Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 147 : Kita Ini Bukan Teman Dekat.


__ADS_3

Setelah menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya, akhirnya semester dua pun telah selesai. Tidak ada apapun yang terjadi setelah kejadian Kichida itu. Aku hanya menjalani kegiatan sekolah seperti biasa, dan bekerja di Comic Universe setelah pulang sekolah.


Ketika Kichida masuk ke sekolah, teman-teman sekelasnya hanya bertanya keadaan Kichida saja. Karena selama ini mereka hanya mengira kalau Kichida tidak masuk karena sakit yang dia alami.


Ya, itu semua berkat Pak Febri dan juga Riki yang selalu memberitahu kepada teman-teman sekelas kalau Kichida itu sebenarnya sedang sakit, makanya dia tidak masuk ke sekolah.


Saat ulang tahunnya Yoshida juga tidak dirayakan mewah seperti ulang tahun Miyuki. Yoshida hanya merayakan ulang tahunnya dengan makan-makan bersama dengan yang lainnya di tempat makan yang berada di sekitar sekolah.


Pada saat pengambilan rapot, Pak Febri juga tidak berbicara banyak dengan ibuku. Dia hanya memberitahukan tentang nilaiku selama di sekolah, dan untung saja nilaiku tidak menurun di semester dua ini.


Dibandingkan dengan semester pertama, di semester kedua ini, aku tidak begitu sibuk dan dapat fokus dengan sekolahku.


Saat ini, aku dan Riki sedang berada di sebuah bis yang menuju ke sekolah kami untuk menemani Nadira dan Kirana untuk mengikuti ujian masuk.


Seperti yang kalian tau, hari ini adalah hari diadakannya ujian masuk di SMK Sawah Besar. Dan seperti apa yang Nadira katakan ketika liburan puasa kemarin, dia ingin masuk ke SMK Sawah Besar dan hal itu belum berubah sampai sekarang.


Aku melihat Nadira dan juga Kirana yang saat ini sedang belajar di dalam bisa untuk mempersiapkan ujian masuk mereka.


“Kenapa kau tidak bisa mendapatkan rekomendasi ke SMK Sawah Besar Kirana?”


Aku bertanya kepada Kirana yang terlihat fokus sekali dengan buku yang berada di hadapannya.


“Bisakah kau tidak mengajakku berbicara dulu Kak Amar. Aku sedang fokus untuk mempersiapkan ujian nanti.”


Kirana pun memarahiku karena mengganggu konsentrasinya dalam belajar.


“Sebenarnya dia mendapatkan rekomendasi ke SMK Farmasi tapi yang berada di daerah Cijantung.”


Riki memberitahuku tentang hal itu.


“Bukannya SMK itu adalah SMK terbaik untuk jurusan Farmasi?”


“Aku tidak mau masuk ke sekolah yang tidak ada Kak Rikinya.”


Riki merasa terharu mendengar itu dari Kirana, sedangkan aku hanya melihat Kirana dengan tatapan jengkel.


“Inilah dia Rina kedua.”


Riki pun tertawa mendengar hal itu.


Padahal akhir-akhir ini aku sudah jarang sekali tidak melihat orang-orang di sekitarku yang melakukan hal bodoh karena terlalu buta dengan cinta.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami pun sampai di SMK Sawah Besar.


Seperti tahun lalu, di sana ramai sekali murid SMP yang baru saja lulus yang ingin mengikuti ujian masuk di sana.


“Jangan lupa berdoa!”


Aku mengingatkan kepada Nadira.


“Kau tidak perlu mengatakan itu kepadaku Kak.”


“Semangatlah Kirana!”


Begitu jugar Riki yang menyemangati Kirana.


“Aku pasti bisa lulus dan masuk ke sekolah ini.”


Kirana terlihat optimis sekali akan masuk ke sekolah itu.


Aku pun melihat murid SMP yang mulai memasuki sekolah dan pergi ke ruangan ujian mereka masing-masing.


“Aku tidak menyangka sudah satu tahun saja terlewat.”


Ucap Riki sambil memandangi SMK Sawah Besar.


“Benar, aku merasa tahun kemarin sangat berat sekali.”


Aku tidak menyangka kalau masuk ke SMK ini, aku akan menghadapi sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku lakukan sebelumnya, dan bahkan hal itu tidak pernah terpikirkan olehku.


“Jadi mau kemana kita selagi menunggu mereka ujian?”


Tanya RIki kepadaku.


“Lebih baik kita menunggu di kantin saja, di sana kita bisa menghabiskan waktu dengan memakan sesuatu.”


