannya Mar.”
“Sudahlah tenang saja, orangnya mirip seperti Pak Febri kok.”
Ya, karena dia memang teman dekatnya Pak Febri jadi sifatnya sedikit mirip.
Kami pun langsung pergi menaiki lift dan pergi ke lantai tujuh.
“Mba-mba resepsionisnya ramah sekali Mar.”
Sepertinya memang ramah itu adalah salah satu sifat yang harus dipunyai oleh resepsionis. Aku jadi penasaran bagaimana jika ada resepsionis yang memiliki sifat sinis. Hmmm... Menarik juga.
“Karyawan di sini memang ramah-ramah Bar, jadi kau tidak perlu khawatir.”
Sebenarnya alasan lain kenapa Mba Eva itu ramah kepadaku karena dia tau kalau aku adalah salah satu atasan di sini. Sebelumnya, aku sudah mengatakan kepada semua karyawan yang ada di sini untuk tidak memanggilku dengan sebutan bapak karena hal itu membuatku risih dan mereka menerima itu dengan senang hati.
Aku rasa mereka juga sedikit canggung memanggil orang yang usianya jauh lebih muda dibandingkannya dengan sebutan bapak, tapi aku bersyukur karena hal itu.
“Apa kantor ini juga digunakan oleh perusahaan lain Mar?”
“Iya, ada perusahaan yang menyediakan jasa internet yang juga menyewa gedung ini dari lantai dua sampai enam. Sedangkan Comic Universe hanya menggunakan lantai tujuh sampai sepuluh saja.”
Akhirnya kami pun sampai di ruangannya Pak Febri.
“Pak, aku perkenalkan kepadamu. Dia Akbar, temanku yang kemarin-kemarin sudah aku ceritakan kepadamu.”
“Salam kenal Pak, namaku Akbar.”
Akbar memperkenalkan dirinya.
Walaupun sebelumnya dia berkata kalau dia sedikit gugup, tapi dia jauh lebih tenang dibandingkan Riki waktu itu. Apa karena dia sudah pernah bekerja dan biasa melayani pelanggan jadi dia bisa tenang seperti itu?
“Selamat datang Nak Akbar di Comic Universe! Silahkan duduk.”
Pak Hari menjabat tangannya Akbar dengan ramah.
Akbar dan Pak Hari pun duduk di sofa dan mereka berbincang sejenak, sedangkan aku harus pergi ke ruangannya Kak Malik untuk mengambil berkas-berkas untuk Akbar isi.
“Kak Malik, aku minta kontrak kerja untuk anak magang baru.”
Pintaku kepada Kak Malik yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
“Oh, temanmu yang kemarin kau bilang itu sudah datang.”
Kak Malik memberikan kontrak kerja itu kepadaku.
“Sudah, sekarang dia sedang berada di ruangannya Pak Hari.”
“Oh begitu.”
“Terima kasih ya Kak Malik, aku mau kembali ke ruangannya Pak Hari dulu.”
“Sama-sama Mar.”
Aku pun kembali ke ruangannya Pak Hari dan mereka berdua masih berbincang-bincang.
“Bar, kau silahkan isi berkas-berkas ini terlebih dahulu.”
Aku memberikan berkas-berkas untuk Akbar isi.
“Baik.”
Akbar pun mulai mengisi berkas yang aku berikan.
“Nanti setelah mengisi berkas, kau langsung antarkan dia ke divisi sosial media saja Mar, agar dia bisa langsung bekerja.”
Pak Hari menyuruhku.
“Baik, akan aku lakukan.”
“Nak Akbar, apa kamu memiliki laptop atau komputer di rumah yang bisa digunakan untuk bekerja?”
Pak Hari bertanya kepada Akbar.
“Saya tidak memilikinya Pak.”
“Kalau begitu, nanti perusahaan akan memberikan kamu laptop agar kamu bisa mengerjakan pekerjaanmu di rumah. Mungkin laptopnya baru tersedia dua sampai tiga hari ke depan.”
Pak Hari melihat kalender yang ada di sana.
“Apakah itu benar Pak!?”
Akbar tidak percaya sekaligus terkejut ketika mendengar hal itu.
“Iya, hampir semua anak magang yang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya di kantor akan mendapatkan laptop selama dia bekerja di sini. dan mereka bisa memiliki laptop itu jika magangnya telah selesai secara gratis.”
“Gratis!?”
Sekarang aku yang terkejut ketika mendengarkan kata gratis.
Aku memang tau kalau perusahaan ini sudah mendapatkan pemasukan yang cukup banyak dari penjualan komik dan juga jumlah pengunduh di aplikasi, tapi tidak langsung menghambur-hamburkannya seperti itu juga Pak.
“Iya, itu hadiah karena mereka sudah bekerja di Comic Universe, anggap saja itu sebagai hadiah dari perusahaan.”
Pak Hari terlalu baik, pantas saja di perusahaan sebelumnya ada rekan kerja yang menusuknya dari belakang.
“Aku baru tau kalau ada kebijakan seperti itu.”
“Aku melakukan itu agar meningkatkan peforma dari pekerja magang. Karena yang aku perlukan di sini adalah skill, aku tidak melihat entah itu kalian karyawan tetap ataupun pekerja magang.”
Heee...
Setelah Akbar mengisi berkasnya, Aku langsung pergi ke bagian sosial media untuk mengantarkannya. Ketika sampai di sana, aku bertemu dengan Riki dan beberapa karyawan lainnya yang sedang berbincang-bincang.
“Kau sudah datang Bar!”
Riki terkejut melihat Akbar yang datang bersamaku.
“Iya, aku baru saja tiba tadi.”
“Lalu apa yang kau lakukan di sini Mar?”
“Aku ingin mengantarkan Akbar ke divisi ini karena mulai saat ini dia bekerja di divisi sosial media bersama denganmu. Bimbinglah dia Rik!”
“Serahkan saja kepadaku!”
Riki memberikan tanda jempol kepadaku.
“Kau juga jangan sungkan untuk bertanya kepada senior-senior yang ada di sini Bar!”
Aku memberikan saran kepada Akbar.
“Baiklah.”
Akbar pun langsung diterima baik di bagian itu. Mereka langsung membaur dan juga bincang-bincang. Sesekali juga mereka tertawa bersama membahas tentang pekerjaan mereka.
Setidaknya tugasku di sini sudah selesai dan sekarang aku lebih baik pergi ke atap untuk menikmati secangkir minuman gangan di sana. Sudah sore juga, semoga aku mendapatkan pemandangan sore yang bagus saat di atap nanti.
-End Chapter 118-
__ADS_1