Dari pada hanya menunggu di sini dan melihat-lihat saja.


“Itu ide bagus Mar.”


Aku dan Riki pun mulai berjalan menuju ke kantin.


“Apa kau sudah menghabiskan uangmu Rik?”


“Aku belum menghabiskan uangnya sama sekali, bahkan aku saja bingung mau dikemanakan semua uang itu. Sekarang aku tau apa yang kau rasakan Mar.”


Sudah pasti kau akan berkata seperti itu.


Sebenarnya banyak orang yang mengatakan kepadaku kalau di sangat cepat sekali dalam menghabiskan uangnya.


Apa karena aku dan Riki bukan termasuk ke orang yang boros makanya kami kebingungan seperti ini?


Tapi seharusnya Riki lebih banyak hal yang dapat dia lakukan untuk menghabiskan uang itu, seperti menghabiskannya bersama dengan Kirana.


“Apa orang tuamu sudah mengetahui tentang hal ini Riki?”


“Waktu itu aku mengatakan kepada orang tuaku kalau aku sering mendapatkan pekerjaan dari guruku dan dibayar dari pekerjaan yang aku kerjakan itu. Mereka menyuruhku untuk membuat rekening sendiri. Karena hal itu juga, tidak ada yang tau kalau aku mendapatkan uang sebanyak ini.”


Pantas saja ibuku terlihat tidak penasaran sekali dengan uang yang aku punya.


Karena aku dan Riki sudah berteman baik dari kecil, tentu saja orang tua kami saling mengenal baik satu dengan yang lainnya. Ditambah rumah kami yang dekat membuat hubungan keluarga kami juga dekat.


Dan kalau orang tuanya Riki mengetahui kalau Riki mempunyai uang sebanyak itu, pasti orang tuanya Riki akan bercerita kepada orang tuaku dan hal itu akan membuat orang tuaku curiga denganku, terutama ibuku.


“Keluargaku juga belum ada yang tau tentang hal itu, hanya Miyuki saja yang tau uang yang aku miliki.”


“Kenapa hanya Miyuki?”


Riki terlihat penasaran setelah mendengar hal itu.


“Waktu itu aku pergi dengan Miyuki ke mal untuk membelikan kado untuk Yoshida, dan saat itu dia tidak sengaja melihat jumlah uang yang ada di rekeningku karena waktu itu aku harus mengirimkan uang kepada Nadira yang ada di pesantren.”


Jadi kejadian itu saat kami sedang menonton bioskop.


Saat itu aku mendapatkan pesan dari Nadira kalau dia mau membeli sesuatu di pesantrennya tapi dia tidak memiliki uang karena uang jajannya sudah habis. Dia pun meminta uang kepadaku untuk membeli sesuatu di sana.


Tidak sengaja saat aku setelah mengirim uang ke Nadira dan memeriksa jumlah saldoku, perhatian Miyuki pun teralihkan ke ponselku.


Dan itulah kenapa dia bisa mengetahui berapa uang yang aku punya.

__ADS_1


“Apa saat itu kau hanya pergi berdua saja dengan Miyuki Mar?”


“Iya.”


Mendengar itu membuat Riki melihatku dengan senyuman bodohnya.


“Hentikan itu Rik, aku sudah tau apa yang kau pikirkan.”


Riki pun kembali ketawa melihatku yang tidak suka diperlakukan seperti itu.


“Kalau waktu itu, aku pernah membawa keluargaku ke mal untuk makan enak, Ketika itu juga mereka bertanya dari mana aku mendapatkan uang itu, aku hanya berkata kalau itu adalah gaji pertamaku.”


“Mantap sekali Rik!”


Aku mengacungkan jempolku kepadanya.


“Sepertinya liburan semester depan, aku akan pergi ke Gunung Gede.”


“Sepertinya aku juga butuh sesuatu untuk menyegarkan untuk dilihat oleh mata. Akhir-akhir ini aku sudah melakukan sesuatu yang cukup berat sekali.”


Aku juga akan menggunakan jatah cutiku yang tidak pernah aku gunakan itu. Ya, aku rasa libur dua sampai tiga hari di gunung sudah cukup untuk mengistirahatkan badan dan pikiranku di sana.


“Kalau begitu, mari kita rencanakan hal itu dengan yang lainnya.”


“Ya.”


Saat kami sudah mau sampai di kantin, kami bertemu dengan Kak Fauzi yang sepertinya baru saja pergi dari kantin.


“Hei Amar dan Riki!”


Kak Fauzi langsung menyapa kami.


“Hai Kak!”


Kami menyapa balik kepadanya.


“Apa yang kalian berdua lakukan di sini hari ini?”


“Aku sedang mengantarkan adikku untuk mengikuti ujian masuk di sini.”


“Jadi kau punya adik Mar?!”


Aku melihat Kak Fauzi terkejut mendengarnya.


Apa sesuatu yang aneh jika aku memiliki seorang adik?”


“Iya Kak”


“Kalau Riki?”


“Aku mengantarkan Kirana untuk mengikuti ujian masuk juga.”


“Hmmm... Jadi Kirana mau masuk ke sini juga.”


“Iya Kak.”


“Apa kalian berdua punya waktu luang? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua.”


Aku rasa dia pasti akan menanyakan sesuatu yang cukup penting di sini.


“Kami memiliki banyak sekali waktu Kak.”


“Kalau begitu lebih baik kita membicarakannya di ruang OSIS.”


Kami pun langsung pergi ke ruang OSIS. Ketika kami sampai di sana, di sana tidak ada orang sama sekali.


“Sepertinya kita bisa menggunakan ruangan ini.”


Ucap Kak Fauzi sambil merapikan berkas-berkas yang berada di atas meja.


Aku yakin ada sesuatu penting yang ingin dia tanyakan kepada kami berdua dan dia butuh ruangan yang kosong agar dapat menanyakan hal itu dengan aman.


Kita lihat, apa yang ingin dia tanyakan kepada kami.


“Kenapa ruangan ini kosong, kemana perginya anggota OSIS yang lain?”


Tanya Riki kepada Kak Fauzi.


“Semua OSIS sedang mengawasi peserta ujian di ruangan masing-masing.”


“Apa OSIS yang baru dilantik kemarin juga ikut serta dalam hal ini?”


“Tentu saja.”


Kalau begitu berarti Miyuki dan yang lainnya juga masuk dan berada di sini sekarang.


“Berarti Miyuki dan Rina sedang ada di sini juga Mar, kalau tau begitu lebih baik kita berangkat bersama tadi.”


Tentu saja tidak Rik, pasti mereka datang lebih pagi dibandingkan peserta ujian karena harus menyiapkan keperluan terlebih dahulu.


“Lalu apa yang ingin Kak Fauzi bicarakan kepada kami?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku tau apa yang terjadi dengan Kichida dan apa yang sudah kalian lakukan untuk menyelamatkannya.”


Kak Fauzi langsung terus terang membicarakan hal itu dan membuat kami berdua terkejut mendengarnya.


“Dari mana Kak Fauzi tau hal itu?”


“Aku tau dari Pak Febri, dia sendiri yang memberitahu kepadaku.”


Lagi-lagi Pak Febri... Sepertinya mulutnya dia perlu aku kunci dengan sesuatu agar tidak mudah mengatakan sesuatu yang bersifat rahasia seperti ini.


“Kenapa Pak Febri memberitahu hal ini kepada Kakak?”


Riki penasaran akan hal itu.


“Pak Febri mengetahui kalau aku adalah kakak kelas kalian berdua ketika di SMP dan dia juga tau kalau hubungan kita dekat. Jadinya dia tidak segan untuk menceritakannya kepadaku.”


“Sejak kapan hubungan kita itu dekat.”


Aku sedikit protes akan hal itu.


“Kau jangan jahat seperti itu Mar.”


Kak Fauzi menjadi sedih mendengarnya.


“Apa Kak Fauzi bisa berjanji untuk tidak membicarakan hal ini kepada yang lainnya termasuk Kak Alvin? Kalau Kak Fauzi berjanji kepada kami, aku akan menceritakan semua hal yang terjadi pada saat itu tanpa ditutup tutupi sedikitpun.”

__ADS_1


“Apa kau yakin dengan hal itu Mar?”


Riki berusaha untuk meyakinkanku lagi.


“Kalau kepada Kak Fauzi, tidak masalah aku menceritakannya.”


“Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun. Itulah kenapa aku mengajak kalian berdua ke ruang OSIS untuk membicarkaan ini karena aku tau kalau ruangan ini sedang kosong.”


Baiklah kalau begitu.


Aku pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada malam itu kepada Kak Fazui, mulai dari saat Kichida yang mulai tidak masuk ke sekolah sampai saat aku dan Riki menyelamatkannya dari pelelangan itu.


“Apa itu semua benar apa yang kalian berdua lakukan?”


Kak Fauzi berusaha memastikan hal itu kepada Riki.


“Itu benar Kak, kami melakukan semua itu.”


“Penilaian aku kepada kalian memang tidak pernah salah. Seharusnya kalian memang harus masuk ke dalam OSIS.”


Kak Fauzi masih membahas tentang masalah itu.


“Apapun yang terjadi, aku tidak akan masuk ke dalam OSIS.”


Aku masih kekeh dengan keputusan awalku.


“Setidaknya aku bisa bernafas lega karena kasus seperti ini sudah tidak akan terjadi lagi.”


“Aku juga senang mendengarnya.”


“Kalau begitu kenapa aku tidak penah mendengar nama kalian atau inisial dari kalian di dalam berita-berita yang beredar di televisi atau internet Mar?”


“Kalau itu, aku menyuruh bapaknya Maul untuk merahasiakannya. Aku tidak mau membuat heboh orang-orang di sekitarku apalagi orang tuaku.”


Sebenarnya aku hanya takut omelan dari ibuku saja jika dia mengetahui kalau anaknya melakukan sesuatu yang berbahaya seperti itu.


“Bukan hanya orang tuamu saja Mar, bahkan satu sekolah ini juga akan heboh jika ada muridnya yang membantu kepolisian menyelesaikan kasus itu.”


“Aku lebih setuju kalau Maul yang lebih disorot dalam hal ini, karena dia yang lebih banyak bekerja dibandingkan denganku.”


“Sekarang dimana Maul?”


“Sepertinya dia sedang di rumah dan menikmati liburannya.”


“Oh begitu.”


Sebelum ke sini, aku dan Riki sempat mengajak Maul untuk pergi bersama. Tapi Maul mengatakan kalau dia mau istirahat terlebih dahulu karena selama seminggu kemarin dia harus membantu bapaknya dan juga menyelesaikan pekerjaan kantornya karena sebentar lagi keputusan dari hasil angket itu akan keluar.


“Bagaimana rasanya PKL Kak?”


Riki bertanya sesuatu yang lain kepada Kak Fauzi.


“Itu pengalaman yang tidak akan aku lupakan sepertinya. Banyak hal yang terjadi saat itu dan banyak pelajaran yang aku dapatkan di sana.”


“Aku tidak sabar untuk melakukannya juga.”


Riki terlihat bersemangat ketika mendengar hal itu dari Kak Fauzi.


“Nanti kalian juga akan merasakannya ketika semester dua. Tapi sebelum itu, kalian akan mengadakan kunjungan belajar terlebih dahulu ke Yogyakarta.”


“Apa kita akan mempelajari sesuatu di sana?”


Tanyaku kepada Kak Fauzi.


“Saat hari pertama saja kalian akan pergi ke universitas untuk mengambil ilmu di sana, selebihnya kalian hanya akan liburan saja.”


“Tempat mana saja yang akan kami datangi?”


Riki makin bersemangat mengetahui dia akan liburan di Yogyakarta.


“Setiap tahunnya, tempat yang kita kunjungi berbeda-beda tergantung keputusan sekolah.”


“Sepertinya itu hanya kedok sekolah agar bisa liburan secara gratis.”


Celetukku setelah mendengar hal itu.


“Hahahaha... Sepertinya.”


Kak Fauzi tertawa dengan keras saat mendengar itu.


Kemudian tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan di sana ada Miyuki yang membawa setumpuk kertas di tangan kanannya. Miyuki pun terkejut melihatku dan juga Riki yang berada di ruang OSIS.


“Apa sudah selesai?”


Kak Fauzi bertanya kepada Miyuki yang masih terdiam melihatku dan juga Riki.


“Sudah Kak!”


“Cepat sekali waktu berlalu.”


Aku melihat jam tanganku.


“Waktu memang tidak terasa ketika kita sedang berbicara.”


Kak Fauzi pun menghampiri Miyuki dan mengambil tumpukkan kertas itu.


“Kalau begitu kami pamit dulu Kak, dan juga aku duluan Miyuki.”


Aku berpamitan kepada mereka untuk pergi bertemu dengan Nadira dan Kirana.


“Kamu mau pulang Mar?”


“Iya.”


“Hati-hati ya!”


Miyuki sedikit melambaikan tangannya kepadaku.


“Iya, kau juga.”


“Ehem!”


Riki pun menyikutku dengan tangan kirinya.


“Apaan itu!”


Dan kami pun pergi untuk menemui Nadira dan juga Kirana yang sudah menunggu kami di pintu gerbang sekolah.


-End Chapter 147-

__ADS_1


__ADS_2